Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Kerinduan II


__ADS_3

Fara menyenggol tangan Gita, "Kode tuh."


“Kode apaan?" Gita tidak begitu peduli dengan kode-kode sekitar.


“Ya kode alam, kalau kalian berdua itu jodoh. Sakit barengan, wajah kalian pun


sama. Ya Tuhan terima kasih akhirnya sahabat saya ini mendapatkan penggantinya


Kak Gilang.”


“Ngomong aja terus. Darimana gitu wajah gue sama dia samaan. Suka ngaco nih bocah”


Bughhh......! Suara orang jatuh yang terdengar di telinga Gita dan Fara. Membuat mereka berdua menoleh ke belakang.


“Kak Farhan..!” Seseorang teriak Gita dan Fara bersamaan.Mereka


berdua mendekati Farhan yang sudah tergeletak di lantai.


“Yang cowok tolong dong bawa dia ke klinik.” Seru Gita.


Gita dan Fara sudah duduk di samping Farhan hampir lima belas menit dan dia masih belum siuman.


Gita duduk menatap Farhan, dia mencoba menganalisis wajah cowok itu. Yah benar yang di katakan orang-orang, Farhan memang masuk kategori cowok tampan berkulit putih dan wajah yang menawan. Dia terlihat kalem dan sangat manis apalagi pas senyum memang menambah manis wajahnya. Mendekati sempurna meskipun di dunia tidak ada manusia yang sempurna.


“Gita sadar.” Batin Gita sambil menggelengkan kepalanya. Dia sudah berpikir terlalu jauh.


Farhan perlahan membuka matanya, kepalanya masih terasa berat. Dia kemudian


memfokuskan pandangannya yag tadi masih blur.


“Gita.” Farhan bangkit perlahan suaranya pun masih sangat lemah.


“Kak, udah siuman?” Gita membenarkan posisi duduknya lurus kearah Farhan. Farhan mengangguk pelan.


“Hey Kak, disini ada Fara juga loh. Nggak di sapa juga.” Fara berjalan lalu berdiri di


samping Gita.


“Ah... maaf nggak liat tadi. Makasih ya kalian berdua sudah menjaga gue." Katanya malu-malu. Dia merasa lemah karena sampai pingsan dan harus di jaga dua perempuan pula.


“Kak kalau masih sakit lebih baik pulang saja.” Saran Gita.


“Iya, banyak-banyak istirahan. Makan yang banyak juga, karena kalau makan banyak


biasanya meriang pun nggak jadi.” Oceh Fara.


“Iya makasih ya, kalian sudah perhatian sama gue.  Jadi malu, gue bisa pingsan di depan kalian.”


“Kenapa harus malu...”


“Farhan, lo nggak apa-apa?” Imel berlari masuk lalu menggeser Gita dan Fara. Imel


mengecek kening Farhan.


“Gue sudah baik-baik saja. Lo nggak usah cemas." Farhan menurunkan tangan Imel.


"Kalian ngapain masih disini?" kata Imel yang nggak tahu terima kasih.


“Gita...!" teriak Vian dari lorong sampai di depan pintu klinik. Fara yang udah melongo mau menjawab Imel jadi diam.

__ADS_1


Vian merenges ternyata banyak orang di dalam, "Maaf." Vian meminta maaf.


“Ada apa sih lo, nggak bisa ya pelan sedikit. Ini Klinik.” Fara memarahi Vian.


“Kan gue sudah minta maaf,  Gilang Git..” Vian tidak jadi meneruskan ucapannya lalu mengkode Gita untuk keluar dari klinik.


“Kak Gilang..” Gita antusias lalu keluar tanpa permisi sama yang lain.


“Kak kita permisi dulu ya, cepat sembuh.” Fara pamit lalu menyusul Gita dan Vian.


“Gilang. Siapa dia?” batin Farhan. Dia merasa tidak senang mendengar nama Gilang.


...♤♡♡♡♤...


Vian membawa Gita jauh dari klinik, agar tidak mengganggu orang-orang di sana saat


Gita bereaksi.


“Vian, Kak Gilang kenapa buruan?” Gita tidak sabar.


“Lo belum buka instagram ya?” Vian balik tanya. Gita menggeleng cepat, dia


mengambil ponselnya di tas. Dengan cepat kilat dia langsung menuju ke instagramnya.


Gita terpaku melihat postingan Gilang, yaitu foto gelang pemberiannya yang melingkar di tangan Gilang. Dan captionsnya membuat Gita kembali tidak karuan.


...“Aku merindukan kalian yang jauh...


...disana,jaga kesehatan dan makan yang baik tunggu sebentar aku akan segera...


...kembali.”...


Mata Gita panas dan tak perlu lama air matanya menetes, namun bibirnya tersenyum lebar. Antara sedih dan bahagia, dia tidak tahu lagi apa yang sedang dia


“Git, lo kenapa nangis.” Fara mengambil ponsel Gita. Fara melongo setelah membaca


postingan Gilang juga.


“Itu benaran dia yang pegang istagramnya kan?” Gita gemetar.


“Tentunya, masa ada yang membajaknya nggak mungkin lah. Lo tahu kan siapa saja yang berani memegang hp Gilang.” Kata Vian.


“Berarti Kak Gilang sebentar lagi akan pulang. Aaa.....!"Gita tiba-tiba teriak dan


loncat-loncat kegirangan.


“Vian, cubit gue.” Gita mengulurkan tangannya.


“Beneran nih, lo nggak bakalan balas gue kan?”


“Nggak. Buruan.” Suruh Gita.


“Baik.”Vian pun mencubit tangan Gita.


“Aaa...sakit. Berarti ini nggak bohong, nggak mimpi dan juga nggak halu.” Katanya


sampil loncat-loncat lagi.


“Sesenang itu kah Gita, meskipun postingan itu belum tentu buat dia.” Kata Fara.

__ADS_1


“Jangan bikin dia down lagi.” Kata Vian. Dia lebih suka lihat Gita yang bar-bar daripada galau.


“Ada apa ini?” Raka melihat ada kehobohan dari Gita.


“Raka, lihat ini.” Gita menunjukan postingan Gilang.


Raka tersenyum senang, melihat


Gita yang dari kemarin lesu kini kembali semangat meskipun badannya masih belum


sehat. Hal kecil dari Gilang benar-benar sangat mempengaruhi kehidupan Gita.


“Apa Kak Gilang beneran akan pulang?” tanya Fara, dia agak curiga dengan Raka yang ekspresinya biasa saja. Seakan dia tahu segala hal.


“Tentu saja pulang, rumah dia disini kan.”


Fara mengangguk pelan, dia semakin curiga saja dengan pacarnya. Kenapa dia bisa


sesantai itu dari dulu. Bahkan tidak menyuruh Gita untuk cari yang lain dan


membiarkan Gita untuk tidak move on.


“Kenapa melihat aku seperti itu?” tanya Raka. Fara tersenyum lalu menggelengkan


kepalanya.


Sesampai di rumah Gita masih terus membaca postingan Gilang, dia mengetik di kolom komentar menanyakan kapan Gilang akan pulang. Tapi setelah mengetiknya dia


kemudian menghapusnya lagi. Dia lupa kalau itu akun kedua untuk stalking Gilang


agar dia tidak ketahuan kalau stalking.


 Gita melihat bulatan pojok kiri atas di layar


ponselnya, dia langsung klik saat juga. Gilang memposting makan


...“Aku udah makan, dan minum vitamin...


...dan aku siap untuk tidur. Jangan lupa juga ya. Selamat Malam”...


Bibir Gita mengembang, “Apa dia sekarang sudah tidak sibuk, sudah kembali lagi di


instagram.” Katanya.


Hari ini Gita seperti di kabari oleh Gilang bertubi-tubi, meskipun dia hanya menghalu jika pesan itu di tujukan sama dia. Seenggaknya dia tahu kalau Gilang baik-baik saja di sana.


“Belum tidur?” Sambut Raka sembari menaruh susu di meja kecil samping kasur Gita.


Gita menggeleng pelan, dia kemudian menunjukan ponselnya. “Raka, Kak Gilang sekarang udah mulai aktif lagi. Apa dia sudah nggak sibuk lagi?”


“Bisa jadi. Ya kan sesibuk-sibuknya orang juga bakalan pegang hp. Nggak ada


orang yang bisa lepas hp sepenuhnya juga.” Kata Raka.


“Benar, hhm.. katanya dia akan segera kembali apa kuliah di sana sangat cepat?” tanya Gita lagi.


“Dia kan pintar, ya siapa tahu kalau dia pulang karena memang kukiahnya sudah selesai atau hanya sekedar untuk liburan.”


“Benar juga, apa gue bakalan ketemu dia lagi Ka?” Gita mulai galau lagi.

__ADS_1


“Tergantung lo nya, kalau lo mau ketemu pasti ada jalan untuk bertamu. Sekarang minum susunya dan cepat istirahat. Dan tetap sehat agar bisa ketemu Gilang.” Raka


mengusap kepala Gita lembut.


__ADS_2