Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Makan siang


__ADS_3

Gita pergi mengantar Rima sampai ke parkiran, semua mata memandang Gita dengan penuh kepo kenapa Gita bisa mengantar dan membawa kan tas milik Rima. Gita mrnundukan dada lalu melambaikan tangan sambil tersenyum saat Rima pergi.


“Eheemm, gimana rasanya menjadi kacung dari bos?”Catrin berjalan mendekati Gita dengan melipat kedua tangannya. Wajahnya sangat bahagia, dia berpikirjika Gita mendapatkan hukunan dari Gilang karena mamanya mengadu saat dia menghasutnya.


"Kacung?” Gita mengerutkan keningnya. "Gue nggak merasa jadi kacung tuh? Gue kasih tahu nih tadi gue di panggil bos itu mau ngasih tahu kalau dapat bonus karena kinerja gue bagus loh. Tak hanya itu sebenarnya sebuah anugerah buat gue bisa bawaain tas mahal milik calon mertua gue.” Gita memanas-manasi Catrin.


“Halu banget lo mau jadi istri bos Gilang.” Catrin memutar tubuhnya lalu berjalan sengaja menabrak tubuh Gita.


“Lo pasti udah mengadu yang nggak-nggak kan, nggak akan mempan.” Katanya sambil kembali ke ruangannya.


Gita berdiri bengong di depan meja kerjanya, banyak sekali makanan dan juga bucket bunga yang cantik. Tak hanya itu Gita juga mendapatkan boneka warna pink yang sangat lucu dan bagi yang menyukainnya.


“Wah...fans baru nih.” Vian mengambil coklat dan langsung melahapnya.


“Siapa yang kasih ini?” tanya Gita.


“Entah, kita juga baru masuk dan sudah ada ini semua.” Kata Fara memungut pitza.


“Lumayan loh ini menghemat uang jajan kita, gue mau ya.” Ina ikut mengambil pitza juga dan langsung melahabnya.


“Ambil saja Mbak, Mas Win sama Mas Nino juga boleh. Oiya sampai kelupaan Bella lo boleh makan juga." Gita mengambil tulisan di kertas kecil berwarna biru langit, dia membaca dengan perlahan .


“Dari siapa Git?” Fara mengambil kartu dari Gita.


“Dear Gita, entah kenapa semenjak pertemuan pertama itu aku langsung jatuh cinta sama lo. Meskipun lo menolak gue. Gue akan tetap berusaha mendapatkan cinta lo sampai lo menerima gue. Meskipun seribu tahun lamanya gue nggak peduli. Radit.” Fara membaca keras-keras. Fara menatap Gita lalu menaikan turunkan alisnya.


“Wah ternyata yang fans lo si artis itu.” Kata Nino.


“Pesona lo emang luar biasa Git, orang seperti Radit saja bisa mengemis cinta sama lo. Oiya, kalau saran gue lo jangan menerima dia dalam waktu dekat. Tarik ulur saja dulu sampai dia benar-benar terjerat cinta lo,.” Kata Ina sok menasehati padahal dirinya sendiri tak bisa melakukannya.


“Wah..lo seperti sudah senior banget ya dalam percintaan, tapi lonya saja dapatin hati Win nggak nyampe-nyampe." Kata Nino, Ina mendelik, tangannya mengambil tempat pensil di sebelahnya dan membuatnya melayang mengenai wajah Nino.


Riuh tawa pun terdengar sangat nyaring, satu ruangan langsung pun langsung bengek, bahkan Gita sampai sakit perut.

__ADS_1


“Mas Win, kasih kepastian Mbak Ina kenapa kasihan tahu dia itu suka sama Mas Win.” Kata Vian.


“Kalian tuh pada ngomong apaan sih, gue sama Ina itu berteman saja mana ada cinta-cintaan ya nggak Na?” Win menatap Ina dengan lekat.


“Iya Kita itu hanya bereman.” Jawab Ina yang kecewa karena cintanya terus bertepuksebelah tangan.


Tok...tok...tok...


“Permisi, boleh masuk?” Radit nongol di depan pintu sembari membawa bunga.


“Radit, ada apa ya?” Win berdiri nyamperin Radit.


“Tumben ke sini apa lo ada proyek lagi dengan perusahaan ini?” Sahut Nino.


“Tidak, gue hanya main saja. Gue mau ketemu sama Gita.” Radit tersenym sama Gita.


“Ada apa mencari gue? Apa ada hal yang penting?” Gita berjalan lalu berdiri di sebelah Win.


“Tidak, sebentar lagi kan makan siang, kita makan siang bareng yuk. Gue traktir.” Radit memberikan bunga di tangannya. Gita mengambilnya karena tidak enak untuk menolaknya.


“Ya tentu saja lo sama gue. Kan gue mau berduaan sama lo, ada yang ingin gue omongin sama lo.”Kata Radit.


“Gue mau keluar makan sama lo kalau mereka semua juga ikut, kita kan satu team ya jadi kemana pun kita pergi pasti bareng-bareng.” Gita pinter sekali mencari alasan agar dia tidak pergi berduaan saja.


Radit terdiam sebentar, dia ingin banget pergi hanya berdua jadi dia bisa mengambil hati Gita dengan memperlakukan hal-hal yang romantis.


“Ya kalau lo nggak mau nggak apa-apa, gue juga nggak maksa.” Kata Gita. Dalam hatinya bahagia kalau Radit keberatan dengan permintaanya jadi dia nggak akan pergi.


‘Mau kok, kalian semua boleh ikut makan siang bareng.” Radit tersenyum, dia merubah pola pikirnya. Kalau mau mendapatkan seseorang dia juga harus mendekati sahabat dan juga pawangnya.


“Makan gratiits!” Teriak Vian.


“Sering-sering saja, lumayan menghemat di tanggal tua.” Kata Fara.

__ADS_1


Jam dua belas mereka langsung pergi makan di luar, kali ini mereka ganti menu tidak hanya makanan kantin saja.


Gilang yang melihat Gita dan yang lain ke luar kantor langsung mengejarnya. Namun dia kalah cepat.


“Fajar, apa kamu tahu mereka mau kemana?” tanya Gilang ketika Fajar lewat di sebelahnya.


“Yang saya dengar Radit mau mentlaktir Gita beserta satu team di rumah makan seafood yang ada di dekat sini.” Jelas Faja.


“Terima kasih.”


Gilang mengambil ponselnya, lalu menelpon Lila meminta dia menelpon cliennya untuk mengubah tempat meeting ya. Ya itu rumah makan yang sama dengan Radit yang mentlaktir Gita beserta teamnya.


Gilang menunggu Lila di parkiran, dia sudah tidak sabar untuk menemui Gita. Gilang melipat kedua tangannya, tatapanya tertarik dengan gerak-gerik Fajar yang sejak di tanya tentang kepergian Gita bersama teamnya terlihat dangat cemas . Dia mondar-mandir dengan sesekali menatapnya.


“Fajar?” Gilang melambaikan tangan menyuruh untuk dia mendekat.


“Iya Pak.”


“Kamu ngapain? Kelihatanya cemas sekali?” tanya Gilang.


‘" Ee..begini Pak..” Katanya sedikit bergetar.


“Katakan saja jangan takut.”


“Saya mau minta sesuatu sama bapak, tapi bapak jangan marah.”


“Katakan saja dulu, saya baru saya bisa memutuskan marah atau tidak sama kamu.” Jelas Gilang.


“Saya ingin pindah team Pak, apa bisa saya pindah ke team Mas Win?” tanya Fajar dengan tubuh semakin bergetar.


“Memangnya kenapa dengan team Ratna apa ada masalah?” Gilang mulai merasa ada yang tidak beres dengan team Ratna karena anggotanya mulai menginginkan pindah.


‘Saya yang terlihat terlalu bodoh dan tidak bisa mengimbangi mereka Pak. Saya berharap di team Mas Win bisa mendapat bimbingan lebih.” Jelas Fajar.

__ADS_1


Selama diamasuk perusahaan dan satu team dengan Ratna selalu saja di perbudak sama Roy dan yang lainnya. Apa lagi Catrin dia selalu seenaknya dengan Fajar.


“Nanti sayapikirkan dulu, kamu kembali bekerja.” Kata Gilang. Sudah lama Gilang tidak melakukan pergi bareng-bareng karyawannya untuk duduk bersama sembari menyampaikan perasaan dan uneg-uneg selama ini.


__ADS_2