Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Tidak Enak Badan


__ADS_3

Braakkkkk!


seseorang tidak sengaja menabrak Gita sampai bukunya berantakan semua.


Gilang menoleh sebentar lalu berjalan cepat meninggalkan Gita. Gita mendengus kesal karena Gilang lebih memilih pergi daripada membantu dirinya dulu.


"Bisa hati-hati nggak sih lo kalau jalan." kata Gita lemah sambil jongkok memunguti buku yang terjatuh. Gita merengut karena orang yang menabraknya tidak bertanggung jawab. Dan dia sedang tak punya tenaga untuk marah-marah. Gita kembali berdiri dan berjalan ke kelasnya.


Gilang yang mengatur napasnya saat kembali ke lorong dimana Gita memunguti bukunya. Dia sengaja mengantar buku ke kelas Qila agar bisa lebih leluasa membantu Gita. Namun dia terlambat Gita sudah pergi.


"Yah.. gue telat. Harusnya gue bantuin dia dulu." katanya penuh dengan penyesalan.


"Kenapa lo nggak bisa berpikir jernih sih, selalu saja mengambil langkah yang salah." Gilang memaki dirinya sendiri.


Gilang berjalan ke kelasnya dengan malas, setengah perjalanan ke kelas dia menghentikan langkahnya saat melihat Gita yang jalan sempoyongan.


"Mau kemana dia?" Gilang berlari mengikuti Gita. Saat sudah dekat dia berjalan dengan memberikan jarak agar Gita tidak tahu.


"Apa dia sakit gara-gara kemarin dia hujan-hujanan." Batin Gilang.


Gita masuk ke uks, dia melepas sepatunya lalu membaringkan tubuhnya. Perlahan dia memejamkan matanya.


Gilang masuk langsung berdiri di samping Gita, dia memegang kening Gita.


"Benar dia demam, pasti ini gara-gara hujan kemarin." Batin Gilang.


Gilang membuka kotak p3k, dia mengambil koolfever.


"Ini untuk anak apa dewasa sih?" tanya Gilang pada dirinya sendiri. "Ah.. bukanya dia juga seperti anak bayi." Gilang mengambil koolfever lalu menempelkan di kening Gita.


Gilang mengusap kepala Gita lembut, "Maafiin gue Git, gue telah menyakiti lo. Semua ini salah gue, andai saja gue anterin pastinya lo nggak akan sakit begini." Gumam Gilang pelan.


Gilang melepaskan tangannya saat Gita bergerak.


"Ra..ka..Raka." Gita mengigau memanggil nama Raka.


"Segitu istimewanya Raka buat lo Git, kapan gue bisa menjadi seistimewa Raka. Gue berharap suatu saat nanti lo akan suka sama gue." Kata Gilang kembali mengelus kepala Gita.


Gilang membolos jam pelajaran untuk nungguin Gita. Dia ingin selalu ada di samping Gita meskipun Gita tidak tahu. Dia tidak mau Gita semakin parah.


...◇◇◇◇◇...


Gita menggeliat, perlahan dia membuka matanya. Tangannya langsung memegang kening yang mengganjal.


"Apa ini?" Gita menarik koolfever di keningnya. Dia mengertkan kening lalu meihat sekitar.


"Siapa yang kasih gue beginian, kayak anak kecil aja deh gue." Ujar Gita sambil geleng kepala.


"Gita.. akhirnya lo bangun juga." Kata Anita langsung duduk di sebelah Gita.


"Nih tas loo." Fara memberikan tas milik Gita.


"Eh.. udah balik?" Gita kaget. Dia merasa hanya tidur sebentar. Tapi tahu-tahu udah pulang sekolah.


"Iya, lo lebih baik besok libur aja." Anita memberikan saran.

__ADS_1


"Gue udah baik-baik aja kok. Kalian iseng banget sih pakain koolfever, lo kira gue anak TK."


"Koolfever?" Fara mengerutkan kening bingung dengan tuduhan Gita.


"Udah deh.. nggak usah berlagak nggak tahu gitu."


"Sumpah kita nggak ngerti." Anita mengangkat dua jarinya membentuk huruf v.


"Terus kalau bukan kalian siapa? Gita menatap Fara dan Anita. Mereka berdua mengangkat kedua tangannya.


"Positif thingking aja, petugas UKS yang pakai." kata Anita.


"Balik yuk." ajak Fara.


"Eh.. kalian lihat Devan nggak?" Gita ingat kalau dia di ajak pergi sama Devan.


"Tadi sih masih di kelas." Anita menunjuk ke luar ruangan.


"Gue kesana dulu ya, pasti dia nungguin gue." Gita pamit sama Fara dan Anita.


"Ok. Lo jangan capek-capek ya." Nasehat Anita.


"Iya."


Gita langung berlari menuju ke kelas untuk menemui Devan.


"Devan.." panggil Gita.


"Gita, apa lo udah baikan?" tanya Devan.


"Iya gue sudah baikan, apa kita jadi pergi?" tanya Gita sambil menghampiri Devan.


...◇◇◇◇◇...


Di dalam mobil Gita terus melihat tangannya, dia tersenyum terus. Dia senang banget merasa semakin dekat menjadi pacar Gita.


"Git.."


"Hem."


"Ayo turun udah sampai." kata Devan sambil membukakan pintu setelah sampai di sebuah toko boneka.


"Ah... udah sampai."


"Lo lagi ngelamunin apaan sih, sepanjang perjalanan senyum-senyum sendiri?"


"Benarkah?"


"Ya, mikirin gue ya." Devan menggerak-gerakkan kedua alisnya. Wajah Gita merona dia ketahuan sedang membayangkan dirinya.


"Apaan sih lo." Gita langsung turun.


Gita berkeliling toko melihat-lihat boneka. Dia memegang teddy bear ukuran besar sambil tersenyum.


"Enak nih buat tidur." kata Gita sambil tertawa kecil.

__ADS_1


"Apa itu bagus?" tanya Devan dari belakang Gita.


"Ya, sangat nyaman buat tidur." Gita merenges.


"Tidur?"


"Yah.. kalau boneka sebesar ini pasti akan nyaman buat tidur dan juga di peluk." Kata Devan.


"Begitu ya,"


"Van, boleh gue tanya?"


"Ya."


"Memangnya lo beli boneka ini untuk siapa?" tanya Gita penasaran.


"Buat orang yang spesial dalam hidup gue?" katanya sambil tersenyum.


"Apa itu pacar lo?"


"Belum, gue sedang mempersiapakan untuk menyatakan perasaan gue. Jadi gue minta tolong sama lo." kata Devan.


"Apa gue boleh tahu siapa dia?"


"Nanti lo juga akan tahu siapa dia." Devan memegang pundak Gita lalu tersenyum.


"Apa gue kenal dia?" Gita masih terus memberikan pertanyaan kepada Gita.


Devan tersrnyum lalu merangkul Gita,"Lo sangat mengenal dia." kata Devan.


"Oiya?"


"Jangan di bahas lagi deh, nanti lo juga bakalan tahu kok. Tenang saja gue nggak akan sembunyiin dari lo kok."


"Heheh sorry jadi kepo." Gita meringis.


"Ok sebagai ucapan terima kasih gue sama lo besok siang kita pergi makan." Ajak Devan.


"Iya."


...◇◇◇◇◇...


"Darimana aja Ta baru pulang?" tanya Qila.


"Tadi habis pergi sama Devan." Gita menjatuhkan tubuhnya di samping Qila.


"Kenapa nggak pulang saja, lo terlihat pucat dan lemas seperti ini. Tadi lo juga tidur di UKS kan?"


"Jadi kakak tahu gue ke UKS tadi?"


"Iya, tadi kakak sempat lihat lo."


"Apa kakak yang kasih gue koolfever di kening gue?"


"Tidak, gue kesana koolfever sudah ada di keningmu."

__ADS_1


"Lalu siapa ya?" tanya Gita.


Gita kembali kepikiran koolfever yang menempel di keningnya.


__ADS_2