Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Terlambat


__ADS_3

Alarm Gita berbunyi sangat keras dan


berulang-ulang namun Gita tak dengar. Dia masih terlelap di dalam tidurnya.


“Gita...bangun sayang, ini sudah jam


berapa.” Wanda menaiki tangga sambil teriak membangunkan Gita. Namun Gita tidak


bergeming, dia tak mendengar terikan mamanya, masih terlalu nyaman dengan alam


mimpinya.


“Gita...bangun.” Wanda menggoyangkan


tubuh Gita.


“Eeemmhh..” Gita menggeliatkan tubuhnya.


“Gita, udah jam berapa lihat kamu masih


santai-santai, kamu itu sudah bekerja bukan anak kuliahan lagi. Kalau kamu


telat bisa-bisa di pecat.” Wanda mengomel. Dia menarik selimut Gita lalu


melipatnya setelah itu membuka tirai kamar lebar-lebar membiarkan sinar sang


surya masuk ke ruang kamar.


“Ya Tuhan.. kembalikan saja dunia SMA


Gita. Capek ternyata jadi orang dewasa.” Kata Gita sambil menggeliat.


“Apa kamu masuk lagi saja ke perut mama,


biar nggak mikir dan rebahan terus.” Kata Wanda.


“Ih.. mama lucu deh. Kalau Gita di dalam


perut mama terus kasihan dong Kak Gilang nungguin Gitanya.” Gita bangun, dia


menyambar handuk dan segera mandi.


“Ya makanya bangun, jangan malas-malasan


nanti Gilang di ambil orang lain.”


“Iya mama sayang, ngomel mulu!” teriak


Gita dari kamar mandi.


“Dasar anak bontot.” Kata wanda sambil


geleng kepala.


Gita duduk menaruh tasnya, dia mengambil


sandwich buatan mamanya dan mulai melahap. Dia menyenderkan punggungnya di


sandara kursi. Gita makan dengan malas mengunyah saja bisa beberapa kali


biasanya dua kali kunyah masuk dalam perut.


“Kamu kok masih santai-santai sih Gita


lihat jam berapa?” Wanda menunjuk jam di tangannya.


“Wah.. setengah delapan.” Gita langsung


lari mengambil sepatunya, dia bahkan lupa mencium tangan mamanya.


“Gita kamu belum cium tangan mama!”


teriak Wanda.


“Besok ya Ma double, Gita buru-buru.”


Sekarang semua orang sudah sibuk, tidak


ada Genta, Qila dan juga Raka. Gita harus melakukan apa-apa sendiri. Gita harus


sampai di kantor setengah dalam waktu setengah jam. Dia tidak boleh telat atau


akan di ceramahi seniornya.


“Taksi!” Panggil Gita. “Pak, tolong


jalannya pakai kecepatan yang tinggi ya. Kalau bisa kalahin flas soalnya saya


buru-buru.”


“Baik Mbak


silahkan masuk dulu.”


Benar sopir taksi mengemudikan dengan


kecepatan tinggi sesuai permintaan Gita, meskipun Gita sedikit takut tapi dia


tetap berusaha tenang agar sampai kantor dengan tepat waktu. Gita tidak berani


melihat jalan, dia memejamkan matanya sambil tangannya berpegangan.


“Mbak sudah sampai.” Kata sopir taksi.


“Yang benar Pak?”


“Lihat saja, GG entertaiment sudah ada


di depan mata.” Sopir taksi membuka kaca.


“Wah benar,berikan nomor whatsapp bapak.


Karena bapak akan menjadi sopir langganan saya.” Gita meminta nomor telepon


sopir taksi itu.

__ADS_1


“Siap Mbak.”


“Ok Pak, karena bapak mengantar saya


dengan tepat waktu saya kasih bonus.” Gita membayar taksi dengan uang dua ratus


ribu.


“Kebanyakan ini Mbak.” Sopir taksinya


tidak mau menerima.


“Kalau kebanyakan buat bapak, kasih saya


anak atau istri bapak.” Gita keluar taksi lalu berlari masuk.


Dengan kecepatan tinggi Gita memasuki


lobi kantor, dia siap absen kakinya mendadak mengerem lihat Lila berada di


depan absen.


“Gita-Gita, lo itu baru dua hari ini loh


kerja di perusahaan ini sudah telat.” Lila memarahi Gita.


“Maaf Mbak.”


“Baru saja sudah telat, bagaimana


nanti-nanti biasa-bisa semakin ngaret. Jadi pekerja itu yang rajin lo disini di


bayar untuk bekerja bukan main-main.” Samber Ratna. Gita tidak membantah, dia


memang telat dan bersalah.


“Mbak Lila, gimana sih HRDnya cari orang


kok nggak becus. Udah nilai jeblok, kedisiplinan juuga jelek harusnya sih di


tendang.” Kata Ratna lagi.


“Yah beginilah orang-orang penghambat


suksesnya perusahaan.” Catrin ikut nimbrung.


“Sudah-sudah kalian kembali kerja, Gita


ikut gue.” Lila membawa Gita ke ruangan Gilang. Dia akan mengadukan


keterlambatan Gita. Gilang paling tidak suka kalau ada orang yang nggak


disiplin di kantornya. Dia biasanya akan memberikan surat peringatan. Dan jika


sudah melanggar tiga kali dia akan di keluarkan.


“Permisi Pak.” Lila mengetuk pintu.


“Masuk Lila, ada apa?” Gilang masih


fokus membaca berkas.


dia terlambat sepuluh menit.” Kata Lila. Gilang menaruh berkasnya lalu berdiri.


“Suruh masuk.” Suruh Gilang.


“Baik Pak.”


Gita berjalan pelan sambil menggigit


bibirnya, dia takut pandangan Gilang yang sangat dingin dan tajam.


“Lila kamu boleh keluar.” Kata Gilang.


“Baik Pak.”


Brraaakkk..!


Gilang menggebrak meja membuat Gita


kaget, Gilang berjalan mendekati Gita lalu menyuruh dia duduk. Gilang kembali


lagi ke kursinya lalu memberikan bekal sarapan untuk Gita.


“Makan, belum sarapan kan?”


“Sudah sedikit.” Jawab Gita sambil


membuka kotak bekal.


“Gita, kamu itu masih karyawan baru,


kenapa bisa telat!” Gilang pura-pura memarahi Gita.  Gita kaget lagi, tapi saat dia menatap Gilang


dia tahu kalau Gilang sedang akting.


“Maaf Pak, saya nggak sengaja.”


“Besok lagi kamu telat saya akan berikan


surat peringatan pertama buat kamu. Ini hanya teguran.” Kata Gilang.


“Baik Pak.” Jawab Gita seolah-olah dia


menyesalinya.


Gilang mendekati Gita, dia mencium pipi


kanan Gita dengan cepat.  Gita langsung


menoleh kanan-kiri.


“Heh..ini di kantor.”


“Biarkan saja, kantor juga punya

__ADS_1


aku.”  Kata Gilang kembali memberikan


ciuman ke pipi kiri Gita.


“Ya nanti kalau ketahuan sama semua


orang gimana?”


“Biarin saja. Kamu kenapa bisa telat?”


tanya Gilang.


“Nggak ada yang nganterin, semua orang


sibuk dan sopir juga di bawa Kak Qila.” Jawab Gita sambil memakan sandwich.


“Kalau gitu mulai besok biar aku yang


jemput kamu, kita pergi ke kantor bareng.” Gilang mengelus kepala Gita lalu


mengecupnya.


“Jangan nanti semua orang curiga, Gita


bisa pulang berangkat sendiri Kak Gilang jangan cemas. Gita itu sudah dewasa.”


Katanya.


“Baiklah, pacarku ini sudah dewasa. Tapi


ingat ya kalau ada masalah apapun kamu harus bilang sama aku. Kalau kamu nggak


nyaman sama orang-orang di kantor ini biar aku ganti yang baru.” Kata Gilang.


“Nggak usah berlebihan pacar aku sayang.


Aku baik-baik saja disini apalagi ada kamu.” Jawab Gita sambil menutup kotak


bekalnya yang sudah habis.


“Baiklah, Gita kerja dulu.”


“Ok. Kita ketemu lagi nanti pulang


kerja.”


“Ok.”


Gita membuka kaget ketika membuka pintu


banyak yang berdiri di depan pintu. Mereka kepo dengan hukuman yang di berikan


sama bosnya.


“Eh.. bubar.” Suruh Lila.Gita menahan


senyumnya lalu berjalan ke ruangannya.


“Gita..Gita... tunggu.” Panggil Ina.


“Iya Mbak,” Gita berhenti menunggu Ina


yang masih jauh di belakangnya.


 “Lo


berani sekali cari masalah sama bos, di beri surat peringatan langsung kan lo.


Kalau sampai terlambat tiga kali lo bisa-bisa di pecat tahu nggak.”


“Iya Mbak, tadi di dalam sudah di kasi


wejangan juga sama si bos. Katanya hari ini masih di maafin.” Kata Gita.


“Bagus lah, besok-besok jangan di


ulangi. Masuk ke perusahaan ini sangat susah jadi jangan di sia-siakan.”


“Iya Mbak, gue akan berusaha lebih baik


lagi.” Kata Gita.


Gita baru saja duduk di kursinya,


langsung di serbu Nino dan Win. Mereka juga kepo dengan apa yang di katakan


Gilang sama Gita.


“Tenang saja, sahabat kita nggak akan


kena masalah mau terlambat satu jam pun.” Kata Vian sambil melirik ke arah


Gita. Gita mengangkat tangannya hendak memukul Vian takut membongkar siapa


dirinya sebenarnya.


“Kok bisa?” Nino heran.


“Iya lah, dia mah sudah handal untuk


mengeluarkan jurus seribu alasan.” Sahut Fara sambil melakukan tos sama Gita.


“Wah.. bakalan agak repot kita.” Kata


Win sambil duduk di kursinya lagi.


“Tenang saja, satu team sama kita pasti


seru.” Jelas Vian.


“Gue rasa kita yang sudah lebih tua ini


bakalan sering senam jantung.” Kata Ina.


Mereka bertiga sudah merasa kalau Gita,

__ADS_1


Fara dan Vian masti orangnya sangat sembrono yang akan membuat mereka bertiga serangan


jantung dadakan dengan ulah mereka bertiga.


__ADS_2