
Gita memegang bandul kalung pemberian Gilang, dia memlihat foto-foto bersama Gilang. Gita memeluk foto yang ada di ponselnya.
Deeerrtttssss....deerrrrttzzz....
sedang asik menghalu ponselnya berdering. Hampir saja ponselnya jatuh karena kaget.
Gita melihat ke layar ponselnya, Gita mengatur napas panjang, lalu mengipasi
tubuhnya yang tiba-tiba suhunya meninggi. Dia merasakan seperti cewek yang pertama
kali pedekate dan mulai step awal menuju pacaran.
“Halo..” Jawab Gita sedikit bergetar.
“Halo sayang, lama banget sih jawabnya.” Jawab Gilang. Dia masih bisa melakukan itu selayaknya mereka berdua masih pacaran saja.
“Sa..sayang.” Gita semakin gugup. Meskipun dia menganggap kalau dirinya masih pacaran sama Gilang tapi status aslinya dengan Gilang mereka berdua sudah putus.
“Iya sayang, kenapa memangnya kenapa nggak boleh panggil sayang sama pacar sendiri.” Kata Gilang masih terus membuat hati Gita kocar-kacir.
“Pacar, kita kan sudah putus. Sudah hampir tiga tahun kita putus bagaimana bisa di bilang pacar.” Kata Gita mencoba untuk tetap tenang. Meskipun hatinya kegirangan ternyata Gilang masih menganggapnya pacar.
“Ahh benar juga. Gue lupa kalau kita sudah putus.” Kata Gilang. Gilang pura-pura mengiyakan saja. Dia mau menikmati permain Gita. Sudah lama juga nggak jahilin Gita.
“Gimana kabarnya?” Gita mencoba mengalihkan pembicaraan. Hari ini Gita hanya ingin tahu keadaan Gilang. Melepas kangen tanpa membawa hubunganya dulu. Dia ingin obrolanya sedikit santai karena dia masih terlalu kaku.
“Baik, bahkan sekarang lebih baik dari beberapa tahun belakangan karena sedang berbicara dengan mantantersayang gue.” Goda Gilang.
“Bisa saja, apa cewek disana nggak ada yang cantik-cantik.” Gita mencoba memancing informasi dari Gilang.
“Tentu saja ada . Banyak banget cantik dari berbagai macam negara. Mau yang korea, jepang, prancis bahkan yang indonesia juga ada." Gilang sedikit membakar hati Gita.
“Pasti banyak yang suka sama Kak Gilang.” katanya sudah mulai males. Suaranya mulai cemburu.
“Yah,lumayan banyak yang perhatian sama gue. Memberi sarapan, coklat dan banyak lagi." Gilang semakin mengompori Gita.
“Ooh.” Gita mulai kesal mendengar jawaban dari Gilang.
“Gimana dengan lo?” Gilang tanya balik.
“Yah, disini juga banyak cowok keren, dan juga perhatian sama gue. Besok gue juga mau kencan. Gita tutup dulu besok masih harus kuliah.” Gita memutus sambungan
__ADS_1
teleopnnya.
“Dasar cewek, sudah tahu pertanyaannya menghasilkan jawaban yang menyakitkan masih jasa di tanyakan.” Kata Gilang.
...♡♤♤♤♡...
Gita merebahkan tubuhnya di kasur lalu menutup tubuhnya dengan selimut. Beberapa saat kemudia dia membuka selimutnya lagi. Dia kesal dengan jawaban Gilang.
“Bisa-bisanya Kak Gilang ngomong seperti itu. Gita disini setia menunggu disini. Tapi kenapa malah asyik-asyikan sama cewek disana.” Gita memanyunkan bibirnya.
“Dasar, semua cowok sama saja. Baru saja putus sudah dekat sama cewek-cewek lain."
"Sebenarnya dia anggap gue ini apa?" tanyanya pada diri sendiri.
"Ah.. tentu saja gue ini mantanya, ada hak apa melarang dia mendekati wanita. Dasar gue ini memamg ngeselin." Dia menggeruru dirinya sendiri.
Gita menutup wajanya dengan bantal, dadanya terasa panas tapi dia tidak bisa marah langsung. Ya mau gimana lagi dia itu sekarang notabennya mantan bukan lagi
pacar. Mana boleh dia marah-marah.
Ting... satu pesan masuk dari Gilang
...Gilang...
“Masih saja modus.” Gita membalas kalau tak mau di jemput. Dia bisa pergi sendiri.
Paginya Gita melihat layar ponselnya, tidak ada melihat pesan dari Gilang. Meskipun
malamnya dia tidak mau di jemput Gilang. Tapi pagi tiba dia mengharapkan Gilang
benar-benar menjemputnya.
“Celingukan aja lo Ta, buruan makan telat nanti.” Kata Raka.
‘Iya.” Katanya masih celingukan saja sambil melihat ponsel terus.
“Dasar, pembohong.” Kata Gita pelan. Gita memasukkan roti ke dalam mulutnya. Dia kayak orang kesurupan.
“Siapa yang bohong.” Kata Raka.
“Itu kucing tetangga, ayo berangkat.” Ajak Gita sembari menarik tasnya.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan ke kampus pun Gita belum mendapat pesan atau telpon dari Gilang. Gita mendengus kesal, dia menjadi uring-uringan sendiri.
“Lo kenapa sih Ta, dari tadi gue lihat wajah lo kesal banget. Lo lagi ada masalah
apa?” tanya Raka. Gita menggelengkan kepala, lalu fokus ke ponselnya lagi.
“Lagi nunggu pesan dari Gilang?” tanya Raka. Terkadang Raka sama halnya dengan Gilang tahu apa yang sedang di pikirkan Gita.
“Nggak.” Jawabnya sewot. Dia menyimpan ponselnya ke dalam tas.
“Oiya.. gue dengar dari Gilang lo mau kencan hari ini. Sama siapa?” Gilang mengintrogasi Gita.
“Kak Gilang ngomong gitu?” Gita memutar tubuhnya menghadap ke arah Raka.
“Iya, tadi malam dia telpon katanya lo mau kencan. Padahal dia mau ngajak lo pergi. Yah karena lo sudah ada acara jadi di gagalkan saja.” Kata Raka.
“Kok di gagalkan sih.” Gita kecewa, Gilang tidak jadi mengajaknya pergi.
“Ah.. apa Kak Gilang kesal karena gue bilang mau kencan. Jadi dia marah nggak jadi
jemput dan nggak jadi ngajak gue pergi.” Batin Gita penuh dengan penyesalan yang luar biasa.
“Dasar Gita bodoh.” Gita menepuk jidatnya.
“Jangan menggerutu terus. makanya kalau membuat keputusan tuh ya di pikir dulu. Jangan setelah memutuskan lo baru mikir, yang ada menyesalkan sekarang.” Raka menasehati Gita.
“Ah.. kenapa lo baru bilang kalau Kak Gilang mau ngajak gue pergi.” Gita merengek.
“Hah..harusnya gue nggak usah ngomong, lagian lo mau kencan sama siapa? Farhan?” tanya raka.
“Siapa yang kencan, Gita hanya mau ke toko buku saja. Gita harus menepati janji karena kemarin dia sudah bantuin Gita.” Kata Gita.
“Em.” Raka mengangguk-anggukan kepalanya.
"Raka, gimana ini?" Gita heboh.
"Gimana apanya?"
"Iya Kak Gilang, bantuin agar bisa pergi."
"Ta, lo tu ya aneh. Kalau deket lo menjauh giliran sekarang Gilang menjauh lo heboh minta di deketin. Sebenarnya mau lo apa?"
__ADS_1
"Nggak tahu, gue tuh selalu saja gugup kalau ketemu. Tapi gue juga takut dia pergi lagi." Gita merengek terus.
"Terserah lo lah Ta, bingung juga gue mikirin lo kalau begini."