
Gita duduk bersila di atas kasur, dengan laptop di depannya da beberapa makanan
ringan di sampingnya. Dia sibuk mengerjakan pekerjaan kantornya, dia menyiapkan materi untuk meeting pagi.
Gita membuka galeri dan melihat foto-foto jaman dulu semasa masih sekolah. Masa-masa yang penuh dengan kenangan. Gita kembali mengenang dan merindukan kehadiran Gilang.
Gita menoleh ke ponselnya yang masih sepi, sama sekali tidak ada panggilan dan pesan
dari Gilang.
“Apa semuanya akan berakhir begini saja.” Keluhnya. Semua kenangan akan kah lenyap hanya karena satu masalah.
Tok..tok...tok..
“Gita, boleh gue masuk?” Fara meminta ijin Gita untuk masuk ke kamarnya.
“Masuk aja Far, nggak di kunci.” Sahut Gita.
“Masih belum kelar juga?” tanya Fara sembari naik ke kasur.
“Udah kelar kok, Cuma lagi melihat foto-foto kita masa SMA. Lo baru datang?” tanya Gita balik.
“Iya baru aja datang, tapi Raka sedang pergi ya udah gue samperin lo aja. Eh.. ini
foto kita bertiga lucu amat ya. Masih jamet.” Fara menunjuk foto nya dengan tawa.
“Benar, masih cupu kita lihat tubuh gue masih segede gaban.” Gita mengatai dirinya
sendiri.
“Wah.. Kak Gilang sama Raka tuh kalau di lihat-lihat sebenarnya lucu ya. Wajahnya imut, tapi kenapa gue dulu lihatnya ngeseliin aja.” Kata Fara saat melihat foto selanjutnya yaitu foto Gilang dan Raka
memakai seragam SMA.
“Iya, gue dulu juga nggak kepikiran kalau mereka itu imut.” Gita terkekeh. Dua lelaki yang super nyebelin pada waktu itu terlihat sangat imut ketika mereka sudah dewasa.
“Git, gimana sekarang lo sama Kak Gilang?” Fara mengalihkan pembicaraan.
“Entahlah, gue juga nggak ngerti. Sampai sekarang Kak Gilang juga nggak menghubungi gue.” Kata Gita dengan raut muka di tekuk.
“Ya kalau Kak Gilang belum hubungin lo, itu tandanya Kak Gilang nungguin lo dulu
yang menghubungi. Gimana sih nggak peka deh lo.” Kata Fara.
“Kenapa gue, kan gue nggak salah.” masih saja kekeh dengan asumsinya.
“Iya memang nggak salah, tapi kan sisi permasalahan ada sama lo. Kak Gilang tuh
cemburu karena lo ngobrol sama Devan. Jadi kamu harus kasih penjelasan sama dia.” Jelas Fara.
“Dia juga nggak mau mendengar penjelasan gue, jadi buat apa gue capek ngejelasin. Dia juga nggak merasa kehilangan kan dengan nggak adanya gue. Jadi udahlah biarin saja."
“Hah.. kalian itu udah mau menikah berarti udah dewasa kenapa masih kayak pacaran anak SMA sih. Cemburu dikit saja langsung lost contak.” gerutu Fara.
“Dia dulu yang mulai.” Gita masih kekeh tidak mau minta maaf lebih dulu karena dia
merasa tidak salah.
“Gita, dengerin gue di luaran sana ada banyak cewek yang mengincar Gilang. Dengan lo seperti ini berarti lo memberikan celah bagi mereka untuk mendekati Kak Gilang. Lo nggak takut tuh?”
Gita terdiam, dia sedang mencerna apa yang di katakan Fara. Dia jadi ingat saat ngobrol sama Bella.
“Far.”
“Hem.”
“Kemarin waktu gue ngomong mau mengambil harta kak Gilang. Ingat nggak lo?"
“Ya. Kenapa?”
__ADS_1
“Bella nyusulin gue ke kantin, dia menanyakan kenapa gue bilang seperti itu dan juga menanyakan bagaimana kalau ada orang yang mendekati Kak Gilang. Meurut lo apa dia juga termasuk cewek yang menyukai Kak Gilang?” Tanya Gita was-was.
“Bella ngomong begitu?” Fara menatap Gita lekat.
“Iya. Sebenarnya gue mengatakan itu hanya tak tik saja. Gua dan Vian merencanakan ini untuk menangkap siapa penghinat dari perusahaan kita. Dengan statmen seperti itu siapa tahu dia akan datang mengajak gue kerja sama dan bisa menangkapnya.” Jelas Gita.
“Kenapa lo nggak bilang dari awal, gue udah sebal aja sama lo.” Fara kesal karena tidak di beritahu.
“Kemarin lo belum datang.”
“Jadi sekarang lo mencurigai Bella?”
“Gue belum bisa bilang seperti itu, Cuma sedang mengamati saja.”
“Kalau memang dia pelakunya awas aja, gue bakalan tendang itu bocah dari depan sampai luar kantor. Nggak tahu diri banget kalau sampai dia berani melakukan itu. Udah
di baikin malah neglunjak.” Emosi Fara meninggi.
“Entahlah, gue bingung sampai sekarang gue juga belum menemukan siapa orangnya.”
“Git, tapi gue kok beberapa hari ini nggak lihat Fajar di kantor ya.”
“Oiya, gue sampai lupa kalau di team kita ada si Fajar.” Kata Gita.
“Perubahan Fajar sangat kelihatan saat Kak Gilang sama lo publikasi sebagai pasangan.”
“Atau jangan-jangan..” Gita menghentikan bicaranya lalu memandang Fara.
“Balas demdam karena nggak bisa mendapatkan lo.’ Kata Fara pelan.
“Bisa jadi, kita harus bergerak cepat berati Far. Bagaimana kalau besok kita mulai
selidiki Fajar.” Kata Gita.
“Iya..kita mulai jadi detektif.”
“Jangan lupa ajak Vian, dia akan sangat membatu kita. Matanya sangat jeli melihat
“Tentu saja, tapi jangan lupa sama Bella kita juga harus hati-hati. Gue takut dia itu
semacam ular diam-diam tapi mematikan.”
“Ok.”
Derrtzz...deertzzz...derrzzz...
Ponsel Gita bergetar, dia menoleh sebentar lalu kembali menatap Gita.
“Siapa Git? Kenapa nggak di angkat?” tanya Fara.
“Devan.” jawabnya dengan malas.
“Dia masih menghubungi lo?” Fara mengambil ponsel milik Gita.
“Iya, tapi gue nggak pernah angkat dan chat nggak pernah gue bales.”
“Maubapa sih dia, orang juga udah mau menikah kok masih saja menghubungi cewek lain. Dasar cowok nggak benar.” Fara menekan tombol merah.
Tak lama, Devan menelpon Gita lagi yang membuat Fara kesal dan mengangkat panggilannya.
“Halo Gita, kenapa lo matiin telpon gue.” Tanya Devan.
“Eh Devan, ngapain sih lo masih saja gangguin Gita. Mikir dong lo udah mau menikah, jaga perasaan calon istri lo.” Cerocos Fara.
“Eh.. siapa nih?” Devan kaget karena suaranya beda.
“Nggakbpenting siapa gue. Yang penting itu lo jauh-jauh dari kehidupan teman gue.”
“Kalau gue nggak bisa bagaimana?” Devan ngelunjak.
__ADS_1
“Ya itu derita lo, makanya jadi cowok itu jangan songong sok mandang fisik orang.
Giliran Gita udah cantik saja lo kejar-kejar. Dasar bocah frik.” Kata Farablangsung mematikan sambunganbteleponnya.
“Bisa-bisanya dia bilang seperti itu.” Fara melipat kedua tangannya di dada.
“Lo juga ngapain, orang kayak dia di ladenin malah makin jadi biarka saja. Udah deh
blok aja nomornya. Bikin riweh.” Gita meminta ponselnya, dan siap memasukan
Devan di daftar hitam ponselnya.
Ting!
...Devan...
...Bilang sama Gita, kalau gue akan merebut dia dari Gilang...
“Dasar, orang gila.” Kata Gita sambil berdesis saat membaca pesan dari Devan.
“Kenapa Git?” Fara kepo.
Gita melihatkan chat dari Devan, “Emang dasar bocah frik.” Celoteh Fara.
“Berarti kita menambah kewaspadaan kita, yaitu Devan. Dia pasti akan nekat melakukan apa saja.”
“Gue rasa seperti itu, gue jadi takut sama Devan. Ternyata waktu banyak mengubah
banyak hal ya. Dia yang dulu gue rasa imut, baik, nyatanya sekarang dia tamak dan serakah."
“Pada dasarnya memang dia seperti itu dari dulu, hanya saja tidak terlihat karena lo
mencintai dia. Orang yang sudah jatuh cinta biasanya matanya akan buta dengan
kejelekan dari orang yang dia sukai.” ujar Fara.
“Yah, bisa dibilang seperti itu. Gue dulu juga suka nggak percaya kalau di kasih tahu
Raka kalau Devan itu tidak baik.” Kata Gita.
"Sayang." Panggil Raka sambil membuka pintu kamar Gita.
"Ya."
"Noh pangeran lo datang, sana pergi." Usir Gita.
"Hehe.. bye..bye.. gue mau pacaran dulu." Kata Fara sambil beranjak yurun dari kasur.
Gita mengambil ponselnya, dia meilhat kontak milikk Gilang. Dan tidak ada satu pesan
pun yang masuk dari Gilang. Gita ingin memulai dengan mengirim pesan duluan.
Namun dia kembali menghapusnya.
“Ngeselin banget sih.” Ujarnya sambil melempar ponselnya ke kasur.
Sebenarnya dia sangat rindu sama Gilang, tapi bagaimana lagi dia tidak mau menghubungi
Gilang dulu. Dia terus mengatakan kalau nggak salah jadinya gengsi kalau dia
yang menghubunginya dulu.
“Kak Gilang kenapa nyebe,in banget sih.” Gita menggelundungkan tubuhnya ke kanan
kekiri.
“Ah.. gue kangen banget. Atau janga-jangan Kak Gilang sudah mempunyai cewek lain
jadinya nggak kangen dan nggak mau menghubungi aku lagi.” Gita kembali duduk.
__ADS_1
Dia di buat overtingking lagi sama pikiranya sendiri.