
"Kak, kok diem?" Gita membuyarkan lamunan Gilang.
"Em, sorry gue nggak bisa. Buru-buru ada urusan." Kata Gilang dengan datar.
"Oh.. iya Kak. Gue cabut dulu." Gita tersenyum tipis lalu berbalik segera ke halte. Dia kecewa terhadapa harapanya sendiri yang terlalu pede kalau Gilang akan membantunya.
"Gilang." Panggil Qila.
"Ya."
"Bisa nggak nganterin gue pulang, soalnya nggak ada yang jemput?" tanya Qila.
"Ok, gue lagi nggak sibuk kok. Buruan deh naik." Jawab Gilang.
Deg!
Gita langsung berbalik arah, rasanya sakit banget saat mendengar jawaban Gilang. Mata Gita berkaca-kaca, dia lalu berlali cepat ke halte saat air langit mulai berjatuhan.
"Apaan sih lo Ta, cengeng banget lagian kan hak dia mau bantuin lo apa nggak." Gita menghapus air matanya. Dia mencoba tegar dan kembali menjadi Gita yang tidak cengeng.
Hampir setengah jam Gita menunggu sendirian di halte depan sekolah. Gita menghentak-hentakkan kakinya karena mulai bosan.
"Kenapa semua orang tidak bisa di hubungi kalau gue lagi butuh. Kebiasaan banget sih." Gerutu Gita. Dia berdiri mengecek jauh dari arah datangnya angkot.
"Akhirnya." Gita melambaikan tangannya.
Byuuuukkkkkk! Angkot itu berhenti dan membuat genangan air mengguyur tubuh Gita.
"Ya ampun Bang, bisa nggak hati-hati. Lihat nih baju gue basah dan kotor." omel Gita.
"Ya maaf nggak tahu, buruan deh Neng masuk nanti gue kasih diskon." Kata sopir angkot.
"Janji ya." kata Gita sambil masuk ke angkot. "Yah... Abang lagi."
"Ah.. Neng lagi pantesan apes mulu." ujar sopir angkot.
"Yang ada gue kali Bang yang apes." Gita nggak mau kalah.
...◇◇◇◇◇...
Gita turun di depan perumahan karena angkotnya tidak masuk ke perumahan. Gita memberikan uang saku berlari di hujan yang besar.Dia berlari dengan tas di atas kepalanya.
Gita mengehentikan langkahnya saat matanya bertemu dengan mata Gilang. Gita membalikan badanya, dia harus segera menghindar untuk lewat pintu belakang.
Gilang terdiam, menyesal membiarkan Gita pulang dengan basah kuyup dan menggigil. Wajah Gita pun terlihat pucat.
"Lang..." Panggil Gita dari dalam sambil membawa cemilan dan minum untuk Gilang.
"Hem." Lamunan Gilang seketika buyar.
"Kok ngalamun, ada apa?"
__ADS_1
"Raka apa sudah pulang?"
"Belum. Tumben juga dia belum pulang biasanya dia nggak bisa lama-lama jauh dari Gita."
"Pantesan Gita datang kesini?"
"Oiya... dimana dia?" Qila berdiri untuk melihat Gita. "Dia pulang sama Devan?"
"Nggak dia pulang sendiri."
"Kenapa bisa, pasti Gita hujan-hujanan gimana kalau dia sakit. Devan kenapa nggak tanggung jawab. Kalau dia nggak bisa kan tadi bisa bareng kita." omel Qila.
"Kalian berdua sayang banget ya sama Gita."
"Tentu saja, kami tumbuh bersama pasti kita saling menyayangi." Kata Qila.
"Qila, gue balik dulu ya." Gilang pamit pulang.
"Kenapa buru-buru, baru saja gue bawain makan sama minuman." Qila menahan Gilang.
"Iya, gue lupa hari ini harus jemput kakak gue." Gilang beralasan agar boleh pulang.
"Baiklah, hati-hati ya hujannya sangat deras."
"Iya."
Setelah kepergian Gilang, Qila langsung berlari masuk untuk menemui Gita.
"Ya, Gita di kamar." jawab Gita pelan.
"Kenapa lo pulang hujan-hujanan sih?" Qila duduk di sebelah Gita yang berbalutkan selimut.
"Ya kan nggak ada yang bisa jemput, mau gimana lagi."
"Katanya mau balik sama Devan?" Qila memegang kening Gita takut adiknya itu sakit.
"Devan mendadak ada acara, jadi nggak bisa nganterin pulang."
"Dia memang nggak bisa dinpercaya, ini kakak buatin teh hangat." Qila memberikan teh hangat yang di buatnya.
"Makasiih Ka, lo emang kakak gue yang the best banget." Gita menciun Qila lalu meneguk perlahan tehnya.
"Kak," Panggil Gita sambil menaruh cangkir di meja kecil sebelah dia tidur.
"Ada apa?"
"Apa Kakak sama Kak Gilang dekat?"
"Lumayan, kenapa emang?" Qila menatap Gita heran.
"Nggak apa-apa, Kakak suka ya sama Kak Gilang." Gita ingin tahu isi hati kakaknya itu.
__ADS_1
"Siapa sih yang nggak suka sama Gilang, lo kenapa cemburu Gilang dekat sama gue?" tanya Qila.
"Aah... nggak. Gita cuma tanya aja. Lagian kalau kakak bahagia Gita juga ikut bahagia." Gita senyum tipis.
"Yah, semoga saja Gilang segera tembak gue." Qila senyum-senyum. Raut wajahnya merona.
"Pantes saja Gilang lebih memilih nganterin Kak Qila. Ternyata sudah sedekat itu." batin Gita.
Hari ini hati Gita gundah gulana, satu sisi sakit hati saat Gilang menolak untuk mengantarnya. Namun satu sisi dia harus bahagia atas kebahagiaan kakaknya itu.
"Ta!"
"Em.."
"Malah bengong, mikirin apa coba?" tanya Qila.
"Mikirin Raka, kenapa dia nggak pulang-pulang."
"Coba lo hubungin dia, kakak tinggal dulu ya mau ngerjain tugas." kata Qila.
Gita mengangguk lalu mengambil ponselnya. Dia berusaha untuk menghubungi Raka.
"Nomor yang ada tuju sedang tidak aktiv cobalah tunggu beberapa saat lagi."
Gita menunduk lesu, "Raka, kenapa lo pergi sungguhan sih. Gue kehilangan lo." Gita menjatuhkan tubuhnya. Dia benar-benar butuh Raka saat ini. Dia sedang memiliki banyak pikiran dan dia ingin berbagi.
...◇◇◇◇◇...
Sementara Gita memikirkan Raka, Gilang yang baru sampai rumah terus menggerutu dirinya yang terlalu bodoh membiarkan Gita pulang dengan hujan-hujanan.
"Gilang, lo kenapa bego banget sih. Gimana kalau dia sakit." Gilang mengacak-acak rambutnya.
"Gilang, kenapa lagi lo. Tiap hari suntuk, uring-uringan." tanya Andini yang baru saja masuk ke kamar Gilang.
"Kalau masuk bisa ketuk pintu dulu nggak."
"Iya..iya.. Lo kenapa kusut gitu."
"Kak, tadi Gita minta tolong sama gue untuk anterin pulan tapi Gilang tolak." Gilang curhat.
"Loh, kenapa?"
"Tadinya Gilang mau move on jadi Gilang mencoba membiasakan diri menjadi orang asing."
"Kalau emang lo mau move on tindakan lo benar biar kalian berdua saling berjauhan, tapi apa yang membuat lo kusut gini?"
"Tadi kan Gilang bilang nggak bisa karena sibuk, tapi sepertinya tahu kalau gue nganteri sahabatnya. Sedangakan dia pulang hujan-hujan, basah kuyup sampai menggigil."
"Gita pasti sakit hati banget sekarang."
"Benarkah? tapikan dia tidak ada hati sama Gilang gimana bisa sakit hati."
__ADS_1
"Adik gue yang ganteng, pinter sekarang lo pikirlah. Dia minta bantuan dulu lo ketusin dan tolak. Eh lo malah nganterin sahabatnya itu sakitnya sampai ubun-ubun tahu." jelas Andini. Gilang terdiam, otaknya terus memikirkan Gita. Dia mau telpon gengsi nggak telpon kepikira terus.