Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Battel


__ADS_3

“Mas Win, proyek ini di presentasikan


kapan Ya?” tanya Gita.


“Besok. Dan kita belum menemukan ide.”


Jawab Win sedikit frutasi.


“Gimana kalau kita buat iklan ini


menjadi beberapa part.” Gita memberikan ide.


“Maksud lo?” Ina mulai tertarik dengan


ide yang di berikan sama Gita.


“Gita buat seperti web drama, entah itu


mau bentuk kartun atau model sungguhan.” Jelas Gita.


“Gue setujuh, gimana kalau kita ambil


tema dari anak sekolah saja. Biasanya remaja pasti menyukainya.” Fara


memberikan ide.


“Tapi target kita bukan hanya remaja,


justru lebih ke ibu-ibu. Dan ibu-ibu tidak begitu suka dengan drama anak


sekolah.”


“Kalau kita bikin beberapa versi, anak


sekolah, dewasa dan juga anak-anak. Di dalam pewangi ini kan ada bberapa varian


dan kita ambil yang sekiranya cocok dengan genrenya.” Tambah Gita.


“Bisa tuh, kita buat tiga versi. Kita


akan ambil yang mana anime, kartun atau model asli. Menurut Mas Win, Mas Nino


sama Mbak Ina gimana?” tanya Vian.


“Ide yang sangat brilian, tapi apa ini


tidak terlalu rumit?” tanya Win.


“Pasti agak rumit Mas, cuman kita harus


buat iklan ini semanarik mungkin dan buat orang penasaran ingin melihat


lanjutannya. Dan pasti penasaran kan sama produknya.” Jelas Gita.


“Untuk sementara kita akan simpan ide


yang ini dulu, dan kita akan presentasikan besok. Kalian bisa mulai mendesain


agar nanti saat ide ini di acc sama bos kita sudah menggarap beberapa persen.”


Jelas Win.


“Baik Mas.”


“Oiya Win, kita baru menemukan konsep


tapi kita akan mengunakan kartun,anime atau model asli?” tanya Nino.


“Ah.. benar sampai lupa. Gita menurut


kamu apa yang bagus?”


“Kalau Gita lebih memilih anime.”


“Alasannya?”


“Kita bisa mnegrjakannya sendiri nanti


saat semuanya dirilis tanpa harus shooting, mencari model.” Jelas Gita.


“Kalau gue lebih setuju ke model asli,


karena ceritanya akan lebih dapat.” Kata Fara.


“Ok, sekarang voting siapa yang ikut ide


Gita dan siapa yang akan ikut ide Fara. Gue mulai dari Gita dulu.”


Hanya Vian yang mengangkat tangan untuk


Gita, dan pemenangnya adalah Fara.


“Baik, untuk proyek ini dimenangkan


Fara. Sekarang kalian bikin naskah untuk modelnya nanti.” Kata Win.


Pagi tiba saatnya presentase untuk


perebutan proyek pengambilan iklan. Semua tim sudah berada di ruang rapat


tinggal menunggu kedatangan Gilang saja.


“Selamat pagi semua.” Sapa Gilang.


“Selamat pagi Pak.”


“Maaf membuat kalian menunggu, sekarang


silahkan kalian presentasekan produknya. Silahkan Tim Win dulu.” Kata Gilang.


Fara berdiri, dia mulai menjelaskan ide


yang akan mereka buat dengan sangat detail.


“Maaf, ini kan hanya untuk iklan kecil


apa tidak kebanyakan budget untuk menggunakan konsep web seris dengan beberapa


versi.” Ratna memberikan sanggahan dari konsep team Win.

__ADS_1


“Untuk mendapatkan hasil yang maksimal


tidak ada salahnya kan kita mengeluarkan sedikit lebih.” Jawab Fara.


“Selain badget yang terbuang sia-sia,


itu akan memankan waktu lama sedangkan kita hanya memiliki waktu kurang dari


satu bulan. Dalam pemilihan konsep itu kita masih harus cari tempat, dan juga


model.” Catrin mulai bersuara.


“Jika memang konsep dengan model memakan


biaya dan waktu yang lama, kami juga memiliki konsep yang kedua dengan versi


anime. Kita tidap perlu mencari model ataupun tempat.” Gita memberikan


pembelaan untuk teamnya.


“Benar selain hemat pengerjaannya juga


tidak membutuhkan waktu yang lama.” Tambah Vian.


“Untuk konsep anime hanya bisa dinikmati


oleh anak muda, sedangkan target kita adalah orang tua.” Roy juga menolak.


“Lalu seperti apa konsep yang kalian


miliki.” Gilang meminta team Ratna mempresentasikan konsep team mereka.


“Baik.” Roy maju ke depan menggantikan


Fara.


“Team kami hanya akan mengambil inti


saja, sedikit adegan dengan model yang sudah kita punya. Tidak perlu menambah


adegan basa-basi lainnya.” Jelas Roy.


“Mengambil intinya saja itu kesanya


hanya akan di pandang sepele bagi pennton bukan, bahkan kalau iklan itu muncul


di media sosial hanya akan di skip.” Kini giliran Gita yang berkomentar.


“Meskipun di skip, mereka sudah tahu


dari inti yang kita iklan kan. Mereka tidak perlu menelaah lagi maksud dari


iklannya.” Jawab Roy.


Persaingan mereka sangat sengit dan


tidak mau kalah semua. Gilang melihat semejak kedatangan Gita, Fara dan Vian


membuat Tim Win ada perkembangan.


“Baiklah, saya akan putuskan proyek ini


Gilang sambil meninggalkan ruang rapat.


“Lila aku mau berkas proyek dari kedua


tim.” Gilang meminta sama Lila.


“Baik bos, saya akan segera antarkan ke


ruangan bapak.


“Baik saya tunggu.”


Win mengajak teamnya kembali ke


ruangannya, dia dan kembali memikirkan tentang konsepnya itu. Dia akan merevisi


beberapa meskipun dia belum tahu apakah konsepnya itu akan di pakai.


“Win, kenapa lo nggak belajar sama


sekali. Sudah bertahun-tahun di sini masih saja tidak ada peningkatan.” Ejek


Roy.


“Kita itu di dunia kerja yang relistis,


kita itu buat iklan bukan main dongeng.” Kata Catrin dengan sangat lancang


karena anak baru yang berani mengatai orag tua.


“Kalian tidak usah banyak bicara, lihat


saja nanti konsep siapa yang bakalan di ambil. Lagian konsep kalian itu sama


sekali tidak kreatif. Anak Sd juga bisa membuat konsep seperti itu.” Gita


membalas ejekan mereka.


“Apa lo bilang?” Catrin tiba-tiba


tersulut emosi mendengar ejekan Gita.


“Kenapa nggak terima, sekarang dunia


periklanan itu sudah sangat bagus tak hanya mengatakan satu kalimat lalu


selesai. Kita juga butuh sesuatu yang lebih wah dan membuat pelanggan tertarik


dan menikmati keduannya.” Jelas Gita.


“Sudah Gita tidak perlu lo menjelaskan


sama team mereka, otaknya tidak akan sampai.” Kata Ina.


“Lebih baik sekarang kita ke ruangan dan


bekerja.” Tambah Nino.

__ADS_1


Fara duduk dengan mendengus kesal, dia


belum memberikan stetmen buat team sebelah sudah di selesaikan saja debatnya.


“Kenapa lo?” tanya Vian.


“Gue belum menyerang mereka kenapa sudah


pada ngajakin balik sih.” Kata Fara sambil melipat ke dua tangannya di dada.


“Ya Tuhan, gue kira kenapa. Nggak


tahunya masih saja mau perang sama team sebelah.” Nino menggelengkan kepala.


“Suka ngadi-ngadi nih bocah.” Vian


menggelengkan kepala.


“Gue mau ke dapur, siapa yang mau pesan


kopi?” Gita mengalihkan topik pembicaraan. Semua orang mengangkat tangannya


tinggi-tinggi.


“Baiklah, tunggu sebentar.” Gilang sung


beranjak ke pantri untuk membuat kopi buat teamnya yang sedang panas hati dan


otaknya.


Sebelum ke pantri Gita pergi ke ruanagan


Gilang, dia tengok kanan kiri mengecek ada yang melihatnya atau tidak. Setelah


aman dia langsung mendorong pintu kuat-kuat dan masuk ke dalam.


“Kak Gilang.” Gita langsung duduk di


depan Gilang.


“Ada apa?” tanya Gilang. Dia melihat


Gita sekilas lalu kembali fokus mempelajari berkas dari ke dua team.


“Boleh tahu nggak konsep siapa yang akan


di ambi.”


“Tentu saja tidak boleh.” Kata Gilang.


“Apa tidak ada clue agar aku tahu


tanda-tanda siapa terpilih.” Gita sedikit memaksa agar Gilang memberi tahu


siapa pemenang dari proyek itu.


Gilang beranjak dari duduknya lalu berjalan


mendekati Gita. Dia memeluk Gita dari belakang dan berbisik di telinga Gita.


“Tidak bisa sayang, meskipun kamu pacar


aku tapi tidak boleh curang.”


“Iya deh iya.” Kata Gita.


“Apa kamu datang kesini hanya untuk


menanyakan masalah ini?” tanya Gilang.


Gita menganggukan kepala, “Memangnya mau


apa lagi?” Gita mengangkat sedikit kepalanya  untuk melihat Gilang.


“Ya siapa tahu kamu merindukanku.”


Gilang mendekatkan wajahnya ke wajah Gita. Dan dengan cepat dia memberikan


ciuman kecil di bibirnya Gita. Gita terdiam wajahnya langsung merona.


“Kak Gilang ini di kantor.” Gita mendorong


pelan badan Gilang hingga dia bisa berdiri dan lari dari ruangan Gilang.


Gita keluar dari ruangan Gilang sambil


memegangi dadanya, merasakan detak jantungnya yang sangat luar biasa. Gilang


membuatnya senam jantung, karena takut di lihat sama karyawan lainnya.


Gita membawa kopi ke ruangannya lalu


membagikan satu persatu ke rekan teamnya.


“Ya ampun Git, lo buat kopinya di Korea


Selatan apa Mesir sih lama amat.” Omel  Fara.


“Iya, lama amat lo perginya. Darimana


saja?” tanya Mas Win.


“Habis cari vitamin, biar semangat


kerjanya.” Jawab Gita sambi duduk.


“Vitamin apaan gue mau?” Vian menggeser


kursinya hingga mendempel kursi milik Gita.


“Jangan, kamu nggak akan suka.” Gita


mendorong kursi Vian sampai kembali lagi ke tempat asalnya.


“Ah pelit banget.” Kata Vian.


“Di bilang lo nggak akan kuat lo nggak


percaya.” Jelas Gita.

__ADS_1


__ADS_2