Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Raka Patah Hati


__ADS_3

Gita terus memandangi Raka yang tampak lesu, bahkan dia hanya memesan minum karena malas makan.


Gita menusuk basko dengan garpu lalu menyuapi Raka.


"Aaaa..." Kata Gita sambil mulutnya ikut menganga.


"Makan lo aja, gue lagi nggak nafsu makan." katanya sambil memalingkan mukanya.


"Ka.. makan." Rengek Gita, dia takut kalau Raka sakit. Sejak pulang menemui Prisil dia belum makan.


"Atau mau gue pesenin yang lain?" kata Gita. Raka menggelengkan kepala sambil dengan mata fokus di layar ponselnya.


"Tumben lo Ka nggak makan biasanya semua lo embat, kesambet apaan?" ejek Fara.


"Kesambet cinta lo." jawabnya asal.


"Idih... benar-benar kerasukan nih orang." Fara bergidik.


"Gue ke kelas dulu ya." Kata Raka.


"Kenapa Raka, nggak kayak biasanya?" tanya Anita.


"Dia putus sama pacarnya." kata Gita.


"Pacarnya yang kita temui di bukit itu?" tanya Anita. Gita mengangguk pelan.


"Cewek kayak begitu emang lebih baik di putusin. Kenapa juga harus di galauin." kata Fara.


"Karena Raka sudah berharap lebih, mereka pacaran juga nggak hanya sebulan dua bulan maklum lah kalau dia sedih ." jelas Gita.


Gita pergi menemui Gilang yang sedang main basket. Dia duduk sambil berpangku tangan, memikirkan bagaimana caranya agar Raka kembali seperti semula.


Melihat kedatangan Gita, Gilang langsung menghampiri meminta temannya menggantikan dirinya.


Gilang duduk di samping Gita, tapi Gita tidak sadar. Matanya terus menatap kosong ke depan.


Gilang meniup wajah Gita. Gita tersadar sama dari lamunannya lalu menoleh.


"Kak Gilang, sejak kapan disini?"


"Ngelihatin apaan sih sampai pacarnya duduk di sebelah saja nggak sadar, lo lagi ngincer cowok yang mana?." kata Gilang.


"Yang ini." Gita menunjuk Gilang yang membuatnya Gilang tersenyum kecil.


"Bisa aja ya gombalnya." Gilang mengacak-acak rambut Gita.


"Kak gue lagi galau." Gita menyenderkan kepalanya di bahu Gilang yang bidang.


"Kenapa?"


"Raka akhirnya putus sama Prisil. Dia sedih banget nggak mau makan, ngomongnya sedikit, sering ngelamun." Kata Gita dengan sedih.


Gilang menatap langit mencari ide untuk mengembalikan mood Raka.

__ADS_1


"Gimana kalau weekend nanti kita ke pantai, ajak Fara, Anita sama Vian juga. Nanti biar gue ajak Bayu biar seru."


"Boleh juga tuh, tapi gimana kalau Raka menolak." Gita yang awalnya antusias langsung melemas.


"Bujuk Raka, bukanya dia akan menuruti semua mau lo." Gilang mencolek hidung Gita.


"Iya, tapi soal ini gue nggak yakin." Katanya. "Oiya Kak, kalau seandainya nanti kita tak berjodoh apa Kak Gilang akan melakukan hal yang sama seperti Raka?" Gita mengangkat kepalanya dari pundak Gilang.


"Kenapa lo tiba-tiba tanya seperti itu?" Gilang kaget.


"Ya kan seandainya, sebentar lagi kan Kak Gilang kuliah. Pasti cewek-cewek di kampus itu lebih cantik." Gita menyenderkan kepalanya dan memeluk lengan Gilang. Dia tiba-tiba saja merasa takut kehilangan Gilang.


"Jangan cemas masalah itu, cewek cantik emang banyak. Tapi kan yang istimewa cuma lo. Jadi jangan pikir macam-macam." Gilang mengelus kepala Gita.


"Heh! di larang pacaran disini." kata Bayu sambil berjalan mendekati Gita dan Gilang.


"Iri bilang bos." Kata Gita sambil tertawa.


"Jelas donk gue iri, kalian mesra-mesraan di depan umum. Kasian nih hati para jomblo-jomblo." Celoteh Bayu.


"Derita lo itu mah, makanya buruan cari cewek yang benar. Bukan cuma di deketin lalu di ghosting." kata Gita.


"Wah.. ini mah menurunkan martabat gue sebagai cowok jomblo teladan. Mana ada gue tukang ghosting." Bayu nggak terima.


"Iya, lo kan yang sering di ghosting." kata Gilang.


"Gimana kalau gue jomblangin sama Fara atau Anita. Mereka berdua baik dan juga cantik lo. Nggak kalau tuh sama cewek-cewek centil idaman lo." Gita menjomblangkan Bayu.


Gita langsung berkacak pinggang sambil melotot. Dia mengambil botol air mineral dan melempar ke tubuh Bayu.


"Apa lo bilang?" kata Gilang dengan santai.


"Gue mau pacaran sama Gita." Kata Bayu nggak ada takutnya.


"Coba aja kalau lo mampu rebut dia dari gue." Katanya sambil melipat dada, Gilang sangat percaya diri karena Gita nggak akan mungkin berpaling darinya.


"Nggak akan mampu, week." Gita kembali memeluk lengan Gilang.


"Ok ok gue menyerah." Bayu mengangkat kedua tangannya. Gilang dan Gita tertawa.


"Gilang." Panggil Bu widya wali kelas Gilang.


"Iya Buk." Gilang bangun dari duduknya di susul dengan Gita.


"Bisa ikut ke ruangan ibu sebentar, ada yang ingin ibu bicarakan." Kata Bu Widya.


"Baik Buk." Gilang berjalan mengukuti Bu Widya.


"Kak, ada apa ya?" Gita kepo.


"Gue juga nggak tahu, kalau sama Bu Widya sih biasanya yang di bahas kalau nggak nilainya menurun ya beasiswa atau nggak pasti nambah jam pelajaran selesai jam normal selesai." Kata Bayu.


"Oh." Gita pergi tanpa ngomong sama Bayu.

__ADS_1


"Mau kemana Git?" tanya Bayu.


"Mau ngintip Bu Widya sama Kak Gilang." Katanya nyengir.


"Nggak sopan deh ngintip-ngintip." Kata Bayu.


"Biar, gue kan kepo." Gita tidak membatalkan niatnya meskipun di kata tidak sopan.


"Tunggu, gue ikut."


Gita dan Bayu menguping di depan pintu karena pintunya terbuka sedikit.


"Gimana Gilang kamu bisa kan?" tanya Bu Widya.


"Iya Nak Gilang, saya akan bayar berapa pun yang Nak Gilang mau asal mau mengajari Monika anak tante." kata mama Monika.


"Maaf Buk Widya, Tante bukannya Gilang menolak permintaan dari ibu dan tante. Gilang sudah berjanji buat mengajar tambahan anak kelas XI. Dan itu sudah berjalan. Jadi maaf belum bisa memenuhi permintaan tante."


"Tante akan bayar berapa saja yang kamu mau, Monika sangat butuh tambahan belajar. Nilainya menurun drastis." Bujuk Mama Monika.


"Maaf Tante, ini bukan soal bayaran. Saya iklas mengajari siapa saja. Gimana kalau saya carikan yang lain."


"Yang lain?"


"Iya Buk, di kelas kami banyak kok anak pintar."


"Siapa Gilang?" tanya Bu Widya.


"Bayu Buk."


Kedua mata Bayu terbelalak mendengar namanya di sebut.


"Kenapa jadi gue. sialan banget gue yang jadi tumbal." Gumamnya.


"Sssst, jangan berisik nanti ke tahuan." Kata Gita bisik-bisik.


"Tapi anak saya maunya kamu."


"Maaf Buk tapi saya nggak bisa." kata Gilang kekeh. Dia lebih senang mengajari Gita dan teman-temannya daripada mengajari Monika.


"Begini saja Gilang, biar ibu yang mengajar anak kelas XI. Kamu yang mengajari Monik.


"Iya benar, itu ide bagus." Mama Monika sangat setuju.


"Saya kira itu tidak akan berhasil Buk, mereka akan merasa tidak nyaman saat belajar. Kenapa nggak di balik ibu saja yang mengajari Monika." Gilang membalikan perkataan Bu Widya.


Bu Widya sama Mama Monika saling berpandangan mendengar jawaban Gilang.


"Maaf Buk, masih ada yang perlu di bicarakan lagi tidak? kalau tidak saya masuk kelas dulu ya, bel sudah bunyi."


"Baik Gilang nanti biar ibu bicarakan lagi sama Mama Monika."


Gilang berdiri lalu membungkukan badannya lalu keluar ruangan Bu Widya.

__ADS_1


__ADS_2