
Kehidupan baru Gita sudah dimulai, setelah
menyelesaikan kuliahnya dan wisuda. Saatnya dia menjadi pejuang amplop coklat.
Dia harus mencari pekerjaan untuk menghidupi dirinya sendiri. Sudah bukan
waktunya lagi baginya untuk terus
meminta kepada orang tua.
Gita merapikan rambutnya di atas bahu,
dan juga mengecek make upnya siapa tahu ada yang gelepotan.
“Kalian beneran mau masuk ke perusahaan
yang sama?” tanya Raka.
“Iya.” Jawab Gita,Vian dan Fara.
“Kalian nggak mau bisnis bareng gue?”
tanya Raka lagi.
“Nggak mau, gue mau dekat sama calon suami
saja.” Kata Gita.
“Kalau biar gue bisa punya cerita lain
sama kamu.” Fara meringis.
“Lo?”
“Em gue, mau jadi artis.” Jawabnya.
“Diih... muka kayak lo mau jad apa?”
Tanya Fara.
“Tukang kebun, pemulung bisa tuh.” Kata
Gita sambil terkekeh.
“Sejelek itu kah gue.” Vian menabok
lengan Gita.
“Lo mah nething mulu sama gue, dengarin
nanti itu buat judul tukang kebin tampan, i love you.” Gita mengarang.
“Woooeeekkk...”
“Fara lo ya, keterlaluan banget. Lihat
nanti kalau gue udah jadi artis terkenal gue nggak bakalan sapa lo."
“Idih bodo amat, lagian nggak penting.”
“Lo mau sapa gue nggak?” tanya Gita.
“Tenang gue sapa, lo kan bakalan jadi bu
bos gue.”
“Dasar.”
“Ya sudah, good luck ya kalian. Gue
cabut dulu.”
“Siap.”
Meskipun mereka mengenal orang dalam,
tapi kompetisi tetap sama jika tidak memenuhi krateria juga akan gagal.
“Git, kira-kira kalau kita nggak lolos
bakalan di bantuin sama Gilang nggak ya?” tanya Raka sambil menunggu wawancara.
“Nggak, bahkan kalau gue nggak lolos pun
gue nggak akan di terima disini.” Jawabnya dengan hembusan napas berat.
“Wah.. nggak setia kawan banget.” Kata
Fara.
“Bukan nggak setia kawan, tapi kalau
kita nggak lolos di masukin sini nanti bisnis yang sudah dia bangun
bertahun-tahun hacur begitu saja sama kita.” Vian tahu kenapa mereka juga harus
lulus seleksi.
“Kalau lo nggak lolos masuk perusahaan
Kak Gilang mau ngapain Git?” tanya Fara.
“Gue jadi youtober.” Jawabnya nggak
mikir.
“Lo kalau jadi youtober mau bikin konten
__ADS_1
apaan? Lo nangis-nangis nonton drakor?” Ejek Vian.
“Sembarangan, gue punya talenta ya.
Konten apa saja yang penting bagus masyarakat senang.”
“Lo mau tahu nggak konten yang biar
cepat menghasilkan duit.” Kata Vian.
“Bagi-bagi duit.’
“yang ada duit gue habis.”
“Kalau lo mau jadi apa Vian?”
“Tukang somay.” Sahut Gita.
“Wah.. lo ya penghinaan. Jangan salah lo
ya tukang somay sehari pendapatannya juga banyak. Apa lagi kalau sudah masuk ke
youtobe lo. Pasti laris manis tanjung kimpul.”
“Bener lo Vian, kita bisa saling
menguntungkan.”
“Ya Tuhan, begini amat dapat teman.”
Setelah hampir satu jam akhirnya mereka
selesai wawancara dan tinggal menunggu hasilnya nanti. Gita,Vian dan Fara
berjalan melihat-lihat kantor yang super mewah. Meskipun sudah jadi pacar
Gilang tapi dia juga belum bernah masuk ke kantor. Dia biasanya menunggu di
bawah atau di parkiran.
“Ke kantin yuk.” Ajak Vian.
“Ok.” Mereka bertiga mencari kantin.
Kantin di perusahaan Gilang sangat luas,
bersih dan juga banyak menunya.
“Gila, ini kantor keren banget sampai
kantinya seluas dan se bagus ini.” Vian terpesona.
“Benar, mana bersih lagi.” tambah Gita.
“Kira-kira Kak Gilang suka makan disini
nggak ya?” tanya Fara.
Mana gue belum lihat dia di kantor.” Gita celingukan.
Ketiga anak yang baru lulus kuliah
dengan nilai yang lumayan itu takjub dengan kantor milik Gilang. Mereka menatap
bangga melihat orang-orang yang sudah bekerja di situ memakai pakaian rapi dan
elegan.
“Mereka keren-keren ya.”
“Sebentar lagi kita juga akan bisa
seperti mereka.” Jawab Vian dengan percaya diri.
“Eh Ta. Itu kan Kak Gilang.” Fara
menunjuk Gilang yang sedang berjalan bersama tamunya.
Gita menatap Gilang sambil berpangku
tangan, dia senyum sendiri melihat ke gantengan Gilang. Pesonanya benar-benar
keluar, kalau kata-kata anak sekarang berdamage.
“Gue kesana dulu ya.” Gita langsung
kabur mengikuti Gilang.
“Jangan lama-lama.” Seru Vian.
Gita melihat cewek-cewek yang sedang
berkumpul, dia pun ikut menyelinap disana.
“Ya ampun Bos Gilang, makin hari makin
cakep saja.” Katanya meleyot.
“Benar, mana nggak di spill ceweknya
bikin gue berharap tinggi.” Katanya sembari tersenyum-senyum.
“Jangan harap lo dapatin Kak Gilang, dia
punya gue.” Batin Gita dengan bangga.
“Bukanya dia di gosipkan sama Cintya
__ADS_1
sekertaris perusahaan sebelah.”
“Ah..itu Cuma gosip. Lagian kita tahu
bos kita itu cuek dia kalau ngomong irit sekali sama Chintya. Gue kan pernah
ikut bos waktu rapat bersama perusahaan mereka.”
“Hey.. kalain ngapain berkumpul disini.”
Usir Lila sekertaris Gilang. Mereka langsung kabur, dan begitu juga dengan
Gita.
“Eh kamu anak baru ya?” tanya Lila.
“Eh.. saya baru saja memasukan lamaran
kerja.” Jawab Gita sedikit gagap.
“Baru saja masukin lamaran, sudah ikutan
genit lihatin bos. Sana pergi.” Lila
menutup pintunya.
“Ck, lihat saja nanti kalau gue sudah jadi
nyonya.” Gita pergi.
Gita duduk kembali bersama degan
teman-temannya, dia melipat kedua tangannya karena kesal.
“Kenapa nih?” Tanya Vian.
“Sekretarisya Kak Gilang ngeselin banget
deh, gue kan lagi nengok eh pintunya di tutup malah di usir lagi.” Kata Jelas
Gita.
“Jelas lah lo di usir, lo masih pakai
baju hitam putih begini sok-sokan ngincer bos.” Kata fara.
“Eh tapi kan gue pacar bos.”
“sadar neng yang tahu lo pacar bos Cuma kita-kita
doang, yang lain kagak.”
“Benar juga.”
“Dah yuk, kita cabut aja dulu sambil
nunggu panggilan.” Ajak Vian.
“Em.. bayar dulu lah makanannya.” Suruh
Gita.
“Gue lagi nih yang bayar?”
“Iya lah siapa lagi, lo kan cowok
sendiri.” Kata Fara.
“Gini nih, giliran bayar membayar gue
yang jadi sasaran.” Vian manyun.
Gita sama Fara hanya cengar-cengir saja,
mereka berdua senang sekali ngerjain Vian.
“Buk bayar.”
“Tadi sudah ada yang bayarin.”
“Sipa Buk?”
“Pokoknya ada.”
“Makasih buk.”
Vian duduk sambil menggaruk kepala, dia
bingung yang dia kenal di kantor ini hanya Gilang tapi Gilang kan tidak tahu
kalau mereka sedang makan disini.
“Kenapa muka lo kayak kesambet gitu.”
Tanya Fara.
“Gue mau bayar nih, tapi katanya sudah
ada yang bayarin. Siapa coba?”
“Kak Gilang mungkin.” Tebak Fara.
“Iya, eh tapi kan dia nggak tahu kalau
kita dapat kan panggilan kerja hari ini. Orang gue juga nggak bilang.”
“Nggak bilang, wah.. bisa-bisa kita
__ADS_1
nggak di terima nih kita.”
“ya udah ah.. yuk pulang.”