
Gita duduk bersila melihat jam,
lalu dia mengeluarkan keluhan dari mulutnya. Keluhan yang tidak pernah berganti, yaitu dia malas bangun pagi.Gita membuka lebar-lebar jendela
dan menyambar handuknya. Kadang dia merasa bosan dengan rutinitasnya yang hanya ke kampus, main pulang
tidur dan kembali seperti itu.
Karena Gita bangun lebih awal dari hari biasanya dia maasih bisa bersantai. Gita mandi sambil mendengarkan lagu dari list yang ada di ponselnya.
🎶 Berawal dari tatap, indah senyumanmu
mengikat, mengikat hatiku yang hampa lara.... 🎶
Gita bersenandung menirukan lagu
yang di nyanyikkan Yura Yunita. Dan sedang asik bernyanyi sambil menggosok
rambutnya tiba-tiba musiknya mati. Dengan penglihatan yang samar-samar Gita mendekati ponselnya lalu menggeser layarnya.
“Aih.. kenapa nggak nyala lagi,
ah.. wifinya pasti bermasalah.” Gita meninggalkan ponselnya lalu mencuci
wajahnya yang terkena busa sampo. Baru
saja selesai mencuci muka lagunya sudah terputar lagi.
“Benarkan musiknya berputar lagi,
belum bayar wifi nih pasti mama makanya macet-macet gitu.” Ujarnya sambil
kembali meneruskan mandinya.
Selesai mandi Gita menyambar
ponselnya, dia duduk di depan meja sambil menancapkan kabel hair dryer. Gita
mengeringkan rambutnya dengan tangan kanannya, dan tangan kirinya membuka
whatsappnya.
Dia menekan chat teratas, lalu
terlihat panggilang sekitaran sepuluh menit yang lalu. Gita sedikit mengingat
dia kan pagi ini sama sekali belum menelpon sama Gilang. Gita mendelik sambil
menelan ludahnya.
“Ini bukan panggilan masuk saat
lagu tadi berheti kan.” Gita menjadi panik. Dia mengecek poselnya lalu menutup wajahnya karena panggilannya sudah terjawab. Dia mengecek berapa lama
durasinya menerima telepon.
“Ya ampun, jangan-jangan Kak
Gilang lihat semuanya lagi. Aduh Gita bodoh banget sih.” Gita menekan tombol off hair dryer.
Wajah Gita langsung memerah, dia
melihat kearah badannya yang masih terbalut handuk. Dia mengipasi tubuhnya, sambil berjalan mondar-mandir karena panik. Suhunya mendadak naik hingga terasa panas meskipun baru selesai mandi. Dia malu banget kalau sampai bertemu dengan Gilang. Dan pagi ini Gilang juga akan menjemputnya, dia bingung bagaimana menghindarinya.
“Gita buruan bangun, sudah di
tunggu Gilang tuh.” Seru Qila sambil mengetok pintu kamar Gita keras-keras.
__ADS_1
“Iya.” Jawabnya semakin panik. “Aduh.. belum juga di buat rencana sudah gagal saja usaha menghindarinya” Gumam Gita.
“Gita tenang, tetap seperti biasa
dan jangan membahasnya. Sekarang ganti baju kuliah sebentar lagi di mulai.”
Gita menenangkan diri.
...♤♡♡♡♤...
“Pagi Sayang.” Sapa Gilang saat
Gita sampai di teras.
“Pagi.” Jawab Gita.
Gita salah tingkah saat Gilang menatapnya, dia menggigit bibir bawahnya lalu menundukan kepala ketika wajahnya
terasa panas. Dia tahu kalau wajahnya
pasti berubah memerah jadi dia menghindar menatap Gilang. Ketenangan yang sudah
dia bangun beberapa menit di dalam hancur begitu saja saat berhadapan langsung dengan Gilang.
“Kamu kenapa?” tanya Gilang. Gita
menggeleng sambil lalu menggandeng tangan Gilang dan membawanya ke mobil. Dia tidak mau ngobrol banyak takut dia keceplosan menanyakan atau Gilang yang akan membahas hal memalukan tadi.
Sesampai di dalam mobil Gita langsung memasang sabuk pengan dan menatap lurus ke depan. Dia yang lumayan berisik di mobil menjadi pendiam.
“Nih sarapan.” Gilang memberikan
bekal yang di bawanya. Gita menerima bekal dari Gilang tanpa melihatnya. Namun
Gilang masih menahannya, dia merasa Gitabsangat aneh pagi ini.
“Kamu ini kenapa pagi ini, bicara
tidak mau melihatku. Apa aku punya salah?” Gilang mendekatkan wajahnya. Gita
memundurkan tubuhnya, namun Gilang menarik tangan Gita lebih cepat hingga wajahbmereka semakin dekat. Gita langsung memalingkan wajahnya.
“Nggak ada salah.” Gita menggeleng cepat. Jantungnya berdetak sangat cepat sampai dia berkeringat.
“Kalau gitu ngomong itu lihat aku, berasa di abaikan akunya kalau kamu melihat lainnya.” Ujar Gilang. Gita menghela napas panjang mengatur ritme jantungnya. Tak hanya itu dia juga harus bisa memperlihatkan wajah biasa. Gita kembali menatap ke depan hingga berhadap-hadapan dengan Gilang lagi.
Gilang mengecup kening Gita lalu
melepaskan tangannya, dia siap untuk mengemudi karena waktu sudah mulai siang. Gita menghadap depan sambil menelan ludah, dia kaget ketika Gilang mengecup keningnya.
“Tadi aku video call kamu kenapa
lama banget angkatnya, sekali dia angkat nggak jelas.” Kata Gilang.
Gita menelan sandwichnya, “Nggak
jelas?”
“Iya, kayak dinding gitu mana
berisik air lagi. Kamu lagi di kamar mandi?” tanya Gilang.
“Iya, tadi baru cuci muka di tambah wifi rumah agak lemot jadi ya nggak stabil mati sendiri deh.” Gita mengarang cerita. Gita bisa bernapas lega ternyata Gilang tidak melihanya dia mandi. Gita kembali makan dengan santai, dia bisa bersikap biasa lagi dengan Gilang.
Gilang tersenyum, sebenarnya pagi
itu..
__ADS_1
Gilang berdecak karena Gita tidak
kunjung menjawab telponnya, “Pasti belum bangun Gita.”
Gilang mengambil jasnya baru saja
dia hendak menggeser tombol merah untuk membatalkan panggilannya dan siap
membangunkan langsung. Gilang sedikit menjauhkan ponselnya saat Gita mengangkat telponnya.
Gilang melongo terpesona melihat Gita yang
masih banyak busa sampo dari rambut dan juga di area mata. Gilang bahkan tidak
berkedip melihat sedikit dada Gita yang sudah terbalur sabun. Gilang langsung
mematikan ponselnya saat melihat punggung Gita karena dia pergi begitu saja
tanpa mematikan ponselnya.
Gilang duduk di kasurnya lalu
menaruh ponselnya dengan posisi layar di bawah. Jantungnya tiba-tiba berdetak
kencang. Salah tingkah sendiri padahal hanya dia yang melihat dan tak ada orang di sampingnya.
“Gilang, tenang lo nggak lihat
apapun.” Gilang mengambil ponselnya dan
segera menjemput Gita.
Dia hanya pura-pura tidak melihat dan tidak tahu apa yang di pikirkan Gita. Dia takut Gita akan sangat malu, jadi membiarkan seperti tidak ada sesuatu.
“Sayang, kenapa senyum-senyum.”
Tanya Gita. Dia mulai cerewet lagi.
“Hem, nggak. Besok-besok kalau ke
kamar mandi nggak usah bawa hp.” Jelas Gilang. Dia takut kalau Gita melakukan hal ceroboh seperti tadi. Dan cowok lain yang mengangkatnya, itu akan sangat bahaya.
“Ya gimana habisnya suka bosan di
kamar mandi, kan kalau bawa hp bisa konser dadakan, bisa main game kalau lagi
gabut.” Kata Gita dengan santainya.
“Bisa-bisanya gabut di kamar
mandi, memangnya kamu ngapain aja di kamar mandi?” Gilang sampai heran dengan
Gita.
“Em.. kalau sedang setoran kan
lama makanya gabut masa iya mainan air
pakai gayung. Aku kan bukan anak SD.” Ujarnya sambil merenges.
“Yah apapun yang terjadi kalau
sedang mandi jangan pernah angkat telepon.” Gilang menegaskan.
“Iya.” Jawab Gita dengan santai.
“Dasar cewek yang berbahaya, untungnya gue yang lihat gimana kalau orang lain.” Batin Gilang.
__ADS_1