
Ujian tengah semester sebentar lagi tiba, semua sibuk belajar untuk mempersiapakannya. Setiap pulang
sekolah Gilang mengajak Gita ke perpustakaan untuk belajar. Tak hanya Gita, Fara pun jadi ikut rajin ke perpustakaan karena Anita yang sekarang notabennya pacar Bayu semakin rajin.
“Kenapa harus ada ujian sih, masa-masa ini tuh menyebalkan tahu nggak?” Bisik Gita.
“Iya, disuruh belajar mulu, sampai mau meledak kepala gue tahu ngggak.” Fara menyetujuhi ucapan Gita.
“Sstttt.” Gilang meminta Gita sama Fara agar tidak berisik.
“Lihat, gue saja sampai di abaikan loh sama pacar gue.” Gita memandang Gilang kesal.
“Annoying banget emang.” Kata Fara.
“Wah.. lo sudah bisa bahasa inggris Far.” Gita kaget.
“Ya dong, tadi habis lihat drama apa ya lupa ada yang bilang gitu.” Jawabnya sambil tertawa.
“Ssttt...” Gita dan Fara di suruh diam sama orang-orangg yang ada di dalam perpustakaan. Gita dan Fara tersenyum sambil meminta maaf bersamaan.
“Cabut aja yuk Git, lapar gue.” Ajak Fara.
“Ok.” Gita pergi tanpa pamit sama Gilang. Dia kesal karena Gilang terlalu fokus belajar. Gita di abaikan sampai Gita beranjak dari sebelahnya dia tidak tahu.
Gita menoleh sebentar ke arah Gilang, tapi Gilang masih fokus sama bukunya.
“Gue heran kenapa orang-orang maniak banget sama belajar.” Kata Gita sambil menggandeng tangan Fara.
“karena menurut orang-orang pintar itu, dengan dia mendapatkan peringkat pertama di sekolah berarti mereka pintar. Dan masa depannya akan cerah dan terjamin.” Jawab Fara.
“Terus kalau orang-orang macam kita ini apa kabar ya? Memangnya masa depan orang kayak kita ini nggak cerah dan nggak terjamin juga?” Gita menatap Fara.
“Bisa jadi, eh tapi ngggak juga sih. Banyak juga orang-orang yang nggak lulus SMA pun jadi orang sukses.” Fara berpikir optimis tentang mereka yang kurang pandai dalam belajar.
“Mungkin juga semua itu hanya sebuah keberuntungan yang mereka daptakan.” Tambah Fara sambil menarik kursi dan duduk.
“Yah sebuah keberuntungan, tapi juga usaha yang sangat gigih pastinya. Menjadi orang sukses bukannya harus semangat, pintar, cerdik. Dan banyak lagi gue nggak sanggup mikirnya.” Kata Gita ikut duduk.
“Mari kita sudahi pembahasan ini anak muda, kita makan saja. Jangan terlalu kita pikirkan. Biar saja berjalan seperti air yang mengalir.” Kata Fara sambil menarik mangkok isi bakso yang baru datang.
__ADS_1
“Benar, biarkan saja kita berjalan sesuai takdir.” Gita menuang saus di mangkut.
“Tapi lo enak dapat pacar Kak Gilang, udah pinter, keren, ganteng pula. Lo sebagai cewek yang kurang pintar sangat beruntung. Nah gue, belum jelas banget kedepannya bakalan seperti apa.” Kata Fara tiba-tiba pesimis.
“Itu kalau hubungan gue berjalan lancar jaya, pacaran lama juga belum menjamin gue sama Kak Gilang bakalan naik pelaminan kan.” Katanya sambil memasukan bakso ke dalam mulutnya.
“Kok lo ngomong gitu sih? Lo sedang ada masalah sama Kak Gilang? Kok lo nggak cerita sama gue?” Fara mencerca pertanyaan.
“Nggak ada masalah, tapi lo lihat kan sebentar lagi Kak Gilang bakalan lulus SMA. Dia akan masuk kuliah, dan lo tahukan kalau anak kuliahan itu cantik-cantik. Ditambah nih styel mereka kayak model.” Gita selalu
pesimis jika sudah membahas hubunganya dengan Gilang karena bakalan beda tempat.
“Benar juga ya, ternyata gadis malang bertambah satu nggak hanya gue juga. Apa diantara kita hanya Anita yang akan sukses bareng Kak Bayu. Mereka berdua lumayan pandai, bahkan semenjak pacaran dengan Kak Bayu prestasi Anita meningkat.” Keluh Fara.
“Makanya kalau jadi cewek itu jangan ngandelin cowok yang pinter, kita juga harus pinter.” Kata Mita yang baru saja duduk di kursi sebelah sambil menunggu pesanannya.
“Ngerii deh, ada orang nggak ada suaranya.” Kata Gita.
Plaakkk... Fara menepuk lengan Gita sambil tertawa terbahak-bahak.
“Kebalik kali maimunah, Ada suara nggak ada orangnya.” Fara masih tertawa sambil memegangi perutnya.
“Sejak ada mak lampir di kelas kita.” Jawab Fara.
“Dasar murid-murid nggak berguna.” Kata Mita sambil pergi karena kesal mendengar ejekan Gita dan Fara.
“Lihat Far, biasanya kalau cewek pinter itu belagu, pelit dan ribet banget orangnya.” Gita menunjuk Mita yang mulai menghilang dari kantin.
"Benar, di tambah suka ngrendahin orang lain pula. Pulang yuk, kenyang mendadak gue.” Ajak Fara. "Lo ijin dulu gih sama Kak Gilang."
"Nggak ah malas gue." Gita menolak meminta ijin sama Gilang.
"Jangan cari masalah deh, buruan pamitan dulu." Paksa Fara.
“Masalah apaann. Cuma nggak pamit doang. Lagian Kak Gilang juga nggak bakalan peduli." Gita ngedumel.
“Iya pokoknya masalah, gue tungguin depan pintu ntar gue anterin lo pulang."
"Ya." jawab Gita dengan terpaksa.
__ADS_1
Seaampai di ambang pintu perpustkaan Gita berdiri diam. Dia melihat Gilang di kererubutin sama cewek-cewek yang meminta di ajari Gilang. Dan Gilang juga meladeninya.
"Git buruan, kenapa malah diam di situ?"
"Dahlah.. yuk pulang. Dianya juga lagi asyik." Gita mengajak pergi Fara. Sebelum pergi Fara menengko sebentar ke dalam.
"Git, nggak lo samperin dan usir semua itu perempuan-perempuan genit?"
"Biarin aja."
...♡♤♤♤♡...
Sesampai di rumah Gita langsung mandi, dia tidak membutuhkan waktu yang lama. Setelah itu dia rebahan sambil scrol tik tok.
Deerrrttzzz....derrtzzzz....
panggilan masuk dari Gilang. Tapi Gita hanya melihat tidak mau angkat.
“Udah inget kalau punya pacar.” Kata Gita menaruh ponselnya di bawah bantal dengan mode silent. Dia menarik selimut sampai leher dan memejamkan matanya. Dia membalas mengabaikan Gilang.
“Ta.. lo masih hidup?” teriak Raka dari depan pintu kamarnya. Raka kemudian mendorong pintu kamar Gita karena nggak ada jawaban dari Gita.
“Tumben banget jam segini udah molor, Ta.. Ta...” Raka menggoyang-goyangkan tubuh Gita. “Nggak usah pura-pura tidur, barusan lo masih main hp.”
“Apaan sih Ka, bisa nggak semenit aja nggak gangguin gue.” Gita duduk manyun.
“Salah sendiri lo nggak angkat tuh telpon Gilang, dia gangguin gue main game nih.” Kata Raka.
“Kan bisa bilang gue udah tidur.” Kata Gita sewot.
“Tuh Lang, lo dengar sendiri kan.” Kata Raka sambil menempelkan ponselnya di telinga.
“Ka, lo sedang telpon sama Kak Gilang.” Kata Gita pelan sambil menarik kaos Raka.
“Lo telpon aja ke nomornya, udah bangun dia.” Raka mematikan ponselnya.
“Raka!” teriak Gita kesal. Dia melepar bantal ke arah Raka.
“Udah urusin sendiri rumah tangga lo, gue lagi nggak bisa di ganggu. Ok.” Raka keluar kamar Gita tanpa merasa bersalah sudah membuat Gita kesal.
__ADS_1
“Sumpah keterlaluan banget sih Raka, pingin gue bejek-bejek juga.” Gita kesal sama Raka.