Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Kepulangan Gita


__ADS_3

Hari ini Gita sudah boleh pulang, Gita


duduk menunggu papanya yang sedang mengurus administrasi.


“Gilang nggak datang Ta?” tanya Qila.


“Nggak, ada kerjaan jadi nggak datang.


Kerjaannya numpuk karena dia jagain gue dari kemarin.” Jawab Qila.


“Kamu harus bersyukur dapat pacar


Gilang, dia sayang dan perhatian banget sama kamu.” Wanda mengelus kepala Gita.


“Pastilah Ma, dia itu anugerah terindah


yang aku miliki setelah kalian semua.” Gita memeluk Wanda.


“Idiih.. bucin.”


“Biar daripada di ghosting, lebih baik


bucin kan. Week!” Gita menjulurkan lidahnya.


“Ayo anak-anak kita pulang.”


“Let’s go!” seru Gita dan Qila.


Mobil masuk ke garasi rumah, Gita


sekeluarga bergegas turun saat mendengar di dalam ada ke gaduhan.


“Ma, ada apa kok rame-rame?” tanya Gita.


“Mama, juga nggak tahu. Qila bantuin Gita


jalan mama mau lihat dulu.” Kata Wanda sambil bergegas masuk ke rumah.


Ternyata ada Marina dan Faisal mereka


berdua ribut di rumah Wanda dan Bik Nana menjadi orang yang kebingungan karena


tidak bisa melerai dan hanya bisa menonton. Melihat sang majikan pulang Bik


Nana langsung nyamperin.


“Buk..”


“Iya Bik, kamu boleh kembali lagi biar


saya yang menangani ini.”


“Baik Buk.”


“Ada apa ini?” Tanya Wanda.


“Dik, mana Raka?” tanya Marina.


“Raka? Bukannya ada di tempat kamu kok


malah tanya sama aku?”


“Sudah beberapa hari ini Raka pergi,


bahkan dia kabur di hari pemberangkatannnya ke luar negeri.” Jelas Marina.


“Gimana mau mengurus Raka, belum apa-apa


saja sudah kabur. Kamu itu memang nggak becus jadi ibu. Jadi lebih baik Raka


ikut aku.”


“Enak saja, dia pergi pasti ulah kamu


kan. Pasti kamu bikin dia takut atau apa sampai dia tidak jadi pergi.”


Marina dan Faisal kembali ribut, dan dia

__ADS_1


tidak tahu tempat. Dimanapun mereka bertemu pasti hanya akan ribut. Dia tak


malu meskipun mereka harus di tonton orang banyak sekalipun.


“Cukup!” Bentak Wanda. Telingannya sudah


panas, hatinya sangat jengkel melihat kakak dan kakak iparnya itu terus


bertengkar.


“Raka itu anakku, jadi dia akan ikut aku


disini. Raka tidak akan kemana-mana.”  Kata Wanda.


“Dik, mana bisa begitu. Raka anak


kandung aku. Dia harus ikut aku.”


“Jika memang Raka anak kalian,  kenapa baru cari dia sekarang. Apa kalian


tahu dulu betapa sulitnya aku membesarkan Raka bersama anak-anakku yang lain.


Raka sakit demam tinggi, dia terus menangis dan mengigau memanggil namamu Mbak.


Tapi apa saat aku ke rumah kamu malah senang-senang sama cowok kamu.”


“Kamu bilang dia anak sial, dan akan


membuangnya kamu ingat itu?” Tanya Wanda.


“Dan kamu Mas Faisal, aku datang ke


rumah untuk meminta uang buat membelikan obat Raka, kamu bilang tidak ada uang


untuk anak sial itu. Dan memberikan kepada perempuan-perempuan yang nggak jelas


itu. Aku dan suamiku yang lari kesana-kemari mencari hutang demi kesembuhan


Raka.  Sekarang masih pantas mau membawa


Raka.” Wanda berjalan memutari Faisal dan Marina. Dia menceritakan kehidupannya


“Aku dulu khilaf, dan sekarang ingin


memperbaikinya.”


“Seenak itu ya, memperbaiki seperti


apa?”


“Wanda, kehidupanku semakin meningkat.


Dan aku juga butuh penerus untuk usahaku. Itu impas kan untuk membayar semua


yang pernah aku lakukan dulu.”


“Dik, aku juga ingin menebus waktu yang


sudah terbuang lama. Kehidupaku juga lebih baik dan memiliki keluarga yang


harmonis.”


“Keluarga harmonis, Mbak apa kamu pasti


yakin suami baru kamu itu bisa menerima Raka dengan lapang dada. Mas, apa benar


istri baru kamu bisa menyayangi Raka dengan setulus hatinya?”


“Mama baru..papa baru..?” Raka


terperanjat saat mendengar kata mama dan papa baru untuknya.


“Raka sayang, kamu akhirnya kembali.”


Marina berlari mendekati Raka.


“Jangan sentuh aku! Jadi selama ini yang

__ADS_1


mama bicarakan tentang adik itu adalah anak dari suami baru mama? Jadi kalian


sudah berpisah?” Raka shock.


“Sayang mama bisa jelaskan.”


“Tidak ada penjelasan apa-apa lagi Ma.


Jangan cari Raka lagi karena aku tidak akan pergi kemana-mana dan ikut


kemana-mana. Rumah Raka disini, mama dan papa Raka disini yaitu mama Wanda dan


Papa Seno.” Raka berlari menaiki tangga pergi ke kamarnya.


“Kalian dengarkan, jangan pernah ganggu


anakku lagi.” Wanda geregetan.


“Kalian nikmati saja kehidupan kalian


seperti dulu. Biar kami nikmati kehidupan kami. Semenjak kalian mengabaikan


Raka, maka kami sudah mengangkat dia sebagai anak sendiri. Jadi kalian tidak


usah khawatir dia kekurangan apa-apa. Bahkan kalau bisa di katakan kasih sayang


keluarga kami sudah sangat cukup di bandingkan harta yang kalian iming-imingkan


kepada Raka.” Seno akhirnya angkat bicara setelah dia hanya menjadi istrinya


dari belakang. Meskipun sangat berat, Marina dan Faisal menyerah tidak membawa


Raka lagi.


Gita berjalan pelan masuk ke kamar Raka,


dia duduk lalu memberikan pelukan yang sangat hangat agar Raka bisa tenang.


“Menangis saja tidak apa-apa.” Kata


Gita.


“Ta, kenapa mama sama papa gue tega


sekali memperlakukan gue seperti ini. Memamangnya aku salah apa?”


“Lo tidak salah. Lagian mama kita kan


mama Wanda sama Papa Seno tidak ada yang meggantikan.”


“Benar, maafin gue karena telah


membentak lo, bahkan  tidak mau ketemu


sama lo.” Raka membalas pelukan Gita.


“Sudah-sudah jangan terlalu dipikirkan,


mari kita hidup seperti biasa.”


“Raka.” Wanda berjalan mendekati Raka


lalu memeluk putranya itu.


“Maafin Raka ya Ma, Raka tidak akan


meninggalkan mama sama papa.”  Wanda


menarik dari pelukan Raka, dia mencium pipi dan juga kening Raka.


“Mulai besok kamu kembali kuliah lagi,


kamu belum jadi keluar kan?”


“Belum Ma.”


“Kamu sudah makan? Kenapa anak mama jadi

__ADS_1


kurusan begini?” tanya Wanda.


“Sudah Ma, Raka lagi diet.” Canda Raka.


__ADS_2