
Hari ini Gita sudah boleh pulang, Gita
duduk menunggu papanya yang sedang mengurus administrasi.
“Gilang nggak datang Ta?” tanya Qila.
“Nggak, ada kerjaan jadi nggak datang.
Kerjaannya numpuk karena dia jagain gue dari kemarin.” Jawab Qila.
“Kamu harus bersyukur dapat pacar
Gilang, dia sayang dan perhatian banget sama kamu.” Wanda mengelus kepala Gita.
“Pastilah Ma, dia itu anugerah terindah
yang aku miliki setelah kalian semua.” Gita memeluk Wanda.
“Idiih.. bucin.”
“Biar daripada di ghosting, lebih baik
bucin kan. Week!” Gita menjulurkan lidahnya.
“Ayo anak-anak kita pulang.”
“Let’s go!” seru Gita dan Qila.
Mobil masuk ke garasi rumah, Gita
sekeluarga bergegas turun saat mendengar di dalam ada ke gaduhan.
“Ma, ada apa kok rame-rame?” tanya Gita.
“Mama, juga nggak tahu. Qila bantuin Gita
jalan mama mau lihat dulu.” Kata Wanda sambil bergegas masuk ke rumah.
Ternyata ada Marina dan Faisal mereka
berdua ribut di rumah Wanda dan Bik Nana menjadi orang yang kebingungan karena
tidak bisa melerai dan hanya bisa menonton. Melihat sang majikan pulang Bik
Nana langsung nyamperin.
“Buk..”
“Iya Bik, kamu boleh kembali lagi biar
saya yang menangani ini.”
“Baik Buk.”
“Ada apa ini?” Tanya Wanda.
“Dik, mana Raka?” tanya Marina.
“Raka? Bukannya ada di tempat kamu kok
malah tanya sama aku?”
“Sudah beberapa hari ini Raka pergi,
bahkan dia kabur di hari pemberangkatannnya ke luar negeri.” Jelas Marina.
“Gimana mau mengurus Raka, belum apa-apa
saja sudah kabur. Kamu itu memang nggak becus jadi ibu. Jadi lebih baik Raka
ikut aku.”
“Enak saja, dia pergi pasti ulah kamu
kan. Pasti kamu bikin dia takut atau apa sampai dia tidak jadi pergi.”
Marina dan Faisal kembali ribut, dan dia
__ADS_1
tidak tahu tempat. Dimanapun mereka bertemu pasti hanya akan ribut. Dia tak
malu meskipun mereka harus di tonton orang banyak sekalipun.
“Cukup!” Bentak Wanda. Telingannya sudah
panas, hatinya sangat jengkel melihat kakak dan kakak iparnya itu terus
bertengkar.
“Raka itu anakku, jadi dia akan ikut aku
disini. Raka tidak akan kemana-mana.” Kata Wanda.
“Dik, mana bisa begitu. Raka anak
kandung aku. Dia harus ikut aku.”
“Jika memang Raka anak kalian, kenapa baru cari dia sekarang. Apa kalian
tahu dulu betapa sulitnya aku membesarkan Raka bersama anak-anakku yang lain.
Raka sakit demam tinggi, dia terus menangis dan mengigau memanggil namamu Mbak.
Tapi apa saat aku ke rumah kamu malah senang-senang sama cowok kamu.”
“Kamu bilang dia anak sial, dan akan
membuangnya kamu ingat itu?” Tanya Wanda.
“Dan kamu Mas Faisal, aku datang ke
rumah untuk meminta uang buat membelikan obat Raka, kamu bilang tidak ada uang
untuk anak sial itu. Dan memberikan kepada perempuan-perempuan yang nggak jelas
itu. Aku dan suamiku yang lari kesana-kemari mencari hutang demi kesembuhan
Raka. Sekarang masih pantas mau membawa
Raka.” Wanda berjalan memutari Faisal dan Marina. Dia menceritakan kehidupannya
“Aku dulu khilaf, dan sekarang ingin
memperbaikinya.”
“Seenak itu ya, memperbaiki seperti
apa?”
“Wanda, kehidupanku semakin meningkat.
Dan aku juga butuh penerus untuk usahaku. Itu impas kan untuk membayar semua
yang pernah aku lakukan dulu.”
“Dik, aku juga ingin menebus waktu yang
sudah terbuang lama. Kehidupaku juga lebih baik dan memiliki keluarga yang
harmonis.”
“Keluarga harmonis, Mbak apa kamu pasti
yakin suami baru kamu itu bisa menerima Raka dengan lapang dada. Mas, apa benar
istri baru kamu bisa menyayangi Raka dengan setulus hatinya?”
“Mama baru..papa baru..?” Raka
terperanjat saat mendengar kata mama dan papa baru untuknya.
“Raka sayang, kamu akhirnya kembali.”
Marina berlari mendekati Raka.
“Jangan sentuh aku! Jadi selama ini yang
__ADS_1
mama bicarakan tentang adik itu adalah anak dari suami baru mama? Jadi kalian
sudah berpisah?” Raka shock.
“Sayang mama bisa jelaskan.”
“Tidak ada penjelasan apa-apa lagi Ma.
Jangan cari Raka lagi karena aku tidak akan pergi kemana-mana dan ikut
kemana-mana. Rumah Raka disini, mama dan papa Raka disini yaitu mama Wanda dan
Papa Seno.” Raka berlari menaiki tangga pergi ke kamarnya.
“Kalian dengarkan, jangan pernah ganggu
anakku lagi.” Wanda geregetan.
“Kalian nikmati saja kehidupan kalian
seperti dulu. Biar kami nikmati kehidupan kami. Semenjak kalian mengabaikan
Raka, maka kami sudah mengangkat dia sebagai anak sendiri. Jadi kalian tidak
usah khawatir dia kekurangan apa-apa. Bahkan kalau bisa di katakan kasih sayang
keluarga kami sudah sangat cukup di bandingkan harta yang kalian iming-imingkan
kepada Raka.” Seno akhirnya angkat bicara setelah dia hanya menjadi istrinya
dari belakang. Meskipun sangat berat, Marina dan Faisal menyerah tidak membawa
Raka lagi.
Gita berjalan pelan masuk ke kamar Raka,
dia duduk lalu memberikan pelukan yang sangat hangat agar Raka bisa tenang.
“Menangis saja tidak apa-apa.” Kata
Gita.
“Ta, kenapa mama sama papa gue tega
sekali memperlakukan gue seperti ini. Memamangnya aku salah apa?”
“Lo tidak salah. Lagian mama kita kan
mama Wanda sama Papa Seno tidak ada yang meggantikan.”
“Benar, maafin gue karena telah
membentak lo, bahkan tidak mau ketemu
sama lo.” Raka membalas pelukan Gita.
“Sudah-sudah jangan terlalu dipikirkan,
mari kita hidup seperti biasa.”
“Raka.” Wanda berjalan mendekati Raka
lalu memeluk putranya itu.
“Maafin Raka ya Ma, Raka tidak akan
meninggalkan mama sama papa.” Wanda
menarik dari pelukan Raka, dia mencium pipi dan juga kening Raka.
“Mulai besok kamu kembali kuliah lagi,
kamu belum jadi keluar kan?”
“Belum Ma.”
“Kamu sudah makan? Kenapa anak mama jadi
__ADS_1
kurusan begini?” tanya Wanda.
“Sudah Ma, Raka lagi diet.” Canda Raka.