
Tut...Tut...tut....
Gita menelpon Vian yang jadi biang keladi dari semuanya.
"Nggak di angkat nih." kata Gita.
"Sengaja dia tuh pasti, tahu kalau kita bakalan telpon dia." kata Anita.
"Hooh, emang dasar tuh ya si Vian."
"Halo, Vian disini ada yang bisa di bantu." Kata Vian dengan cekikikan. Fara merebut ponselnya dari tangan Gita.
"Heh! Vian kampret, Vian lelaki kardus. Tega sekali lo ya melakukan itu sama bestie sendiri." Maki Fara.
"Eh.. sialan lo di kata gue lelaki kardus. Cowok ganteng tiada tara begini." Jawab Vian.
"Iya ganteng, tapi jomblo akut dan nggak laku."
"Kalau ngomong ya nggak pernah di saring kalian. Gue sakit hati nih."
"Gue juga sakit hati sama lo, nggak bestie banget main aduan lagi. Lo tanggung jawab ya kalau sampai kita batal nikah." Kata Anita.
"Kok jadi gue, nih ya dengarkan baik-baik orang ganteng bicara. Gue lakuin itu karena sayang sama kalian. Tapi kalau mereka emang batalin pernikahan sama kalian. kan ada gue, gue sanggup biayain kalian bertiga. Jadi kan enak gue, satu maskin, satu pijitin satu suapi. Ah... senangnya dalam hati kalau beristri tiga." ujar Vian yang diakhiri dengan bernyanyi.
"Sinting lo ya, lagian gue juga ogah sama lo."
"Iya sok-soan mau istri tiga satu aja lo belum tentu sanggup mengurusnya." kata Anita.
"Kalian memang suka sekali meremehkan gue."
Gita mengambil ponsel dari tangan Fara, "Vian stop, jangan bicara nggak jelas lagi. Sekarang lo cariin solusi karena mereka ngambek dan kita nggak tahu cara membujuknya." kata Gita.
"Ah.. gue lagi yang repot." Kata Vian.
"Salah sendiri, kan lo sendiri yang bikin repot."
"Kalian kan pacaran udah sejak SMA masa ya nggak paham sih cara membujuk mereka."
"Karena semua cara itu udah nggak bakalan mempan lagi buat bujukinnya." kata Gita. Cara-cara lama tentu saja nggak bakal Gilang luluh dengan cepat.
"Ya kalau gitu, coba aja cara konyol. Misal nih lo lompat dari lantai tiga gedung kantor. Atau lo tiduran di rel kereta apa."
"Vian lo mau bunuh kita?!" Seru Fara.
"Sungguh terlalu, ini namanya mengatasi masalah dengan masalah." Anita menggeleng kepala.
"Gimana nih, pusing gue?" Gita mengacak-acak rambutnya.
"Jangan tanya, gue juga nggak tahu." Kata Fara.
"Naik yuk." Ajak Anita.
"Kemana?" tanya Fara.
"Ya nyusulin mereka." Kata Anita sembari beranjak jalan duluan. Gita dan Fara saling berpandangan dan masih duduk tidak langsung mengikuti ajakan Anita.
Anita berjalan sembari melongok ke atas, tidak memperhatikan jalannya. Kakinya tiba-tiba kakinya terpeleset dan jatuh.
"Aaa!" teriak Anita keras.
"Anita!" teriak Gita dan Fara bersamaan dan berlari mendekati Anita.
"Lo nggak apa-apa?" tanya Gita panik.
"Sakit banget." katanya sembari memegangi pergelangan kakinya.
__ADS_1
Mendengar teriakan Anita, Bayu kelur dari kamar Gilang. Dia berjalan menurunibtangga dengan cepat.
"Ada apa?"
"Anita jatuh, kakinya terkilir." Jawab Gita.
"Sayang, apa kamu baik-baik saja? Mana yang sakit?" Bayu cemas melihat Anita yang cengar-cengir menahan sakit.
"Ini." Tunjuk Anita ke pergelangan kaki kirinya.
Bayu menggendong Anita, membawanya ke sofa. Anita menoleh ke arah kedua sahabatnya lalu tersenyum sembari mengangkat tanganya dengan melambangkan ok.
"Wah.. dia menggunakan ini untuk berbaikan. Cerdik juga idenya meskipun harus menyakiti dirinya sendiri."
"Haruskah kita mencobanya?" Fara melihat kearah Gita.
"Tidak ada kejadian yang sama, dan juga mendapatkan perhatian yang sama pula." Jawab Gita sambil menoleh ke belakang saat mendengar langkah dari belakang.
"Ada apa Bay?" tanya Gilang.
"Kakinya terkilir, gue bakalan bawa Anita ke rumah sakit dulu." Kata Bayu kembali menggendong Anita.
"Biar kita anterin." kata Gilang sembari turun tangga di ikuti Raka. Mereka berdua melewati Gita dan Fara begitu saja.
Fara menarik tangan Gita agar mengikuti mereka untuk ikut ke rumah sakit.
"Kok pakai mobil ini, kan sempit?" tanya Fara.
"Kita mau ke rumah sakit bukan mau ke club jadi kenapa pakai yang besar?" Raka melirik Fara.
"Terus kita gimana dong?" tanya Fara.
"Terserah kalian mau ngapain juga." Gilang masuk dan menutup pintu dengan sedikit keras membuat Gita dan Fara kaget.
"Jadi nikah nih si Anita, terus nasib kita gimana nih?"
"Iya, mana wajah Kak Gilang masih terlihat marah."
"Piknik aja lah yuk, biar kita nggak stres."
"Piknik kemana Far, lagian ini udah malam."
"Ke pantai saja. Kita nginep di hotel dekat pantai." ajak Fara.
"Yakin nih? Nanti Kak Gilang sama Raka marah lagi. Orang di suruh merenung kok malah ke pantai."
"Jawab aja nanti, kita ke pantai juga cari ketenangan buat merenung." kata Fara.
"Ya udah deh, gue ijin nyokap gue dulu."
"Ya gue cari taksi dulu sembari ambil mobil ke tempat club. Katanya, karena penjmputan paksa mobil Fara tertinggal di pakiran dekat club.
Setelah Gita mendapatkan ijin dari mamanya, mereka berdua langsung berangkat. Mereka kembali membuat ulah yang akan membuat para calon suaminya marah.
Sesampai di pantai mereka langsung ke hotel dulu. Mereka akan ke panai paginya.
"Ini tasnya kenapa gue bawa turun?" kata Gita sambil melihat kembali lingerie yang di belinya.
"Eh sini Git, biar gue coba." Fara mengambil lingerie.
Gita melotot melihat Fara sangat sexy memakainya.
"Far, lo sexy banget sumpah."
"Sana lo pakai, kita fotoni sama Anita. Pamer kita."
__ADS_1
"Ok tunggu sebentar. " Gita bergegas mengganti pakaiannya dengan lingerie.
Setelah selesai berganti baju, mereka bedua mengambil selfi.
"Sini gue kirim ke Anita." kata Gita.
...Gita...
...(mengirim foto selfi)...
...Anita bagaimana menurut lo?...
...Anita...
...Wuhuii sexy banget...
...Gita...
...Bagus kan, kalau kita pakai ini jalan-jalan ke pantai seru nih....
...Anita ...
...Gila lo, masa ke pantai pakai lingerie...
...Gita...
...Kan sama saja itu sama bikini, biar gue sama Fara kelihatan sexy siapa tahu ada bule yang kecantol....
...Anita ...
...Memangnya berani pakai? ...
...Gita...
...Berani lah...
...Anita...
...Kalau Kak Gilang sama Raka tahu?...
...Gita...
...No picture dong ...
...*Hahah**a*...
...Anita ...
...Sinting...
Gita dan Fara merebahkan tubuh mereka berjejeran.
"Git, kalau Raka tiba-tiba batalin nikahnya gimana ya?" Fara berubah was-was.
"Tenang aja, itu nggak mungkin. Raka kan sayang banget sama lo."
"Ya tapi dia ngambek sampai nggak hubungin aku loh, gue chat nggak di bales." Dia menunjukan ponselnya.
"Namanya juga ngambek gimana sih lo, kalau balas chat lo brati dia biasa aja. lagi baik-baik saja." Kata Gita.
"Lo emang biasa aja gitu nggak di chat Kak Gilang?"
"Cemas sih, cuman kalau sekarang di chat yang ada gue sakit hati sendiri. mending tunggu sampai besok biar dingin dulu." Jelas Gita.
"Ah.. benar juga."
__ADS_1