
Alarm Gita berbunyi sangat keras dan
berulang-ulang namun Gita tak dengar. Dia masih terlelap di dalam tidurnya.
“Gita...bangun sayang, ini sudah jam
berapa.” Wanda menaiki tangga sambil teriak membangunkan Gita. Namun Gita tidak
bergeming, dia tak mendengar terikan mamanya, masih terlalu nyaman dengan alam
mimpinya.
“Gita...bangun.” Wanda menggoyangkan
tubuh Gita.
“Eeemmhh..” Gita menggeliatkan tubuhnya.
“Gita, udah jam berapa lihat kamu masih
santai-santai, kamu itu sudah bekerja bukan anak kuliahan lagi. Kalau kamu
telat bisa-bisa di pecat.” Wanda mengomel. Dia menarik selimut Gita lalu
melipatnya setelah itu membuka tirai kamar lebar-lebar membiarkan sinar sang
surya masuk ke ruang kamar.
“Ya Tuhan.. kembalikan saja dunia SMA
Gita. Capek ternyata jadi orang dewasa.” Kata Gita sambil menggeliat.
“Apa kamu masuk lagi saja ke perut mama,
biar nggak mikir dan rebahan terus.” Kata Wanda.
“Ih.. mama lucu deh. Kalau Gita di dalam
perut mama terus kasihan dong Kak Gilang nungguin Gitanya.” Gita bangun, dia
menyambar handuk dan segera mandi.
“Ya makanya bangun, jangan malas-malasan
nanti Gilang di ambil orang lain.”
“Iya mama sayang, ngomel mulu!” teriak
Gita dari kamar mandi.
“Dasar anak bontot.” Kata wanda sambil
geleng kepala.
Gita duduk menaruh tasnya, dia mengambil
sandwich buatan mamanya dan mulai melahap. Dia menyenderkan punggungnya di
sandara kursi. Gita makan dengan malas mengunyah saja bisa beberapa kali
biasanya dua kali kunyah masuk dalam perut.
“Kamu kok masih santai-santai sih Gita
lihat jam berapa?” Wanda menunjuk jam di tangannya.
“Wah.. setengah delapan.” Gita langsung
lari mengambil sepatunya, dia bahkan lupa mencium tangan mamanya.
“Gita kamu belum cium tangan mama!”
teriak Wanda.
“Besok ya Ma double, Gita buru-buru.”
Sekarang semua orang sudah sibuk, tidak
ada Genta, Qila dan juga Raka. Gita harus melakukan apa-apa sendiri. Gita harus
sampai di kantor setengah dalam waktu setengah jam. Dia tidak boleh telat atau
akan di ceramahi seniornya.
“Taksi!” Panggil Gita. “Pak, tolong
jalannya pakai kecepatan yang tinggi ya. Kalau bisa kalahin flas soalnya saya
buru-buru.”
“Baik Mbak
silahkan masuk dulu.”
Benar sopir taksi mengemudikan dengan
kecepatan tinggi sesuai permintaan Gita, meskipun Gita sedikit takut tapi dia
tetap berusaha tenang agar sampai kantor dengan tepat waktu. Gita tidak berani
melihat jalan, dia memejamkan matanya sambil tangannya berpegangan.
“Mbak sudah sampai.” Kata sopir taksi.
“Yang benar Pak?”
“Lihat saja, GG entertaiment sudah ada
di depan mata.” Sopir taksi membuka kaca.
“Wah benar,berikan nomor whatsapp bapak.
Karena bapak akan menjadi sopir langganan saya.” Gita meminta nomor telepon
sopir taksi itu.
__ADS_1
“Siap Mbak.”
“Ok Pak, karena bapak mengantar saya
dengan tepat waktu saya kasih bonus.” Gita membayar taksi dengan uang dua ratus
ribu.
“Kebanyakan ini Mbak.” Sopir taksinya
tidak mau menerima.
“Kalau kebanyakan buat bapak, kasih saya
anak atau istri bapak.” Gita keluar taksi lalu berlari masuk.
Dengan kecepatan tinggi Gita memasuki
lobi kantor, dia siap absen kakinya mendadak mengerem lihat Lila berada di
depan absen.
“Gita-Gita, lo itu baru dua hari ini loh
kerja di perusahaan ini sudah telat.” Lila memarahi Gita.
“Maaf Mbak.”
“Baru saja sudah telat, bagaimana
nanti-nanti biasa-bisa semakin ngaret. Jadi pekerja itu yang rajin lo disini di
bayar untuk bekerja bukan main-main.” Samber Ratna. Gita tidak membantah, dia
memang telat dan bersalah.
“Mbak Lila, gimana sih HRDnya cari orang
kok nggak becus. Udah nilai jeblok, kedisiplinan juuga jelek harusnya sih di
tendang.” Kata Ratna lagi.
“Yah beginilah orang-orang penghambat
suksesnya perusahaan.” Catrin ikut nimbrung.
“Sudah-sudah kalian kembali kerja, Gita
ikut gue.” Lila membawa Gita ke ruangan Gilang. Dia akan mengadukan
keterlambatan Gita. Gilang paling tidak suka kalau ada orang yang nggak
disiplin di kantornya. Dia biasanya akan memberikan surat peringatan. Dan jika
sudah melanggar tiga kali dia akan di keluarkan.
“Permisi Pak.” Lila mengetuk pintu.
“Masuk Lila, ada apa?” Gilang masih
fokus membaca berkas.
dia terlambat sepuluh menit.” Kata Lila. Gilang menaruh berkasnya lalu berdiri.
“Suruh masuk.” Suruh Gilang.
“Baik Pak.”
Gita berjalan pelan sambil menggigit
bibirnya, dia takut pandangan Gilang yang sangat dingin dan tajam.
“Lila kamu boleh keluar.” Kata Gilang.
“Baik Pak.”
Brraaakkk..!
Gilang menggebrak meja membuat Gita
kaget, Gilang berjalan mendekati Gita lalu menyuruh dia duduk. Gilang kembali
lagi ke kursinya lalu memberikan bekal sarapan untuk Gita.
“Makan, belum sarapan kan?”
“Sudah sedikit.” Jawab Gita sambil
membuka kotak bekal.
“Gita, kamu itu masih karyawan baru,
kenapa bisa telat!” Gilang pura-pura memarahi Gita. Gita kaget lagi, tapi saat dia menatap Gilang
dia tahu kalau Gilang sedang akting.
“Maaf Pak, saya nggak sengaja.”
“Besok lagi kamu telat saya akan berikan
surat peringatan pertama buat kamu. Ini hanya teguran.” Kata Gilang.
“Baik Pak.” Jawab Gita seolah-olah dia
menyesalinya.
Gilang mendekati Gita, dia mencium pipi
kanan Gita dengan cepat. Gita langsung
menoleh kanan-kiri.
“Heh..ini di kantor.”
“Biarkan saja, kantor juga punya
__ADS_1
aku.” Kata Gilang kembali memberikan
ciuman ke pipi kiri Gita.
“Ya nanti kalau ketahuan sama semua
orang gimana?”
“Biarin saja. Kamu kenapa bisa telat?”
tanya Gilang.
“Nggak ada yang nganterin, semua orang
sibuk dan sopir juga di bawa Kak Qila.” Jawab Gita sambil memakan sandwich.
“Kalau gitu mulai besok biar aku yang
jemput kamu, kita pergi ke kantor bareng.” Gilang mengelus kepala Gita lalu
mengecupnya.
“Jangan nanti semua orang curiga, Gita
bisa pulang berangkat sendiri Kak Gilang jangan cemas. Gita itu sudah dewasa.”
Katanya.
“Baiklah, pacarku ini sudah dewasa. Tapi
ingat ya kalau ada masalah apapun kamu harus bilang sama aku. Kalau kamu nggak
nyaman sama orang-orang di kantor ini biar aku ganti yang baru.” Kata Gilang.
“Nggak usah berlebihan pacar aku sayang.
Aku baik-baik saja disini apalagi ada kamu.” Jawab Gita sambil menutup kotak
bekalnya yang sudah habis.
“Baiklah, Gita kerja dulu.”
“Ok. Kita ketemu lagi nanti pulang
kerja.”
“Ok.”
Gita membuka kaget ketika membuka pintu
banyak yang berdiri di depan pintu. Mereka kepo dengan hukuman yang di berikan
sama bosnya.
“Eh.. bubar.” Suruh Lila.Gita menahan
senyumnya lalu berjalan ke ruangannya.
“Gita..Gita... tunggu.” Panggil Ina.
“Iya Mbak,” Gita berhenti menunggu Ina
yang masih jauh di belakangnya.
“Lo
berani sekali cari masalah sama bos, di beri surat peringatan langsung kan lo.
Kalau sampai terlambat tiga kali lo bisa-bisa di pecat tahu nggak.”
“Iya Mbak, tadi di dalam sudah di kasi
wejangan juga sama si bos. Katanya hari ini masih di maafin.” Kata Gita.
“Bagus lah, besok-besok jangan di
ulangi. Masuk ke perusahaan ini sangat susah jadi jangan di sia-siakan.”
“Iya Mbak, gue akan berusaha lebih baik
lagi.” Kata Gita.
Gita baru saja duduk di kursinya,
langsung di serbu Nino dan Win. Mereka juga kepo dengan apa yang di katakan
Gilang sama Gita.
“Tenang saja, sahabat kita nggak akan
kena masalah mau terlambat satu jam pun.” Kata Vian sambil melirik ke arah
Gita. Gita mengangkat tangannya hendak memukul Vian takut membongkar siapa
dirinya sebenarnya.
“Kok bisa?” Nino heran.
“Iya lah, dia mah sudah handal untuk
mengeluarkan jurus seribu alasan.” Sahut Fara sambil melakukan tos sama Gita.
“Wah.. bakalan agak repot kita.” Kata
Win sambil duduk di kursinya lagi.
“Tenang saja, satu team sama kita pasti
seru.” Jelas Vian.
“Gue rasa kita yang sudah lebih tua ini
bakalan sering senam jantung.” Kata Ina.
Mereka bertiga sudah merasa kalau Gita,
__ADS_1
Fara dan Vian masti orangnya sangat sembrono yang akan membuat mereka bertiga serangan
jantung dadakan dengan ulah mereka bertiga.