Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Menghindar IV


__ADS_3

Setelah Catrin pergi dan pintu tertutup


rapat Gilang meminta Gita mendekat dengan menggerakan jari-jarinya.


“Sini.” Panggil Gilang saat Gita masih


berdiri dekat pintu keluar. Gita hanya bergeser satu langkah.


“Gita, sini mendekat.” Kata Gilang lagi.


Gita hanya melakukan yang sama yaitu menggeser satu langkah.


“Gita saqueena, lebih dekat lagi.” Kata


Gilang. Gita kali ini menambah langkah kakinya, yaitu dua kali geseran.Gilang


gemas dia akhirnya yang berjalan mendekati Gita.


“Sayang, kamu..”


“Aaaaah.. perut aku mulus, maaf pak saya


ke toilet dulu.” Gita memegangi perutnya sambil lari pergi dengan beralaskan


sakit perut. Gilang menghela napas panjang, dia tahu kalau Gita sedang


berbohong padanya.


“Dia panggil pak, padahal nggak ada


siapa-siapa.” Gilang geleng-geleng kepala.


“Pakai bunga nggak bisa, di temui ke


rumah nggak bisa terus cara apa lagi coba.” Gilang melipat ke dua tangannya. Gilang


bingung mencari cara bagaimana agar buat Gita tidak ngambek lagi dan mau


memaafkannya.


Gita menoleh ke belakang saat sudah


mulai menjauh dari ruangan Gilang.


“Untuk Gita pinter ngeles, kalau nggak


pasti bakalan di omelin tadi.” Gita mengelus dadanya.


Sama seperti waktu sekolah dulu, jam


paling di tunggu adalah jam istirahat, saat jam sudah menunjukan pukul dua


belas mereka langsung bergegas ke kantin.


“Gita.”


“Ya Mas Win.” Jawab Gita sambil


meletakkan makan siangnya.


“Em boleh bertanya nggak, ini masalah


pribadi sih.” Kata Win.


“Boleh, tanya apa?”


“Lo suka sama Gita Win?” Sahut Nino


sambil duduk di sebelah Win.


“Beneran Win, udah move on sama si


Ratna.” Tambah Ina. Mereka berdua sangat senang kalau Win bisa move on.


“Ngomong apa sih kalian, sembarangan


banget nanti kalau pacar Gita salah paham bagaimana.” Kata Win.


“Ya paling marah besar, dan karir Mas


Win terancam.” Celetuk Fara.


“Hebat banget pacar lo Git, bisa


menghancurkan karir Win.” Nino terkekeh mendengar guyonan Fara.


“Dengerin, kemarin bos cariin lo. Dia


tungguin lo di parkiran lumayan lama sih kayaknya. Kan gue keluar terakhir.

__ADS_1


Kalia ada sesuatu kah?”


“Ada.” Jawab Gita dengan santai membuat


Fara dan Vian saling bertatapan, mereka berdua satu pemikiran yaitu mengira


Gita akan mengatakan semuannya sekarang.


“Kamu sama bos..”


“Karyawan dan bos.” Jawabnya lagi.


“Apa masalah yang kemarin belum kelar,


kenapa bos jadi sering mencari lo. Tapi dia bilang tidak akan memecat lo sih.


Cuma gue takut saja nanti menjadi bom waktu, lo tiba-tiba di pecat kan kasihan


belum siap-siap cari kerjaan baru.” Win sangat mencemaskan Gita.


“Mas Win tenang saja, Gita baik-baik


saja. Meskipun Bos garang seperti itu namun baik kok.” Kata Gita sambil


tersenyum.


“Lo tahu darimana kalau bos itu baik?”


tanya Ina. Dia menjadi ikut curiga dengan jawaban Gita.


“Kata Karyawan yang lain, mereka selalu


bilang bos itu sangat baik, tampan idaman wanita banget.” Kata Gita.


“Wah.. sepertinya nambah nih fans bos


Gilang. Memang auranya tiada tandingan. Selain wajahnya yang mempesona dan


dompetnya pun sangat mendukung jadi cewek mana yang nggak akan terpesona. Nggak


kayak dua orang tua yang sudah gue kenal lama , udah wajah pas-pasan dompet pun


ikut pas-pasan.” Sindir Ina.


“Heh.. ngomongin gue lo?”


“Kagak, tapi kalau lo merasa ya syukur.”


Siang ini Gilang mengadakan rapat,


kantornya mendapatkan proyek yang lumayan besar dan akan di jalankan satu bulan


ke depan. Namun Gilang meminta team kantornya untuk mempelajari konsep terlebih


dahulu.


“Selamat siang semuanya.”


“Siang Pak.” Jawab Serentak.


“Kantor kita akan meluncurkan sebuah


film pendek, dan kita akan syuting beberapa hari di luar kota bulan depan. Team


Ratna sama Win kalian persiapkan dengan baik. Kalian berdua akan bekerja sama.”


Jelas Gilang.


“Baik Pak.”


Setelah selesai menyampaikan rapat


Gilang langusung pergi, dia sudah ada janji sama clien lain.


“Yakin nih kita bekerjasama dengan team


sebelah.” Sindir Catrin.


“Yah.. yaki nggak yakin sih, tapi kalau


bos sudah bilang seperti itu mau apa lagi.” Kata Roy sambil membawa berkas yang


di berikan Gilang.


“Baik-baik deh kalau ngomong, takutnya


kesleo tuh lidah yang ada stroke.” Gita menjulurkan lidah lalu beranjak lebih


dulu meninggalkan ruang rapat.

__ADS_1


“Dengar baik-baik tuh, nanti stroke cuma


bisa berbaring di kasur kasian kan nggak bisa ikut kita kerja bereng.” Tambah


Fara sambil  mengikuti Gita.


“Kalian tuh yang hati-hati, sembarangan


kalau ngomong.” Kata Catrin.


“Na, lo bilang anak baru di team lo tuh


berkualitas karena lulusan terbaiknya. Tapi kok nggak punya etika. Ngomongin


orang semaunya giliran di omongin balik nggak mau. Kalau team lo begini terus


lama-lama juga bakalan hancur team lo.” Kata Win sambil tersenyum. Win lebih


senang dengan team yang konyol namun mereka masih memiliki rasa menghargai dan


empati sama orang lain.


Gilang tidak mau kehilangan Gita lagi,


dia berjaga di depan pintu ruangan Gita. Dia menyenderkan tubuhnya di dinding,


sambil melipat ke dua tangannya.


“Eh.. Kak Gilang.” Fara kaget lalu dia


menoleh ke dalam lagi.


“Lo jalan dulu, biar Gita gue yang


anterin.” Kata Gilang.


“Ok.” Fara langsung kabur, kali ini dia


tidak bisa membantu Gita untuk menghindari Gilang.


“Gita, kita duluan ya.” Seru Win sambil


jalan duluan bareng Nino dan Ina.


“Iya Mas Win.” Jawab Gita sambil


buru-buru memberesi barang-barangnya.


“Buruan Git, lo mau gue anterin apa


pulang sendiri.”


“Anterin lah Vian, gue lagi nggak mood


naik angkot.” Kata Gita.


Gita mengekor di belakang Vian, dan saat


dia keluar Gilang menarik kerah bajunya.


“Eh...eh... siapa nih” Kata Gita sambil


menoleh ke belakang. Vian pun dengan sigap berbalik badan, mendengar teriakan


Gita.


“Vian lo boleh balik duluan.” Kata


Gilang.


“Ok siap.”


“Vian.. tolongin gue.” Rengek Gita.


“Sorry Git, kali ini gue nggak mau ikut


campur urusan rumah tangga orang.” Gilang angkat tangan lalu kabur.


Gilang berjalan sambil menarik kerah


baju Gita, membawanya ke mobilnya.


“Kak Gilang, lepasin malu.” Kata Gita.


Gilang tidak menggubris rengekan Gita, dia memegang erat dan segera membawanya


ke mobil agar tidak kabur lagi.


Gilang membukakan pintu mobilnya, “Masuk.”

__ADS_1


Gita hanya bisa pasrah, mau berusaha kabur


pun tidak akan mungkin bisa.


__ADS_2