
Mita memaksa Gilang untuk menerima seragam yang sudah di belinya.
"Bawa aja, baju gue juga masih bisa dipakai kok." Gilang menolak pemberian Mita.
"Terima aja Kak, lagian udah kebeli juga." Mita masih belum mau menyerah.
"Kalau nggak lo kembaliin aja, pacar gue mau kok cuciin seragam ini." kata Gilang sambil pergi meninggalkan Mita dan yang lain.
Gita menoleh sambil menjulurkan lidahnya mengejek kepada Mita. Seberapa kuat dia menggoda Gilang tidak akan berpaling kepadanya. Fara dan Anita mengacungkan dua jempol kepada Gita.
"Kak, pelan-pelan dong. kita mau kemana sebentar lagi juga mau bel." Rengek Gita.
"Mau ke KUA buat ikat lo." Kata Gilang dingin.
"Ngaco deh, lagian kenapa coba Gita mau di ikat. Salah Gita apa?"
Gilang berhenti, dia menatap Gita dengan tatapan yang sangat tajam. Sampai Gita merinding lalu menundukan kepalanya. Tidak biasanya Gilang menatap dengan tatapan ingin membunuh.
"Lo masih nggak sadar kesalahan lo apa?" kata Gilang dengan nada kesal.
"Memangnya salah Gita apa, bukannya yang salah itu Kak Gilang." jawab Gita dengan kepala masih menunduk. Gita memainkan kakinya untuk mengurangi rasa takut.
“Gue? Bukannya lo yang terus menghindari
gue. Lo selingkuh ya?” Gilang menuduh Gita.
“Siapa juga yang selingkuh, jangan main
tuduh deh.” Gita kaget Gilang bisa berpikiran kalau dirinya selingkuh.
“Terus kenapa menghindar, telpon nggak
di angkat, chat nggak di bales.” Omel Gilang.
“Gita lakuin itu supaya.."
“Gilang.” Panggil Bu Nisa wali kelas
Gilang. Bu Nisa berjalan mendekati Gilang dan Gita.
“Iya Buk.”
“Bisa bicara sebentar ke ruangan ibu.”
Pinta Bu Nisa.
“Sekarang?" tanya Gilang.
"Iya sekarang." jawab Bu Nisa.
"Baik Buk." Jawabnya dengan keluhan di dalam hati. Waktu yang sangat tidak tepat, mengintrogasi Gita jadi tertunda.
Bu Nisa berjalan duluan, Gilang tak
melepaskan tangan Gita. Dia mengajak ikut keruangan Bu Nisa. Gilang masih butuh
__ADS_1
penjelasan panjang dari Gita.
“Kak, lepasin Gita.” Bisik Gita.
“Nggak mau.” Gilang gantian berbisik.
“Kak..” Rengek Gita. Gilang hanya
melirik.
"Nanti kena marah Bu Nisa loh." Bisik Gita lagi.
"Biarin." Gilang tidak peduli.
Gita hanya bisa menghela napas panjang, dia hanya bisa merengek sepanjang jalan karena Gilang benar-benar tidak mau melepaskan dirinya.
Sesampai di ruangan Bu Nisa bingung
melihat Gita yang ikut ke ruangannya.
“Kamu kenapa ikut kesini?" tanya Bu Nisa.
“Di ajak Buk, kalau gitu saya permisi dulu buk." Gita hendak pergi namun Gilang langsung memegang tangannya erat.
“Maaf Buk, dia memang sengaja saya ajak kesini supaya dia tidak kabur.” Kata Gilang.
“Memangnya kenapa dengan dia?” Bu Nisa memperhatikan Gita.
“Hari ini kan hari rabu Buk, tapi dia
mendisiplinkan dia.” Kata Gilang.
“Kak.” Gita mendelik lalu memanyunkan
mulutnya karena Gilang mengadu sama guru kalau dirinya melanggar aturan.
"Baiklah, ibu hanya sebentar kok. Kamu boleh duduk dulu di sana." Bu Nisa menunjuk sofa.
"Baik Buk." Jawabnya lemas. Pupus sudah kabur dari Gilang.
Bel sudah berbunyi, Gita langsung berdiri bibirnya tersenyum lebar. Seakan bunyi ke benasannya sudah berkumandang.
"Mau kemana?" tanya Gilang saat Gita berdiri di samping Gilang.
"Ke kelas. Udah bel, boleh kan buk mau ke kelas?" Gita berharap-harap cemas.
"Kamu sama Gilang dulu, biar saya ijinkan sama wali kelas kamu. Siapa nama kamu?"
"Gita saqueena Buk." Jawab Gita lemes. Sedangkan Gilang hanya tersenyum tipis.
"Baik. Nanti saya akan bilang sama guru yang mengajar kamu. Kalian sekarang boleh keluar." Kata Bu Nisa.
"Makasih Buk." Gilang menggandeng tangan Gita.
"Dasar nggak punya hati, pacar sendiri di biarin kena skors." Omel Gita.
__ADS_1
"Namanya peraturan harus di patuhi, mau pacar atau teman nggak ada bedanya. Melanggar ya melanggar." Ujar Gilang sambil terus menggandeng Gita meskipun di lihatin murid-murid yang sedang berhamburan masuk ke kelasnya masing-masing.
"Lagian Bu Nisa, bukanya gue di suruh ke kelas malah ke ruang osis. Aneh emang kayak muridnya." Omel Gita sambil jalan.
"Ngomel aja nggak capek apa?" tanya Gilang sambil membuka pintu ruangan Osis.
"Gilang, ada apa kesini bel masuk udah bunyi?" tanya Faisal salah satu anggota osis.
"Nggak apa-apa Sal, cuma mau mendisiplinkan murid yang melanggar peraturan." Kata Gilang.
"Ok, gue duluan."
"Iya Sal, oiya.. tolong izinkan gue masuk telat. Mungkin sepuluh menit." Kata Gilang.
"Ok."
Gita manyun, dia duduk melihat sekeliling ruangan osis. Selama ini dia hanya melihat dari depan pintu aja. Ternyata sangat nyaman, pantes semua betah di dalam.
"Minum dulu." Gilang membukakan tutup botol air mineral dingin lalu memberikan kepada Gita.
"Makasih." Kata Gita lalu meneguknya.
"Sekarang katakan, kenapa lo menghindar dari gue?" tanya Gilang.
"Kak, lo ngajak gue kesini cuma mau bahas masalah sepele. Itu sangat ngggak penting dan membuang-buang waktu Kak Gilang saja." Kata Gita.
"Ini bukan masalah sepele, lo terus menjauhi gue membuat gue pusing dan berpikir yang tidak-tidak." Gilang terus mendesak meminta penjelasan dari Gita.
"Semua ini Gita lakuin biar Kak Gilang fokus belajarnya. Lagian ada sama nggak ada Gita juga nggak ngaruh." Kata Gita manyun.
"Bagaimana bisa nggak ngaruh, dengan lo menjauh justru membuat gue nggak fokus." jawab Gita.
"Kak, beberapa hari ini Kak Gilang nggak perhatiin Gita. Habis bel pulang sekolah ke perpustakaan belajar, Gita juga nggak di anggep bahkan Gita pergi aja nggak tahu. Jadi ya buat apa Gita dekat-dekat." Gita mengeluarkan unek-uneknya. "Kak Gilang malah lebih peduli sama cewek-cewek centil itu." tambah Gita.
"Gue bukan peduli sama cewek-cewek itu, tapi gue hanya banyuin mereka menyelesaikan soal."
"Memangnya Kak Gilang guru les, nggak ada yang lain yang bisa ngajarin." Bibir Gita makin manyun.
Gilang terdiam sesaat lalu mengusap rambut Gita lembut. Dia mulai mengerti kenapa Gita menjauhi dirinya.
"Maaf kalau belajar gue menyita waktu, dan mengurangi kebersamaan kita. Gue terlalu antusias untuk ujian besok." Kata Gilang. Dia memegang tangan Gita lalu menciumnya.
"Maafin ya, sebagai permintamaan dari gue dan waktu yang sudah terbuang, pulang sekolah nanti gimana kalau kita jalan-jalan." ajak Gilang.
"Benar, nanti bohong lagi." kata Gita.
"Nggak janji." Gilang mengangkat dua jari berbentuk v.
"Ke tempat yang Gita mau?"
"Yah, kemanapum dan apapun yang lo mau gue akan turutin." Gilang mengusap kepala Gita lagi.
"Janji ya." kata Gita dengan sumringah.
"Iya. Sekarang gue antrin lo dulu ke kelas. Belajar yang benar." kata Gilang.
__ADS_1
"Siap bos." Gilang hormat kepada Gilang.