Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Curahan hati Raka


__ADS_3

Gilang berlari keluar kantornya


saat Gita menelpon dia sudah ada di lantai bawah menunggunya.


“Sayang, ada apa?” Sapa Gilang saat sampai di bawah sembari nyamperin Gita. Gita memutarkan tubuhnya lalu memeluk Gilang erat. Dia menangis di pelukan Gilang.


“Kenapa? Kok kamu menangis?”


Gilang mengelus pundak Gita. Gita belum bisa bicara tenggorokannya sakit. Sepanjang perjalanan dari rumah Raka sampai kantor Gilang dia sudah menahan tangisannya. Agar tidak pecah karena akan membuat Fara semakin sedih juga.


Gilang mempererat pelukannya, dia


mengelus kepala Gita membiarkan Gita meluapkan semua tangisannya agar lega.


"Menangis saja dulu sampai kamu lega." Bisik Gilang.


Setelah merasa lega Gita menarik


diri dari pelukan Gilang, dia langsung menghapus air matanya. Dan di hapus


ulang sama Gilang.


“Kenapa cerita sama aku?”Gilang


kembali menghapus air mata Gita yang kembali menetes.


“Raka.. dia mengusir aku sama


Fara dan Vian.” Gita mengadu.


“Kok bisa, memangnya kenapa?”


Gilang heran. Tidak biasanya Raka melakukan itu, dia sangat menyayangi Gita. Membentak saja tidak pernah apa lagi sampi mengusirnya.


“Nggak tahu, bahkan dia bicara juga tidak mau menatap aku. Pasti dia menyimpan rahasia besar dari aku. Raka tidak sayang lagi sama aku.” Air mata Gita semakin deras lagi.


“Hey.. jangan ngomong begitu, semua orang tahu kalau Raka itu sayang banget sama kamu. Sudah jangan menangis lagi,


nanti kita coba temui Raka lagi ya.” Gilang memeluk Gita lagi. Melihat Gita sedih membuat hatinya juga sedih.


“Kak..” Panggil Gita dengan manja.


“Ya.”


“Gita lapar, belum makan dari


tadi.” Ucap Gita kembali mengusap air matanya yang masih saja belum bisa


berhenti.


Gilang tersenyum sambil mengacak-acak rambut Gita. Dalam keadaan apapun endingnya dia pasti minta makan.


“Yuk, mau makan apa?” tanya Gilang.


“Em..apa saja deh. Tapi Gita nggak menggangguk kerjaan Kak Gilang kan?”

__ADS_1


“Nggak.”


“Beneran, kalau masih mau kerja


terusin saja biar Gita pulang dulu makan di rumah.”


“Kerjaan aku sudah kelar kok.”  Gilang merangkul Gita membawanya ke mobil


miliknya.


...♡♤♤♤♡...


Gilang melihat ke jam di tangannya setelah mengantar Gita, belum juga terlalu malam Gilang langsung tancap gas menuju rumah Raka. Gilang meminta alamat ke pada Vian, karena kalau meminta Gita yang ada Gita akan ikut.


Setelah beberapa kali bertanya


jalan akhirnya Gilang sampai di rumah Raka, dia mencoba menghubungi Raka via


telepon dulu tapi karena tidak ada sahutan akhirnya dia turun dari mobil.


Gilang mengetuk pintu sedikit


keras agar segera terdengar sama pemilik rumah, dan benar tak lama keluarlah pembantu Raka.


“Maaf mencari siapa ya?”


“Rakanya ada Bik?”


“Ada. Saya panggilkan dulu ya. Sama siapa ya?”


“Baik Mas.”


Raka keluar lalu duduk di samping


Gilang, dia tersenyum masam.


“Apa kabar?” tanya Gilang.


“Lumayan hancur.” Jawabnya dengan mata nanar. Dia tidak mau di keadaan ini tapi takdir meminta dia melewatinya.


“Lo ada masalah apa?” tanya


Gilang to the poin. Dia tak mau basa-basi lagi yang akhirnya dia tidak mendapatkan jawaban apa-apa.


“Gita pasti sudah mengadu sama lo


ya.” Kata Raka dengan senyuman kecut.


Gilang mengangguk, yang di bilang


Gita benar kalau Raka memang sedang ada masalah besar. Meskipun dia berusaha


menutupinya namun raut wajah dan pancaran matanya itu tidak bisa bohong.


“Gue juga bingung harus cerita

__ADS_1


dari mana Lang, gue bingung dan tidak bisa menemukan jalan keluarnya.” Kata Raka sambil menyenderkan tubuhnya ke


sandaran  kursi.


“Raka semua masalah pasti ada jalan keluarnya, lo bisa cerita sama gue kalau lo tidak keberatan.”


“Lo tahukan selama ini gue selalu


tinggal di rumah Gita.” Raka memulai bercerita, dia merasa Gilang itu orang


yang tepat untuk mencurahkannya.


“Iya.”


“Gue tinggal disana sejak kecil, kalau nggak salah itu kira-kira umur setahunan lebih sedikit. Gue jarang bertemu sama nyokap dan bokap gue. Bahkan gue lupa wajah mereka berdua,terakhir bertemu bokap waktu kelas tiga SD. Dan mereka sekarang datang untuk membawa gue ikut mereka, tinggal di luar negeri dan menetap. Bahkan gue tidak tahu bakalan balik atau nggak.” Cerita Raka panjang lebar.


“Maka dari itu lo membuat semua orang terdekat membenci lo.” Tebak Gilang.


Raka menganggukkan kepalanya,”Gue nggak tahu lagi harus bagaimana?”


“Memang pilihan yang sangat berat, tapi cara lo salah Raka. Lo pasti akan menyesal kalau menyelesaikannya dengan cara seperti ini. Cara yang sama halnya di lakukan sama Gita waktu itu hanya akan menimbulkan masalah ke depannya. Andai waktu itu lo tidak menjelasakan gue lewat rekaman itu atau gue telat sedikit lagi membuka rekaman itu. Gue bakalan kehilangan orang yang gue sayang.” Gilang mencoba membuka pikiran Raka.


“Raka, apapun keputusan lo mau tinggal disini atau mau menetap bersama orang tua lo. Sebaikannya katakan saja sejujurnya, pasti mereka akan mengerti.” Tambah Gilang.


“Gita pasti ngerti, bagaimana dengan Fara. Gue harus ngomong apa?”  Raka megusap wajahnya dengan kdua tangannya kemudian menarik kepalanya. Dia benar-benar tidak tahu harus bagaimana antara orang tua dan kekasihnya itu sangat penting di hatinya.


“Katakan saja, maka kalian akan


menemukan jalan keluarnya. Kalau lo pendam seperti ini hanya akan membuat


kalian berdua terluka. Yang pasti Fara akan sangat terpuruk, dia itu memang bar-bar tapi hatinya tidak sekuat Gita.”


Raka terdiam, meskipun sudah bertukar pikiran dengan Gilang tapi dia belum juga menemukan solusinya. Otaknya merasa buntu, satu sisi ingin tinggal bersama orang tuanya. Satu sisi lagi cintanya tertinggal di negara ini.


“Raka, jangan pernah lari dari masalah itu hanya akan menimbulkan masalah baru. Percayalah.. cinta akan menunjukan jalannya. Dan lo pikir sekali lagi apa yang hati kecil lo mau, bukan egomu semata yang hanya akan membuat lo kehilangan semuanya.” Gilang memegang pundah Raka. Dia memberikan memberikan suport kalau Raka mampu menyelesaiakan masalah ini.


“Makasih, lo sudah datang dan mendengarkan curhatan gue.”


“Em.. hubungi Fara atau ajak


ketemu besok. Dia sudah sangat cemas memikirkan lo.” Gilang mengingatkan Raka.


Gilang tidak mau kedepannya Raka menyesal megabaikan Fara begitu saja. Fara


juga berhak mendapatkan kejelasan.


“Ya.”


“Gue balik dulu ya, sudah malam.” Gilang pamit.


“Nggak mau nginep di rumah gue saja, kita sudah lama tidak main game bareng.” Raka meminta Gilang tinggal.


“Boleh juga, lo telpon Vian setidaknya dia sedikit tahu masalah lo agar dia tidak berasumsi lain karena lo megusirnya tadi siang.” Kata Gilang.


“Baiklah, gue akan telpon dia. Semoga saja dia mau angkat telpon gue."

__ADS_1


"Dia pasti angkat, sejengkel apapun Vian tidak akan mengabaikan sahabatnya."


__ADS_2