Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Kerinduan


__ADS_3

Raka membawa Gita ke rumah sakit karena demamnya tak kunjung turun. Raka langsung mengabari keluarganya yang lain.


"Raka gimana ke adaan Gita?" tanya Wanda dengan nada cemas.


"Gita cuma kecapean Ma. Mama sama papa yang tenang kerjanya, Gita di jagain Raka, Kak Genta sama Kak Qila." Raka menenangkan Wanda.


"Baiklah, tapi ingat kamu harus selalu kasih kabar mama."


"Iya Ma. Raka matiin dulu ya telponnya."


"Iya Raka, kalian jaga kesehatan semua, dua hari lagi mama pulang."


"Iya Ma."


Raka memasuka ponsel ke kantong celana, dia balik lagi ke ruangan Gita.


"Sayang." panggil Fara membuat Raka mengurungkan masuk ke ruangan.


"Pelan-pelan, nggak usah lari-lari nanti jatuh."


"He..hee... gimana keadaan Gita?"


"Sudah agak baikan, panasnya sudah lumayan menurun." Jelas Raka.


"Kenapa bisa demam, kemarin dia masih baik-baik saja." Fara cemas dengan keadaan Gita.


"Kemarin sedikit kehujanan, di tambah kekebalan tubuhnya sedang menurun jadi ya sakit." jelas Raka.


"Tahu hujan masih saja di terjang." omel Fara.


Raka tersenyum, dia bahagia memiliki pacar yang sangat perhatian. Tidak hanya kepadanya tapi juga kepada keluarganya.


"Kenapa senyum-senyum gitu?"


"Makasih ya, udah jadi pacar yang sangat perhatin. Buat aku makin sayang sama kamu." Raka memeluk Fara lalu mencium keningnya.


"Ehhm..ehmm.. uhuukk..uhukkk. Hello ada jomblo disini, masih saja mesra-mesraan. Ini rumah sakit bukan hotel." Vian sewot.


"Iri aja lu, lagian udah tahu rumah sakit masih saja teriak-teriak." Fara melepas pelukan Raka lalu menjitak kepala Vian.


Vian ingin langsung membalas namun Raka langsung maju menjadi tameng.


"Gini nih.. nggak sportif minta bantuan." Vian ngedumel. Fara terkekeh lalu menjulurkan lidahnya.


"Udah yuk masuk."


Vian mengurungkan niatnya untuk masuk ke ruangan, dia melihat Farhan yang melewati ruangan Gita.


"Kayak nggak asing sama kain yang di pakai Farhan. Alah.. mikir apa sih gue pabriknya juga nggak bakalan buat satu doang. Emang limited edition cuma ada satu di dunia." Vian melanjutkan jalan masuk ke ruangan Gita.


...♤♡♡♡♡♤...


Gita perlahan membuka matanya, dia berusaha duduk.


"Lo mau apa?" Tanya Fara gercep saat melihat Gita berusaha bangun. Gita menggelengkan kepalanya pelan.


"Mau minum, makan atau ke toilet? bilang saja sama kakak ipar lo ini."

__ADS_1


Gita tersenyum lemah, "Gue mau Kak Gilang."


"Jangan aneh-aneh, gimana kalau Kak Farhan saja langsung gue kabulin sekarang juga." Kata Fara.


"Iya Git, mumpung tuh tadi orangnya lewat sini." Ujar Vian.


"Nggak mau, maunya Kak Gilang." katanya dengan nada sedih.


Dadanya tiba-tiba terasa sesak, dia kangen banget sama Gilang. Mungkin saja kerinduan kali ini sangat dalam jadi rasanya sesak di dada.


"Raka, mau Kak Gilang." Gita tiba-tiba menangis. Air matanya meluncur dengan mulus di pipinya.


Raka memeluk Gita, dia tidak bisa berkata-kata apa lagi.


"Apa lo mau cari Gilang ke Australia?" tanya Raka.


"Nggak mau.Nanti kalau dia nggak kenal Gita lagi gimana." Gita sesenggukan.


"Git, lo sebenarnya sakit karena hujan-hujanan apa kangen berat?" Ujat Vian.


"Raka, Vian ngeledek." Kata Gita dengan manja.


Plaaaaaaaak......! "Berani ya ngledek adik ipar gue." Fara melotot.


"Bisa nggak jangan pukul gue terus, ini badan bukan samsak tinju." Vian meringis.


"Makanya mulutnya diem."


"Terus mau lo gimana?" tanya Raka.


"Nggak tahu, Gita cuma kangen aja."


"Vian, kalau gue udah sehat gue tendang lo sampai Alaska, biar di makan cacing besar Alaska." Ancam Gita.


"Nggak apa-apa, nanti gue ketemu sponsbob sama petrik." Vian kesenengan.


...♡♤♤♤♡...


Pagi harinya Gita bergegas mandi, dia bersiap-siap ke kampus. Meskipun belum begitu pulih Gita tetap mau ke kampus.


"Gita, lo mau ke kampus?" tanya Genta yang datang sambil membawa susu hangat dan roti untuk sarapan.


"Iya Kak, Gita udah baikan kok. Raka belum berangkat kan?" tanya Gita sambil membereskan barang-barangnya.


"Ta, istirahat lagi aja deh. Muka lo masih pucet gitu."


"Gita takut ketinggalan makulnya nanti nggak bisa ngejarnya, lagian kan udah minum obat sarapan pasti segera sembuh." Gita duduk lalu memakan sarapan yang di siapkan Genta.


"Ya sudah, nanti pulangnya bareng Raka atau nunggu Kakak jemput. Cuaca lagi nggak jelas. Kadang hujan kadang panas."


"Iya Kakakku sayang." Gita mencium Genta lalu berpamitan.


"Hati-hati."


"Ya."


"Eh..eh... mau kemana?" cegat Raka sebelum di depan tangga.

__ADS_1


"Ke kampus lah."


"Lo masih sakit begini mau ke kampus, balik kembali ke kamar." Raka memutar tubuh Gita.


"Raka, gue udah baikan, kelamaan libur nanti gue ketinggalan." Gita menolak ke kamar.


"Dasar keras kepala, di kasih tahu sukanya ngeyel." Omel Raka.


"Orang di bilang sudah baikan juga." Kata Gita sambil nyelonong kekuar duluan.


Raka sudah tidak bisa apa-apa lagi kalau Gita sudah keras kepala. Semakin di cegah maka akan semakin kekeh dia untuk melakukannya.


Hari ini Raka sengaja menggunakan mobil agar Gita tidak terlalu terpapar angin. Sekalian bisa di naikan orang banyak.


"Pagi sayang." sapa Fara.


"Pagi juga sayangnya aku." Jawab Gita menirukan gaya Raka.


"Hah.. pengganggu satu ini. Ngapain sih lo udah kuliah. Muka masih jaya hantu gitu udah berangkat." Fara mengomeli Gita.


"Far, lo lama-lama cepat tua loh. Marah mulu, bisa-bisa kalau sudah nikah Raka tinggal kulit sama tulang lo marahin terus." ujar Gita.


"Sakit masih aja bisa ngeledek gue."


Raka hanya bisa tersenyum tipis setiap hari mendengar perdebatan mereka berdua. Dari hal berat sampai hal sepele yang sangat nggak berarti.


...♤♡♡♡♤...


Gita menarik tangan Fara, lalu memperlambatkan langkah kakinya saat melihat Farhan berdiri di dekat pintu menunggu kedatangannya.


"Far, gimana tuh ada Kak Farhan?"


"Ya udah samperin aja, lumayan kan dapat senior keren." Canda Fara.


"Gue itu nggak tertarik, males juga kalau harus ngobrol banyak." Gita masih belum mau jalan. Bahkan dia berniat putar haluan tapi sayangnya Farhan sudah melihatnya dan melambaikan tangan.


"Ada cogan ganteng embat aja, malah di sia-siain. Ayo buruan." Fara menarik Gita agar jalan cepat.


"Pagi Kak." sapa Fara.


"Pagi juga, Gita lo pucat banget. Sakit?" tanya Farhan saat melihat wajah Gita.


"Iya Kak, dua hari lalu dia kehujanan dan jadi demam. Kemarin sempat di rawat di rumah sakit." Cerocos Fara.


Gita menyiku lengan Fara agar supaya berhenti membahasnya.


"Kak Farhan juga terlihat pucat, sakit?" tanya Gita.


"Iya, sama dengan lo. Setelah ke hujanan langsung demam." Jawab Farhan.


"Wah... kalian so sweet banget sakit aja barengan. Mungkin kah bertanda jodoh." Fara menunjuk Farhan lalu Gita.


Gita menginjak kaki Fara, "Jangan sembarangan kalau ngomong. Maafin dia Kak suka ngelantur."


"Iya, nggak apa-apa. Oiya, ini gue kembalikan kain yang lo pinjami. Makasih dan maaf gara-gara gue lo jadi sakit." Kata Farhan.


"Sama-sama Kak, lagian gue sakit karena kekebalan tubuh gue yang sedang menurun. Jadi jangan menyalahkan diri sendiri." Jelas Gita.

__ADS_1


"Kalau gitu, Gita ke kelas dulu ya Kak."


"Iya."


__ADS_2