
Gita melihat permainan Gilang, dia tak mengedipkan matanya saat melihat Gilang berjalan setelah memasukkan bola. Tubuh yang kekar dengan bahu lebar sangat profesional. Bahunya yang lebar tampak sangat nyaman untuk bersender.
"Benar-benar cowok idaman." gumam Gita ketika Gilang mengusap rambutnya ke belakang. Gita melihat Gilang sangat sexy saat mengusap rambut di tambah senyuman yang manis.
"Eh.. ini jantung gue bisa gitu jedak-jeduk kayak disko. Menyalahi aturan ini mah." Gumam Gita lagi.
Gita pergi ke toilet untuk menetralkan perasaanya yang mulai goyah saat melihay Gilang yang super tampan hari itu.
"Ah.. masa iya gue tiba-tiba jatuh cinta sama Gilang." Ujar Gita sambil bercermin.
Dia melihat tubuhnya, "Aneh nggak sih orang ganteng sama cewek gendut dan jelek kayak gue." Gita mulai nggak pede. Dia mulai mencaci keadaan fisiknya sendiri.
"Harusnya tuh Gilang sama Kak Qila, apa dia punya sakit mata jadi pilih gue. Jadi matanya melihat ke arah gue tapi yang dia lihat Kak Qila." pikiran Gita mulai tidak jelas.
"Ah.. sudahlah. Gila gue lama-lama mikirin ini. Dari tadi ngomong sendiri." Gita keluar ke toilet.
Gita masuk ke lapangan tapi sudah tidak ada siapa-siapa.
"Udah selesai?" Gita melihat sekeliling.
"Darimana aja lo gue cariin?" Tanya Gilang dari belakang Gita.
"Ah.. tadi habis toi...let." Ucapan Gita melemah melihat Gilang. Dia tak berkedip melihat wajah Gilang yang berkeringat namun dia merasa itu sangat keren. Gita melihat kearah bibir Gilang kemudian bagian leher yang juga berkeringat. Mendadak seperti ada magnet dalam tubuhnya yang menarik dirinya untuk memeluk Gilang.
"Gita apa yang lo pikirkan." batinya sambil menelan ludah.
Tek! Gilang menyentil kening Gita.
"Aduh.. kenapa lo menyentil kening gue. Sakit tahu." Gita manyun semua lamunany buyar.
"Makanya lo jangan berpikir yang aneh-aneh. Kita masih SMA." Gilang sepertinya bisa membaca pikiran Gita.
"Apaan sih, emangnya gue mikir apaan?"
Gilang melamgkah maju mendekatkan diri kearah Gita. Gita pun berusaha mundur namun Gilang terus maju sampai kaki Gita menyetuh kursi penonton dan dia duduk. Gilang terus memajukan tubuhnya dan mendekatkan wajahnya.
Gita tak kuat menahan tatapan Gilang yang tajam. Dia memejamkan matanya lalu menggigit bibir bawahnya. Dia takut Gilang akan menciumnya.
Gilang tersenyum, dia berhasil mengerjai Gita. Gilang membisiki telingan Gita.
"Udah di bilang jangan mikir macam-macam, kita masih anak SMA." Gilang menarik dirinya lalu duduk di sebelah Gita. Dia menggandeng tanga Gita.
Gita perlahan membuka matanya, wajahnya berubah merah merona malu dengan pikirannya.
"Kenapa jadi dingin seperti ini? Lo gugup." Gilang menoleh kearah Gita. Gita langsung membuang muka, dia berusaha melepas pegangan tanganya namun di tahan sama Gilang.
__ADS_1
"Biarin seperti ini, gue suka memegang tangan lo. Kita kan belum pernah pegangan tangan."
Mereka berdua terdiam hampir setengah jam dengan tangan yang saling berpegangan. Dan sesekali mereka saling curi pandang.
"Ta.. boleh gue tanya sesuatu?"
"Em." jawab Gita sambil melihat Gilang. Wajahnya sudah kembali normal namun jantungnya yang mulai tidak karuan.
"Apa lo senang saat kita menjalani pelatihan pacara ini?" Gilang bertanya dengan serius. Gita bingung menjawabnya lalu dia menganguk ragu.
"Apa sudah ada sedikit hati buat gue?"
"Gu..e belum tahu." Kata Gita pelan.
"Ah.. pasti belum. Gue ngerti kok." Gilang tersenyum masam.
"Apa lo capek? Em lo mau berhenti sekarang. Nggak apa-apa kok kalau lo emang sudah tidak tahan dan mau cari cewek lain." Kata itu meluncur dengan mulus dari mulut Gita meskipun ada perasaan aneh dalam hatinya saat mengucapkan itu.
"Ngomong apa sih, gue nggak capek. Cuma mau tahu saja pertumbuhan hati lo."
"Tapi..."
"Makan yuk, gue lapar." Gilang berdiri dia mengalihkan pembicaraan. Dia tahu pasti Gita ingin dia melepaskanya dan mendekati cewek lain.
...◇◇◇◇◇...
Gita mulai salting dan dia berpikir keras mencari topik pembahasan.
"Kak Gilang."
"Hem."
"Kakak percaya nggak dengan yang namanya orang yang datang dari masa sekarang."
"Aah.." Gilang melongo, lalu menahan senyuman. Karena Gita masih membahas tentang dirinya dari masa depan.
"Em.. gimana ya bingung antara percaya nggak percaya sih. Kalau gue pikir semua itu hanya ada di film, novel atau komik gitu. Memangnya kenapa?"
"Ah... nggak cuma tanya aja." Gita nyengir.
"Rasa penasaran Gita besar juga." Batin Gilang.
"Ya udah sekarang makan." Gilang mengambil nasi dan cumi-cumi.
Gita mengambil masi seperempat dari biasanya. Dia juga mengambil lauk sedikit.
__ADS_1
"Kenapa makan sedikit, apa nggak enak?"
"Bukan begitu gue kan mau diet, jadi gue harus makan sedikit." Kata Gita. Dia perlahan memasukkan nasi kedalam mulutnya.
Gilang berdiri lalu memberikan lauk yang lumayan banyak ke piring Gita.
"Makan yang banyak, diednya di tunda besok." Kata Gilang.
"Ah..."
"Udah nggak usah kebanyakan mikir, sekarang makan. Kalau mau diet besok gue kasih triknya."
"Ya."
Diet hari ini gagal, Gita kembali makan banyak karena Gilang. Dia yang menyarankan tapi dia juga yang membuat niat Gita diet menghilang.
...◇◇◇◇◇...
"Ehem... udah banyak perkembangan nih." Raka mencubit pipi gembul Gita.
"Raka sakit, kebiasaan banget sih lo." Gita mengusap pipi bekas cubitan Raka.
"Gimana?" Raka menggerakan kedua alisnya.
"Apanya?"
"Gilang lah, udah siap belum jadian sama Gilang."
"Ka, lo nggak salah ya jodohin gue sama Gilang."
Raka menggelengkan kepala, "Nggak, emang kenapa?"
"Dia itu sempurana tahu nggak, ah.. maksud gue mendekati kata sempurna. Tinggi, putih, ganteng, pinter, genius, atletis masa iya sama gue yang kayak kepompong nggak bisa apa-apa. Nggak kasian apa sama dia kalau pacaran sama gue."
"Gita stop menilai diri lo kayak gitu,kalau lo pikir sekarang jadi kepompong sebentar lagi lo akan jadi kupu-kupu yang sangat bagus. Percaya deh sama gue. Lo jangan kebanyakan mikir yang nggak enggak. Gue tanya gimana perasaan lo saat dekat Gilang?"
"Em.. jantung rasanya kayak mau meledak. Darah rasanya mengalir deras, gue rasa dalam hati gue mulai senang ada dia di hidup gue ini." Gita tanpa sadar meluapkan perasaanya sama Raka.
"Baguslah. Gue senang kalau memang perasaan lo mulai tumbuh."
"Eh.. maksud gue itu perasaan nyaman aja, bukan cinta." Gita mencoba mengklarisifikasi ucapanya.
"Sudahlah lo nggak usah mengelak, cinta, sayang itu akan muncul ketika kita mulai nyaman dengan seseorang."
"Benar juga." Gumam Gita pelan.
__ADS_1