
Gita berdiri memandang lemari pakaiannya, dia bingung memilih pakaian yang akan di pakai ke promnight malam ini.
"Selalu saja gue bingung pakai baju." Gumamnya. Gita kemudian tersenyum dia punya ide berlian. Dan jurus andalan saat nggak punya baju adalah pinjam milik Qila.
"Ka.." Gita mengetuk pintu kamar Qila.
"Ya. Masuk."
Gita membuka perlahan dia melihat Qila juga sedang memilih-milih pakaian.
"Kak, Gita boleh pinjam baju. Bingung semua baju di lemari sudah pernah dipakai. Malu kan kalau pakai itu-itu terus." Kata Gita sambil ikut memilih baju milik Qila.
"Memang muat pakai pakaian gue?" tanya Qila.
"Muatlah.. lihat badan gue kan sudah sebelas lima belas sama lo." Gita berdiri lalu bergaya
"Iya..iya. Yang sekarang udah langsing." Ujar Qila sambil kembali memilih pakaian.
"Kak.. katanya udah punya cowok baru ya." Gita berjalan mendekati Qila. Dia menatap sangat dekat.
"Iih.. apaan sih, mundur sana." Qila mendorong Gita pelan agar menjauhkan wajah Gita darinya.
"Ih.. sombong sekarang nggak mau cerita-cerita. Masih mau sama Kak Gilang?" kata Gita membuat Qila mengerutkan keningnya.
"Yah kalau mau pertanyaan Gita cuman satu sih, lu mampu nggak bos?" kata Gita langsung kabur.
"Dasar ya, berani jahilin gue." Qila mengejar Gita.
"Ampun mbak jago, nggak-enggak bercanda." kata Gita saat Qila berhasil menangkapnya.
"Gue rasa yang di katakan Gilang benar, gue hanya sekedar kagum saja bukan cinta. Dan bodohnya kemarin gue terlalu jahat mau ambil kebahagiaan lo." Raut wajah Qila berubah sedih.
"Eitts.. jangan sedih gitu ah. Gita nggak suka lihat kakak sedih." Gita memeluk Qila.
"Kalau lo nggak mau kakak sedih, boleh nggak Gilang buat gue." goda Qila.
"Yah.. di baikin ngelunjak." Gila memiting leher kakaknya.
"Ta..Ta... leher gue cuma satu." kata Qila.
"Nanti gue ganti sama leher ayam." jawab Gita sambil tertawa.
...♡◇◇◇♡...
Jam sudah menunjukan pukul tujuh malam, Gita masih belum juga berkemas. Dia mager untuk datang ke acara seperti itu.
"Ta, lo kok masih belum dandan, Kak Qila usah berangkat dari sore loh." kata Genta.
"Males ah.. lagian nggak wajib juga." kata Gita sambil duduk di sebelah Genta.
"Kok males kan rame disana, lagian lo nggak mau apa lihat pentas dari Kak Qila." Genta mencoba membujuk agar Gita mau datang.
__ADS_1
"Nggak, kalau kesana tuh pertama harus mandi dulu, terus ganti baju mana Gita bingung bajunya yang kayak gimana, terus harus berjalan keluar. Ah.. mending juga di rumah rebahan enak." Katanya sambil main game di ponselnya.
"Raka, nggak ke sekolah juga?" tegur Genta saat Raka lewat.
"Nggak males." jawabnya. Dia nggak jadi naik tangga dan ikut gabung sama Gita dan Genta.
"Ini dua bocah sama aja bisanya males acara yang paling di tunggu." Genta geleng kepala.
"Ta.. main ps aja yuk di kamar." Ajak Raka.
"Ok, tapi lo nggak boleh curang." Gita memperingatkan Raka.
"Iya."
"Let's go." Lari menuju kamar Raka.
...♡◇◇◇♡...
Gilang melihat jam di tangan kirinya, jam sudah menunjukan pukul enam sore tapi Gita tak kunjung datang. Pesan dan telponnya tidak di jawab.
"Nungguin siapa Lang?" Tanya Bayu.
"Gita." Gilang memandangi pintu gerbang.
"Lagi perjalanan mungkin."
"Mungkin, harusnya dia balas atau jawab telponya kalau gini kan gue jadi khawatir." Gilang semakin cemas.
"Eh.. itu bukannya teman-temannya." Tunjuk Bayu saat melihat Fara dan Anita masuk melewati gerbang.
"Iya Kak, ada apa?" tanya Fara.
"Gita mana?"
"Gita, kita belum ketemu. Memangnya nggak bareng sama Kak Gilang?" tanya Anita.
"Nggak, soalnya gue disini dari siang. Gue kan panetia."
"Oh.. sebentar gue telponin dia. Jangan-jangan ngebo nih anak." Fara mengambil ponselnya dan segera menghubungi Gita.
Setelah mencoba beberapa kali tetap saja nggak di angkat.
"Gue kira Gita tidur deh Ka, biasanya kalau nggak ngangkat telpon dia itu tidur." Fara memasukan ponselnya lagi ke tas.
"Iya, dia kalau udah tidur suka kayak kebo." tambah Anita.
"Far.. coba deh telpon Raka." Suruh Anita.
"Ah... benar kenapa nggak kepikira ya." Fara kembali mengambil ponselnya untuk menghubungi Raka.
Dan hasilnya nihil, Raka juga tidak bisa di hubungi.
__ADS_1
"Sama saja Kak, nggak di angkat." kata Fara.
"Mungkin dia nggak akan datang Lang." ujar Bayu.
"Bisa juga, soalnya Gita itu paling malas diajak acara beginian." Tambah Anita.
"Ok, makasih." jawab Gilang.
Ada sesikit rasa kecewa kenapa Gita tidak datang dan memberitahu dirinya.
Gilang dan Bayu kembali bertugas yaitu mengatur berjalannya acara.
"Gilang." panggil Monika.
"Ada apa? ada masalah?" tanya Gilang.
"Tidak. Em.. nanti setelah acara kan ada dansa. Lo mau kan dansa sama gue?" ajak Monika.
"Gimana kalau sama gue saja." Goda Bayu. Raut wajah Monika yang awalnya berbinar menjadi merengut.
"Gue maunya sama Gilang bukan lo, jangan merusak mood gue." Omel Monika.
"Lagian siapa juga yang beneran mau sama lo, orang gue bercanda doang." kata Bayu sambil tertawa.
"Gimana Lang, lo belum ada teman dansa kan?" Monika masih berusaha membujuk Gilang.
"Sorry gue nggak bisa."
"Kenapa? apa karena Gita?"
"Tentu saja, dia kan pacar gue. Kalau pun gue mau dansa pasti sama dia bukan sama lo." jawab Gilang dengan tegas.
"Lo kenapa jahat banget sih sama gue." Kata Monika dengan suara agak serak menahan dongkol di tenggoroan.
"Jahat gimana?"
"Ya lo selalu Gita..Gita. Gue yang kenal lo dan cinta sama lo duluan kenapa Gita yang selalu lo puja dan bela."
"Monika, dari dulu gue sudah bilang kalau kita sekedar teman nggak akan kurang dan nggak akan lebih. Dan kalau gue lebih prioritasin Gita ya tentu saja dia pacar gue." Kata Gilang dengan santai membuat terlihat semakin cool.
"Monika, lo harusnya sadar diri nggak maulu apa ngejar cowok yang sudah punya pacar. Sedangkan seantero sekolah masih banyak cowok."
"Diem lo Bay. Gilang sampai kapan pun gue nggak akan menyerah mencintai lo." Monika meninggalkan Gilang dan Bayu dengan mata berkaca-kaca.
"Bandel banget tuh cewek di kasih tahu." Bayu geleng kepala.
"Pacarin sana gih." Kata Gilang.
"Idiih.. pacaran sama Monika bisa kurus kering. Makan hati mulu, jadi temannya aja sudah pusing sama tingkahnya."
"Ya siapa tahu dengan lo jadian sama dia, Monika akna berubah menjadi lebih baik."
__ADS_1
"Dengar ya, gue lebih baik jomblo terus daripada harus pacaran sama Monika." kata Bayu.
Gilang tertawa, "Yah emang benar kata lo." Gilang setuju dengan pendapat Bayu.