
Gita memainkan ponselnya, dia kepikiran terus dengan menurunnya nilai Gilang.
"Far, Nit apa gue putus aja ya sama Kak Gilang?" tanya Gita.
"Lo ngomong apaan sih Git, masalah seperti ini nggak ada hubungannya sama hubungan kalian. Ya mungkin Kak Gilang belum terlalu memahami materi yang terbaru." Anita tidak setuju dengan ide Gita.
"Iya Git, lo jangan gegabah dan terpengaruh sama dua manusia nggak punya akhlak itu." Kata Fara.
"Gita, kalau lo putus yang ada Kak Gilang drop. Dan nilainya makin hancur." Kata Anita.
"Iya Git, Kak Gilang tuh cinta banget sama lo jadi jangan macem-macem deh. Ya kalau lo merasa bersalah karena ngajak dia main aja. Gimana kalau lo sekarang kencannya ke toko buku, perpustakaan. Meskipun gue tahu lo akan bosan banget." Tambah Anita.
"Bisa di bilang gue harus berkorban gitu kan." kata Gita sambil melihat kearah Fara dan Anita.
"Nah.. pinter." jawab Anita sambil menjentikkan jari telunjuk dengan jempolnya.
"Baiklah, gue akan lakuin semua itu agar nilai Kak Gilang meningkat lagi."
"Gitu dong, jangan lemah jadi cewek. Lo harus tetap mempertahankan Gilang." Kata Fara.
"Laksanakan."
"Tapi saran gue sih Git, lo bawa makana atau apa gitu. Gue tahu akan bosan banget disana." Fara memberiakan saran.
"Mana bisa seperti itu, yang ada Gita di suruh keluar." Kata Anita.
"Kenapa nggak bisa?"
"Fara sayang, itu perpustakaan bukan taman bermain yang bebas bawa masuk makanan." Jawab Anita dengan sewot.
"Itu tuh yang buat kita nggak kerasan di sana, pelit banget nggak boleh bawa makanan." kata Gita.
"Hadeh.. berat ya ngomong sama kalian emang." Anita rasanya menyerah kalau ngomong sama Gita dan Fara ngeyel terus kalau di kasih tahu.
...♡♤♤♤♡...
"Sayang, kita jalan yuk." ajak Gilang.
"Kemana?" tanya Gita.
"Makan, nonton atau kita sepedaan di taman." Gilang memberikan ide.
"Gimana kalau kita ke perpustakaan atau ke toko buku."
Gilang mengerutkan keningnya, dia heran biasanya dia anti dengan dua tempat itu. Tapi sekarang justru dia yang merekomendasikan.
"Ada apa nih?"
"Nggak ada apa-apa, cuma lagi pingin aja belajar." Gita menggandeng Gilang menuju perpustakaan.
“Ok, kita ke perpustakaan sekarang.” Gilang menggandeng Gita.
Gilang langsung membuka buku untuk
belajar, Gita juga berusaha untuk belajar. Dia mengambil buku biologi, dia hendak mengoreksi kesalahan menjawab saat ulangan.
"Yakin kita cuma belajar aja?" Gilang meyakinkan Gita. Dia masih tidak percaya Gita mengajaknya ke perpustakaan.
"Yakin, sangat yakin." Jawab Gita mantap. Gilang mengangguk-angguk.
Baru saja berjalan sepuluh menit mata
Gita sudah terasa pedas, mulutnya menguap terus. Rasanya sudah tidak kuat berada di perpustakaan.
“Kalau belajar kenapa mata ini tiba-tiba
tidak punya kekuatan, sepertinya semua buku pelajaran ada sihirnya yang buat
menyerap energi gue. Dan menjadikan gue putri tidur.” Gumam Gita pelan. Gita melirik kearah Gilang yang fokus banget sama bukunya.
Gita beranjak memutari rak-rak buku
untuk mencari novel atau komik yang bisa dia baca untuk menghilangkan jenuh saat menemani Gilang belajar. Karena dia hanya akan tidur jika terus dipaksa untuk membaca buku pelajaran.
“Darimana?” bisik Gilang saat Gita kembali duduk.
“Cari buku.” Jawab Gita dengan berbisik
juga.
__ADS_1
“Ok, kalau nanti sudah bosan belajarnya
bilang ya.” Kata Gilang sambil menggandeng tangan Gita. Gita melirik ke tangannya, dia mengangguk sambil tersenyum.
“Ternyata pacaran di perpustakaan asyik
juga, namanya jadi sambil menyelam minum air. Kak Gilang bisa belajar dan kencan juga sama gue.” Batin Gita sambil senyum-senyum.
Waktu sudah berjalan dua jam lebih, Gita
sudah sangat bosan. Namun melihat Gilang yang masih serius dia lebih memilih meletakkan kepalanya di meja. Dan tidak mengganggu belajarnya Gilang.
Gilang meregangkan lehernya yang tersa
pegal, dia melihat Gita yang terlelap tidur. Gilang tertawa kecil saat melihat buku yang di baca Gita ternyata komik bukan buku belajaran.
“Gita, sayang.” Bisik Gilang membangunkan Gita.
“Stttt, jangan berisik. Kak Gilang sedang belajar nanti terganggu.” Kata Gita dengan mata masih terpejam.
Gilang memberesi bukunya lalu memasukan
ke tasnya, dia juga membereskan milik Gita juga.
Gilang membawa kedua tasnya, lalu
menggendong Gita yang masih tertidur lelap. Gilang sedikit kesusahan untuk
membuka pintu, sehingga dia meminta seorang siswa yang lewat untuk membantu
membukannya.
“Makasih ya.” Kata Gilang pelan.
“Sama-sama.”
Gilang perlahan meletakkan Gita di kursi
depan, “Semakin berat aja ya lo.” Gilang mencium kening Gita.
Gita merenggangkan kedua tangan sambil
menguap, “Kak, pulang yuk Gita udah capek.” Kata Gita.
lekas menjawab ajakannya. Gita mengucek kedua matanya saat dia membuka mata
sudah berada di kamarnya. Dia kemudian melihat kearah tubuhnya yang masih
terbalut seragam.
“Tadi gue temani Kak Gilang belajar itu
mimpi apa sungguhan ya?” Gita menggaruk
kepalanya.
Gita merebahkan tubuhnya lagi sambil
meraih ponselnya, sambil mengecek apa ada pesan masuk dari ponselnya.
...Gita...
...Kak Gilang, lagi dimana?...
...Gilang...
...Di rumah, baru bangun ya?...
...Gita...
...Em, kok tahu Gita baru bangun tidur...
...Gilang...
...Memangnya apa sih yang nggak gue...
...tahu dari lo...
...Gita...
__ADS_1
...Dasar gombal...
...Kak Gita mau cerita deh, tadi itu Gita mimpi kalau kita kencan di perpustakaan. Apa ini tandanya kalau besok kita harus kencan di perpustakaan?...
...Gilang...
...Gita sayang, lo tidak bermimpi....
...Tadi kita memang kencan dan lo tidur...
...Gita...
...Ha?!...
...Tidur?...
...Gilang...
...Ya, lo tidur bahkan gue bangunin...
...juga nggak bangun...
...Gita...
...Terus?...
...Gilang...
...Ya dengan kekuatan cinta gue sama...
...lo, gue gendong dari perpustakaan sampai parkiran dan menuju kamar lo....
...Gita...
...“Beneran?”...
...Gilang...
...Ya masa gue bohong, tanya aja Bik...
...Nana...
...Gita...
...Hehe...
...Maaf, jadi makin tambah sayang aja...
...sama lo...
...Muuch......
Gilang langsung beralih ke panggilan, setelah
mendapat balasan pesan terakhir dari Gita.
“Halo, ada apa Kak?” tanya Gita.
“Mau minta imbalan.”
“Imbalan?” Gita bingung.
“Iya, Gue udah gendong lo sampai mau
patah tangan gue masa nggak dapat imbalan apa-apa.”
“Memangnya apa imbalannya?”
“Cium.”
“Ok, muuach.’ Gita mencium Gilang.
“Nggak mau kalau lewat telepon.”
“Terus?”
“Besok pagi, Gue akan jemput lo baru gue
tagih imbalannya.” Kata Gilang.
__ADS_1
“Nakal ya, mencari kesepatan saja.” Gilang
tertawa mendengar omelan Gita.