
Gilang sudah berdiri di samping Gita dan Raka tanpa sepengetahuan Gita. Bel tanda istirahat berbunyi, Gita langsung menarik tangan Raka dan Fara untuk kabur.
"Apa sih lo Ta, kenapa lo jadi kabur-kaburan nggak jelas?" tanya Raka sambil menghentian langkahnya.
"Gue malu kali ketemu Kak Gilang, tadi malam itu gue sedang mabuk."
"Mabuk apa? memangnya sejak kapan rumah kita punya minuman yang memabukkan."
"Ada, tadi malam gue ambil itu satu botol pertama. Gue coba sedikit enak, karena gue kesal gue langsung teguk semuanya. Habis makan gue gue minum lagi dan lagi sampai mabuk gue."
"Memangnya apa merknya."
"Aqua."
"Ya Tuhan, ada manusia macam ini untung lo itu saudara gue. Kalau nggak udah gue lempar ke sungai depan sekolah."
"Emangnya gue salah, kalau nggak percaya lo coba minum segalon mabok pasti." Kata Gita masih ngeyel.
"Iya..iya.. lo nggak pernah salah."
"Ya emang gue nggak salah, Fara tangan lo kenapa jadi besar dan keras ya. Lo kerja sampingan jadi kuli apa?" Gita menoleh kebelakang.
"Eh.." Gita melepaskan tangannya. "Kak Gilang kok bisa disini?" Gita bingung.
"Bisa orang lo tarik gue sampai sini."
"Aduh.."Batin Gita sambil menggigit bibir bawahnya. "Sorry." katanya pelan.
"Kenapa lo menghindar dari gue terus." Gilang menatap Gita.
"Siapa yang menghindar, perasaan Kak Gilang aja. Ya nggak Raka?" Gita meminta dukungan Raka.
"Mana gue tahu, kalau masalah hati jangan ajak-ajak gue. Gue cabut dulu lah ke kantin." Raka meninggalkan Gita dan Gilang.
"Raka tungguin gue." Gita hendak kabur namun di tahan Gilang.
"Mau kemana?"
"Ke kantin." Gita menunjuk Raka yang sudah berjalan jauh.
"Gue rasa setelah dansa kemarin lo terlihat malu-malu sama gue, apa hati lo sudah mulai membuka diri buat gue." Gilang tersenyum jahil. Dia terus menggoda Gita meskipun wajahnya sudah merah padam.
"Apaan sih, di bilangin gue lagi mabok kok."
"Ok.. iya. Gue percaya lo lagi mabok." Gilang menarik tangan Git hingga dia ada di sebelahnya. Setelah itu dia merangkul Gita dan pergi ke kantin.
"Kak, jangan gini nanti banyak yang lihat." Gita melepas tangan Gilang. Namun Gilang kembali melakukannya lagi.
"Memangnya kenapa kalau merek lihat?"
__ADS_1
"Nanti gue bisa di serang fans lo. Kan gue takut." Kata Gita.
"Memangnya gue artis apa punya fans." Gilang tak mendengarkan Gita dia terus berjalan membawa Gita ke kantin.
...♡◇◇◇♡...
Gita sedang asyik ngobrol sama Fara dan Anita di datengin dua orang kakak kelas yang tidak mereka kenal.
"Jadi ini yang namanya Gita." katanya dengan wajah songong.
"Iya gue Kak, ada apa ya?" jawab Gita.
"Gue cuma mau kasih peringatan buat lo, jauhi Gilang." katanya.
"Memangnya siapa lo ngatur-ngatur Gita." Fara mulai nyolot.
"Lo nggak kenal gue?"
"Enggak, dan kita nggak mau mengenalnya juga." Jawab Gita sambil melihat nama di bajunya yang bertuliskan Santy.
"Berani ya lo sama gue?!" Menarik kerah baju Gita.
"Kasih pelajaran aja sih San, lagian adik kelas berlagak." kata temannya.
"Tunggu, sebenarnya tujuan kalian kesini itu apa?" Anita mencoba melerai agar tidak terjadi pertengkaran yang berkelanjutan.
"Gilang itu hanya milik Monika."
"Oh..babunya Monika." Kata Gita, Fara dan Anita bersamaan dengan nada ngeledek.
"Jaga mulut kalian!"
Gita maju berhadapan dengan Santy, "Yang harusnya jaga mulut itu kalian. Masih jaman ngelabrak-ngelabrak orang gini. Mana kalian bukan yang punya masalah lagi. Di kasih apa sama Monika sampai mau di suruh-suruh. Kalau emang berani datang sendiri." Gita berkacak pinggang.
"Ngeselin lo ya!" Santy menarik rambut Gita, Gita pun ikut menarik rambut Santy. Tak hanya itu sambil menarik rambut Gita juga menginjak kaki Santy.
Fara maju ikut menjambak teman dari Santy, dia udah geregetan sejak kedatangan mereka.
"Pak Rudi!" teriak Anita.
"Hati-hati lo ya, jangan salahin kita kalau kalian kenapa-kenapa." Santy langsung mundur sambil mengancam.
"Ya pastinya gue akan cari kalian satu persatu kalau sampai ada di antara kita yang kenapa-kenapa." Gita pun ikut mengancam mereka.
"Kenapa di pisahin sih?" tanya Fara. "Kita harus temu Monika sekarang." Kata Fara.
"Nggak usah, hanya akan menambah masalah. Nanti kita di hukum." Anita tidak setuju.
"Nanti dia semakin berulah."
__ADS_1
"Biarin aja, mending sekarang kita pergi nonton basket." ajak Gita sambil merapikan rambutnya yang berantakan.
Gita malas jika harus berantem apalagi masalah cowok. Dia tidak mau menambah masalah hidupnya, dia ingin menikmati masa sekolahnya.
Gita, Fara dan Anita duduk bersila di tepi lapangan basket. Mereka langsung heboh seperti cheerleaders.
Monika yang sejak tadi anteng melihat kegantengan Gilang menjadi terganggu. Dia berjalan lalu mendekati Gita, Fara dan Anita.
"Kalian bertiga bisa diem nggak? brisik banget jadi orang."
"Terserah kita dong, orang ini tempat umim bukan tempat ujian." Jawab Fara ketus.
"Kalian ya senang banget buat masalah sama gue!" Monika mulai emosi.
"Kita, lo sama teman-teman lo kali biang onar." Fara berdiri tak mau kalah sama. Anita sama Gita berdiri untuk menjaga Fara agar tidak berkelahi.
"Memangnya apa yang gue lakuin?" Monika pura-pura tidak tahu.
"Nggak usah sok nggak tahu apa-apa, lo menyuruh teman-teman preman lo itu buat menakuti kita kan. Tapi sorry... kita nggak takut." Fara tersenyum meremehkan.
Gilang keluar lapangan melihat ada yang tidak beres di tepi lapangan.
"Ada apa ini?" tanya Gilang.
"Gilang, mereka menyerang gue tanpa sebab." Monika bergelayutan di tangan Gilang.
"Idiih.. tukang fitnah."
"Lihat, pipi gue merah karena di tampar Gita. Dia nggak suka gue melihat lo main basket. Mereka bahkan mengancam gue kalau gue terus dekat sama lo."
"Lemes banget itu mulut, lo yang melakukan kok kita yang di tuduh." Kata Fara.
"Monika nggak usah drama deh lo." Gilang melepaskan tangan Monika.
"Drama apa Lang?" pura-pura nggak tahu.
"Udahlah gue udah tahu semua, dan lo harus dengerin ancaman mereka. Soalnya emang gue nggak mau dekat-dekat sama lo."
"Lang, lo kok gitu. Kita itu sudah kenal sejak lama."
"Memangnya kenapa kalau kenal sejak lama, kenal lama bukan berarti kita dekat kan."
"Mampus lo." Fara terkekeh.
"Gilang, gue nggak nyangka sejahat ini. Lo tega menyakiti gue." Monika pergi dengan kekecewaan.
"Sukurin lo, emang enak." Seru Fara penuh dengan kemenangan.
"Kalian nggak apa-apa?" Gilang khawatir, mereka bertiga menggeleng cepat.
__ADS_1