Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Ajari Aku menjadi Asyik


__ADS_3

Gilang menghela napas panjang saat merasakan semua terasa rumit ketika dia mulai jatuh cinta. Rasanya ingin kembali tidak memiliki perasaan untuk siapapun. Dia merasa lebih tenang dan merasa kehidupannya normal tanpa benan yang tidak harus memikirkan antara sahabat dan cintanya.


Gilang terus berjalan menyusuri lorong menuju kelasnya. Dia fokus dengan lantai yang di pijaknya sampai dia tidak mendengar saat di sapa Monika.


"Gilang." panggil Monika setelah berjalan sejajar.


"Em." Gilang menoleh kesamping.


"Lo kenapa? kelihatanya nggak enak badan gitu?" tanya Monika.


"Nggak gue baik-baik saja." jawab Gilang datar.


"Em.. lo mau kemana?" tanya Monika.


"Ke kelaslah, emang mau kemana lagi bel udah bunyi juga." Ujar Gilang. Dia sebenarnya malas ngobrol sama Monika. Tapi dia menghargai saja karena dia teman satu kelasnya.


"Tapi kan kelas kita belok ke kiri." Monika menunjuk arah jalan yang benar.


"Ah.. gue mau ke ruang osis dulu mau ambil barang. Lo duluan aja."


"Gue tememin ya." Kata Monika sambil tersenyum.


"Nggak usah, lo balik ke kelas dulu aja." Gilang melebarkan langkahnya agar Monika tidak mengikutinya.


Gilang membuka pintu ruang osis, dia masuk sebentar nggak ada satu menit. Gilang lalu berjalan balik ke kelasnya ketika Monika sudah pergi.


"Lang."


"Ah..ya.." Gilang sedikit kaget ada yang memegang pundaknya.


"Ngapain di sini?" Tanya Qila.


"Em.. ini gue mau cari buku. Kayaknya kemarin ketinggalan di dalam." Kata Gilang sambil senyum kaku untuk menutupi kebohonganya.


"Buku kayak apa ya, soalnya gue tadi pagi bebenah ruangan ini nggak ada buku yang tertinggal." Ujar Qila sambil mengingat saat pagi bebersih ruangan osis.


"Ah... mungkin ketinggalan di rumah." Gilang mencari alasan agar nggak malu metahuan bohongnya. "Gue ke kelas dulu ya."


"Gilang tunggu, em bisa bantuin bawa buku itu ke kelas gue nggak?" tanya Qila sambil menunjuk tumpukan buku di atas meja.


"Ya." Gilang mengambil setengah buku yang ada di atas meja.


Perjalanan menuju ke kelas Gilang melihat Gita dan Devan yang sedang bersendau gurau layaknya pasangan ke kasih. Gilang menghentikan langlahnya. Kedua bola matanya menatap tajam. Tampak kecemburuan yang luar biasa namun dia terus memendam agar semua orang tidak tahu.


"Mungkin kah ini yang di maksud Raka, gue tertinggal satu langkah karena mereka berdua sudah jadian." Gumam Gilang pelan dengan pandangan yang semakin tajam.

__ADS_1


"Kenapa Lang?" tanya Qila karena hanya mendengar samar-samar.


"Nggka kok." Gilang tersenyum tipis lalu meneruskan perjalanananya menuju kelas.


Gilang duduk lalu membuka tasnya, dia mengambil earphone lalu mamakainya. Dia melipat tangannya di dada.


Gilang tetap diam saat guru masuk dan memberikan pelajaran. Dia tetap memakai earphone dengan kedua mata yang fokus ke papan tulis.


Bayu yang lagi ngambek hanya sesekali melirik ke arah Gilang.


"Apa iya gue harus ngalah lagi." gumam Bayu pelan. Dia sebenarnya nggak tahan kalau harus diam-diaman dengan Gilang.


"Ah.. nggak. Kali ini gue harus tetap bertahan. Dia harus minta maaf sama gue." katanya. Dia ingin Gilang yang ngajak baikan sama dirinya.


...◇◇◇◇◇...


Gilang semakin tidak tenang dengan kedekatan Gita dan Devan. Baru saja dia selesai memarkirkan mobilnya di garasi langsung dia keluar lagi dia hendak pergi ke rumah Raka.


Tok...Tok...


"Ya."


Kreeekk.... pintu terbuka lebar. Dua pasang mata saling berpandangan. Seakan waktu berhenti sekejab. Gita langsung menutup pintunya lagi. Jantungnya berdegup kencang dia tak percaya kalau yang datang itu Gilang.


"Ngapain ya dia kesini?" Gita perlahan membuka pintunya.


"Gue nggak kaget, tapi kenapa lo cari Raka?" Gita kepo.


"Kepo banget sih lo. Lagian lo anak cewek pulang sekolah bukanya langsung balik ke rumah malah ngeluyur aja." omel Gilang.


"Terserah gue, hidup-hidup gue emang siapa lo nvatur hidup gue." Gita sebel banget.


"Gue masa depan lo, jadi gue berhak dong ngatur lo untuk lebih baik."


"Idiih... pede setengah hidup ya lo. Lagian gue nggak mau ada di masa depan lo bahkam di masa lalu pun gue ogah." Gita bergidik dengan kenarsisan Gilang.


"Ta.." Panggil Raka sambil menuruni tangga. Dia yang sedang asyik rebahan terusik karena suara brisik dari bawah.


"Dia tuh, datang-datang nggak jelas." Gita nyelonong pergi saat motor Devan berhenti di depan rumah.


"Lo kenapa lagi sih Lang, berantem terus kapan dekatnya."


"Gita dulu yang mulai."


"Ya udah yuk masuk." Raka mengajak Gilang ke dalam rumah.

__ADS_1


"Disini aja, gue cuman sebentar kok." Gilang meminta di depan agar bisa mengawasi Gita dan Devan.


"Masuk aja, ntar lo nggak kuat lihat mereka berdua ngamuk lagi." Raka memaksa Gilang masuk.


Gilang melihat sebentar sebelum dia benar-benar masuk ke dalam rumah dan tak bisa memata-matai mereka berdua.


"Buruan Lang, lo melihat pemandangan kayak begitu stres nanti." Ujar Raka sambil jalan lebih dulu. Dia membawa Gilang ke kamarnya.


"Ada apa?" tanya Raka sambil merebahkan tubuhnya di kasur.


Gilang duduk di sebelah Raka, "Ka ajarin gur menjadi orang asyik seperti lo."


Raka mengerutkan keningnya, dia bangun dan duduk bersila.


"Asyik?" Katanya sambil tertawa. Permintaan Gilang membuat Raka dia geli.


"Iya, setiap gue ketemu dan ngobrol sama Gita dia selalu bilang kalau gue itu nggak seasyik lo. Jadi gue rasa kalau gue bisa seasyik lo Gita akan dekat sama gue." jelas Gilang.


Raka tertawa kecil, "Lang, seasyik apa lo dan sekonyol apapun lo bertingkah kalau Gita nggak suka lo akan terlihat aneh dan boring di mata Gita."


"Terus gue harus bagaimana?" Gilang bingung.


"Ya lo berusaha buat dia berkesan sama lo."


"Gimana caranya, orang kalau kita ketemu bawaanya bertengkar terus.


"Ya lo ngalah sama dia, lo ikutin semua kemauan dia."


"Kalau dia maunya gue ngejauh sama dia gimana?"


"Lo jauhi dia sesuai kemauannya dan lo deketin gue."


Gilang terdiam mencerna perkataan Raka ya ng belum bisa dia pahami.


"Ya elah Lang, katanya lo pinter begino doang nggak ngerti. Lo sering-sering aja kesini ketemu sama gue." jelas Raka.


"Aah.. ok.. ok gue paham maksud lo." Gilang tersenyum sambil manggut-manggut.


"Jadi mulai sekarang lo coba cuek aja, biar waktu yang bekerja." Jelas Raka.


"Sesimpel inikah?"


"Ya, hidup itu udah sulit jangan di peribet seperti soal matematika yang cara penyelesaiannya membingungkan. Jalani aja, kalau dia nggak suka lo langsung, lo coba pakai belakang." Jelas Raka.


"Benar juga, gue rasa lo juga sangat berpengaruh dalam hubungan Gita. Jadi kenapa gue berpikir ribet."

__ADS_1


"Nah, tu lo mulai paham." jelas Raka sambil memegang pundak Gilang.


__ADS_2