
Seminggu ke depan adalah ujin nasional kelas XII. Dan seperti biasa kelas X dan XI libur.
Untuk mengisi liburan itu Raka mengajak Gita untuk liburan ke kampung neneknya dari papanya. Agar liburan semakin seru Gita mengajak Fara dan Anita.
"Ka, ayo buruan berangkat udah." Kata Gita sambil melongok keluar jendela.
"Bentar, belum lengkap personilnya." Raka menyandarkan tubuhnya di mobil sambil memainkan ponselnya.
"Lo nungguin Vian?" tanya Gita.
“Bukannya Vian lagi keluar kota.” Kata Fara.
“Ya tungguin aja, nanti kalian juga tahu. Masa iya kalian mau happy-happy gue jadi
boduguard kalian.” Ujar Raka masih fokus sama ponselnya.
“Itu memang tugas lo.” Seru Gita, Fara dan juga Anita.
“Idih.. ogah. Jagain satu aja udah bikin jungkir balik kok nambah dua orang lagi mana nggak ada yang benar.”
“Mulut lo ya Ka,” Fara melempar dengan snack yang di pegangnya.
"Ka, nggak lo ajak pacar lo?"
"Nggak nanti kalian pada iri lagi kalau gue romantis-romantisan sama gue. Apalagi ketemu Fara bisa-bisa kena sawan dia."
"Mulut lo ya santai banget ngomongnya, memanya gue apaan?"
"Lo itu semacam de..." Belum selesai ngomomg Raka kabur karena Fara ingin memukulnya.
"Akhirnya datang juga." Raka menyambut kedatangan Gilang dan Bayu.
“Sorry nunggu lama.” Gilang dan bayu datang bersamaan.
“Kak Gilang sama Bayu, kenapa harus mereka sih.” Gumam Gita.
“Iya, kalau Kak Gilang sih nggak apa-apa. Kenapa coba harus bawa Bayu segala.
Ngeselin itu bocah.” Omel Anita.
“Ya udah buruan yuk masuk, keburu malam. Rumah nenek gue perdesaan yang lumayan
jauh.” Raka masuk di kursi mengemudi.
“Terpencil.” Kata Fara.
“Primitif.” Sahut Gita.
“Apa di sana sudah ada listrik.” Fara nggak mau ketinggalan.
“Kampung nenek gue sudah ada lampu, nggak terpencil banget, dan nggak primitif.” Raka
nggak terima. “Gue aduin nenek ntar lo Ta.”
“Takuut...” Jawab Gita sambil tertawa mengejek.
“Raka... Gita... tungguin gue! Gue ikut.” Arvian berlari sambil menggendong tas ransel
di punggungnya.
“Katanya lo pergi keluar kota?” Raka turun lagi.
“Nggak jadi, daripada gue melongo di rumah mending gue ikut kalian. Untung kalian
belum pergi.
“Ya udah buruan naik, yang cowok belakang dua sebelah gue satu. Biar yang cewek-cewek
di tengah.” Raka mengatur trmpat duduk.
__ADS_1
“Siap.” Jawab anak-anak cowok serentak.
“Cocok kan dia jadi kernet bus.” Kata Gita.
“Ta, mending lo nggak usah ikut aja deh, sejak tadi lo ngeledekin gue mulu.” Omel
Raka sambil masuk ke mobil.
“Ya udah gue turun, tapi jangan salahin gue kalau lo di marahin sama nenek.” Gita
hendak turun.
“Ok..Ok.. ayo kita berangkat. Dasar tukang ngadu.” Raka ngedumel.
Raka nggak akan mungkin tidak mengajak Gita ke tempat neneknya, karena neneknya
pasti akan menanyakan Gita terus.Dan Gita menjadi kesayangan neneknya jadi apapun yang di katakan Raka neneknya tidak akan percaya, makanya Gita sering banget ngadu yang tidak-tidak sampai
Raka di marahin.
Perjalanan lumayan panjang, Gita, Fara dan Anita sudah terlelap karena capek setelah ribut
teriak-teriak nggak jelas. Bukan hanya mereka bertiga Arvian sama Bayu pun kuga
ikut terlelap. Tinggal Gilang dan Raka yang masih terjaga. Gilang
memeperhatikan Gita dari spion depan.
“Lo kapan rencana mau menyatakan cinta lagi sama Gita?”
“Em.” Gilang kaget.
“Lo kapan mau jadian sama Gita?” Raka mengulangi pertanyaannya lagi.
“Nggak tahu, lagian Gita juga belum mencintai gue. Jadi percuma saja kalau gue
menyatakan dalam waktu dekat ini.” Jelas Gilang sambil kembali melihat ke arah
“Gita bukan belum mecintai lo, hanya saja dia belum percaya sama perasaan dirinya.
Baginya lo sekarang ini adalah idola yang hanya bisa dia haluin aja.” Jelas
Raka.
“Idola?”
“Ya, seperti halnya dia mengidolakan artis korea yang selalu dia tonton tiap hari
yang seriang dia anggap sebagai pacarnya.” Kata Raka sambil tertawa.
“Yah, seperti itu kebanyakan cewek ya terhalu halu dengan hal-hal yang tidak mungkin
terjadi.”
“Meskipun seperti itu, kehaluannya membuat dia bahagia dan juga semangat. Jadi gue
biarkan saja dia mencintai orang-orang yang dia halukan.” Kata Raka sambil
menoleh ke belakang sekilas.
“Lo sayang banget ya sama Gita.” Ada perasaan iri lagi muncul karena Raka sangat
memahami Gita, dekat bahkan bisa satu rumah.
“Ya, bahkan gue rela melakukan apapun demi kebahagiaannya. Jika memang jodoh ada
pada lo gue harap lo bisa menggantikan gue menjaga dia.” Raka serius.
“Pasti.”
__ADS_1
Obrolan mereka terhenti setelah memasuki perkampungan, dan Raka mulai memarkirkan mobil
di depan rumah dengan halaman yang sangat luas.
“Apa ini rumah nenekmu?” tanya Gilang sambil melihat sekeliling sebelum turun mobil.
“Ya, rumah paling ujung dengan pemandangan yang sangat indah pastinya.” Raka melepas
sabuk pengamannya lalu turun. Gilang pun ikut turun, dia lalu membangunkan Gita
dan yang lainnya.
“Sudah sampai ya.” Gita meregangkan kedua tangannya.
“Sudah, yok buruan turun.” Kata Raka sambil membuka bagasi.
“Akhirnya.” Gita turun lalu menghirup udara yang segar dalam-dalam sambil meregangkan kedua
tangannya lagi.
“Sejuk banget.” Kata Anita.
“Viewnya keren banget tahu nggak, kalau senja pasti semakin keren ini.” Kata Fara. Dia
mengambil ponselnya lalu mengabadikan view yang sangat indah. “Fotoin gue dong.”
Fara meminta bantuan Arvian.
“Ok. Buruan pose Git, Nit lo berdua sekalian sana.” Arvian menyuruh mereka bertiga
foto bareng. Gilang pun tidak mau kehilangan moment. Dia segera mengambil
ponselnya lalu memotret Gita diam-diam.
“Gue lihat dulu, bagus nggak.” Fara mengambil ponselya lalu mengecek dulu hasil
fotonya.
“Vian, lo emang keren. Fotonya keren banget.” Fara mengangkat dua jempolnya.
“Siapa dulu, Arvian.” Vian besar kepala.
“Udah yok, masuk dulu. Ta ajakin masuk dulu kenapa malah foto-foto.” Omel Raka.
“Iya bawel.” Gita menggandeng Fara, dan Anita berjalan masuk duluan.
“Nenek.” Seru Gita saat di depan pintu.
“Ya.” Seorang perempuan berumur sekitar tujuh puluan bernama wati keluar dari dalam.
“Nenek.” Gita mencium tangannya lalu memeluk erat.
“Ini Gita apa Qila?” tanya nenek wati sambil memakai kaca matanya.
“Ini aku nek Gita, masa lupa.” Gita manyun.
“Gita, kamu beda banget terakhir kesini kamu masih gendut kok sekarang langsing ya
nenek panglinglah.” Nenek wati kembali memeluk Gita.
“Gita bawa teman-teman nek kesini. Ini Fara dan Anita.”
“Nenek.” Raka meletakkan tasnya lalu memeluk neneknya.
“Cucu nenek sudah pada besar, ganteng pula.”
“Itu pasti dong, siapa dulu neneknya. Nek , Raka juga bawa teman ini namanya Gilang
anak paling pinter dan ganteng di sekolah, ini Bayu biang rusuh sama Arvian nek
__ADS_1
ini teman nggak penting.”
Plaakk! Arvian memukul lengan Raka.