
"Raka bangun, ayo anterin gue ke rumah Kak Gilang." Gita menarik selimut Raka. Raka masih belum bergerak.
"Ih.. kebo banget sih lo Ka, kemarin janji mau nganterin." Gita menarik tangan Raka.
"Nanti aja ngobrol di sekolah, gue masih ngantuk." Raka melepaskan tangan Gita kemudian menarik selimut dan menutupi sampai ke kepalanya.
"Ih.. ngeselin deh. Lo mau sekolah nggak ini udah siang." Gita kembali menggoyangkan tubuh Raka.
"Nggak, lagi cuti gue. Udah sana berangkat gangguin orang tidur aja." omel Raka.
"Cuti, ngomong aja lo mau bolos. Gue bilangin mama ya nanti." Gita mengamcam Raka. Dia kemudian memutar badannya lalu berjalan meninggalkan Raka. Gita menghentikan langkahnya saat melihat amplop putih yang ada di tempat sampah. Karena penasaran Gita langsung mengambilnya. Dia membolak-balikan amplop putih polos yang ada nama sekolahnya.
"Surat apaan, kok gue nggak dapat ya."
"Gita, lo jadi bareng nggak?!" teriak Genta.
"Bareng Kak." Gita memasukan amplop ke tasnya lalu buru-buru keluar takut di tinggal dan naik angkot.
Di dalam mobil Gita membuka amplop dan perlahan membacanya. Gita melebarkan kedua matanya sambil tangan kiri menutup mulutnya yang menganga.
"Ada apa Ta?" tanya Genta. Gita menggeleng kepala pelan sambil tersenyum tipis. Gita berpikir keras, dia menyangka Raka kemarin bete waktu nganterin dirinya ke rumah Gilang pasti gara-gara surat skorsnya.
"Ta.." Panggil Genta lagi, cemas adiknya bengong.
"Hem.." Gita kaget.
"Beneran nggak apa-apa?" tanya Genta lagi. Gita hanya mengangguk.
"Kalau nggak apa-apa kenapa lo masih bengong disini, lo udah sampai di sekolah." kata Genta. Gita langsung melihat keluar jendela.
"Yakin lo nggak apa-apa?" Genta memastikan lagi.
"Sebenarnya Gita mau curhat, tapi sebentar lagi bel masuk berbunyi. Nanti Gita cerita di rumah saja." jelas Gita sambil melepas sabuk pengaman dan turun mobil cepat.
"Baiklah, kakak tunggu."
"Iya, hati-hati ya Kak."
"Ok."
Bel berbunyi nyaring semua siswa langsung masuk ke kelas, pelajaran sudah di mulai. Namun pikiran Gita tidak fokus ke pelajaran. Dia memiringkan tubuhnya menyenderkan tubuhnya ke tembok. Dia terus memandangi kursi milik Raka.
"Git, memangnya Raka kemana?" tanya Vian.
"Di rumah." Jawabnya dengan tatapan kosong.
__ADS_1
"Kenapa nggak masuk?"
"Dia di skors." Katanya pelan.
"Ha.. di skors." Kata Vian, Fara mendengar Raka di skors langsung menoleh ke belakang.
"Di skors, kenapa Devan nggak di skors. Dia kan yang mulai pertengkaran tapi hanya Raka nggak adil banget." Celoteh Fara yang menimbulkan kegaduhan.
"Fara, Gita kalian berdua kalau mau ngobrol di luar saja. Jangan di kelas mengganggu teman- teman kalian yang mau belajar." Fara dan Gita kena semprot Bu Ana.
"Maaf Buk." jawab Gita dan Fara barengan.
"Gita duduk yang benar." tunjuk Bu Ana.
"Iya Buk." Gita langsung duduk lurus fokus ke depan.
...♡♤♤♤♡...
Bel istirahat bunyi Gita tidak langsung ke kantin namun dia memilih untuk ke ruang guru.
"Kalian duluan ke kantinya nanti gue samperin ke sana." Kata Gita sambil berjalan cepat sebelum teman-temannya menjawab.
Devan yang sejak tadi memperhatikan Gita tidak fokus langsung berlari mengikuti Gita.
"Gita, tunggu." Devan menarik tangan Gita.
"Lo kenapa, sejak tadi nggak fokus?"
"Gue nggak apa-apa, gue cabut dulu." Gita hendak kabur tapi langsung di tahan lagi sama Devan.
"Lo sedang ada masalah?"
"Devan, please jangan tanya gue terus. Gue buru-buru." Gita melepaskan tangan Devan lalu berlari. Devan masih belum penasaran dengan masalah Gita terus mengikutinya.
Gita mengatur napasnya, merapikan bajunya lalu mengetuk pintu ruangan Pka Rudi.
"Permisi Pak." Gita membuka pintu sedikit lalu menongolkan kepalanya sedikit.
"Ya, masuk." Kata Pak Rudi. Gita masuk pelan dan berdiri di depan meja Pak Rudi.
"Ada apa?" tanya Pak Rudi.
"Begini Pak, saya mau meminta penjelasan tentang surat skors milik Raka."
"Penjelasan gimana?"
__ADS_1
"Begini Pak, kenapa Raka bisa di skors? apa dia melakukan kesalahan besar?"
"Kamu masih tanya, teman kamu berkelahi itu pelanggaran yang berat."
"Tapi dia nggak bersalah Pak." Gita masih mengeyel.
"Tidak bersalah kata kamu, jelas-jelas dia itu memukuli temannya. Hampir saja membuat nyawa seseorang meninggal apa iti masih di katakan tidak bersalah. Masih untung dia di skors tidak di keluarkan."
Gita terdiam kedua matanya berkaca-kaca, "Tapi dia tidak bersalah Pak, dia hanya membela diri."
"Sudah kamu keluar jangan buat saya mengeluarkan surat peringatan buat kamu. Korban sudah menjelaskan semua kejadiannya."
"Korban?" gumam Gita pelan.
"Makasih Pak atas waktunya, saya permisi." Gita permisi keluar.
Otaknya terus berputar, dia memikirkan siapa korban yang di maksud Pak Rudi. Gita berhenti tepat di depan pintu ruangan Pak Rudi saat melihat Devan sudah menungunya.
"Ada masalah apa?" tanya Devan sambil berjalan mendekati Gita. Gita melihat wajah Devan yang masih memar-memar, dia baru ingat kalau Raka menyerang Devan.
"Bisa kita bicara?" tanya Gita.
"Ya tentu saja, ada apa?"
"Kenapa lo pura-pura menjadi korban, padahal lo sendiri yang memulai perkelahian." kata Gita.
"Lo ngomong apaan sih, gue nggak ngerti?"
"Devan, lo yang buat Raka di skors kan?"
"Raka di skors?" Devan memasang wajah kaget, dia pura-pura tidak tahu menahu soal Raka yang di skors.
"Lo nggak usah pura-pura kaget, lo kan yang meminta Pak Rudi agar Raka di skors." tuduh Gita.
"Bagaimana bisa gue meminta Raka diskor, itu juga bukan kuasa gue. Kenapa lo bisa menuduh gue seperti itu." Katanya dengan wajah orang yang tersakiti.
"Karena..." Gita menghentikan ucapanya. Dia bingung menjelaskanya.
"Karena apa? lo pikir gue tega apa melakukan itu sama Raka. Kita itu teman mana mungkin gue sekejam itu." Kata Devan sambil memegang pundak Gita.
Gita melepaskan tangan Devan dari pundaknya, lalu meninggalkannya. Dia memang tidak bisa membuktikan kesalahan Devan namun dia merasa Raka tidak bersalah justru Devan lah yang bersalah.
"Gita," panggil Devan. Namun Gita tidak mendengarkan, hanya akan memicu emosinya kalau dirinya terus ngobrol sama Devan.
Gita duduk di taman sendirian, dia menangis karena dia pikir semua ini salahnya. Andai saja dia tidak berusaha menghalangi pukulan Devan pasti Raka tidak akan semarah itu dan memukuli Devan.
__ADS_1
"Kenapa gue selalu jadi benan lo sih Ka, gue udah berusaha kuat tapi tetap saja lemah. Memang tidak guna gue menjadi adik." gerutunya. Gita terus memaki dirinya sendiri.
Satu masalah belum kelar ada lagi masalah yang baru. Dan masalah itu saling berkaitan.