
Gita melambat kunyahanya saat melihat Gilang terus memandangi dirinya.
"Kenapa menatap gue seperti itu?" tanya Gita dengan mulut penuh.
Gilang tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, "Nggak, senang aja bisa lihat lo sedekat ini."
"Aneh banget sih loh, memangnya apa menariknya gue. Lihat muka gue juga pipi doang." Kata Gita sambil memasukan nasi ke dalam mulutnya.
"Ya mungkin karena muka lo pipi semua gue jadi senang melihatnya." kata Gilang sambil tertawa kecil.
"Tahu nggak lo itu orang teraneh yang gue temui. Ganteng, pinter, tajir tapi lo sukanya sama gue yang sama sekali nggak goodloking." kata Gita dengan pedenya.
"Dan lo juga orang teraneh yang pernah gue temui karena nggak suka sama orang yang ganteng, tajir dan pinter." Gilang membalikan omongan Gita.
"Lo ya selalu saja membalikan omongan gue." Gita manyun, sedangkan Gilang tertawa.
Gita menaruh sendoknya setelah merasa sangat kenyang. Gita nggak sengaja sendawa lalu menutup mulutnya rapat-rapat.
"Upss, maaf." Kata Gita, dia tidak sebar-bar dulu ketika baru kenal Gilang.
"Nggak apa-apa udah biasa juga." Gilang tersenyum. Gilang memajukan tangannya lalu memegang keningnya.
"Lo masih demam, apa sudah ke dokter?" tanya Gilang.
"Belum, tapi gue baik-baik saja kok. Cukup istirahat sebentar juga gue akan baikan lagi." kata Gita sambil melepaskan tangan Gilang. Jantung Gita kali ini berdebar cepat berbeda dengan biasanya saat ketemu Gilang. Tubuhnya tiba-tiba memanas.
"Aduh.. kenapa nih. Ada yang nggak beres sama gue. Apa gue mau pingsan ya?" batinnya.
"Maafin ya, karena gue lo jadi sakit begini." kata Gilang sambil melihat mata Gita.
"Kenapa minta maaf, lo nggak salah kok. Kan itu hak lo mau memberikan pertolongan gue apa nggak. Lagian emang harusnya mementingkan orang yang di sayang dari pada orang lain."
"Orang yang di sayang?"
"Ya, lo kan lagi dekat sama Kak Qila, jadi lo harus mementingkan dia daripada orang lain." Gita mencari informasi tentang Qila dan Gilang.
"Gue nggak pedekate sama Qila, kita kerja bareng di osis jadi ya kita dekat." Gilang mencoba menjelaskan hubungannya dengan Qila.
"Kenapa nggak jadian aja sama kak Qila, dia cantik, baik hati pula." Gita tiba-tiba mencomblangkan Gilang sama kakaknya.
__ADS_1
"Kenapa lo nggak jadian aja sama gue, gue kan ganteng, pinter pula."
Gita melebarkan kedua matanya karena perkataanya di balik lagi.
"Udah habisin makanannya nggak usah bahas yang nggak penting. Habis ini kita ke dokter." kata Gilang.
"Gue nggak mau ke dokter." Gita geleng kepala.
"Kenapa?"
"Ya pokoknya nggak mau, gue baik-baik saja."
"Haaaah... ya sudah sekarang lo gue anterin pulang." Gilang berdiri.
"Gue pulang sendiri aja, lagian gue mau ke rumah Raka dulu." Gita menolak dianterin karena dia bingung nanti mau turun di rumah siapa.
"Gue anterin sekalian gue mau tahu juga apa Raka sudah pulang." Gilang tetap kekeh mau nganterin Gita pulang.
"Ya deh kalau lo maksa." Gita berdiri.
Gilang berjalana di belakang Gita, Untuk menjaga Gita. Dia takut tiba-tiba Gita jatuh karena terlihat masih sangat lemas meskipun Gita mencoba biasa.
"Nggak apa-apa." Gilang belum mau berjalan di samping Gita.
Gita berhenti lalu menarik tangan Gilang, "Berjalan di samping gue atau gue nggak mau dianterin pulang sama lo." ancam Gita.
Gilang tidak mendengarkan ancaman yang di berikan Gita, dia justru tertarik dengan tangannya yang di genggam Gita. Gita mengikuti arah pandangan Gilang dan tersadar, dia menarik tanganya namun balik di genggam erat sama Gilang.
"Biarkan gue gandeng atau gue akan tetap jalan di belakang lo." kini giliran Gilang yang mengancam Gita.
Meskipun tangannya menjadi berkeringat Gita pun mengangguk nurut saja. Dia nggak mau Gilang di belakang seperti pemgawalnya saja.
"Jantung.. lo kenapa berdebar kencang lagi. jangan-jangan lo udah... ah.. tidak. Cinta lo kan buat Devan. Anggap saja hari ini Gilang malaikat bukan orang yang lo suka Gita." Batin Gita.
Gilang membukakan pintu mobil, lalu melepaskan pegangan tangannya. Gita tersenyum dia merasa sangat tersanjung. Meskipun kecewa dan tak sesuai rencana Gita merasa senang dengan kehadiran Gilang.
Sepanjang perjalanan Gita tidak banyak bicara, dia justru tertidur di mobil. Sesekali Gilang mencuri pandang ke arah Gita.
Sesampai di depan rumah Gita, Gilang tak langsung membangunakannya. Dia menatap Gita lekat.
__ADS_1
"Kenapa lo susah banget sih gue dapatin, dan susah banget buat move on dari lo." Kata Gilang.
Gilang merapikan rambut Gita yang menutupi majahnya sedikit. Gilang memegang pipi kiri Gita. Kemudian memajukan wajahnya. Dia memberikan kecupan di kening Gita.
Gilang langsung menarik tibuhnya saat Gita menggeliat dan membuka matanya perlahan.
"Gilang apa yang lo lakuin coba, gimana kalau Gita tahu pasti dia nggak mau ketemu lo selamanya." batin Gilang dengan jantung yang berdegup kencang.
"Kita udah sampai?" Tanya Gita lemah.
"I..iya. Kita baru sampai." Kata Gilang gugup.
Gita membuka mobil lalu turun dan di ikuti Gilang. Mereka berdua jalan baru beberapa langkah langsung berhenti melihat Devan baru keluar rumah.
"Devan, lo di sini?" Tanya Gita sambil mendekat.
"Iya Git, sorry belum bisa kabarin lo. Tadi waktu jalan ke sana gue ketemu kak Qila dan dia jatuh makanya gue anterin pulang dulu. Ini sebenarnya baru mau kesana." Kata Devan tanpa bersalah sama sekali.
"Kak Qila jatuh? Apa kakak baik-baik saja?" Gita berjalan masuk.
"Gue baik-baik saja Ta, cuma lecet dikit." Qila keluar dari rumah.
"Sepertinya nggak parah?" kata Gilang.
"Iya Lang, cuman lecet dikit kok. Tapi Devan aja yang terlalu panik dan membawa gue ke rumah sakit."
"Devan, lo bisa sekawatir itu sama Qila yang luka ringan daripada Gita yang hampir pingsan gara-gara janji lo yang nggak di tepati." Gilang marah.
"Devan, lo ada janji sama Gita?" Qila menatap Devan. Dia jadi merasa bersalah sama Gita.
"Iya, cuman tadi gue udah kirim whatsapp agar dia makan lalu pulang. Ya kan Git?"
Gita mengangguk pelan, padahal nggak ada pesan yang masuk. Dia nggak mau memperkeruh keadaan.
"Gita yang salah, tadi nggak buka whatsapp jadi terlalu lama menunggu." ujarnya sambil masuk ke dalam tanpa permisi. Dia kecewa kesal dengan Devan.
"Lain kali kalau tidak bisa menepati janji jangan berjanji, kalau lo nggak bisa bikin dia bahagia setidaknya tidak bikin kecewa." Kata Gilang sambil pergi meninggalkan rumah Gita.
Qila bengong, dia tidak tahu apa-apa namun merasa dialah penyebab masalahnya.
__ADS_1