
Gita tiduran di pangkuan Genta sambil membaca beberapa pesan yang masuk. Semenjak perubahan fisik Gita yang drastis menjadi lebih kurusan dan semakin cantik banyak cowok-cowok yang chat dia. Bahkan tak segan-segan dulu mengejeknya.
"Kak."
"Hhm."
"Kenapa orang-orang sekarang banyak yang deketin Gita, apa karena Gita udah kayak Kak Qila." Curhat Gita.
"Iya mungkin, yang pasti mereka tidak tulus karena mereka tidak bisa menerima lo apa adanya." Genta mengelus rambut Gita.
"Iya juga. Kak, kakak suka punya pacar banyak atau istri lebih dari satu nggak?" Gita menatap Genta. Genta pun membalas tatapan Gita namun dengan tatapan sangat heran.
"Lo kenapa bahas begituan masih kecil ini." Genta mencubit hidung Gita.
"Gita udah dewasa ya sekarang, udah satu SMA." Gita tidak mau selalu di anggap menjadi anak kecil oleh keluarganya.
"Kan cuma tanya." Gita meringis.
"Kakak bilangin ya, kalau yang namanya orang benar-benar sayang sama lo, cinta sama lo dia tidak akan pernah berpaling. Dia akan sangat setia tanpa mendua ataupun melihat gadis lain meskipun orang-orang berkata ini itu, lo akan menjadi orang no satu, paling cantik dan terbaik di matanya." jelas Genta.
"Kak Genta lagi gombalin Gita ya." Gita terkekeh.
"Haduh.. ini bocah di kasih tahu malah di kata gombalin. Lagian kenapa gombalin adik sendiri." Genta geleng kepala.
"Karena kakak nggak punya pacar."
"Sembarangan."
"Emang punya?"
"Punyalah, besok ulang tahun Kak Qila. Kakak ajak dia kesini."
"Ok, janji ya."
"Hhm."
Sedang asyik ngobrol sama Genta, ponsel Gita berbunyi. Gita melirik sekilas lalu meneruskan ngobrol sama Genta. Dia mengabaikan panggilan Gilang.
"Itu angkat dulu, siapa tahu penting."
"Gita malas angkat telponya." Gita lagi males sama Gilang.
"Dari siapa? orang-orang yang gangguin lo?" tanya Genta.
"Bukan, dia teman Gita sih. Cuman sedang malas saja." Gita meringis.
"Jangan begitu siapa tahu penting." Genta menasehati Gita.
"Mbak Gita." panggil Bik Nana.
__ADS_1
"Ada apa Bik?" jawab Gita masih belum mau beranjak dari posisinya sia hanya memiringkan kepalanya.
"Ada Mas Devan di depan."
"Devan Bik?" Gita langsung duduk. "Bilang saja Gita lagi pergi."
"Aduh Mbak Gita maaf, bibik sudah bilang kalau di rumah."
"Yaaah... bibik." Gita manyun.
"Ya udah temui sebentar sana." suruh Genta.
Gita berdiri, belum sempat melangkahkan kakinya ponselnya kembali berdering. Gita langsung mengangkatnya.
"Halo Kak," jawab Gita pelan sambil jalan agar Genta tidak mendengar.
"Dimana?"
"Di rumah, ada apa?"
"Gue kesitu sekarang, udah dekat rumah." kata Gilang sambil mematikan ponselnya. Gita menurunkan ponselnya sambil melihat layarnya yang mulai mati.
Gita tersenyum lalu dengan semangat keluar, bukan untuk menemui Devan tapi menunggu kedatangan Gilang. Dia yang awalnya malas ngobrol atau ketemu dengan Gilang menjadi semangat.
"Hai Gita." Sapa Devan saat Gita keluar dari pintu.
"Gue mau ketemu lo, mengganggu nggak?"
Gita menggeleng pelan, bingun menjawabnya. Mau di kata tidak mengganggu namun kenyataanya mengganggu, dia tidak suka lagi dengan Devan.
Devan mengeluarkan bunga mawar yang sangat cantik lalu memberikan kepada Gita. Gita hanya menatapnya bunga mawar di tangan Devan.
"Kenapa lo memberikan ini saat gue sudah tak ada rasa sama lo. Andai aja beberapa bulan lalu lo seperti ini." batin Gita.
"Kok diem, jelek ya bunganya biar gue ganti yang baru kalau nggak suka." Devan hendak membuang bunga itu di tempat sampah.
Gilang yang baru turun dari mobil langsung berjalan cepat. Dia kesal melihat Devan dan Gita bersama.
"Eh.. jangan. Bagus kok bunganya."
"Kalau gitu terima ini." Devan kembali menyodorkan bunga ke hadapan Gita. Perlahan Gita mengulurkan tangannya, Gilang sari samping langsung mengambil bunganya.
"Wah.. mawar merah. Bagus banget mana wangi lagi." Gilang mencium bunganya.
"Kak Gilang, udah sampe?" Gita tersenyum lalu jalan mendekat di samping Gilang.
"Balikin, bukan buat lo." Devan mengambil paksa bunga dari tangan Gilang.
"Oh.. sorry. Gue cuma mau lihat saja. Mau tanya juga bunga sebagus ini beli dimana?" tanya Gilang dengan nada mengejek.
__ADS_1
"Nggak usah ngeledek lo, lagian lo kenapa sih kesini ganggu aja." Devan kesal, ingin sekali memukul wajah Gilang.
"Gue kesini mau ketemu pacar gue lah." Jawab Gilang dengan enteng sambil merangkul Gita. Sontak Gita langsung menatap ke arah Gilang. Gilang mengedipkan mata kirinya sambil tersenyum kecil.
"Maksud lo..." Devan mendekatkan tubuhnya ke arah Gilang, dia tidak terima Gilang menganggap Gita pacarnya.
"Devan.. udah lama datang?" Genta keluar. Gita langsung menurunkan tangan Gilang.
"Iya Kak."
"Duduk sini, udah lama tidak ketemu kita."
"Iya Kak, gue akhir-akhir ini sibuk." Devan tersenyum picik ke arah Gilang. Dia merasa menang dari Gilang.
"Gita, katanya kalian berdua mau pergi?"
"Aa.." Gita bingung.
"Katanya kalian berdua mau pergi, udah buruan jangan pulang malam-malam." Kata Genta. Genta tahu kalau Gita tidak suka dengan kedatangan Devan. Jadi dia berusaha membuat Devan untuk tidak ketemu dengan adik perempuan kesayangannya itu.
"Ah. Iya Kak, kita pamit dulu. Nggak akan lama kok kita perginya." Gilang menggandeng tangan Gita lalu tersenyum mengejek membalas Devan karena dia lah yang jadi pemenangnya.
"Awas lo Gilang, gue nggak akan membiarkan lo merebut Gita dari gue. Dia hanya milik gue." batin Devan sambil mengepalkan tangannya erat.
...◇◇◇◇◇...
Gita menengok sebentar setelah Genta dan Devan tidak melihat, dia buru-buru melepas gandengan tangan Gilang.
"Kita mau kemana?"
"Cari kado."
"Buat?"
"Buat Qila, gue nggak tahu kesukaan dia jadi gue minta tolong lo yang pilihin." Gilang membukakan pintu untuk Gita. Dia memegang bagian atas takut Gita sembrono dan kepentok kepalanya.
"Kenapa harus gue?" Gita mulai bete.
"Karena lo yang tahu semua tentang kakak lo, kan gue jadi gampang carinya." jawab Gilang sambil menutup pintu mobil.
"Kenapa nggak tanya aja sama Kak Qila, kalau perlu biar dia memilih sendiri." Omel Gita.
"Ya namanya nggak suprize dong, lo kayaknya nggak senang banget nganterin gue. Iklas nggak nih mumpung kita belum jalan." Gilang menghentikan tangan kananya yang hendak memutar kunci mobilnya.
"Ah.. gue tahu, lo mau berduaan kan sama Devan. Sorry kalau kedatangan gue menggagalkan pertemuan kalian. Lo boleh turun." Kini giliran Gilang yang cemburu.
"Idih.. siapa juga yang mau ketemuan sama Devan. Kalau mau jalan ya jalan aja nggak usah ngajakin debat yang nggak jelas" Jawab Gita sewot.
"Kan yang ngajakin debat lo dulu, semua wanita memang sama dimana-mana. Maunya menang sendiri." gerutu Gilang. Gita hanya melirik kesal lalu melihat ke luar jendela.
__ADS_1