
Gita duduk di teras rumah sambil mendengarkan musik. Dia teringat pembicaraan dengan Qila.
"Ta, gue mohon bujuk Gilang untuk datang ulang tahun gue."
"Kalau di kasih undangan juga bakalan datang kan Kak nggak perlu gue bujuk juga." Jawab Gita enteng.
"Gue mau mengadakan dansa di pesta gue ini sebelum gue ganti status menjadi mahasiswa."
"Memangnya penting Kak, sejak kapan sih Kakak jadi aneh-aneh begini. Kayak bukan Kak Qila aja." Gita merasa aneh dengan Qila.
"Gue cuman ingin mimpi gue terwujud Ta, gue ingin sekali sebelum menjadi mahasiswa pesta gue meriah dan gue bak seorang putri. Lo tahu kan itu?" Qila memandang Gita.
"Ah.. impian waktu sekolah dasar itu, terus gue harus apa?"
"Bujuk Gilang mau jadi pangeran semalam gue. Gue ingin sekali dansa sama dia jadi besok di malam perpisahan sekolah gue afa pasangannya karena udah latihan." Qila sangat berharap Gita mau mengabulkan permintanya.
"Kenapa harus Kak Gilang?" tanya Gita.
"Karena gue suka sama dia sejak dulu." Qila jujur.
"Kenapa baru sekarang Kakak mengakuinya." Gita merasa hatinya tertusuk-tusuk duri mendengar pengakuan Qila. Sedangakan dirinya masih takut mengakui perasaanya.
"Karena sebentar lagi gue lulus dan belum tentu bisa mempunyai kesempatan untuk menyatakannya."
Gita mengacak-acak rambutnya karena merasa frustasi memikirkan permintaan kakak perempuannya itu.
"Hai Git." Devan menyapa Gita lalu duduk di samping Gita.
"Hai." Gita kaget lalu menjauhkan tubuhnya.
"Sedang apa?" Devan basa-basi.
"Duduk-duduk aja, lo ngapain kesini?" Gita to the point.
"Gue mau main aja, boleh kan gue main."
"Ya. Apa lo mau ketemu Kak Qila?"
"Ah nggak gue cuma mau ketemu lo Kok. Lo nggak keberatan kan?"
"Nggak."
"Em.. kita cari es cream kesukaan lo mau nggak?" Tanya Devan ragu. Gita mengangguk, dia menerima ajakan Devan.
__ADS_1
"Yes." Batin Devan.
Devan beruaha mengambil hati Gita lagi, dia ingin bisa dekat seperti dulu lagi. Dan dia juga ingin minta maaf atas kesalahanya waktu itu.
Mereka berdua duduk di depan supermarket dekat komplek. Mereka bedua duduk menikmati es cream yang di belinya sambil melihat kendaraan yang berlalu lalang di depannya.
"Udah lama kita tidak makan es cream seperti ini. Gue kangen bisa seperti ini setiap hari seperti dulu bersama Raka juga." Devan mengungkin masa lalu yang indah. Namun Gita tidak begitu tertarik karena hatinya sudah terlanjur terluka.
"Iya, dulu kita melakukan ini dengan hati yang tulus. Tapi sekarang kita duduk bareng hanya karena ada yang di inginkan." Kata Gita sangat menohok. Devan terdiam lalu melihat Gita. Dia sadar kalau Gita telah menyindirnya.
"Gue minta maaf atas perlakuan gue sama lo." Devan mulai mengatakan tujuanya bertemu Gita.
"Kenapa baru minta maaf sekarang, apa karena perubahan gue?" Gita langsung menyerang.
"Ah.. soal ini, gue terlalu egois dan gengsi untuk langsung minta maaf. Gue masih terlalu emosi jadi tidak berpikir jernih."
"Boleh gue tanya sesuatu?" tanya Gita dengan serius.
"Ya."
"Bagaimana perasaan lo sama Kak Qila?"
Devan menelan es yang baru saja mendaratbdi mulutnya. Dan Gita sudah tidak sabar mendengar jawabannya.
Devan memegang tangan Gita, "Gue benar-benar menyesal pernah berkata kasar sama lo."
Gita terdiam sesaat, dia sedang mengetes hatinya.
"Kenapa sekarang jantung gue biasa saja. Bahkan gue ilfil mendengar perkataannya." Batin Gita sambil menarik tangan yang di pegang Devan.
"Lo sepertinya bukan menyesal karena kesalahan lo. Tapi karena melihat perubahan gue kan. Dan lo mendekati gue lagi karena berusaha membuat Kak Qila cemburu kan."
"Lo kok ngomong seperti itu, gue benar-benar menyesal atas semua kesalahan gue. Bukan karena alasan apa pun."
Gita berdiri, "Sorry Devan, gue terlalu egois untuk bisa memaafkan lo." Gita pergi meninggalkan Devan.
"Gita..Gita.. tunggu." Devan berlari mengejar Gita.
"Ada apa lagi."
"Beri gue kesempatan."
"Untuk?"
__ADS_1
"Memperbaiki semuanya. Gue ingin kita seperti dulu lagi, kita bisa main bareng lagi." Devan memohon. Dia memegang tangan Gita erat namun Gita langsung menariknya.
Gita menjatuhkan ice creamnya ke tanah, "Lihat ice cream itu Van, apa yang terjadi dengan ice cream itu apa bisa seperti semula?" Gita menunjuk ice cream yang dia jatuhkan.
"Icenya akan mencair dan habis, dan hilang mana mungkin bisa kembali seperti semula. Memangnya apa hubunganya dengan kita?" Devan bingung.
"Yah.. seperti itu hati gue Van." Gita berjalan dengan cepat.
"Gita..Git.. gue akan buktikan kalau gue bisa memperbaiki hubungan kita!" teriak Devan.
...◇◇◇◇◇...
"Git, kenapa lo bengong?" tanya Fara.
"Gue lagi bingung." Jawab Gita sambil melihat ke arah Fara lalu Anita.
"Masalah Devan ngejar lo lagi?"
"Bukan Nit, ini lebih ribet daripada itu. Bahkan gue sudah tidak memiliki perasaan apa-apa lagi sama dia."
"Bagus deh kalau sudah tidak ada perasaan lagi." kata Anita sambil mengangkat dua jempolnya.
"Terus masalah lo apa?"
"Kak Qila mau di ulang tahunya nanti ada pesta dansanya dan mau Kak Gilang yang jadi patnernya."
"Apa? gila aja permintaan kakak lo." Anita menggelengkan kepala.
"Kak Qila dari dulu suka sama Kak Gilang, tapi dia tidak berani mengungkapkan. Karena sebentar lagi mau lulus jadi dia ingin tahu perasaan kak Gilang sama dia itu kayak apa." Jelas Gita.
"Git, seantero jagat raya juga tahu kalau Kak Gilang mau itu sama lo bukan Kakak lo atau orang lain." Fara mulai kesal dengan Qila.
"Gue tahu, tapi ini impian kakak gue dari kecil. Bisa dansa sama orang yang dia sukai."
"Memangnya nggak ada yang lain, lagian kenapa jadi kakak nyebelin banget sih. Kalau dia bukan kakak lo udah gue jambak-jambak rambutnya." Fara gemas tangannya gatal ingin menjambak rambut Qila.
"Karena dia kakak gue makannya gue bingung. Gue nggak bisa melihat Kak Qila sedih. Dia sayang banget sama gue bagaimana bisa aku tidak mengabulkan permitaanya. Meskipun gue tahu ini tidak mudah bagi gue."
"Yakan ada orang lain yang bisa di ajak dansa, teman sekelasnya atau siapa gitu. Jangan Kak Gilang yang jelas-jelas lagi dekat sama lo." Anita pun ikut marah-marah.
"Gue harus gimana?" Gita semakin bingung, Fara dan Anita bukannya memberikan solusi tapi justru terus menceramahi dirinya.
"Mana Gita yang kuat, kenapa jadi lemah banget."
__ADS_1
"Entahlah.. gue tidak bisa melakukan itu sama orang-orang yang gue sayang." Jawab Gita dengan nada berat.