
Door...Dooor....Gita mengetuk-ketuk pintu kamar mandi kencang.
“Raka buruan, perut gue sakit!” teriak Gita.
“Iy sabar kenapa?” Raka keluar kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya dengan
handuk kecil. Raka berdiri menghalangi pintu.
“Ka, buruan minggir sakit banget perut gue.” Omel Gita sambil menarik tangan Raka
agar minggir dari pintu.
“Eh santai dong.” Kata Raka.
“Santai...santai orang udah di ujung kok di suruh santai. Gila lo ya, lagian kenapa senang banget mandi di kamar gue.” Omel Gita sambil menutup pintu kenacang.
Raka berhenti di depan kasur Gita saat melihat ponselnya berdering, “Wiih... si
bucin nih telpon.” Raka mengangkat telponya.
“Halo sayang.” Kata Gilang saat telponya terangkat.
“Halo, ini siapa? Kenapa panggil sayang-sayang.” Raka menjawab dengan menutup hidungnya.
“Lo siapa? Ini benarkan nomor telponnya Gita.” Gilang mulai panik.
“Benar, ini milik Gita. Lo siapa kenapa panggil sayang-sayang sama Gita.” Kata Raka lagi sambil menahan tawa.
“Saya pacarnya lo siapa?”
“Gue cowoknya.”
“Jangan sembarangan ngomong lo ya, mana mungkin Gita selingkuh.” Gilang mulai emosi
mendengarnya.
“Saya tidak sembaranga, bahkan kami sudah sering bertukar ponsel dan tidur bareng.”
Kata Raka memberikan klue sedikit mengetes apa dia tahu kalau dia di kerjain.
“Tidak mungkin, Gita itu gadis baik. Lo jangan-jangan culik dia ya.” Katanya. Gilang sudah terlalu panik dan marah sampai tidak sadar kalau di kerjain.
“Dimana dia?!” Kata Gilang dengan nada tinggi.
“Sedang mandi.” Kata Raka dengan santai.
Gilang langsung mematikan ponselnya, dia sangat kesal karena ponsel Gita ada yang
ngangkat cowok. Raka terkekeh, dia membuka galeri milik Gita karena kepo aja.
“Video apaan ini, wah.. bahaya ini anak mulai simpan video nggak benar.” Raka membuka videonya.
Kedua mata Raka terbelalak, dadanya rasanya sakit menonton videonya. Dia menutup langsung karena tidak kuat untuk melihatna.
“Eh.. lo kenapa buka-buka ponsel gue, nggak sopan ya.” Cerocos Gita.
“Kayak lo sopan saja.”
“Ini kok ada panggilan dari Kak Gilang, lo pasti angkat kan? Lo ngomog apa?” Gita membordir pertanyaan, karena Raka sering banget ngisengin dirinya.
“Gue cuma bilang kalau lo lagi di kamar mandi, lagi buang air besar, lagi diare.”
Katanya.
__ADS_1
Plaaakkkkkk!
Pukulan keras mendarat di punggung Raka, Gita kemes banget dia malu kalau mau ketemu Gilang nantinya.
“Nanti muka gue taruh mana gila, dasar resek banget pergi sonoh dari kamar gue.” Gita mendorong Raka agar pergi dari kamarnya.
Setelah Raka pergi Gita langsung mencoba menghubungi balik Gilang. Sudah di coba
beberapa kali menelpon tapi tidak di angkat.
"Eh tapi kenapa ini pesan Kak Gilang marah-marah sama gue." Gita baru membuka pesan masuk dari Gilang bebberapa menit lalu. "Ngomong apa nih Gilang." Katanya lagi.
“Aduh pasti marah besar ini Kak Gilang, Raka rese banget. Emang gampang apa bikin Kak Gilang nggak ngambek lagi.” Gita menjatuhkan tubuhnya di kasur sambil terus menghubungi Gilang.
“Angkat donk Kak please, jangan gini.” Kata Gita sambil mengirim pesan ke Gilang agar
mengangkat telponnya. Dan setelah beberapa menit pesan terkirim Gilang balik
menelpon Gita.
"Syukurlah, akhirnya telpon juga.” Kata Gita dengan menghela napas lega.
“Ada apa?” Gilang sewot.
“Jangan sewot gitu donk Kak, Gita bisa jelasin tadi itu kelakuan Raka.”
“Lagi dimana?” Jawab Gilang dengan nada masih nggak percaya karena tadi suaranya
sangat berbeda.
“Gita video call deh kalau nggak percaya.” Gita langsung merubah panggilan biasa ke
video call.”
“Lihat, ini kan gue di kamar. Tadi baru di kamar mandi.” Gita mengarahkan kamera
memperlihatkan seluruh isi kamarnya dia kemudian keluar ke kamar Raka.
“Tuh dia biang keroknya.” Gita menunjuk ke arah Raka yang siap mau pergi.
Seketika Raka tertawa karena nggak tahan, “Aduh, lo ya kenapa mudah banget sih kena tipu. Begitu saja udah ngambek.” Raka tertawa sambil geleng kepala.
“Sialan lo, bikin gue jantungan tahu nggak lo."
“Lagian lo juga, gue udah bilang kalau kita suka tukar ponsel sama tidur bareng masih
nggak ngeh. Makanya jangan emosi aja di besarin.” Raka menunjuk kearah Gilang.
Gita seketika terdiam, dia semakin tidak berani ngomong soal Prisil karena Raka itu
orangnya sangat percaya. Dan tidak akan mudah terhasut saat dia belum bertanya
langsung dengan orangnya.
“Udahlah gue cabut dulu, jangan bucin terlalu lama besok dia susah di bangunin di tambah
di sekolahan molor.”
“Siap.”
“Enak aja, lo kali yang kebo suka molor di kelas.”
“Bye. Jangan lama-lama lo di kamar gue.” Raka melambaikan tangannya.
__ADS_1
“Kak, gue matiin dulu telponya nanti gue telpon balik.” Gita mematikan ponselnya
lalu berlari mengejar Raka.
“Raka lo mau kemana?” tanya Gita.
“Mau ketemu Prisil.” Jawabnya sambil menuruni tangga.
“Nanti pulang beliin batagor depan komplek ya, sama bakso.” Seru Gita keras karena
Raka sudah sampai pintu depan.
“Ya.”
“Ta.. jaga pola makan ini udah malam lo masih makan aja. Lihat tubuh lo udah mulai
melar lagi.” Qila mencubit pinggang Gita.
“Biarin ah, nanti kan bisa diet lagi.” Gita melet.
“Diet juga nggak pernah berhasil kan.” Kata Qila.
“Kak, tubuh gue itu gendut karena gue bahagia, dan nggak kekurangan nutrisi. Kalau
tubuh Kak Qila itu sebenarnya kekurangan gizi.” Goda Gita lalu lari ke
kamarnya.
“Kalau di kasih tahu ya.”
“Biarin week, yang penting Kak Gilang masih sayang sama Gita!” teriak Gita dari kamar.
“Nanti jangan nangis ya kalau Gilang ngelirik yang lain!” Qila balas teriak.
“Nggak akan.” Teriak Gita lagi.
Gita memakai headset dan kembali menelpon Gilang.
“Halo.”
“Iya.”
“Udah nggak marah kan?” tanya Gita.
“Nggak, maaf salah paham harusnya tadi gue video call dulu bukannya langsung kesal.” Kata Gilang. Dia orang yang sabar menghadapi masalah apapun namun entah kenapa kalau soal Gita dia tidak bisa sabar. Dia takut sekali kehilangan Gita.
“Kak, gue mau tanya?”
“Tanya apa?”
“Kalau Gita gendut lagi, apa Kak Gilang masih sayang sama Gita atau cari cewek lain.” Gita menggigit bibir bawahnya was-was mendengar jawaban Gilang.
“Kenapa tiba-tiba tanya hal seperti ini?” Gilang heran.
“Karena nafsu makan gue bertambah, dan berat badan gue juga udah mulai naik lagi.”
Jelas Gita sambil manyun.
“Tenang saja cinta gue sama lo tulus kok, gue nggak peduli lo gendut ataupun kurus,
asalkan lo tetap menjadi diri lo sendiri gue akan selalu cinta.”
“Janji kak Gilang tidak akan meninggalkan Gita.”
__ADS_1
“Gue nggak bisa janji, takut suatu saat gue nggak bisa memegangya tapi gue akan
selalu berusaha untuk tetap mencintai lo dan kita bersama-sama.”