Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Mari Kita Putus


__ADS_3

Gita duduk di tepi lapangan basket, dia melihat Gilang dan teamnya main. Mungkin hari ini adalah hari terakhir Gita akan melihat Gilang bermain basket. Sebentar lagi orang yang selalu mengejarnya, memberikan dia sarapan dan juga membantunya belajar dan yang pasti menjaga dan menyayanginya akan pergi dari kehidupannya.


“Gue cabut dulu.” Kata Gilang sambil berlari menghampiri Gita. Gita tersenyum sambil memberikan air mineral.


“Makasih.” Kata Gilang sambil  membuka tutup botolnya.


“Kak, kita pergi yuk cari makan gitu.” Ajak Gita.


“Ok.” Gilang menulurkan tangannya, Gita menyambut lalu menggenggam erat tangan Gilang.


“Mungkin juga genggaman tangan ini akan menjadi yang terakhir.” Batin Gita.


Gilang membawa Gita ke tempat pertama dia mengajak dinner saat Gita masih menghindarinya.


“Ingat nggak tempat makan ini?” tanya Gilang. Gita tersenyum malu karena di sini dia sangat jorok, dia sengaja sendawa untuk membuat Gilang ilfil.


“Tentu saja ingat. Em kali ini pokoknya biarkan gue yang bayar makananya.” Kata Gita.


“Kenapa?” Gilang heran karena semenjak dj mobil perjalanan ke tempat makan dia ingin banget membayar makanan hari ini.


“Ya ingin saja, sekali-kali kan cewek yang bayar nggak apa-apa.”


“Baikalah, kitapesan makanan yang enak disini.” Kata Gilang.


Siang ini Gita lebih banyak diam, dan terus memandangi Gilang. Dia tidak banyak tingkah dan permintaan kepada Gilang. Serasa dia ingin melihat Gilang saja sampai puas.


“Lo kenapa lihatin gue seperti itu, ganteng ya?” Gilang narsis.


“Ya, lo selalu ganteng di mata gue dalam keadaan apa pun.” Jawab Gita masih tak berkedip memandangi Gilang.


“Gue tahu itu.” Kata Gilang melanjutkan makannya.


Setelah selesai makan Gita mengajak Gilang jalan-jalan sebentar dia area dekat restauran mereka makan. Ada taman kecil dan di dekatnya ada sebuah kolam yang ukurannya lumayan besar.


“Kak,ada yang mau Gita katakan.” Kata Gita dengan serius.


“Hem, apa?” Gilang masih fokus menikmati sejuknya udara di dekat kolam.

__ADS_1


“Ayo kita putus.” Kata Gita dengan nada berat.


“Putus?" Gilang kaget.


" Lo ada-ada aja. Nggak usah bercanda nggak lucu.” Gilang memutar tubuhnya hingga berhadapan dengan Gita.


“Gita nggak bercanda.” Gita melepas genggaman tangan Gilang.


“Katakan ada masalah apa, atau siapa yang mengganggu lo sampai lo mau minta putus sama gue. Katakan.” Gilang merasa ada yang menekan Gita agar putus dengan dirirnya.


“Tidak ada yang mengganggu dan memaksa gue untuk putus sama lo Kak, ini kemauan gue sendiri. Gue capek jadi pacar lo, yang harus terus-terusan tegar menghadapi orang-orang yang terus mengatai gue.” Gita mulai beralasan.


“Kenapa lo dengerin orang-orang, ini hubungan kita dan hidup kita. Kita yang jalanin jadi lo nggak usah peduliin mereka.”


“Mungkin lo nggak peduli, tapi gue sangat peduli. Lagian sejak awal gue juga nggak suka sama lo. Gue hanya berpura-pura suka agar lo mau ngajarin gue belajar. Gue cuma


memanfaatkan lo.” Kata Gita dengan senyuman.


“Lo bohongkan.” Gilang tidak percaya begiti saja.


“Jadi itu tujuan lo, terus selama ini lo perhatian sama gue, peduli, jalan bareng lo anggap apa?!” Gilang mulai naik pitam.


“Ya hadiah buat lo karena mau gue manfaatkan. Seenggaknya dalam hubungan harus ada timbal baliknya kan. Dan saat lo bilang gue punya cowok lain itu benar, saat gue menerima lo gue sudah punya pacar. Dan sepertinya cowok gue sudah mulai curiga


sama permainan gue, daripada gue putus sama dia gue lebih baik mengakhiri saja


permainan ini.”


“Permainan, tega lo ya. Selama ini gue sayang tulus sama lo. Tapi lo anggap semua ini permainan” Gilang sudah tidak bisa berkata-kata lagi dengan pengakuan Gita.


“Maaf Kak. Oiya.. untuk kalaung yang Kak Gilang kasih sudah Gita jual karena kemarin butuh uang.” Ujar Gita.


“Bahkan kalung pemberian gue pun lo jual, sebenarnya lo punya hati nggak sih. Gue nggak ngerti lagi, gue benar-benar kecewa sama lo." Gilang ingin sekali menampar Gita dia sudah mengangkay tangannya. Namun di tahan sama seseorang.


"Jadi cowok jangan kasar sama perempuan." Orang itu menepisnya.


"Sayang, kamu nggak apa-apa?" tanya orang itu. Gita mengangguk pelan.

__ADS_1


"Sayang?" hati Gilang semakin hancur melihat orang lain memanggil Gita dengan sebutan sayang. Bahkan die memeluk Gita.


"Siapa dia?"


"Teman."


"Teman?" Gilang menggeleng kepalanya. "Ok kalau lo emang mau kita putus, mulai hari ini kita putus. Dan mulai detik ini juga kita tidak saling kenal.” Gilang marah besar.


Mata Gita berkaca-kaca dan mulai panas tak terasa titik-titik air matanya mulai membasahi pipi. Saat Gilang sudah menjauh dan menghilang dari pandangannya Gita langsung jongkok dan meangis sesenggukan.


“Maafin Gita..” Katanya sambil menangis, Gita memegang dadanya terasa sesak.


"Sudah jangan menangis, kalau lo nggak kuat kenapa harus berbuat begini."


“Gita tak tahu harus berbuat apa lagi Kak, hanya ini jalan satu-satunya.” Katanya sesenggukan. Gita meminta David kakak sepupunya yang lain untuk berpura-pura menjadi pacarnya.


Gilang mengemudi dengan kecepatan tinggi, dia tidak memikirkan keselamatan dirinya. Pikiranya kalang kabut, dia yang jenius bisa di bodohi begitu saja sama Gita. Dia kecewa


berat sama Gita, dia tidak habis pikir cintanya yang sangat tulus di balas


dengan penghiantan.


Gilang membuka pintu dengan kasar sampai mama dan kakaknya yang sedang ngobrol kaget. Mereka berdua berdua berlari mengikuti Gilang pergi ke kamarnya.


“Gilang lo kenapa?” tanya Andini.


“Gilang kamu kenapa nak?” Rima menahan tangan Gilang saat dia hendak masuk tanpa menggubris mama dan kakaknya.


"Gilang capek, mau istirahat." Gilang menepis tangan mamanya lalu masuk kekamarnya dia mengunci rapat pintu kamarnya.


“Gilang...Gilang.. buka pintunya.” Mamanya menggedor pintu, dia takut Gilang kenapa-napa. Rima belum pernah melihat putranya wajah muram yang menakutkan. Tatapannya seakan ingin membunuh.


"Biarkan Gilang tenang dulu Ma, nanti dia pasti akan cerita sama kita." Andini mengajak mamanuya meninggalkan kamar Gilang.


“Gita lo tega sama gue. Gue nggak nyagka lo selicik itu sama gue.” Gilang menghantam kan tanganya berulang-ulang ke tembok sampai tanganya berdarah.


“Gue kira lo beda dengan perempuan lain, ternyata lo sama saja. Gue benci sama lo Gita, gue benci.. gue tidak akan pernah mau bertemu lagi sama lo.” Gerutunya. Cewek yang dia idam-idamkan ternyata sama saja.

__ADS_1


__ADS_2