
“Mas Win, proyek ini di presentasikan
kapan Ya?” tanya Gita.
“Besok. Dan kita belum menemukan ide.”
Jawab Win sedikit frutasi.
“Gimana kalau kita buat iklan ini
menjadi beberapa part.” Gita memberikan ide.
“Maksud lo?” Ina mulai tertarik dengan
ide yang di berikan sama Gita.
“Gita buat seperti web drama, entah itu
mau bentuk kartun atau model sungguhan.” Jelas Gita.
“Gue setujuh, gimana kalau kita ambil
tema dari anak sekolah saja. Biasanya remaja pasti menyukainya.” Fara
memberikan ide.
“Tapi target kita bukan hanya remaja,
justru lebih ke ibu-ibu. Dan ibu-ibu tidak begitu suka dengan drama anak
sekolah.”
“Kalau kita bikin beberapa versi, anak
sekolah, dewasa dan juga anak-anak. Di dalam pewangi ini kan ada bberapa varian
dan kita ambil yang sekiranya cocok dengan genrenya.” Tambah Gita.
“Bisa tuh, kita buat tiga versi. Kita
akan ambil yang mana anime, kartun atau model asli. Menurut Mas Win, Mas Nino
sama Mbak Ina gimana?” tanya Vian.
“Ide yang sangat brilian, tapi apa ini
tidak terlalu rumit?” tanya Win.
“Pasti agak rumit Mas, cuman kita harus
buat iklan ini semanarik mungkin dan buat orang penasaran ingin melihat
lanjutannya. Dan pasti penasaran kan sama produknya.” Jelas Gita.
“Untuk sementara kita akan simpan ide
yang ini dulu, dan kita akan presentasikan besok. Kalian bisa mulai mendesain
agar nanti saat ide ini di acc sama bos kita sudah menggarap beberapa persen.”
Jelas Win.
“Baik Mas.”
“Oiya Win, kita baru menemukan konsep
tapi kita akan mengunakan kartun,anime atau model asli?” tanya Nino.
“Ah.. benar sampai lupa. Gita menurut
kamu apa yang bagus?”
“Kalau Gita lebih memilih anime.”
“Alasannya?”
“Kita bisa mnegrjakannya sendiri nanti
saat semuanya dirilis tanpa harus shooting, mencari model.” Jelas Gita.
“Kalau gue lebih setuju ke model asli,
karena ceritanya akan lebih dapat.” Kata Fara.
“Ok, sekarang voting siapa yang ikut ide
Gita dan siapa yang akan ikut ide Fara. Gue mulai dari Gita dulu.”
Hanya Vian yang mengangkat tangan untuk
Gita, dan pemenangnya adalah Fara.
“Baik, untuk proyek ini dimenangkan
Fara. Sekarang kalian bikin naskah untuk modelnya nanti.” Kata Win.
Pagi tiba saatnya presentase untuk
perebutan proyek pengambilan iklan. Semua tim sudah berada di ruang rapat
tinggal menunggu kedatangan Gilang saja.
“Selamat pagi semua.” Sapa Gilang.
“Selamat pagi Pak.”
“Maaf membuat kalian menunggu, sekarang
silahkan kalian presentasekan produknya. Silahkan Tim Win dulu.” Kata Gilang.
Fara berdiri, dia mulai menjelaskan ide
yang akan mereka buat dengan sangat detail.
“Maaf, ini kan hanya untuk iklan kecil
apa tidak kebanyakan budget untuk menggunakan konsep web seris dengan beberapa
versi.” Ratna memberikan sanggahan dari konsep team Win.
__ADS_1
“Untuk mendapatkan hasil yang maksimal
tidak ada salahnya kan kita mengeluarkan sedikit lebih.” Jawab Fara.
“Selain badget yang terbuang sia-sia,
itu akan memankan waktu lama sedangkan kita hanya memiliki waktu kurang dari
satu bulan. Dalam pemilihan konsep itu kita masih harus cari tempat, dan juga
model.” Catrin mulai bersuara.
“Jika memang konsep dengan model memakan
biaya dan waktu yang lama, kami juga memiliki konsep yang kedua dengan versi
anime. Kita tidap perlu mencari model ataupun tempat.” Gita memberikan
pembelaan untuk teamnya.
“Benar selain hemat pengerjaannya juga
tidak membutuhkan waktu yang lama.” Tambah Vian.
“Untuk konsep anime hanya bisa dinikmati
oleh anak muda, sedangkan target kita adalah orang tua.” Roy juga menolak.
“Lalu seperti apa konsep yang kalian
miliki.” Gilang meminta team Ratna mempresentasikan konsep team mereka.
“Baik.” Roy maju ke depan menggantikan
Fara.
“Team kami hanya akan mengambil inti
saja, sedikit adegan dengan model yang sudah kita punya. Tidak perlu menambah
adegan basa-basi lainnya.” Jelas Roy.
“Mengambil intinya saja itu kesanya
hanya akan di pandang sepele bagi pennton bukan, bahkan kalau iklan itu muncul
di media sosial hanya akan di skip.” Kini giliran Gita yang berkomentar.
“Meskipun di skip, mereka sudah tahu
dari inti yang kita iklan kan. Mereka tidak perlu menelaah lagi maksud dari
iklannya.” Jawab Roy.
Persaingan mereka sangat sengit dan
tidak mau kalah semua. Gilang melihat semejak kedatangan Gita, Fara dan Vian
membuat Tim Win ada perkembangan.
“Baiklah, saya akan putuskan proyek ini
Gilang sambil meninggalkan ruang rapat.
“Lila aku mau berkas proyek dari kedua
tim.” Gilang meminta sama Lila.
“Baik bos, saya akan segera antarkan ke
ruangan bapak.
“Baik saya tunggu.”
Win mengajak teamnya kembali ke
ruangannya, dia dan kembali memikirkan tentang konsepnya itu. Dia akan merevisi
beberapa meskipun dia belum tahu apakah konsepnya itu akan di pakai.
“Win, kenapa lo nggak belajar sama
sekali. Sudah bertahun-tahun di sini masih saja tidak ada peningkatan.” Ejek
Roy.
“Kita itu di dunia kerja yang relistis,
kita itu buat iklan bukan main dongeng.” Kata Catrin dengan sangat lancang
karena anak baru yang berani mengatai orag tua.
“Kalian tidak usah banyak bicara, lihat
saja nanti konsep siapa yang bakalan di ambil. Lagian konsep kalian itu sama
sekali tidak kreatif. Anak Sd juga bisa membuat konsep seperti itu.” Gita
membalas ejekan mereka.
“Apa lo bilang?” Catrin tiba-tiba
tersulut emosi mendengar ejekan Gita.
“Kenapa nggak terima, sekarang dunia
periklanan itu sudah sangat bagus tak hanya mengatakan satu kalimat lalu
selesai. Kita juga butuh sesuatu yang lebih wah dan membuat pelanggan tertarik
dan menikmati keduannya.” Jelas Gita.
“Sudah Gita tidak perlu lo menjelaskan
sama team mereka, otaknya tidak akan sampai.” Kata Ina.
“Lebih baik sekarang kita ke ruangan dan
bekerja.” Tambah Nino.
__ADS_1
Fara duduk dengan mendengus kesal, dia
belum memberikan stetmen buat team sebelah sudah di selesaikan saja debatnya.
“Kenapa lo?” tanya Vian.
“Gue belum menyerang mereka kenapa sudah
pada ngajakin balik sih.” Kata Fara sambil melipat ke dua tangannya di dada.
“Ya Tuhan, gue kira kenapa. Nggak
tahunya masih saja mau perang sama team sebelah.” Nino menggelengkan kepala.
“Suka ngadi-ngadi nih bocah.” Vian
menggelengkan kepala.
“Gue mau ke dapur, siapa yang mau pesan
kopi?” Gita mengalihkan topik pembicaraan. Semua orang mengangkat tangannya
tinggi-tinggi.
“Baiklah, tunggu sebentar.” Gilang sung
beranjak ke pantri untuk membuat kopi buat teamnya yang sedang panas hati dan
otaknya.
Sebelum ke pantri Gita pergi ke ruanagan
Gilang, dia tengok kanan kiri mengecek ada yang melihatnya atau tidak. Setelah
aman dia langsung mendorong pintu kuat-kuat dan masuk ke dalam.
“Kak Gilang.” Gita langsung duduk di
depan Gilang.
“Ada apa?” tanya Gilang. Dia melihat
Gita sekilas lalu kembali fokus mempelajari berkas dari ke dua team.
“Boleh tahu nggak konsep siapa yang akan
di ambi.”
“Tentu saja tidak boleh.” Kata Gilang.
“Apa tidak ada clue agar aku tahu
tanda-tanda siapa terpilih.” Gita sedikit memaksa agar Gilang memberi tahu
siapa pemenang dari proyek itu.
Gilang beranjak dari duduknya lalu berjalan
mendekati Gita. Dia memeluk Gita dari belakang dan berbisik di telinga Gita.
“Tidak bisa sayang, meskipun kamu pacar
aku tapi tidak boleh curang.”
“Iya deh iya.” Kata Gita.
“Apa kamu datang kesini hanya untuk
menanyakan masalah ini?” tanya Gilang.
Gita menganggukan kepala, “Memangnya mau
apa lagi?” Gita mengangkat sedikit kepalanya untuk melihat Gilang.
“Ya siapa tahu kamu merindukanku.”
Gilang mendekatkan wajahnya ke wajah Gita. Dan dengan cepat dia memberikan
ciuman kecil di bibirnya Gita. Gita terdiam wajahnya langsung merona.
“Kak Gilang ini di kantor.” Gita mendorong
pelan badan Gilang hingga dia bisa berdiri dan lari dari ruangan Gilang.
Gita keluar dari ruangan Gilang sambil
memegangi dadanya, merasakan detak jantungnya yang sangat luar biasa. Gilang
membuatnya senam jantung, karena takut di lihat sama karyawan lainnya.
Gita membawa kopi ke ruangannya lalu
membagikan satu persatu ke rekan teamnya.
“Ya ampun Git, lo buat kopinya di Korea
Selatan apa Mesir sih lama amat.” Omel Fara.
“Iya, lama amat lo perginya. Darimana
saja?” tanya Mas Win.
“Habis cari vitamin, biar semangat
kerjanya.” Jawab Gita sambi duduk.
“Vitamin apaan gue mau?” Vian menggeser
kursinya hingga mendempel kursi milik Gita.
“Jangan, kamu nggak akan suka.” Gita
mendorong kursi Vian sampai kembali lagi ke tempat asalnya.
“Ah pelit banget.” Kata Vian.
“Di bilang lo nggak akan kuat lo nggak
percaya.” Jelas Gita.
__ADS_1