
Pukul tujuh semua berkumpul untuk mengadakan rapat kecil sebelum sosialisasi kepada warga di mulai. Farhan dan Jordan akan membagikan team untuk kegiatan dua hari ke depan.
“Selamat malam teman-teman, sebelum kita
bersosialisasi kepada warga, saya akan membagi kelompok selama kita disini. Kita akan membagi menjadi enam kelompok jadi setiap anggota berisikan lima orang.” Jelas Jordan.
“Team satu, Farhan, Gita, Fara...”
“Gue.” Imel mengangkat tangannya. Dia
mengajukan diri gabung dengan kelompok Farhan.
“Gue juga ikut team Farhan.” Kata Vian.
“Vian lo team kedua, karena grub Farhan
sudah berisikan lima orang sama gue.” Jelas Jordan.
“Sial, pasti ini ide mereka.” Batin Vian
sembari menatap Jordan dengan tatapan curiga.
“Kenapa lo menatap gue seperti itu? nggak suka?” tanya Jordan. Dia senyum penuh dengan kemenangan.
“Suka ataupun nggak juga nggak akan
merubah keadaankan.” Jawab Vian sambil melipat kedua tangannya di dada. Dia
menyenderkan tubuhnya di dinding dengan santai.
Setelah pembagian team mereka melakukan
penyuluhan tentang lingkungan bersih, jadi hari pertama besok mereka akan kerja
bakti membersihkan kampung. Mereka menjelaskan bahayanya nyamuk demam berdarah, dan juga bagaimana pencegahnya.
“Makasih ya Mas Farhan, setiap tahun
sudah mau kesini. Warga disini sangat senang dan selalu menantikan kedatangan
Mas Farhan dan teman-teman semua.” Kata Pak Darma Lurah di Desa Candi.
“Sama-sama Pak, kami juga senang kok
setiap tahun bisa di terima disini. Lingkungan di desa Candi semakin bersih dan rapi.” Kata Farhan.
“Iya Mas, berkat kedatangan kalian warga
jadi lebih mengerti pentingnya kebersihan lingkungan, mereka tidak membuang sampah sembarangan lagi, sangat tertata." Kata Pak Darma.
"Sebenarnya semua ini kerja keras Pak Darma, kami hanya sedikit saja memberi ilmu yang kami tahu. Dan warga disini memang sangat tanggap." Kata Farhan merendah, namun dengan niatan untuk meroketkan diri di hati Gita.
"Mas Farhan bisa saja." Mereka berdua saling memuji.
Selama ini Farhan sangat terkenal dengan kepemimpinannya yang bagus, dan sikapnya yamg bijaksana. Dia memang sangat di segani.
Setelah sedikit berbincang mereka
langsung kembali ke rumah untuk istirahat. Fara selesai bebersih diri langsung
naik ke kasurnya dan terlelap tidur, sedangkan duduk di sebelah Fara sambil
melakukan video call sama Gilang.
“Eh.. kenapa nih sinyalnya begini.” Gita
mengangkat ponselnya ke atas.
Meskipun sudah berusaha menaikan
ponselnya masih saja tidak ada sinyal, Gita berjalan keluar siapa tahu di luar
dia bisa menemukan sinyal. Dia hendak menghubungi Gilang, seperti janjinya
kalau dia akan tetap menghubungi Gilang disaat ada waktu luang.
Gita berdiri di teras sembari mengangkat
ponselnya keatas, dia mendengus kesal karena sinyal tak kunjung datang.
“Cari sinyal ya?” tanya Farhan sambil
berjalan mendekati Gita.
“Iya Kak, susah banget sinyalnya.” Kata Gita sambil menurunkan ponselnya.
“Disini susah sinyal, jadi kadang ada
kadang nggak tapi sering nggak adanya. Disini tuh masih jauh darimana-mana dan
akses internet juga masih minim.” Farhan menjelaskan keadaan desa ini.
“Terus mereka tidak menggunakan
internet?”
Farhan menggeleng pelan, “hanya beberapa
__ADS_1
orang yang benar-benar membutuhkan itu pun harus keluar dari desa ini.” Kata
Farhan.
“Bagaimana dengan sekolah mereka, pasti
akan butuh internet juga.” Gita semakin penasaran dengan desa Candi yang
menurutnya masih tertinggal.
“Akan ada relawan yang datang ke sekolah
setiap seminggu dua kali untuk mengajari anak-anak disini.”
Gita mengangguk-angguk, “Jadi kita nggak
bisa menghubungi keluarga kita?” Gita sedih karena tidak bisa menghubungi Gilang.
“Kalau lo memang mau menghubungi
keluarga lo, gue bisa ajak lo keluar desa ini.”
“Benarkah?”
“Iya, kita harus ke desa sebelah. Selain
sinyal mulai ada di sana juga sudah ada supermarket. Kita bisa belanja.”
“Apa jauh?”
“Tidak hanya setengah jam dari sini
kalau naik mobil atau motor.” Jelas Farhan.
“Baik Kak, terima kasih ya. Em Gita
istirahat ya. Sampai bertemu besok pagi.” Gita pamit masuk lebih dulu.
“Iya, selamat istirahat Gita.” Jawab
Farhan dengan sumringah.
...♡♤♤♤♡...
Pagi ini semua siswa dan warga sedang
membersihkan lingkungan dengan membersihkan sampah, Gita dan Farhan yang selalu bersama membuat Imel kesal.
“Farhan, air galonnya habis. Ada
relawankah yang mau beli?” tanya salah satu mahasiswa bagian konsumsi.
“Ok Mel.”
“Kalau sendiri gue pasti nggak bisa, gue ajak Gita ya.” Katanya. Dia mempunyai ide yang sangat bagus dengan mengajak Gita.
“Gue ikut.” Fara mengangkat tangannya.
“Ya elah, berdua aja cukup kali. Lo
disini saja terusin tuh kerjanya.” Kata Imel.
“Lo disini saja. Gue sebentar, oiya lo mau nitip apa?” Kata Gita.
“Makanan ringan, sama roti si Vian
kasian kalau malam meronta-ronta kelaparan.” Kata Fara.
“Ok.”
Sepanjang perjalanan ke supermarket Gita
dan Imel saling diam, mereka tidak ada komunikasi sama sekali. Gita melihat
keluar jalan, menikmati indahnya pemandangan di daerah Desa Candi yang masih asri. Banyak tebing dan tumbuhan tinggi disini.
Setelah sampai mereka langsung mengambil
beberapa kebutuhan, dan ide Imel yang licik muncul dia segera meninggalkan Gita yang masih membeli makanan.
“Gita gue ke toilet sebentar.” Seru
Imel.
“Iya, gue tunggu di mobil.” Jawab Gita
sambil pergi ke kasir.
Tak lama Gita keluar mencari mobil yang
membawanya ke supermarket, “Kemana mobilnya parkir, perasaan tadi di sini deh
atau gue lupa?” tanya Gita pada dirinya sendiri.
Gita mondar-mandir di depan supermarket
lalu dia pergi ke toilet yang ada di sebelah supermarket namun dia tidak menemukan Imel juga. Gita hendak mengambil ponsel di kantongnya namun sayang sekali dia tidak membawanya, bahkan dia lupa dimana menaruh ponselnya.
__ADS_1
“Maaf, permisi Pak apa melihat mobil
silver yang tadi parkir di sini?” tanya Gita sama tukang parkir.
“Sudah pergi sepuluh menit yang lalu
mbak.”
“Sialan, gue di kerjain Imel nih pasti.”
Gita mengumpat dalam hati.
“Maaf Pak, disini ada angkot atau tukang
ojek yang bisa mengantar ke desa Candi?” tanya Gita.
“Ada mbak, tapi dari sini harus jalan
setengah kilo dulu.” Tukang parkir menunjuk ke lain arah dengan menuju desa
Candi.
“Aduh gimana ya, jauh banget. Bapak ada
motor?”
“Ada Mbak.”
“Bisa tolong anterin saya ke sana, nanti
saya akan bayar.” Katanya.
“Bisa Mbak, sebentar ya saya akan ambil
motornya dulu.
Gita merasa lega ada orang yang baik mau
mengantarnya kesana, Gita sudah sangat jengkel dan siap melabrak Imel saat
sampai di sana.
Gita turun dari motor sembari memberikan
uang dua ratus ribu kepada tukang parkir itu.
“Mbak ini kelebihan banyak banget, cukup
lima puluh ribu saja.” Kata Tukang parkir.
“Nggak apa-apa Pak, ambil saja.” Kata
Gita langsung pergi.
“Makasih Mbak.”
“Sama-sama.”
Gita langsung kembali berkumpul dengan
yang lain, “Kaka Imel mana?” tanya Gita.
“Lah tadi kan pergi sama lo kok tanya
kita?” kata Jordan.
“Iya tadi pergi bareng tapi tadi
mobilnya sudah pergi, gue juga pulang naik ojek.” Jelas Gita.
“Lo yang bener, mobilnya juga belum
pulang.” Kata Jordan berubah cemas.
Mobil warna silver yang mereka bicarakan
baru saja kembali, Imel turun lalu lari ke arah yang lain.
“Gita, lo darimana saja sih gue cariin
juga.” Kata Imel.
“Kak Imel yang dari mana, Gita keluar
supermarket sudah tidak ada mobilnya. Untung ada tukang parkir yang baik mau
nganterin.”
“Lo pasti berencana meninggalkan Gita
kan.” Sahut Fara yang dari tadi jongkok memunguti sampah.
“Jangan sembarangan menuduh, gue bilang
mau ke toilet pas gue kembali sudah tidak ada.” Imel ngeles.
“Sudah-sudah, sekarang kan sudah kumpul.
__ADS_1
Jangan berantem di sini tidak enak kalau di lihat warga. Kalian segera bersiap
kita akan membagikan sembako setelah makan siang.” Kata Faran.