
Nino dan Ina pergi dengan wajah kesal, mereka berdua sangat kesal dengan Gita. Apa lagi dengan di pindahnya proyek ke team Ratna mereka merasa di remehkan. Win
menepuk pelan pundak Gita sembari memberikan senyuman dan anggukan untuk
menenangkan Gita. Padahal Gita tahu orang yang paling terpukul atas kegagalan
proyek ini adalah dirinya.
“Gita, lo ikut gue bos mau bicara sama lo.” Kata Lila dari ambang pintu.
“Baik Mbak.” Gita beranjak dari duduknya.
Di dalam ruangan Gilang sudah ada Ratna bersama teamnya, Gita perlahan masuk dan
berdiri di samping Catrin.
“Ratna, kamu segera bawa berkas.”
“Baik Pak.”
“Untuk kamu Catrin, terima kasih sudah menyiapkan plan B ini jadi bisa menghendel
semua. Tingkatkan kerja kamu, saya suka dengan kerja kamu. Ratna good job team
kamu masih menjadi unggulan di perusahaan ini.” Gilang memuji kinerja Catrin.
“Baik Bos, terima kasih.” Jawab Catrin sambil tersenyum senang mendapat pujian dari bos.
“Ya pasti, team kami selalu mendapatkan anak baru yang berkualitas, jadi semakin
berkualitas juga team kami.” Kata Ratna sambil melirik kearah Gita.
“Gita, berterima kasih lah sama team Ratna. Karena mereka telah menyelamatkan team kamu. Kamu juga harus belajar banyak dari mereka.” Kata Gilang.
“Baik Pak.” Jawab Gita pelan. Dadanya rasanya sakit, karena Gilang tidak mau
memberikan dia kesempatan untuk memperbaiki justru melemparkan kepada orang lain.
“Kamu harus lebih hati-hati lagi dalam bekerja, tanggung jawab dan disiplin. Jangan sembrono dalam melakukan pekerjaan taruhannya bukan hanya perusahaan tapi seluruh karyawan disini.” Jelas Gilang.
“Baik Pak.” Jawab Gita singkat, padat dan tak ada pengelakan ataupun pembelaan untuk dirinya sendiri.
“Silahkan kalian boleh keluar.” Kata Gilang.
Ini pertama kalinya Gilang memarahi dirinya, dia tahu semua ini salahnya, dan
Gita juga tidak bisa melakukan pembelaan karena benar kecerobohannya tidak
hanya merugikan perusahaan tapi imbasnya bakalan sampai ke karyawan juga.
__ADS_1
“Buugh..”
Gita berhenti di depan pintu ruangannya melihat Nino membanting berkas di meja
kerjanya.
“Proyek kita hilang lagi, kenapa sih sial banget hidup gue.” Nino duduk di kursinya.
“Tak hanya itu, bonus yang di depan mata pun menghilang, sirna.” Kata Ina dengan
lemas.
“Bisa-bisanyabbos memberikan kita team yang seperti ini.” Keluh Nino.
“Maksudnya team seperti ini apa Mas?” Fara tidak terima dengan keluhan Nino.
“Tidakbperlu bertanya lagi, kalian bukan anak kulihan lagi. Harusnya paham sama
kondisi ini. Memang benar kwalitas sumber daya manusia sangat di butuhkan. Tapi
selalu saja mendapatkan sumber daya manusia yang tidak berkwalitas.” Jawab Nino enteng.
“Jaga ya Mas omongan lo, kalau memang Mas Nino sangat berkualitas kenapa tidak
pernah mendapatkan proyek selama ini?!” Fara naik pitam.
“Fara sudah.” Vian menenangkan Fara.
“Itu karena bos pilih kasih sama team ini, dia tidak memberikan kepercayaan sama
team ini, sekarang di tambah dengan satu orang ceroboh ini semakin hancur karir
gue disini.” Nino menunjuk Gita yang sejak tadi hanya berdiri di depan pintu.
“Nino cukup.” Ucap Win yang sejak tadi diam membiarkan Nino melampiaskan emosinya.
“Maafinbgue Mas, Gita nggak sengaja melakukannya.” Gita berjalan mendekati Nino.
“Maafblo itu nggak ada gunanya.” Nino beranjak dan pergi dengan sengaja menabrakkanbtubuhnya sama Gita.
“Nino!” Panggil Win, namun Nino tak bergeming.
“Ini semua bukan hanya karena bonus semata, ini adalah hal yang paling kami tunggu selama ini. Dan lo menghancurkannya, itu membuat Nino sangat marah dan juga kecewa sama halnya
dengan gue yang sudah terlalu banyak berharap dengan lo, tapi gue salah.” Kata
Ina ikut pergi meninggalkan ruangan.
Fara memeluk Gita, dia ingin sekali menjambak rambut Nino yang bicaranya sangat menyinggung perasaan Gita.
__ADS_1
“Gue minta maaf ya atas ucapan Nino dan Ina, kalian bertiga jangan ambil hati.
Mereka hanya emosi saja nanti juga akan baikan lagi.” Kata Win.
Dia memangbketua team idaman. Dia sama sekali tidak menyelahkan Gita, dia
memnagnggapnya semua itu kecelakan kerja.
“Lupakan yang sudah berlalu, sekarang kita makan dulu baru kita kerja lagi buat
ngilangin stres.” Ajak Win.
“IyabMas. Tapi kan ini bukan jam istirahat.” kata Vian.
“Tidak apa-apa, lagian sudah mendekati jam pulang kerja di tambah lagi tadi kita
makannya juga belum banyak kan.” Kata Win.
“Kalian makan saja, gue disini dulu.” Kata Gita. Dia ingin menenangkan diri.
“Gita, lo harus tetap makan. Team Win nggak boleh ada yang bersedih berlarut-larut.bAyo makan, kita pesan yang banyak.” Win tidak membiarkan anggotany bersedih hati hanya karena kegagalan satu proyek.
Gita membawa makanannya dan ikut gabung bersama yang lain, saat Gita duduk Nino dan
Ina mengangkat makanannya dan pindah meja.
“Nino, Ina. Please, jangan kekanankan ini hanya kegagalan kecil.” Kata Win.
“Kegagalan kecil, kita kehilangan..”
“Wah..wah perpecahan seprtinya sedang terjadi sini.” Kata Roy dengan wajah sumringah melihat pertengkaran di team Win.
“Gue rasa apa yang di lakukan Mas Nino dan juga Mbak Ina sangat wajar, kalau bisa memilih pindah team akan lebih bagus. Ya kalau gue jadi Gita sih tahu diri mending resign daripada hanya menjadi masalah di team dan juga perusahaan. Memangnya nggak kasihan lihat mereka menderita.” Kata Catrin lancang.
“Mak lampir, mulut lo perlu di sekolahin ya. Yang perlu resign itu lo bukan Gita.” Fara semakin tersulut emosi.
“Fara..Fara.. biarin saja.” Gita menahan Fara.
“Hey..Catrin yang di katain Fara benar, harsunya lo yang resign karena attitude lo nol. Percuma pinter tapi nggak punya attitude.” Vian angkat bicara.
“Mas Win, kasian banget jadi lo. Punya team skillnya cuma untuk emosi doang kerja nol.”
Kata Catrin.
“Dengar ya lo anak baru, perusahaan nggak akan mungkin mengeluarkan Catrin yang
memiliki bakat serta kepintaran yang menguntungkan perusahaan. Memangnya kalian beban perusahaan.” Roy tersenyum mengejek.
“Cukup ya Mas Roy! Jangan bicara ngawur tentang teman-teman gue dan juga team gue. Silahkan kalian menghina gue sepuasnya tapi jangan mereka.” Gita gedek banget teamnya terus di salahkan.
__ADS_1
“Sudah-sudah, kita pergi saja dari sini.” Win mengajak Gita, Fara dan Vian meningglkan kantin karena keadaan semakin tidak kondusif. Takutnya nanti anak-anaknya itu berantem dan akan menambah masalah untuk team mereka.