Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Dia Milikku II


__ADS_3

Hari ini hari terakhir liburan mereka, Gita ingin menikmati keindahan pagi. Dia bangun pagi untuk sekedar jalan-jalan di depan rumah.


"Bayu, tumben udah bangun." kata Gita saat membuka pintu. Dia melihat Bayu yang sedang menatap jauh ke hamparan sawah.


"Hai.. Kak. Tumben udah bangun?" Sapa Gita ketika dia sudah berdiri sejajar di samping Bayu.


Bayu menoleh sekilas lalu menatap ke depan lagi.


"Ngapain lo disini?" tanya Bayu dengan nada ketus.


"Pagi-pagi tuh nggak boleh marah-marah, biar aura positifnya terus mengikuti kita sampai malam lagi." Gita menjawabinya dengan santai. Bayu menoleh ke arah Gita lagi.


"Oiya.. gue punya cara gimana agar amarah lo itu bisa ilang."


"Apa?"


"Kita lari memutari desa ini, lepaskan sekua beban lo, hal yang membuat lo sedih, buat lo kesal. Biar agak lega hati lo, gimana?"


Tanpa jawaban dan aba-aba Bayu langsung lari dengan cepat. Gita tersenyum lalu ikut berlari. Bayu berlari dengan kecepatan tinggi, dan Gita tidak bisa mengejarnya.


"Hah...hah..." Gita ngos-ngosan. Dia berhenti lalu duduk di pinggir jalan dengan meluruskan kedua kakinya.


"Pasti dia banyak pikiran, dan sangat marah. Dia bisa berlari secepat itu." Kata Gita dengan nada masih ngos-ngosan.


Gita mulai mengatur napasnya supaya kembali normal, dia mengipasi wajahnya dengan tangan kanannya.


"Minum." Bayu memberikan air mineral kepada Gita.


"Makasih, lo udah disini sampai mana?" Gita menerima air mineralnya.


"Pojok desa sana, sekalian beli air mineral." ujarnya sambil duduk di sebelah Gita.


Gita meneguk setengah isi dari botol air mineral ukuran sedang, "Lo pasti sangat marah ya?"


"Sok tahu lo." Bayu menyangkal kalau dia sedang marah.


"Gue emang tahu, lo nggak akan lari secepat kilat kalau lo sedang dalam keadaan normal."


Bayu menunduk sambil tersenyum tipis mendengar ucapan Gita yang seratus persen benar menurutnya. Dia akan cenderung malas berlari jika hatinya sedang biasa saja.


"Gita, apa lo membenci gue?" tanya Bayu ragu.


"Em.. kenapa gue harus membenci lo?"


"Gue sangat jahat sama lo dulu, bahkan gue berusaha menyingkirkan lo dari sekolah." Bayu berkata jujur. Dia mengakui kesalahan yang pernah di perbuatnya.


"Sudahlah nggak perlu di bahas lagi, gue juga udah lupa. Kita lihat ke depan aja jangan nengok-nengok mulu pegel nanti leher." Jawab Gita sambil bercanda memegangi lehernya. Bayu terkekeh sambil menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Ah.. suasana hati lo pasti sudah sedikit membaik karena lo sudah tertawa."


"Ya lumayan, kenal sama lo itu bikin kita jadi bahagia dan selalu optimis. Pantesan Gilang tidak mau kehilangan lo sejak dulu."


"Dan Kak Gilang pasti juga senang bersahabat sama lo."


"Tidak juga, gue udah buat kecewa dia." Bayu memandang jauh ke hamparan sawah. Dia menghirup udara dalam-dalam.


"Oiya.. seberapa level kecewanya?"


"Mungkin level tertinggi, mungkin juga dia tidak akan memaafkan gue." katanya sedih. Setelah semalam merenung dia akhirnya mengerti semua ucapan Raka.


"Apa sudah mencoba meminta maaf?" tanya Gita hati-hati.


Bayu menggelengkan kepala, " Gue tidak berani. Jangankan minta maaf tatap muka pun gue malu. Gue itu manusia tidak tahu diri." Bayu terus merasa bersalah.


"Kak Gilang bukan orang yang pendendam, berdiri yuk kita temui dia." Gita menarik tangan Bayu.


"Biar gue selesaikan masalah ini sendiri. Yok lanjut lari."


"Ok."


...♡◇◇◇◇♡...


"Raka, Gita kemana kok nggak sama Fara dan Anita?" tanya Gilang.


"Tadi pagi gue lihat dia ngobrol sama Bayu, terus mereka berdua jogging kayaknya." kata Vian.


"Yang benar lo Vian."


"Iya masa gue bohong sih."


"Kemana arah mereka lari?"


"Ke kanan." tunjuk Vian.


Gilang berlari cepat untuk menemukan Gita. Dia pikir kalau Bayu mulai bersaing dengan dirinya. Dia mencuri kesempatan untuk mendapatkan Gita.


Gilang sudah berlari sekitar setengah desa, namun dia belum menemukan Gita dan Bayu.


"Lo kemana sih Ta." Gilang berhenti untuk mengatur napasnya yang sudah terengah-engah.


"Gilang.."


Gilang menoleh saat ada yang memanggilnya. Melihat Sandra yang memanggilnya Gilang hendak pergi namun Sandra menahan dengan memegang tangan Gilang.


"Tunggu, jangan pergi dulu. Biarkan gue bicara sebentar." Kata Sandra.

__ADS_1


"Katakan lo mau ngomong apa?" Gilang melepaskan pegangan tangan Sandra.


"Gue tahu lo pasti terkejut dengan pernyataan cinta gue yang tiba-tiba. Tapi gue tulus dan benar-benar suka sama lo. Kalau di kehidupan ini lo nggak bisa gue miliki. Kalay ada kehidupan kedua gue berdo'a agar bertemu denganmu lebih dulu dan kita berjodoh."


"Dan gue berharap di kehidupan seterusnya atau sebelumnya gue berharap selalu berjodoh dengan Gita. Dan gue harap tidak pernah bertemu dan kenal sama lo." Jawab Gilang sangat datar dan terdengar ketus sampai menusuk hati Gita.


Gita menghentikan langkahnya saat melihat Gilang di depannya. Dan Gilang merasakan kedatangan Gita. Dia berjalan ke arah Gita, dia menarik Gita lagi dalam pelukanya.


"Ada apa Kak?" tanya Gita bingung karena Gilang tiba-tiba memeluknya.


"Nggak apa-apa, gue hanya kangen lo saja. Lo nggak boleh jauh dari gue." Bisik Gilang. Gita tersenyum, wajahnya merona karena merasa tersanjung.


"Kak, Bayu ingin ngobrol sama lo." Gita melepaskan pelukannya. Bayu gelagapan, dia ingin menyelesaikan masalahnya tapi tidak secepat ini juga.


"Ok." Gilang mengajak Bayu pergi agak menjauh dari Gita.


Gita juga ingin menyelesaikan masalahnya sama Sandra. Dia berjalan mendekati Sandra.


"Bisa kita ngobrol sebentar?" Gita menanyakan kepada Sandra. Sandra mengangguk.


"Apa lo benar pacar Gilang?" Sandra lebih dulu bertanya karena penasaran.


"Ya, gue pacarnya. Dan lo menyukai pacar gue kan?"


"Iya, gue suka sama pacar lo. Gue cinta banget dan mau memilikinya. Lepaskan dia buat gue." Sandra memegang tangan Gita.


"Baiklah, gue akan melepaskan pacar gue untuk lo kalau lo bisa menjawab pertanyaan gue. Tapi lo tidak boleh mendekati, dan jatuh cinta padanya kalau lo tidak bisa menjawabnya."


"Ok gue janji, gue akan menjawab dengan sangat benar." Jawabnya dengan pede.


"Ok. Pertama apa lo tahu yang dia suka sama tidak suka?" Gita mulai memberikan pertanyaan.


"Aa.. Tidak." Sandra menggelengkan kepala.


"Kedua, apalo tahu apa yang membuat dia bahagia dan juga membuatnya sedih?"


"Tidak."


"Itu baru dua pertanyaan lo sudah tidak bisa menjawab. Apa lo masih pantas menjadi pacarnya menggantikan gue?"


Sandra kaget, dia menatap Gita hampir ingin menangis. Matanya sudah berkaca-kaca.


"Sandra, lo boleh menyukai seseorang tapi jangan pernah untuk berusaha mengambilnya. Sesuatu yang diambil secara paksa itu tidak baik untuk lo sendiri."


Sandra menundukan kepala, dia sudah tidak berkutik dengan dua pertanyaan Gita.


"Gue berharap lo belajar dari sini, dan kejadian ini lo tidak akan pernah mengalaminya. Karena rasanya itu sakit." Gita tersenyum lalu pergi meninggalkan Sandra yang terdiam tak mampu menjawab pertanyaan Gita.

__ADS_1


__ADS_2