Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Minta Tolong


__ADS_3

 “Ta, bangun ini sudah jam berapa? Kamu mau


terlambat ke sekolah.” Mamanya membangunkan Gita.


Gita perlahan membuka matanya, dia menguap lalu mengucek matanya. Dia melihat jam


bekker di atas meja  kecil samping kasur.


“Ha, hampir setengah tujuh.” Katanya langsung lari ke kamar mandi.


“Makanya kalau bangun itu yang pagi, malam nggak usah begadang. Kalau di kasih tahu suka


ngeyel.” Omel mamanya.


“Siapa sih yang begadang Ma, tahu aku kesiangan kenapa mama baru bangunin.” Tidak ada


lima menit Gita sudah keluar kamar mandi.


“Mama udah bangunin kamu dari tadi, kamunya aja susah di bangunin. Kamu cepat banget


di mandi nggak sih?” Mamanya mengerutkan kening curiga sama anak gadisnya itu.


“Mandi Ma.”


“Kok cepet.”


“Ya kan yang penting kena air.” Gita menarik tas dengan tangan kiri dan tangan


kanannya menyiup tangan mamanya.


“Gita..Gita, jadi cewek kok jorok banget sih.’


“Ma, Raka masih nungguin Gita kan?”


“Raka kan sedang pulang ke rumahnya, gimana nungguin kamu.”


Plak! Gita menepuk jidatnya pelan, “Ah, iya lupa.Bakalan telat ini mah.” Gita


langsung lari secepat kilat.


Sepeninggalan Raka Gita menjadi serba sendiri, dia mulaimerasakan kesepian dan selalu merasa


ada yang kurang dalam hidupnya. Di rumah maupun di Sekolah sama saja merasa


sepi.  Gita harus lari ke depan untuk mencari angkot atau taksi karena di rumah sudah tidak ada orang. Semua


berangkat pagi, hanya Gita yang selalu mengulur-ulur waktu.


Dan hari ini keberuntungan Gita di jalan karena nggak harus menunggu angkot terlalu


lama. Sepanjang jalan Gita terus melihat ke arah jam tangannya, kakinya


menghentak-hentak  pelan.


“Bang, bisa lebih cepat nggak? Lima menit lagi bel bunyi nih.” Kata Gita sambil


mendekat ke kursi belakang abang sopir angkot.


“Ini juga udah cepet neng, kalau mau cepet itu naik pesawat.”


“Naik pesawat tambah ribet Bang, nanti turunnya gimana masa iya terjun payung.” Gita


menimpali omongan sopir angkot.


“Bener juga, dah sampai neng.”


“Akhirnya, nih Bang ongkosnya makasih.” Gita memberikan uang lalu berlari ke gerbang.


Gita melihat ke jam tangannya lagi melihat gerbang sudah tertutup rapat, “Aduh...


lupa hari senin nih.”  Gita berputar arah


ke pintu gerbang belakang karena  setiap


hari senin bel bel masuk sekolah sepuluh menit lebih cepat di bandingkan hari

__ADS_1


biasa. Dia tersenyum lumayan lebar melihat pintu masih terbuka sedikit.


Dia berjalan mengendap-endap untuk masuk ke lapangan dan ikut baris di kelompok


kelasnya.


“Ehem!” Gita menoleh pelan sambil mengangkat tangannya saat ada yang berdehem di


belakangnya.


“Kak Gilang,” Gita nyengir. Dia merasa sedikit senang karena yang tugas menertibakan


Gilang. Dia bisa meminta bantuan untuk masuk ke barisan teman sekelasnya.


“Berdiri lo, ikut gue.” Kata Gilang.


“Kak, lo mau bawa gue kemana?”


Gilang menunjuk ke arah barisan paling ujung dan terpampang nyata di depan teman-teman


dan para guru.


“Please, bantuin Gita kali ini aja.”


“Nggak bisa, lo berani telat harus mau menanggung resikonya.” JawabGilang datar.


“Sekali ini aja please, gue nggak akan mengulangi lagi.” Gita mengangkat dua jari


berbentuk v.


“Sekali nggak tetap nggak, buruan ikut atau Pak Rudi akan membawa lo ke sana.” Ancam


Gilang.


“Kak please, nanti gue traktir makan deh.”


Gilang menatap tajam Gita, kali ini dia tidak tertarik dengan tawaran Gita. Dia


menarik tas Gita dan membawa Gita di barisan anak-anak yang tidak disiplin dan


“Ada apa dengan Gilang, biasanya dia mau tolongin gue.” Gita menatap heran Gilang


yang berjalan di depannya sambil menarik tasnya.


++++


Panas matahari ini lumayan terik membuat peluh Gita semua keluar, Gita menselonjorkan


kakinya yang pegal sambil mengipasi wajahnya dengan buku.


“Kenapa lo bisa telat?” tanya Fara sambil memberikan jus jeruk pesanan Gita.


“Gue bangun kesiangan.” Katanya lalu meneguk es jeruk sekali habis.


“Gita, beneran Raka mau pindah sekolah?” Arvian.


“Kata siapa?” Gita kaget beberapa hari tidak kontek Raka sekali mendegar kabar mau


keluar.


“Tadi gue chat sama Raka, dia bilang mau pindah sekolah. Raka pasti bercanda kan Git.”


Arvian memastikan perkataan Raka.


 Gita lalu terdiam, dia ingat waktu dirinya mengusir Raka dan mengatakan tak ingin ketemu dengan dia. Dan tak menyangka Raka mengiyakan keinginanya.


“Apa dia menganggap ucapan gue sungguh-sungguh.” Gumam Gita pelan.


“Memangnya kenapa Git, kalian berantem?” tanya Anita.


“Iya, kemarin gue marah-marah sama dia karena ninggalin gue di mall dan gue bilang


nggak mau ketemu dia lagi.” ujarnya.


“Tinggalin di mall?” Anita mendelik.

__ADS_1


“Iya Anita, makanya gue kesal banget.”


“Hah... kalian ada-ada aja sih. Lo lagi Git, gegabah banget coba ngomong kayak gitu.”


Kata Fara.


“Ya namanya juga orang emosi, biasanya Raka juga nggak pernah serius dia.” Gita


berubah sedih.


“Gini aja, nanti kita ke rumah lo dan bujukin dia.” Kata Arvian.


“Dia nggak di rumah gue, beberapa hari lalu pulang ke rumah mamanya.” Jelas Gita.


“Terus gimana dong?”


“Nanti deh, gue telpon dia.”


++++


Gita melambaikan tangan kepada Anita dan Fara yang pulang duluan. Gita berjalan


mendekati Devan.


“Van, jadikan kita pulang bareng?” tanya Gita sambil berdiri di samping meja Devan.


“Aduh.. sorry Gita. Ternyata hari ini gue mau jemput mama gue di bandara.”


“Em.. jadi lo nggak jadi nganterin gue pulang?” wajah Gita yang awalnya sumringah


berubah kecut.


“Iya, sorry banget. Lo bisa kan naik taksi dulu. Gue janji besok pagi gue jemput.”


Devan mengangkat dua jari berbentuk v.


“Iya kok nggak apa-apa, salam ya buat mama lo nanti gue main ke rumah lo deh kalau


kalian udah pulang.”


“Iya Gita. Gue duluan ya.”


“Iya, hati-hati.”


Gita mendengus pelan, dia menyesal banget nggak jadi bareng Fara. Dia jalan sambil


menendang tasnya dalam hati ngedumel terus.


“Ini kenapa langit mendung juga, tadi panas banget sekarang mendung banget.” Gerutu Gita


sambil melihat ke atas.


Gita kembali melanjutkan perjalannannya sambil memikirkan mau naik taksi atau


angkot.


“Makin gelap aja langitnya, gimana kalau angkot dan taksinya lama.” Gita berjalan


sambil menggaruk kepala.


“Eits.. gue minta tolong sama Kak Gilang saja.” Gita berlari saat melihat Gilang sedang


di parkiran sendiri. Gita memberanikan diri untuk minta tolong meskipun dia sebenarnya


takut.


“Kak.” Panggil Gita lalu menggigit bibirnya.


“Hem.” Jawabnya ketus.


“Bisa minta tolong nggak anterin gue pulang?”


Gilang melirik kearah Gita, dia tidak percaya mendengar Gita meminta tolong kepadanya.


Selama ini dia angkuh banget sampai dia memohon pun Gita selalu menolak.

__ADS_1


__ADS_2