Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Menemani Gilang


__ADS_3

Gita menatap Genta lalu bergantian ke arah Qila.


"Ada apa?" tanya Genta.


"Raka sudah berangkat." Qila seakan sudah tahu maksud Gita.


"Siapa yang tanya Raka."


"Terus?"


"Gita mau tanya, kalau orang masa depan itu bisa nggak datang ke masa sekarang?" Gita memasukkan nasi goreng ke mulutnya lalu mengunyah perlahan sambil menatap kedua kakaknya bergantian.


"Lo habis nonton doraemon atau baca komik apa?" tanya Qila sambil geleng kepala.


"Tadi malam tuh ada suara katanya datang dari masa depan." Kata Gita dengan lugunya.


Genta terkekeh sambil mencubit pipi gembul Gita, "Bukan dari masa lalu yang ada itu hantu."


"Hantu? Kak apa benar di jaman melenial ini masih ada yang namanya hantu." Gita antara penasaran dan takut.


"Ya ada, kalau bumi ini masih berputar hantu masih berkeliaran. Dan biasanya suka anak model kayak lo. Tulang halusinasi nggak jelas." jawab Qila sewot karena Gita terlihat seperti anak yang bego.


"Ck!" Gita berdecak. "Orang di tanya serius malah jawabnya asal-asalan. Udah ah Gita berangkat sekolah dulu." Gita beranjak mengambil tasnya.


"Sarapanya nggak di habisin Ta?!" Seru Genta.


"Udah nggak mood." Jawab Gita.


"Ntar lo kurus loh." Goda Qila.


"Bodo amat!"


Gita membuka pintu dengan kasar, Gita oleng saat kaget ada Gilang di depan pintu. Tubuhnya mulai tak seimbang, dia hendak jatuh namun langsung di tahan oleh Gilang.


"Pagi." Sapa Gilang sambil tersenyum sangat manis. Senyuman yang hanya di berikan kepada Gita.


Gita tak menjawab, dia justru melihat kaki Gilang menginjak lantai aau tidak. Gilang pun mengikiti arah penglihatan Gita.


"Kenapa lo melihat gue seperti itu?"


"Em.. lo beneran Gilang kan?" Gita kembali melihat kaki Gilang. Gilang menahan tawa dia baru sadar kalau Gita masih memikirkan ucapanya yang di telpon.


"Iya gue Gilang asli, bukan orang dari hantu, bukan orang dari masa depan atau pun masa lalu." Kata Gilang sambil mencubit hidung Gita.


"Ah... bagaimana dia tahu masalah ini. Apa dia benar-benar jodoh gue?" Batin Gita.


"Kenapa diam?"

__ADS_1


"Kak.. lo punya indra ke enam?" Gita melihat wajah Gilang lekat. Dia curiga kalau Gilang punya indra ke enam.


"Nggak gue nggak punya itu yang namanya indra-indra, gue punyanya Gita." Gilang gombalin Gita.


"Iish..." Gita menepuk lengan Gilang lumayan keras membuat Gilang nyengir dan mengusap dengan tangannya lembut bekas pulukan Gita.


...◇◇◇◇◇...


Gita buru-buru turun dari taksi untuk segera menemui Gilang. Dia datang terlambat karena harus menyelesaikan beberapa tugas dari guru. Dia meminta Gilang dan Raka pergi dan Gita menyusul.


"Terima kasih Pak." Kata Gita sambil berlari pelan. Gita menghentikan langkahnya saat melihat Bayu yang sedang menyeberang.


"Itu Bayu kan?" tanya Gita pada dirinya sendiri. Gita berlari mendekati Bayu yang jalannya tak memperhatian jalan. Gita mendorong tubuh Bayu hingga mereka berdua jatuh di tepi jalan.


"Lo nggak apa-apa?" tanya Gita.


"Ah.. nggak." Jawab Bayu sambil membersihkan tangannya dan tubuhnya yang kotor. "Lo gimana?" Bayu melebarkan kedua matanya saat tahu orang yang terjatuh bareng ternyata Gita.


"Lo Git?"


"Iya ini gue." Gita berdiri sambil memebersihkan tubuhnya yang kotor. "Lo kalau jalan jangan pakai earphone dan main hp. Bahaya tahu, ada kendaraan lewat nggak tahu kan. Gimana kalau tadi gue nggak lihat lo bisa masuk rumah sakit." Omel Gita.


Bayu bengong, orang yang selama ini dia tidak sukai tanpa alasan yang jelas telah menyelamatkan hidupnya.


"Hai Kak. Ngelamun aja nih orang, jangan-jangan kesambet lagi. Gita duluan ya." Gita pamit pergi duluan takut Gilang nunggiin dirinya.


Gita duduk di kursk penonton, dia melihat kedua telapak tangannya yang terasa perih. Dia kemudian melihat ke lututnya yang juga perih.


"Ini tadi gue jatuh bentukanya kayak gimana sih, bisa banyak banget luka yang nempel?" Gita lupa tadi posisi jatuhnya bagaimana karena tangan dan kakinya lecet.


Melihat Gita yang sibuk sendiri Gilang keluar lapangan lalu menemui Gita.


"Lo kenapa?" tanya Gilang.


"Nggak apa-apa?" Gita menyembunyikan kedua tangannya di belakang punggungnya.


"Sini biar gue lihat?" Gilang menarik tangan Gita. "Kenapa bisa luka begini lo jatuh?" Gilang meniup tangan Gita yang luka.


"Iya, tadi jatuh di depan."


"Kok bisa?"


"Iya, karena nggak seimbang tubuh gue. Jadi ya jatuh." Jelas Gita.


"Kalau boleh gue kasih saran ya, lo sedikit olahraga. Gue bukan mau menyuruh lo merubah diri lo tapi demi kesehatan lo." kata Gilang dengan lembut takut Gita tersinggung.


"Sepertinya gue memang sudah memerlukan olahraga, diet biar gue nggak langsung jatuh saat gue terbentur sesuatu." katanya sambil manyun.

__ADS_1


"Apa lo tersinggung?" tanya Gilang was-was.


"Tentu saja tidak, memangnya apa yang membuat gue tersinggung."


"Tunggu sebentar." Gilang pergi sebentar untuk membelikan plester dan obat merah.


Tak selang lama Gilang sudah datang membawa obat merah dan plester.


"Coba luruskan kedua kaki lo." Pinta Gilang. Gita nurut saja, Gilang membersihakan luka lalu meniupnya sebelum dia menempelkan plester .


"Aah..." Gita meringis menahan sakit.


"Tahan sebentar ya." Gilang meniup lutut Gita lalu menempelkan plester perlahan. Gilang melihat telapak tangan Gita lalu meniupnya juga.


"Makasih ya." Kata Gita.


"Sama-sama, apa sudah enakan?" tanya Gilang.


"Iya, kan udah di obatin sama lo. Pastinya langsung enakan." Kata Gita sambil tersenyum.


"Hhmmm. Udah bisa gombalin gue ya sekarang." Kata Gilang sambil menatap Gita. Ekspresi Gita berubah menjadi datar dengan wajah yang merah merona.


"Lain kali hati-hati ya, gue main lagi ya." Gilang mengacak-acak rambut Gita lalu kembali ke lapangan.


Bayu yang sejak datang tak bisa bermain dengan fokus. Dia melihat Gita, seakan dunianya beralih karena satu kebaikan Gita yang dia lakukan.


"Bayu, kenapa jadi begini." Batin Bayu, dia memegang dadanya karena merasa detak jantungnya bersebar keras.


"Bay.. lo kenapa?" tanya Gilang.


"Ah.. nggak."


"Lo sakit? sejak datang lo sudah nggak fokus bermain." kata Raka.


"Tidak sakit, hanya masih shock tadi sempat tertabrak motor." Jelas Bayu.


"Tapi lo nggak apa-apa kan?" Gilang cemas.


"Tidak, gue baik-baik saja bahkan tidak ada yang lecet sama sekali."


"Bagus deh kalau gitu, lo istirahat saja dulu. Tenangkan diri baru lo main lagi." Kata Gilang.


"Ok. Sorry ya."


"Nggak usah terlalu di pikirkan."


Bayu berjalan mendekati Gita yang duduk sendiri, sekalian dia ingin berterima kasih karena tadi belum sempat karena dia justru shock.

__ADS_1


__ADS_2