
Gilang dan Raka berjalan lebih dulu, Gilang mengarahkan senter lurus ke jalan yang tertutup lumpur. Jalanan memang sangat sulit untuk dilewati, tak hanya jalanan yang tertimbun lumpur tapi juga
pohon-pohon yang tumbang. Pencahayaan yang kurang ditambah rintik hujan yang
mulai mengguyur bumi semakin menghambat pencarian.
Sesampainya di desa Candi yang sebagian masih
berdiri kokoh Gilang langsung mengecek apakah Gita,Vian, dan Fara berada di
sana atau tidak. Dia juga mengecek ke tenda-tenda yang di pasang oleh tim penyelamat.
“Gimana Raka?” tanya Gilang saat mereka
berdua selesai mengecek. Raka menggelengkan kepalanya.
Raka dan Gilang pergi mencari Gita, Fara dan Vian bersama tim penyelamat, ikut membantu menyingkirkan reruntuhan rumah dan warga yang masih terjebak di dalamnya.
“Toooloong..” panggil seseorang dengan sangat
lemah. Gilang langsung mengarahkan
senter ke sumber suara.
“Ada orang.” Katanya pelan sambil
berjalan mendekati. Untuk memperjelas pendengarannya.
“Raka bantuin gue ada orang disini.”
Raka menoleh lalu berjalan mendekati
Gilang, “Ok.”
Gilang dan Raka mencoba mengangkat
reruntuhan rumah, yang menjepit orang di situ.
“Raka, lo pegang senter ini biar gue
angkat reruntuhan itu.” Kata Gilang.
“Baiklah.”
Gilang dengan sekuat tenaga mengangkat
reruntuhan atap rumah, dan saat tergeser sedikit terlihat jelas ada yang
terjebak disitu.
“Toloong..” Katanya lagi.
“Tenang kami akan mengeluarkan kamu dari
situ.” Kata Gilang berusaha mengangkat semua reruntuhan.
“Gilang, biar gue minta bantuan dulu.”
Kata Raka.
“Iya, gue tunggu.”
Sembari menunggu tim sar yang lain
datang Gilang masih berusaha mengangkati material yang membuat orang itu
terjebak.
“Sabar ya, sebentar lagi tim akan segera
menyelamatkan kamu.” Kata Gilang.
“Iya, makasih.” Katanya.
Tak lama sekitar lima tim sar datang
__ADS_1
membantu Gilang dan Raka, dan orang itu bisa di selamatkan. Gilang dan Raka
melanjutkan mencari sahabat-sahabatnya yang masih tidak tahu keberadaannya.
“Raka lebih baik kita berpisah saja agar
kita bisa segera menemukan lebih cepat.” Gilang menemukan ide.
“Ok, lo hati-hati sebeah sana tebing
takutnya ada susulan longsor lagi.” Kata Raka.
“Baiklah, lo juga harus hati-hati.”
Gilang memegang pundak Raka lalu berjalan lebih dulu.
Gilang perlahan melewati lumpur yang
sangat licin, dan juga reruntuhan rumah dan pohon yang berserakan kemana-mana.
“Gita... sayang..” Gilang mengarahkan
senternya sembari memanggil Gita saat berjalan beberapa langkah.
“Sayang kamu dimana, kalau mendengar
suaraku panggil atau bunyikan sesuatu.” Panggil Gilang sembari berjalan.
Setelah Gilang selesai bicara ada
seseorang yang mengetuk-ngetuk, Gilang pun menghentikan langkahnya lalu
memberikan cahaya ke sumber suara.
“Tolong..” katanya lumayan keras.
“Gita.. sayang, apa itu kamu?” Gilang
sedikit berlari hingga dia terpeleset dan jatuh. Senternya sedikit terlepar,
sumber suara.
Suara ketukan semakin keras, Gilang
berjalan lebih hati-hati dia tidak mau gegabah dan justru mencelakai dirinya
sendiri dan tak bisa menyelamatkan Gita.
Gilang menggantung senter di lehernya,
dia jadikan kalung agar bisa lebih bebas menolong korban.
“Tolong..” panggil seorang pemuda yang
sudah tak berdaya tertimpa reruntuhan pohon, meskipun tidak terlalu besar namun
karena dia sudah lemas hilang tenaga karena tertimbun lumpur. Dan mungkin juga
sudah terseret lumpur terlalu jauh. Karena dia di temukan di dekat pingir
jurang.
“Ok..ok, sebentar.” Gilang menoleh kanan
kiri namun dia masih jauh sama tim sar.
Gilang pun memutuskan turun tangan sendiri. Akan memankan waktu kalau dia berlari memanggil tim sar karena
jalannya yang lumayan sulit di lalui. Gilang mengangkat ranting-ranting yang menutupi tubuh korban.
Gilang menarik napas dalam-dalam lalu mengeluarkan dengan cepat, bersiap-siap akan mengangkat pohon tumbang yang mengenai bagian lutut kiri korban..
“Satu..dua... tigaaaa!” Teriaknya sambil
mendorong pohon itu dan belum ada pergeseran.
__ADS_1
“Gilang lo harus lebih kuat, satu...dua...tiga!” Pohon tergeser meskipun tidak sepenuhnya bergeser namun
Gilang bisa menarik kaki korban karena bagian tanah berongga. Gilang menarik tubuh orang itu hingga keluar dari timbunan pohon.
Gilang merangkulkan orang itu lalu perlahan mengajaknya berjalan ke tempat evaluasi.
Mereka berdua berjalan terseok-seok karena lampu senter yang mulai redup.
“Apa kamu masih kuat?” tanya Gilang.
“Iya, saya masih kuat.” Jawabnya lemah.
“Baiklah, bertahan sebentar lagi kita akan sampai.” Kata Gilang membenarkan rangkulan korban.
“Terima kasih.”
“Jangan berterima kasih sekarang, tapi kalau kamu sudah selamat dan bisa pulang baru boleh berterima kasih.” Kata Gilang.
“Gilang.” Panggil Raka sambil berlari mendekat kearah Gilang. Raka pun langsung membantu Gilang membawa korban ke tim medis.
“Pak tolong disini ada korban!” Teriak Raka. Tim sar langusng membawa tandu da melakukan perawatan.
“Gimana Raka, apa lo sudah menemukan salah satu dari mereka?” tanya Gilang.
“Gue sudah bertemu Vian.”
“Bagaimana keadaanya?”
“Dia masih pingsan, dia sedang di tangani tim medis.” Kata Raka.
“Kita harus segera menemukan Gita sama Fara, gue akan mencari ke tempat tadi.” Kata Gilang.
“Hujan semakin deras Gilang, lebih baik kita melakukan pencarian besok.”
“Besok, membuang waktu.”
“Tapi Gilang, hujan semakin deras bagaimana kalau terjadi apa-apa sama lo.”
“Lo masih mikirin diri kita, apa lo nggak mikir Gita sama Fara sekarang keadaannya seperti apa. Bagaiamana kalau
dia tertimpa pohon atau tertimbun lumpur di tambah hujan seperti ini. Apa lo tega melihat mereka berdua seperti itu.” Gilang marah karena Raka masih saja memikirkan dirinya sendiri.
“Gue tahu, tapi saat hujan turun seperti ini longor susulan bisa terjadi.” Jelas Raka.
“Gue nggak peduli.” Gilang tetap kekeh mau pergi mencari Gita dan Fara.
“Gita..Vian..” rintih orang yang baru saja lewat di bawa tandu sama tim sar.
“Fara!” Raka langsung berlari.
“Fara...Fara...sayang..” Raka mengusap lumpur di wajah Fara.
Perlahan Fara membuka matanya saat mendengar suara Raka, “Gita...Vian..” panggilnya.
Samar-samar dia mulai melihat wajah Raka, “Raka, ini kamu?” Fara meneteskan air matanya.
“Iya sayang, ini aku.” Raka memeluk Fara yang masih lemah.
“Sayang...Vian..Gita dimana?”
“Kamu yang tenang, Vian ada disana dia sedang di rawat.” Raka menunjuk tandu ketiga dari dirinya.
“Lalu..Gita mana, dia nggak apa-apakan?” Fara menanyakan Gita.
“Gita...” Raka tidak bisa mengatakannya.
“Gita dalam perjalanan kesini, lo nggak usah cemas. Istirahat saja biar segera pulih.” Kata Gilang dari belakang. Raka menoleh ke belakang, Gilang membarikan senyuman sambil mengkode Raka dengan anggukan agar Fara tenang dan cepat pulih.
“Raka, Kak Gilang.. kita harus jemput Gita sekarang. Sudah sampai mana?” Fara mencoba bangkit dan ingin menemui Gita.
“Fara..Fara.. lo tetap tidur jangan banyak gerak. Gita sebentar lagi datang, ok.”
“Benar kan Gita sebentar lagi datang, kalian berdua nggak hanya tenangin gue kan.” Air mata Fara mulai menetes
semakin deras, sederas hujan yang sedang mengguyur desa Candi. Dan sakitnya melebihi dinginnya angin malam yang menusuk-nusuk kulit.
__ADS_1
“Tidak, sebentar lagi Gita akan datang. Biar gue yang menjemputnya.” Gilang berdiri lalu berjalan keluar tenda.