
Setelah Catrin pergi dan pintu tertutup
rapat Gilang meminta Gita mendekat dengan menggerakan jari-jarinya.
“Sini.” Panggil Gilang saat Gita masih
berdiri dekat pintu keluar. Gita hanya bergeser satu langkah.
“Gita, sini mendekat.” Kata Gilang lagi.
Gita hanya melakukan yang sama yaitu menggeser satu langkah.
“Gita saqueena, lebih dekat lagi.” Kata
Gilang. Gita kali ini menambah langkah kakinya, yaitu dua kali geseran.Gilang
gemas dia akhirnya yang berjalan mendekati Gita.
“Sayang, kamu..”
“Aaaaah.. perut aku mulus, maaf pak saya
ke toilet dulu.” Gita memegangi perutnya sambil lari pergi dengan beralaskan
sakit perut. Gilang menghela napas panjang, dia tahu kalau Gita sedang
berbohong padanya.
“Dia panggil pak, padahal nggak ada
siapa-siapa.” Gilang geleng-geleng kepala.
“Pakai bunga nggak bisa, di temui ke
rumah nggak bisa terus cara apa lagi coba.” Gilang melipat ke dua tangannya. Gilang
bingung mencari cara bagaimana agar buat Gita tidak ngambek lagi dan mau
memaafkannya.
Gita menoleh ke belakang saat sudah
mulai menjauh dari ruangan Gilang.
“Untuk Gita pinter ngeles, kalau nggak
pasti bakalan di omelin tadi.” Gita mengelus dadanya.
Sama seperti waktu sekolah dulu, jam
paling di tunggu adalah jam istirahat, saat jam sudah menunjukan pukul dua
belas mereka langsung bergegas ke kantin.
“Gita.”
“Ya Mas Win.” Jawab Gita sambil
meletakkan makan siangnya.
“Em boleh bertanya nggak, ini masalah
pribadi sih.” Kata Win.
“Boleh, tanya apa?”
“Lo suka sama Gita Win?” Sahut Nino
sambil duduk di sebelah Win.
“Beneran Win, udah move on sama si
Ratna.” Tambah Ina. Mereka berdua sangat senang kalau Win bisa move on.
“Ngomong apa sih kalian, sembarangan
banget nanti kalau pacar Gita salah paham bagaimana.” Kata Win.
“Ya paling marah besar, dan karir Mas
Win terancam.” Celetuk Fara.
“Hebat banget pacar lo Git, bisa
menghancurkan karir Win.” Nino terkekeh mendengar guyonan Fara.
“Dengerin, kemarin bos cariin lo. Dia
tungguin lo di parkiran lumayan lama sih kayaknya. Kan gue keluar terakhir.
__ADS_1
Kalia ada sesuatu kah?”
“Ada.” Jawab Gita dengan santai membuat
Fara dan Vian saling bertatapan, mereka berdua satu pemikiran yaitu mengira
Gita akan mengatakan semuannya sekarang.
“Kamu sama bos..”
“Karyawan dan bos.” Jawabnya lagi.
“Apa masalah yang kemarin belum kelar,
kenapa bos jadi sering mencari lo. Tapi dia bilang tidak akan memecat lo sih.
Cuma gue takut saja nanti menjadi bom waktu, lo tiba-tiba di pecat kan kasihan
belum siap-siap cari kerjaan baru.” Win sangat mencemaskan Gita.
“Mas Win tenang saja, Gita baik-baik
saja. Meskipun Bos garang seperti itu namun baik kok.” Kata Gita sambil
tersenyum.
“Lo tahu darimana kalau bos itu baik?”
tanya Ina. Dia menjadi ikut curiga dengan jawaban Gita.
“Kata Karyawan yang lain, mereka selalu
bilang bos itu sangat baik, tampan idaman wanita banget.” Kata Gita.
“Wah.. sepertinya nambah nih fans bos
Gilang. Memang auranya tiada tandingan. Selain wajahnya yang mempesona dan
dompetnya pun sangat mendukung jadi cewek mana yang nggak akan terpesona. Nggak
kayak dua orang tua yang sudah gue kenal lama , udah wajah pas-pasan dompet pun
ikut pas-pasan.” Sindir Ina.
“Heh.. ngomongin gue lo?”
“Kagak, tapi kalau lo merasa ya syukur.”
Siang ini Gilang mengadakan rapat,
kantornya mendapatkan proyek yang lumayan besar dan akan di jalankan satu bulan
ke depan. Namun Gilang meminta team kantornya untuk mempelajari konsep terlebih
dahulu.
“Selamat siang semuanya.”
“Siang Pak.” Jawab Serentak.
“Kantor kita akan meluncurkan sebuah
film pendek, dan kita akan syuting beberapa hari di luar kota bulan depan. Team
Ratna sama Win kalian persiapkan dengan baik. Kalian berdua akan bekerja sama.”
Jelas Gilang.
“Baik Pak.”
Setelah selesai menyampaikan rapat
Gilang langusung pergi, dia sudah ada janji sama clien lain.
“Yakin nih kita bekerjasama dengan team
sebelah.” Sindir Catrin.
“Yah.. yaki nggak yakin sih, tapi kalau
bos sudah bilang seperti itu mau apa lagi.” Kata Roy sambil membawa berkas yang
di berikan Gilang.
“Baik-baik deh kalau ngomong, takutnya
kesleo tuh lidah yang ada stroke.” Gita menjulurkan lidah lalu beranjak lebih
dulu meninggalkan ruang rapat.
__ADS_1
“Dengar baik-baik tuh, nanti stroke cuma
bisa berbaring di kasur kasian kan nggak bisa ikut kita kerja bereng.” Tambah
Fara sambil mengikuti Gita.
“Kalian tuh yang hati-hati, sembarangan
kalau ngomong.” Kata Catrin.
“Na, lo bilang anak baru di team lo tuh
berkualitas karena lulusan terbaiknya. Tapi kok nggak punya etika. Ngomongin
orang semaunya giliran di omongin balik nggak mau. Kalau team lo begini terus
lama-lama juga bakalan hancur team lo.” Kata Win sambil tersenyum. Win lebih
senang dengan team yang konyol namun mereka masih memiliki rasa menghargai dan
empati sama orang lain.
Gilang tidak mau kehilangan Gita lagi,
dia berjaga di depan pintu ruangan Gita. Dia menyenderkan tubuhnya di dinding,
sambil melipat ke dua tangannya.
“Eh.. Kak Gilang.” Fara kaget lalu dia
menoleh ke dalam lagi.
“Lo jalan dulu, biar Gita gue yang
anterin.” Kata Gilang.
“Ok.” Fara langsung kabur, kali ini dia
tidak bisa membantu Gita untuk menghindari Gilang.
“Gita, kita duluan ya.” Seru Win sambil
jalan duluan bareng Nino dan Ina.
“Iya Mas Win.” Jawab Gita sambil
buru-buru memberesi barang-barangnya.
“Buruan Git, lo mau gue anterin apa
pulang sendiri.”
“Anterin lah Vian, gue lagi nggak mood
naik angkot.” Kata Gita.
Gita mengekor di belakang Vian, dan saat
dia keluar Gilang menarik kerah bajunya.
“Eh...eh... siapa nih” Kata Gita sambil
menoleh ke belakang. Vian pun dengan sigap berbalik badan, mendengar teriakan
Gita.
“Vian lo boleh balik duluan.” Kata
Gilang.
“Ok siap.”
“Vian.. tolongin gue.” Rengek Gita.
“Sorry Git, kali ini gue nggak mau ikut
campur urusan rumah tangga orang.” Gilang angkat tangan lalu kabur.
Gilang berjalan sambil menarik kerah
baju Gita, membawanya ke mobilnya.
“Kak Gilang, lepasin malu.” Kata Gita.
Gilang tidak menggubris rengekan Gita, dia memegang erat dan segera membawanya
ke mobil agar tidak kabur lagi.
Gilang membukakan pintu mobilnya, “Masuk.”
__ADS_1
Gita hanya bisa pasrah, mau berusaha kabur
pun tidak akan mungkin bisa.