Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Bakti sosial III


__ADS_3

Pukul tujuh semua berkumpul untuk mengadakan rapat kecil sebelum sosialisasi kepada warga di mulai. Farhan dan Jordan akan membagikan team untuk kegiatan dua hari ke depan.


“Selamat malam teman-teman, sebelum kita


bersosialisasi kepada warga, saya akan membagi kelompok selama kita disini. Kita akan membagi menjadi enam kelompok jadi setiap anggota berisikan lima orang.”  Jelas Jordan.


“Team satu, Farhan, Gita, Fara...”


“Gue.” Imel mengangkat tangannya. Dia


mengajukan diri gabung dengan kelompok Farhan.


“Gue juga ikut team Farhan.” Kata Vian.


“Vian lo team kedua, karena grub Farhan


sudah berisikan lima orang sama gue.” Jelas Jordan.


“Sial, pasti ini ide mereka.” Batin Vian


sembari menatap Jordan dengan tatapan curiga.


“Kenapa lo menatap gue seperti itu? nggak suka?” tanya Jordan. Dia senyum penuh dengan kemenangan.


“Suka ataupun nggak juga nggak akan


merubah keadaankan.” Jawab Vian sambil melipat kedua tangannya di dada. Dia


menyenderkan tubuhnya di dinding dengan santai.


Setelah pembagian team mereka melakukan


penyuluhan tentang lingkungan bersih, jadi hari pertama besok mereka akan kerja


bakti membersihkan kampung. Mereka menjelaskan bahayanya nyamuk demam berdarah, dan juga bagaimana pencegahnya.


“Makasih ya Mas Farhan, setiap tahun


sudah mau kesini. Warga disini sangat senang dan selalu menantikan kedatangan


Mas Farhan dan teman-teman semua.” Kata Pak Darma Lurah di Desa Candi.


“Sama-sama Pak, kami juga senang kok


setiap tahun bisa di terima disini. Lingkungan di desa Candi semakin bersih dan rapi.” Kata Farhan.


“Iya Mas, berkat kedatangan kalian warga


jadi lebih mengerti pentingnya kebersihan lingkungan, mereka tidak membuang sampah sembarangan lagi, sangat tertata." Kata Pak Darma.


"Sebenarnya semua ini kerja keras Pak Darma, kami hanya sedikit saja memberi ilmu yang kami tahu. Dan warga disini memang sangat tanggap." Kata Farhan merendah, namun dengan niatan untuk meroketkan diri di hati Gita.


"Mas Farhan bisa saja." Mereka berdua saling memuji.


Selama ini Farhan sangat terkenal dengan kepemimpinannya yang bagus, dan sikapnya yamg bijaksana. Dia memang sangat di segani.


Setelah sedikit berbincang mereka


langsung kembali ke rumah untuk istirahat. Fara selesai bebersih diri langsung


naik ke kasurnya dan terlelap tidur, sedangkan duduk di sebelah Fara sambil


melakukan video call sama Gilang.


“Eh.. kenapa nih sinyalnya begini.” Gita


mengangkat ponselnya ke atas.


Meskipun sudah berusaha menaikan


ponselnya masih saja tidak ada sinyal, Gita berjalan keluar siapa tahu di luar


dia bisa menemukan sinyal. Dia hendak menghubungi Gilang, seperti janjinya


kalau dia akan tetap menghubungi Gilang disaat ada waktu luang.


Gita berdiri di teras sembari mengangkat


ponselnya keatas, dia mendengus kesal karena sinyal tak kunjung datang.


“Cari sinyal ya?” tanya Farhan sambil


berjalan mendekati Gita.


“Iya Kak, susah banget sinyalnya.”  Kata Gita sambil menurunkan ponselnya.


“Disini susah sinyal, jadi kadang ada


kadang nggak tapi sering nggak adanya. Disini tuh masih jauh darimana-mana dan


akses internet juga masih minim.” Farhan menjelaskan keadaan desa ini.


“Terus mereka tidak menggunakan


internet?”


Farhan menggeleng pelan, “hanya beberapa

__ADS_1


orang yang benar-benar membutuhkan itu pun harus keluar dari desa ini.” Kata


Farhan.


“Bagaimana dengan sekolah mereka, pasti


akan butuh internet juga.” Gita semakin penasaran dengan desa Candi yang


menurutnya masih tertinggal.


“Akan ada relawan yang datang ke sekolah


setiap seminggu dua kali untuk mengajari anak-anak disini.”


Gita mengangguk-angguk, “Jadi kita nggak


bisa menghubungi keluarga kita?” Gita sedih karena tidak bisa menghubungi Gilang.


“Kalau lo memang mau menghubungi


keluarga lo, gue bisa ajak lo keluar desa ini.”


“Benarkah?”


“Iya, kita harus ke desa sebelah. Selain


sinyal mulai ada di sana juga sudah ada supermarket. Kita bisa belanja.”


“Apa jauh?”


“Tidak hanya setengah jam dari sini


kalau naik mobil atau motor.” Jelas Farhan.


“Baik Kak, terima kasih ya. Em Gita


istirahat ya. Sampai bertemu besok pagi.” Gita pamit masuk lebih dulu.


“Iya, selamat istirahat Gita.” Jawab


Farhan dengan sumringah.


...♡♤♤♤♡...


Pagi ini semua siswa dan warga sedang


membersihkan lingkungan dengan membersihkan sampah, Gita dan Farhan yang selalu bersama membuat Imel kesal.


“Farhan, air galonnya habis. Ada


relawankah yang mau beli?” tanya salah satu mahasiswa bagian konsumsi.


“Ok Mel.”


“Kalau sendiri gue pasti nggak bisa, gue ajak Gita ya.” Katanya. Dia mempunyai ide yang sangat bagus dengan mengajak Gita.


“Gue ikut.” Fara mengangkat tangannya.


“Ya elah, berdua aja cukup kali. Lo


disini saja terusin tuh kerjanya.” Kata Imel.


“Lo disini saja. Gue sebentar, oiya lo mau nitip apa?” Kata Gita.


“Makanan ringan, sama roti si Vian


kasian kalau malam meronta-ronta kelaparan.” Kata Fara.


“Ok.”


Sepanjang perjalanan ke supermarket Gita


dan Imel saling diam, mereka tidak ada komunikasi sama sekali. Gita melihat


keluar jalan, menikmati indahnya pemandangan di daerah Desa Candi yang masih asri. Banyak tebing dan tumbuhan tinggi disini.


Setelah sampai mereka langsung mengambil


beberapa kebutuhan, dan ide Imel yang licik muncul dia segera meninggalkan Gita yang masih membeli makanan.


“Gita gue ke toilet sebentar.” Seru


Imel.


“Iya, gue tunggu di mobil.” Jawab Gita


sambil pergi ke kasir.


Tak lama Gita keluar mencari mobil yang


membawanya ke supermarket, “Kemana mobilnya parkir, perasaan tadi di sini deh


atau gue lupa?” tanya Gita pada dirinya sendiri.


Gita mondar-mandir di depan supermarket


lalu dia pergi ke toilet yang ada di sebelah supermarket namun dia tidak menemukan Imel juga. Gita hendak mengambil ponsel di kantongnya namun sayang sekali dia tidak membawanya, bahkan dia lupa dimana menaruh ponselnya.

__ADS_1


“Maaf, permisi Pak apa melihat mobil


silver yang tadi parkir di sini?” tanya Gita sama tukang parkir.


“Sudah pergi sepuluh menit yang lalu


mbak.”


“Sialan, gue di kerjain Imel nih pasti.”


Gita mengumpat dalam hati.


“Maaf Pak, disini ada angkot atau tukang


ojek yang bisa mengantar ke desa Candi?” tanya Gita.


“Ada mbak, tapi dari sini harus jalan


setengah kilo dulu.” Tukang parkir menunjuk ke lain arah dengan menuju desa


Candi.


“Aduh gimana ya, jauh banget. Bapak ada


motor?”


“Ada Mbak.”


“Bisa tolong anterin saya ke sana, nanti


saya akan bayar.” Katanya.


“Bisa Mbak, sebentar ya saya akan ambil


motornya dulu.


Gita merasa lega ada orang yang baik mau


mengantarnya kesana, Gita sudah sangat jengkel dan siap melabrak Imel saat


sampai di sana.


Gita turun dari motor sembari memberikan


uang dua ratus ribu kepada tukang parkir itu.


“Mbak ini kelebihan banyak banget, cukup


lima puluh ribu saja.” Kata Tukang parkir.


“Nggak apa-apa Pak, ambil saja.” Kata


Gita langsung pergi.


“Makasih Mbak.”


“Sama-sama.”


Gita langsung kembali berkumpul dengan


yang lain, “Kaka Imel mana?” tanya Gita.


“Lah tadi kan pergi sama lo kok tanya


kita?” kata Jordan.


“Iya tadi pergi bareng tapi tadi


mobilnya sudah pergi, gue juga pulang naik ojek.” Jelas Gita.


“Lo yang bener, mobilnya juga belum


pulang.” Kata Jordan berubah cemas.


Mobil warna silver yang mereka bicarakan


baru saja kembali, Imel turun lalu lari ke arah yang lain.


“Gita, lo darimana saja sih gue cariin


juga.” Kata Imel.


“Kak Imel yang dari mana, Gita keluar


supermarket sudah tidak ada mobilnya. Untung ada tukang parkir yang baik mau


nganterin.”


“Lo pasti berencana meninggalkan Gita


kan.” Sahut Fara yang dari tadi jongkok memunguti sampah.


“Jangan sembarangan menuduh, gue bilang


mau ke toilet pas gue kembali sudah tidak ada.” Imel ngeles.


“Sudah-sudah, sekarang kan sudah kumpul.

__ADS_1


Jangan berantem di sini tidak enak kalau di lihat warga. Kalian segera bersiap


kita akan membagikan sembako setelah makan siang.” Kata Faran.


__ADS_2