
Raka mulai mengayuh sepedanya dengan lumayan cepat, dia ingin mengajak Gita
mengitari perumahan dan membawanya ke area tempat bermainnya waktu mereka masih kecil.
Setelah beranjak dewasa mereka jarang main, ketemu ataupun meluangkan waktu untuk sekedar minum susu bareng sambil nonton tv bersama mamanya. Padahal selama sekolah mereka sering berebut remot tv untuk menonton acara yang mereka sukai.
“Sudah lama ya kita nggak sepedaan seperti ini.” Gita menelentangkan kedua tangannya, membiarkan rambutnya tertiup angin pagi yang segar.
“Lama banget, kalau nggak salah terakhir kelas tiga SMP waktu lo masih berat banget.” Kata Raka.
“Buggh” Gita menepuk punggung Raka.
“Sakit Ta..” Raka meringis.
“Lo sih ngomong sembarangan.” Gita manyun.
“Sembarangan apanya, orang lo dulu berat ada faktanya juga.” Raka berhenti di taman bermain di kompleknya. Kemudian dia mensetandarkan sepedanya.
“Nih gue lihatin foto masa lo masih udik.” Raka duduk di kursi sambil menggeser
layar ponsel melihat foto-foto semasa mereka kecil.
“Wah.. gue beneran cubby ya. Mana badan, pipi gue melimpah-limpah lemaknya.” Gita
tersenyum melihat dirinya semasa masih kecil sampai SMP.”
“Tapi gue suka lihat lo kayak gitu. Lo lucu kayak boneka teddy bear jadi bawaannya
pingin peluk.” Kata Raka. Dia memutar memori kembali ke masa kecil mereka,
dimana mereka masih sering bermain ke taman bermain di komplek.
“Hah.. waktu berjalan begitu cepat ya Ta.” Raka menatap langit.
Gita menoleh ke arah Raka lalu mengikuti memandang langit, “Iya, rasanya baru kemarin kita main-main disini, ingat nggak waktu lo boncengin gue pakai sepeda. Dan
kita jatuh di situ.” Gita menunjuk tempat dia jatuh di dekat perosotan.
“Ingatbbanget, lo menangis sejadinya bikin gue bingung dan lo diam pas gue beliin es
krim kan.” Kata Raka sambil tertawa, dia ingat sangat jelas kejadian itu dia
yang dengan semangat mengayuh sepeda kemudian terjatuh.
“Iya sampai rumah kita di marahin mama karena baju kita kotor semua, dan lututnya
__ADS_1
lecet-lecet.” Tambah Gita dengan semangat.
“Dan tak terasa lo sebentar lagi sudah mau jadi istri orang, begitu pula dengan aku.”
Kata Raka dengan nada sedih, memang pernikahan bukan sebuah perpisahan namun
menurutnya dengan mereka beranjak dewasa dan berbeda tempat akan memberikan sebuah batas yang tidak bisa dia tembus dengan sembarangan. Segala hal pastinya akan selalu di tanyakan persetujuannya dengan sang suami, begitu pula dirinya pasti akan selalu dia tanyakan sama istrinya.
“Apa ini ucapan perpisahan? Gita tidak mau pisah sama lo?” Gita memandang Raka
dengan mata berkaca-kaca.
“Ini bukan perpisahan Ta, hanya saja lo setelah menjadi istri sahnya Gilang lo nggak
bisa sembarangan membagi segala hal sama gue. Ada Gilang orang pertama yang
harus tahu lebih dulu di bandingkan orang lain. Sama halnya seperti gue nanti. Pasti akan Fara yang lebih tahu dulu daripada lo ataupun yang lain.” Jelas Raka.
“Benar juga, meskipun kita bersaudara tapi kita sudah memiliki pasangan. Apa gue tidak
bisa mengadu banyak hal lagi sama lo?” Gita sudah tidak bisa menahan air matanya lagi.
“Lo bisa mengadu kapanpun sama gue, tapi lo juga harus ingat kalau gue tidak bisa
datang dan mendengarkan aduan lo secepat dulu lagi. Sekarang ada hati juga yang
sekarang Fara belahan jiwa gue. Gue nggak mau buat dia cemburu dan berpikir
aneh-aneh sama halnya lo juga harus menjaga perasaan Gilang.”
Air mata Gita sudah membasahi seluruh wajahnya, memang benar yang di katakan Raka kalau perkataannya ini bukan sebuah perpisahan. Namun mereka berdua sekarang
membangun dinding tinggi untuk urusan pribadi yang tidak semua bisa mereka
tembus.
“Jangan sedih begini ah, meskipun kita sudah pastinya jarang bertemu lo tetap adik kecil gue yang paling gue sayang.” Raka menarik Gita dalam pelukannya. Gita tak kuasa menahan tangisnya, dia menagis semakin jadi di pelukan Raka.
“Kok malah jadi memangis sih, gue kan cuma kasih wejangan agar lo nurut sama
Gilang.” Kata Raka dia mengusap rambut Gita sembari menadahkan kepalanya agar
dia tidak meneteskan air mata yang sudah di ujung mata.
“Wejangan lo berasa kita tidak mau ketemu lagi, gue bakalan kehilangan lo. Raka gue nggak mau pisah sama lo.” Ujar Gita masih dengan menangis sesenggukan.
__ADS_1
“Heh.. kita kan saudara mana bisa kita pisah, jangan ngaco deh. Gue kan mau kasih
hadiah lo kok malah jadi menangis seperti ini.” Raka menghapus air mata Gita.
“Memangnya apaan hadiahnya?” Gita mengusap kembali pipinya karena air matanya masih saja menetes tanpa mau berhenti.
“Tutup mata dong.”
“Satu.. dua.. tiga.. buka mata.” seru Raka.
Gita melongo melihat kalung berlian yang di berikan sama Raka, “Raka, ini..”
“Ingat nggak dulu gue pernah janji sama lo, kalau gue sudah gede dan punya uang banyak mau kasih lo apa?” Raka mencoba membuka memori semasa kecil.
“Kalung berlian seperti di film kartun yang sering gue tonton itu ya.” Gita kembali di
buat menangis sampai sesenggukan. Gita kembali memeluk Raka, dia tidak bisa berkata-kata lagi, hanya tangisan yang bisa mengungkapkan.
“Udah ah jangan nangis, nanti kalau tamu untdangan lihat wajah lo dikira tunangannya karena paksaan.” Raka mengusap air matanya Gita.
“Sini gue pakaiin.” Raka memakaikan kalung di leher Gita. Raka kemudian melihat jam
di tangannya.
“Naik sepeda lagi yuk, mumpung masih pagi.” Kata Raka.
“Mau kemana emang kita?”
“Kita cari sarapan, bubur ayam di depan komplek.”
Raka mengayuh sepedanya lagi saat Gita sudah naik, dan Gita memeluk Raka dari
belakang sengan erat.
“Apa lo masih takut gue boncengin pakai sepeda?” Raka menoleh sebentar kemudian
kembali fokus melihat ke depan.
“Tidak.”
“Tapi cara pegangan lo sama seperti waktu masih kecil.”
“Karena gue ingin merasakan masa itu lagi. Makasih ya Raka udah menjadi kakak yang
sangat sayang sama gue.”
__ADS_1
“Sama-sama, lo harus hidup bahagia ya sama Gilang.”
“Pasti.”