
Sudah lebih dari setengah jam Gita ngikutin Gilang muter-muter cari buku. Dan dia memutuskan untuk duduk karena kakinya sudah pegal.
"Harusnya dia pacaran sama buku bukan pacaran sama manusia." Keluhnya.
"Ini lagi kaki, kalau buat shoping mah berjam-jam juga kuat. Giliran yang berbau-bau bikin pinter kok ya langsung capek." Gita meregangkan tangannya meluruskan kedua kakinya. Setelah itu dia menaruh tangan di atas meja untuk bantal kepalanya.
Rasa ngantuk muncul, kelopak matanya sudah tak kuat terangkat. Ac di dalam toko buku menambah kenyamanan untuk tidur.
Setalah beberapa saat Gilang baru sadar kalau Gita sudah tidak ada di belakangnya.
"Kemana Gita?" Gilang celingukan. Dia menaruh buku yang di pegangnya lalu memutari toko buku.
Gilang tidak melihat Gita, dia panik lalu mengambil ponselnya.
"Ngambek nih pasti." Gumam Gilang. Gilang menempelkan ponsel di telingannya. Dia menari kembali saat mendengar dering ponsel milik Gita. Gilang berjalan ke arah sumber suara.
Dia menghela napas lega, lalu tersenyum melihat Gita yang tertidur. Dia ikut duduk, dia menatap lekat Gita.
"Lo kalau tidur gini semakin manis aja, semakin jatuh cinta gue sama lo." Gilang memegang pipi Gita.
"Ta...Bangun" Gilang membisiki telinga Gita sambil mengelus rambut Gita pelan.
"Eeemm... udah selesai tuh sama buku-bukunya." gumam Gita pelan dan merubah posisi kepalanya.
"Udah.. yuk kita pulang." Gilang kembali mengelus kepala Gita.
Gita duduk tegap lalu merapikan rambutnya dengan menggelengkan kepalanya.
"Kak, lapar." Kata Gita dengan mata yang belum sempurna terbuka sambil memegang perutnya.
"Ayo kita makan, lo boleh makan apa aja." Gilang menggandeng tangan Gita membawa ke rumah makan.
Sambil menunggu makanan datang Gita mempersiapkan diri untuk ngomong tentang permintaan teman-temannya.
"Ta.."
"Hem?"
"Ada yang mau di omongin?" Gilang melihat Gita sangat gugup.
"Em iya Kak, tapi bingung cara ngomognya." Gita meringis.
"Pakai bingung segala, udah buruan kayak ngomong sama siapa saja." Gilang penasaran.
"Begini gue, Fara, Vian, dan Raka nilai ulangan jeblok. Dan kita kalau nilai ujian nanti jeblok lagi kita nggak akan naik kelas. Jadi mereka minta tolong kakak untuk di ajari." Gita langsung menggigit bibirnya setelah selesai ngomong. Dia was-was dengan jawaban Gilang. Karena Gilang memasang wajah serius.
"Ok." Jawab Gilang dengan senyuman.
Bibir Gita langsung merekah, "Beneran Kak, " Gita memegang tangan Gilang.
__ADS_1
"Iya, apa sih yang nggak buat lo. Besok setelah pulang sekolah kita akan belajar di perpustakaan." kata Gilang.
"Siap."
"Buruan makan." Kata Gilang setelah makananya datang. Gita mengangguk langsung menyantap makanan yang di pesannya.
Selesai makan Gilang mengajak Gita jalan-jalan ke mall. Gilang mengajak Gita pergi ke toko perhiasan.
"Ngapain kesini Kak?"
"Mau cari sesuatu." Jawabnya sambil melihat-lihat.
"Kita belum mau lamaran loh." Gita tegang, takut tiba-tiba dia melamarnya. Sedangkan dia mengurus dirinya sendiri belum becus, dan masih sangat menjadi beban orang tua.
"Ya emang belum, memangnya kalau kita pergi ke toko perhiasan kita bakalan tunangan ataupun nikah." jawab Gilang dengan santainya.
"Terus mau ngapain?" Gita berjalan agak cepat agar sejajar jalannya dengan Gilang.
"Lihat-lihat saja." jawab Gilang enteng.
"Ini gue salah pilih pacar nggak sih, kok jadi aneh gini." Batin Gita.
"Mbak, pesanan saya sudah ada?" Kata Gilang tiba-tiba.
"Eh.. pesan apaan nih pacar gue." batin Gita sambil memperhatikan.
"Ada Mas, sebentar saya ambilkan." Jawab penjaga toko.
"Yok pulang." ajak Gilang selesai membayar.
"Tadi pesanan apa?" Gita kepo.
"Ada deh." jawab Gilang sambil menggandeng tangan Gita. Dia masih ingin merahasiakan apa yang dia beli.
"Buat siapa?" tanya Gita lagi. Dia semakin kepo karena Gilang tidak mau memberitahunya.
"Seseorang." jawabnya sambil tersenyum.
"Cewek?"
"Pastinya."
"Spesial?"
"Sangat spesial."
"Buat kado Nyokap atau kak lo ya."
"Bukan."
__ADS_1
"Gue kan, iya pasti gue kan." Gita menebak dirinya setelah tebakan untuk keluarga gilang salah. Gilang diam tidak langsung menjawab.
Gita menghentikan langkahnya, dia melepaskan genggaman tangannya.
"Ka, lo jangan main-main sama gue. Kalau emang ada cewek lain jangan pacaran sama Gita." Gita marah.
"Ssttt.. malu ah marah-marah di tempat umum." Gilang tertawa kecil lalu memeluk Gita.
"Lepasin Gita, jangan peluk-peluk." Wajah Gita memerah, matanya berkaca-kaca. Gilang menarik tangan Gita dan mengajaknya ke parkiran. Dan segera mengajak Gita pulang.
"Lepasin, gue bisa pulang sendiri." Gita memberontak. Dia hendak pergi, tangan Gilang langsung menahannya.
"Tenang kenapa sih, marah-marah mulu. Lagi pms ya." kata Gilang.
"Nggak lucu tahu nggak."
"Iya..iya.. jangan marah ya." Gilang mengelus lembut kepala Gita.
"Nggak marah gimana kalau pacarnya beliin perhiasan untuk cewek lain." Gita marah sambil menangis.
Gilang tersenyum, karena kasian sama Gita dia mengambil kalung dengan bandul inisial GG yang sudah dia pesan sejak lama sebelum mereka jadian.
Seketika Gita terdiam, saat Gilang memekaikan kalung dengan bandul huruf inisial GG.
"GG, jadi perhiasan yang lo pesan itu buat gue?" Gita memegang bandulnya.
"Iya bawel, kalaung ini adalah hadiah buat lo bukan cewek lain. Gue awalnya mau kasih di tempat yang romantis, eh gagal." kata Gilang.
"Jahat banget sih, udah bikin gue jantungan." Gita akhirnya menangsi dan memukul dada Gilang. "Lagian mau kasih suprize kenapa guenya dia ajak."
Gilang tersenyum lalu menarik Gita dalam pelukannya.
"Ah.. benar juga. Gue nggak pandai untuk memberi kejutan. Kalung ini hadiah jadian kita, dan selama kalung ini ada sama lo maka selamanya lo akan menjadi milik gue ." Bisik Gilang.
"Kenapa nggak bilang dari tadi kan gue jadinya nggak akan negatif thingking." Gita sesenggukan.
"Ya gimana ya, pingin aja gitu jahilin lo. Udah ah jangan nangis nanti cantiknya ilang." Gilang mengusap air mata Gita. Gilang menatap lekat Gita yang masih sedikit sesenggukan.
Gilang menundukan kepalanya, dia mengecup lembut pipi kanan Gita. Kedua mata Gita terbelalak, tubuhnya tiba-tiba membeku. jantungnya berdegup kencang.
"Pulang yuk." ajak Gilang. Gita masih diam terpaku dia belum sadar. Rasanya masih terbang tinggi ke langit tujuh.
"Ta.." Gilang menggeraka-gerakan tangannya di depan wajah Gita. Namun Gita tak berkedip sedikitpun. Dia masih asyik dengan khayalannya.
"Gita." Gilang mencubit pipi Gita."
"Ah.." Gita kaget, dan juga bingung.
"Lo kenapa bengong gitu?"
__ADS_1
Gita nyengir, "Nggak." Gita langsung masuk ke mobil karena malu.
"Ta..Ta.. baru juga di cium pipi lo udah terbang kemana-mana, gimana kalau di cium bibirnya. Sumpah bakalan malu-maluin ini mah."