
Gita berlari lebih cepat agar sejajar dengan Vian, setelah sejajar dia memukul lengan Vian dengan sekuat tenaganya.
“Lo Ian, hari pertama masuk kampus udah bikin kaki gue pegal-pegal semua.” Omel Gita.
“Itung-itung olahraga, lo semenjak di tinggal Gilang nggak pernah olahraga kan.” Kata Vian, dia masih saja membuat alasan yang membuat Gita ingin meninju wajah tengil sahabatnya itu. Dan Vian tersenyum lalu mempercepat larinya. Sebelum sepatu Gita melayang ke wajahnya.
Imel melihat Vian dan Gita dengan tatapan tidak senang. Di matanya mereka berdua menikmati hukuman yang dia berikan.
“Di hukum malah kayak di suruh main, happy banget tuh muka mereka.” Kata Imel sambil
melipat kedua tanganya di dada.
“Imel, lo jangan terlalu keras sama anak baru, nggak baik. Dengan sikap lo seperti ini
hanya akan membuat mereka memberontrak dan membenci kita.” Kata Farhan.
“Ya tapi kalau nggak di beri pelajaran begini pasti pada ngelunjak nggak menghargai
kita.” Kata Imel dengan nada pelan. Imel tidak berani memarahi Farhan atau pun membentaknya.
“Benar kata Imel, Han..” Jordan membenarkan ucapan Imel. Memang pada dasarnya apapun yang di katakan Imel Jordan akan selalu mengiyakan. Karena dia mencintai Imel. Namun sayangnya cintanya bertepuk sebelah tangan. Imel lebih mencintai Farhan.
“Gue ingetin kalian saja, jangan sampai ospek kali ini di jadikan sebagai ajang balas dendam kalian saja. Dan kalau ada apa-apa gue nggak mau tanggung jawab” Kata
Farhan.
Imel berjalan mendekati Gita,Fara, Vian dan Raka yang baru saja selesai berlari mengelilingi lapangan. Imel mengelilingi mereka berempat yang masih ngos-ngosan.
“Capek?” tanya Imel.
“Capek Kak.” Jawab Gita dan Fara bersamaan.
“Makanya kalau ada orang ngomong dengarkan, bukan malah asik ngobrol sendiri. Sekarang kalian gabung sama yang lain.” Perintah Imel.
"Baik Kak, makasih."
Hari sudah mulai sore ospek pun selesai, Gita meregangkan kedua tangannya. Semua
badanya sakit semua seperti habis di pukulin orang sekampung.
“Ini nih besok pagi pas bangun rasanya pasti hancur lebur tulangku.” Kata Gita kembali meregangkan badannya.
“Benar, perkenalanya nggak kira-kira. Kayak mau jadi tentara aja gue.” Ujar Fara.
“Sabar.” Jawab Vian sambil meregangkan tangannya juga.
“Ini semua tuh gara-gara Vian, kita semua jadi menderita.” Fara terus menyalahkan
Vian.
"Anggep saja olahraga biar sehat, kalian berdua kan kebanyak rebahan."
“Sudah jangan marahin Vian terus, kasian nanti dia kurus kering. Mending sekarang kita makan buat mengembalikan tenaga kita.” Raka merangusap rambut Fara lalu
merangkulnya.
“Benar,cacing gue sudah dancing-dancing in the rain.” Vian mengusap perutnya. “ Gue yang traktir deh kali ini.” Kata Vian lagi.
__ADS_1
“Let’s go nggak nolak ini mah.” Kata Raka.
Sebelum pulang mereka pergi ke kantin dulu, Gita mencari tempat yang masih kosong. Hari itu banyak senior-senior yang sedang makan.
“Kita pindah tempat saja gimana? Disini penuh?” kata Gita dengan kedua matanya yang terusberedar mencari kursi kosong.
“Iya, mana senior semua disini.” Kali ini Fara setuju untuk pindah ke restauran atau
tempat makan lainnya. Yang penting nggak melihat senior-seniornya yang ngerjain dia.
“Itu di tengah ada meja kosong, buruan deh kalian duduk sana gue ambil buku menunya
dulu.” Kata Raka.
“Siap.” Gita dan Fara langsung menuju kursi yang di tunjuk Raka.
Gita menarik kursi lalu duduk, matanya melirik ke sebelah. Dia tersenyum kecil melihat orang-orang yang terlihat keren saat memakai baju almamater.
“Kak Gilang pasti ganteng banget pakai baju almamater gitu.” Batin Gita sambil
senyumnya semakin lebar.
“Git, lo kenapa senyum-senyum gitu. Ada yang lo taksir.” Fara mendekatkan tubuhnya ke Gita dan matanya ikut melihat kearah tempat yang di pandang Gita.
“Pikiran lo tuh suka jalan kemana-mana. Mana ada naksir-naksir”
“Kalau nggak ngecengin cogan ngapain cengar-cengir nggak jelas gitu .” Fara tidak percaya kalau Gita tidak berpikiran seperti itu.
“Gue lagi bayangin Kak Gilang pakai baju almamater gitu, pasti ganteng banget.” Kata Gita melihat ke arah Fara.
“Kak Gilang lagi..Kak Gilang lagi. Sudahlah lupain saja cari tuh cogan-cogan disini
“Nggak ada yang keren.” Kata Gita sambil menggelengkan kepala.
“Iyalah.. lo nggak bisa lihat mata lo kan katarak.” Ujar Vian pelan setelah menaruh bakso.
“Gue dengar.” Hampir saja garpu melayang ke tubuh Vian, tapi karena dia masih baru
dan banyak senior Gita mengurungkan niatnya.
Farhan yang tadinya tidak memperdulikan keributan di meja belakangnya langsung menoleh saat mendengar ucapan Gita yang terakhir. Dia merasa sangat familiar
dengan ucapan itu.
Meskipun sudah berjalan lama banget kejadian di toko accecoris namun ucapan Gita masih terngiang di telingannya. Waktu itu dia berjanji akan memberikan gelang
itu kepada orang yang berebut dengannya.
“Apa itu cewek yang gue temui waktu itu?” batin Farhan.
“Kenapa Han?” tanya Imel.
“Nggak.” Farhan meneruskan makannya.
Farhan mulai tertarik dengan Gita, dia kembali memperhatikan wajah Gita mencoba mengingat dan memastikan dialah cewek yang di temui waktu itu.
Gita tak sengaja melihat Farhan, mata dengan mata saling bertatapan. Farhan tersenyum kepada Gita. Sedangkan Gita membuang muka kembali menikmati bakso yang hangat dan pedas.
__ADS_1
“Gue rasa memang dia orangnya, anak songong itu.” Batin Farhan sambil tersenyum.
Setelah makan Gita duduk di motor Raka, dia menunggu perpisahan Raka dan Fara yang tak kunjung kelar sampai Gita ngantuk.
“Raka, buruan kita pulang. Fara lo jangan siksa gue seperti ini kalau lo mau restu
dari gue.” Kata Gita dengan nada lemas.
“Iya..iya, nggak bisa lihat orang senang bentaran lo Git.” Fara manyun.
“Lonmasih aja sehat begitu padahal seharian kerja rodi kok masih saja bisa teriak-teriak seperti itu.” Omel Gita.
“Ya udah deh sayang, sana anterin pulang itu anak bayi dari tadi merengek.” Kata Fara.
“Heh..anda berani mengatai saya. Lihat pacar anda ini bakalan saya culik.” Gita melet, menggoda Fara.
“Bodo amat, nanti gue bisa video call.”
“Oiya, gue bisa tidur pelukan sama pacar lo.” Kata Gita sambil memakai helm sambil berjalan mendekati dua sejoli yang sedang pacaran.
“Sayang..” Rengek Fara dia kesal banget di goda sama Gita. Dia selalu saja kalah kalau berdebat sama Gita.
Tak! Raka menyentil kening Gita karena terus mengganggu Fara.
“Jangan ganggu kaka ipar lo mulu, nanti dia ngambek repot." Ujar Raka.
“Kalau dia suka ngambek, cari aja kakak ipar yang lain.” Gita terus meledek Fara.
“Gita!” teriak Fara sambil melotot. Dia kemudian mengejar Gita, Fara benar-benar greget sama Gita.
“Sudah-sudah, ayo pulang.” Raka menarik tangan Fara lalu mengantarnya ke mobil dulu agar dia lebih dulu pulang. Kalau salah satu tidak di pisah dulu nggak akan kelar
urusannya.
“Masuk.” Raka mengusap kepala Fara. Fara mengintip Gita lagi.
“Sudah jangan di lihatin, nanti makin di ejek sama Gita. Udah masuk.” Raka menutup
pintu.
“Hati-hati ya Pak.” pesan Raka kepada sopir Fara.
“Baik Mas.”
“Kamu juga hati-hati sayang.”
“Raka, buruan!” teriak Gita.
“Udah tuh adik lo, berisik banget selalu gangguin orang pacaran terus.” Fara masih
mengomel.
“Udah ah, makin ngamuk nanti dia.”
Fara meminta sopirnya untuk jalan, dia melambaikan tangan ke Raka lalu ke Gita. Raka kemudian lari mendekati Gita.
“Let’s go pulang.” Raka menggandeng Gita.
__ADS_1
“Yah, gue udah kangen sama bantal kasur gue.”