Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Awal Kehidupan Baru


__ADS_3

Kehidupan baru Gita sudah dimulai, setelah


menyelesaikan kuliahnya dan wisuda. Saatnya dia menjadi pejuang amplop coklat.


Dia harus mencari pekerjaan untuk menghidupi dirinya sendiri. Sudah bukan


waktunya lagi  baginya untuk terus


meminta kepada orang tua.


Gita merapikan rambutnya di atas bahu,


dan juga mengecek make upnya siapa tahu ada yang gelepotan.


“Kalian beneran mau masuk ke perusahaan


yang sama?” tanya Raka.


“Iya.” Jawab Gita,Vian dan Fara.


“Kalian nggak mau bisnis bareng gue?”


tanya Raka lagi.


“Nggak mau, gue mau dekat sama calon suami


saja.” Kata Gita.


“Kalau biar gue bisa punya cerita lain


sama kamu.” Fara meringis.


“Lo?”


“Em gue, mau jadi artis.” Jawabnya.


“Diih... muka kayak lo mau jad apa?”


Tanya Fara.


“Tukang kebun, pemulung bisa tuh.” Kata


Gita sambil terkekeh.


“Sejelek itu kah gue.” Vian menabok


lengan Gita.


“Lo mah nething mulu sama gue, dengarin


nanti itu buat judul tukang kebin tampan, i love you.” Gita mengarang.


“Woooeeekkk...”


“Fara lo ya, keterlaluan banget. Lihat


nanti kalau gue udah jadi artis terkenal gue nggak bakalan sapa lo."


“Idih bodo amat, lagian nggak penting.”


“Lo mau sapa gue nggak?” tanya Gita.


“Tenang gue sapa, lo kan bakalan jadi bu


bos gue.”


“Dasar.”


“Ya sudah, good luck ya kalian. Gue


cabut dulu.”


“Siap.”


Meskipun mereka mengenal orang dalam,


tapi kompetisi tetap sama jika tidak memenuhi krateria juga akan gagal.


“Git, kira-kira kalau kita nggak lolos


bakalan di bantuin sama Gilang nggak ya?” tanya Raka sambil menunggu wawancara.


“Nggak, bahkan kalau gue nggak lolos pun


gue nggak akan di terima disini.” Jawabnya dengan hembusan napas berat.


“Wah.. nggak setia kawan banget.” Kata


Fara.


“Bukan nggak setia kawan, tapi kalau


kita nggak lolos di masukin sini nanti bisnis yang sudah dia bangun


bertahun-tahun hacur begitu saja sama kita.” Vian tahu kenapa mereka juga harus


lulus seleksi.


“Kalau lo nggak lolos masuk perusahaan


Kak Gilang mau ngapain Git?” tanya Fara.


“Gue jadi youtober.” Jawabnya nggak


mikir.


“Lo kalau jadi youtober mau bikin konten

__ADS_1


apaan? Lo nangis-nangis nonton drakor?” Ejek Vian.


“Sembarangan, gue punya talenta ya.


Konten apa saja yang penting bagus masyarakat senang.”


“Lo mau tahu nggak konten yang biar


cepat menghasilkan duit.” Kata Vian.


“Bagi-bagi duit.’


“yang ada duit gue habis.”


“Kalau lo mau jadi apa Vian?”


“Tukang somay.”  Sahut Gita.


“Wah.. lo ya penghinaan. Jangan salah lo


ya tukang somay sehari pendapatannya juga banyak. Apa lagi kalau sudah masuk ke


youtobe lo. Pasti laris manis tanjung kimpul.”


“Bener lo Vian, kita bisa saling


menguntungkan.”


“Ya Tuhan, begini amat dapat teman.”


Setelah hampir satu jam akhirnya mereka


selesai wawancara dan tinggal menunggu hasilnya nanti. Gita,Vian dan Fara


berjalan melihat-lihat kantor yang super mewah. Meskipun sudah jadi pacar


Gilang tapi dia juga belum bernah masuk ke kantor. Dia biasanya menunggu di


bawah atau di parkiran.


“Ke kantin yuk.” Ajak Vian.


“Ok.” Mereka bertiga mencari kantin.


Kantin di perusahaan Gilang sangat luas,


bersih dan juga banyak menunya.


“Gila, ini kantor keren banget sampai


kantinya seluas dan se bagus ini.” Vian terpesona.


“Benar, mana bersih lagi.” tambah Gita.


“Kira-kira Kak Gilang suka makan disini


nggak ya?” tanya Fara.


Mana gue belum lihat dia di kantor.” Gita celingukan.


Ketiga anak yang baru lulus kuliah


dengan nilai yang lumayan itu takjub dengan kantor milik Gilang. Mereka menatap


bangga melihat orang-orang yang sudah bekerja di situ memakai pakaian rapi dan


elegan.


“Mereka keren-keren ya.”


“Sebentar lagi kita juga akan bisa


seperti mereka.” Jawab Vian dengan percaya diri.


“Eh Ta. Itu kan Kak Gilang.” Fara


menunjuk Gilang yang sedang berjalan bersama tamunya.


Gita menatap Gilang sambil berpangku


tangan, dia senyum sendiri melihat ke gantengan Gilang. Pesonanya benar-benar


keluar, kalau kata-kata anak sekarang berdamage.


“Gue kesana dulu ya.” Gita langsung


kabur mengikuti Gilang.


“Jangan lama-lama.” Seru Vian.


Gita melihat cewek-cewek yang sedang


berkumpul, dia pun ikut menyelinap disana.


“Ya ampun Bos Gilang, makin hari makin


cakep saja.” Katanya meleyot.


“Benar, mana nggak di spill ceweknya


bikin gue berharap tinggi.” Katanya sembari tersenyum-senyum.


“Jangan harap lo dapatin Kak Gilang, dia


punya gue.” Batin Gita dengan bangga.


“Bukanya dia di gosipkan sama Cintya

__ADS_1


sekertaris perusahaan sebelah.”


“Ah..itu Cuma gosip. Lagian kita tahu


bos kita itu cuek dia kalau ngomong irit sekali sama Chintya. Gue kan pernah


ikut bos waktu rapat bersama perusahaan mereka.”


“Hey.. kalain ngapain berkumpul disini.”


Usir Lila sekertaris Gilang. Mereka langsung kabur, dan begitu juga dengan


Gita.


“Eh kamu anak baru ya?” tanya Lila.


“Eh.. saya baru saja memasukan lamaran


kerja.” Jawab Gita sedikit gagap.


“Baru saja masukin lamaran, sudah ikutan


genit lihatin bos. Sana pergi.”  Lila


menutup pintunya.


“Ck, lihat saja nanti kalau gue sudah jadi


nyonya.” Gita pergi.


Gita duduk kembali bersama degan


teman-temannya, dia melipat kedua tangannya karena kesal.


“Kenapa nih?” Tanya Vian.


“Sekretarisya Kak Gilang ngeselin banget


deh, gue kan lagi nengok eh pintunya di tutup malah di usir lagi.” Kata Jelas


Gita.


“Jelas lah lo di usir, lo masih pakai


baju hitam putih begini sok-sokan ngincer bos.” Kata fara.


“Eh tapi kan gue pacar bos.”


“sadar neng yang tahu lo pacar bos Cuma kita-kita


doang, yang lain kagak.”


“Benar juga.”


“Dah yuk, kita cabut aja dulu sambil


nunggu panggilan.” Ajak Vian.


“Em.. bayar dulu lah makanannya.” Suruh


Gita.


“Gue lagi nih yang bayar?”


“Iya lah siapa lagi, lo kan cowok


sendiri.” Kata Fara.


“Gini nih, giliran bayar membayar gue


yang jadi sasaran.” Vian manyun.


Gita sama Fara hanya cengar-cengir saja,


mereka berdua senang sekali ngerjain Vian.


“Buk bayar.”


“Tadi sudah ada yang bayarin.”


“Sipa Buk?”


“Pokoknya ada.”


“Makasih buk.”


Vian duduk sambil menggaruk kepala, dia


bingung yang dia kenal di kantor ini hanya Gilang tapi Gilang kan tidak tahu


kalau mereka sedang makan disini.


“Kenapa muka lo kayak kesambet gitu.”


Tanya Fara.


“Gue mau bayar nih, tapi katanya sudah


ada yang bayarin. Siapa coba?”


“Kak Gilang mungkin.” Tebak Fara.


“Iya, eh tapi kan dia nggak tahu kalau


kita dapat kan panggilan kerja hari ini. Orang gue juga nggak bilang.”


“Nggak bilang, wah.. bisa-bisa kita

__ADS_1


nggak di terima nih kita.”


“ya udah ah.. yuk pulang.”


__ADS_2