
Gita meregangkan kedua tangannya saat
turun dari bus, dia tersenyum melihat Gilang yang bersandar di mobilnya sembari melipat kedua tangannya di dada.
Dia seperti melihat seorang CEO di drama yang sering dia tonton. Sangat tampan, berdemage dan tak bisa dia untuk mengabaikannya, di tambah kacamata hitam dan jas yang di pakainya membuat tak hanya dirinya yang meleyot melihatnya.
“Hhm, jaga tuh mata. Nanti jatuh,
ngelihatin calon suami gue.” Kata Catrin sedikit menyenggol Gita dan dia
sengaja menyeret kopernya menginjak kaki Gita.
“Aaah.. manusia halu dasar lo.” Kata
Gita sambil mengangkat satu kakinya. Catrin menoleh dengan memberikan lirikan
ingin membunuh tapi Gita hanya membalas dengan menjulurkan lidah.
Gilang berdiri tegak lalu menghampiri
anak buahnya, dia ingin berterima kasih karena semua anak buahnya sudah bekerja
sangat keras untuk projek kali ini.
“Selamat sore semua, saya ucapkan terima
kasih kepada kalian semua yang telah bekerja keras untuk proyek kali ini.
Semoga kerja keras kalian ini membuahkan hasil yang luar biasa dan di terima
oleh masyarakat.”
“Amin.” Jawab mereka serentak.
“Dan besok saya akan memberikan libur
untuk kalian. Selamat sore dan selamat beristirahat saya akan menunggu kerja
keras kalian lagi.”
“Yeeee!” semua teriak happy karena
mendapatkan libur, setelah beberapa hari kerja di luar perusahaan. Mereka
langsung membubarkan diri untuk pulang ke rumah masing-masing.
“Gue mau molor seharian besok, jadi
kalian berdua jangan ganggu gue.” Nino menunjuk Ina dan Win yang selalu saja
mengganggu liburnya. “Kalian juga.” Nino menunjuk Gita, Fara dan Vian.
“Idih berasa paling penting saja lo.”
Kata Ina.
“Emang, udah lah gue mau cabut pulang.”
Nino melambaikan tangannya.
“Nino, anterin gue pulang!” seru Ina
sambil mengejar Nino.
“Ogah, sama Win sana.” Nino menolak.
“Gita, lo mau bareng sekalian sama gue?”
tanya Win.
“Nggak usah, gue bareng Vian saja yang
sejalan.”
“Ok, kalau gitu gue duluan.”
“Iya Mas.”
“Lila, kamu juga boleh pulang dulu.
Besok kamu juga ambil libur biar saya yang menghendel semua pekerjaannya. Kamu
pasti lelah dari kemarin repot.” Kata Gilang.
“Makasih Bos.” Kata Lila. Dia pamit
undur diri.
“Kalau gitu guejuga balik dulu deh, Vian
sekarang lo anterin gue ya Raka nggak bisa jemput ada urusan katanya.” Fara
__ADS_1
meminta di anterin Vian.
“Kalian bertiga bareng gue saja, biar
gue anterin.” Kata Gilang.
“Nggak usah Lang, gue bawa mobil sendiri
kok.” Vian menolak karena membawa mobil.
“Gampang mobil lo nanti biar sopir gue
yang bawain, kalian pasti capek kan di dalam bus. Udah buruan masuk.” Gilang merangkul Gita membawa ke mobilnya dan
membukan pintu untuk Gita.
“Makasih sayang.” Kata Gita. Gilang
mengangguk sembari tersenyum tak lupa tangannya dia taruh di atas kepala Gita.
Takut kepalanya membentur karena Gita sering sembarangan.
Gilang mengemudi untuk membawa ketiga
orang spesialnya itu, meskipun dia jarang menunjukan secara jelas namun dia
selalu mengistimewakan mereka bertiga saat di kantor.
“Kalian tidur saja, nanti kalau sudah
sampai gue bangunin.” Kata Gilang. Dia tisak tega melihat wajah capek mereka
bertiga. Tanpa basa-basi mereka pun langsung memejamkan matanya. Gita yang
awalnya berniat menemani Gilang menyetir pun tetap tertidur.
Setelah hampir dua jam mengemudi
akhirnya Gilang memarkirkan mobilnya, dia meregangka lehernya, lalu kedua
tangannya.
“Sayang bangun.” Bisik Gilang di telinga
Gita.
“Udah sampai ya.” Gita meregangkan kedua
“Vian.. Fara bangun.” Gilang
membangunkan Vian dan Fara pelan takutnya mereka kaget.
Vian menggaruk-garuk pipinya sembari
menarik tubuhya hingga terduduk tegak, dia perlahan turun di susul Fara dan
Gita. Mereka bertiga belum sadar kalau mereka turun bukan di depan rumah
masing-masing.
“Eh.. kita dimana?” Gita tersadar.
“Iya, kita bukannya di rumah ini dimana
sih?” Fara menoleh kanan-kiri yang tampak sangat asing.
“Ini di hotel bukan sih kita?” Vian
melihat ke arah Gilang.
“Iya, kalian masuk saja aku sudah
pesankan kamar buat kalian bertiga.” Kata Gilang.
“Sayang kamu nanti satu kamar sama Fara,
lo sama gue Vian.” Kata Gilang mengajak Gita, dan juga kedua temannya yang
masih bingung antara belum sepenuhnya sadar karena bangun tidur dan juga
bingung karena Gilang tidak membawa mereka ke rumahnya justru mengajaknya
nginep di hotel.
Gita melangkah pelan agar berjalan
sejajar dengan Gilang, sembari dia ingin bergelayutan dengan Gilang.
“Memangnya ada acara apa? Kok membawa
kita ke mari?” tanya Gita.
__ADS_1
“Besok kan kalian libur, jadi aku aja
kalian liburan. Kita udah lama kan nggak liburan bareng ya ini buat hadiah
kalian semua yang sudah bekerja keras.” Kata Gilang sembari mengusap kepala
Gita lembut.
“Wah.. lo emang bos paling the best deh
kak Gilang.” Fara mengangkat ke dua jempol ke arah Gilang.
“Lo tahu saja gue lagi butuh liburan.
Thanks ya lo emang bos dan sahabat ter the best.” Puji Vian.
“Kalian jangan terlalu memuji, kalian
bisa panggil bos di dalam perusahaan tapi di luar itu kita adalah sahabat. Jadi
ini hanya ajakan gue buat liburan seperti dulu waktu kita masih sekolah.” Kata
Gilang.
Gilang sengaja memesan kamar mereka
bersebelahan, jadi kalau ada apa-apa mereka gampang kalau komunikasi.
“Kalian beberes dulu, nanti jam tujuh
kita akan makan malam.” Kata Gilang.
“Boleh nggak kalau aku tidur lagi.” Kata
Gita, dia masih ketagihan tidur. Tidur dengan posisi badan semua rebahan bukan
dengan duduk.
“Benar, badan gue udah mau retak-retak
ini.” Fara juga merasakan hal yang sama dengan Gita.
“Baiklah, begini saja kalian nanti
kabarin saja siap jam berapa makan malamnya. Tapi ingat ya kalian berdua harus
mandi.” Kata Gilang.
“Ya kalau gue sih pasti mandi, entah
kalau pacar lo ini.” Sindir Gita.
“Enak saja, gue juga mandi kali
mentang-mentang gue yang suka ngaret mandi lalu di kata nggak mandi.” Gita
ngedumel.
“Iya..iya, katanya capek buruan masuk
sana nanti kemalaman lagi kita makannya.” Gilang membukakan pintu dan menyuruh
cewek-cewek masuk.
“Da..da.. sampai ketemu nanti sayang.”
Gita menutup pintunya.
“Daa..” Gilang melambaikan tangannya.
Gita dan Fara berlari bersamaan lalu
menjatuhkan tubuhnya ke kasur bersamaan.
“Gue bakalan tidur dari sekarang sampai
sore lagi.” Kata Gita dengan mata tertutup.
“Lo nggak lapar apa tidur sehari
semalam. Ingat ya kalau nanti kita akan makan.” Fara mengingatkan Gita.
“Iyee..iyee.. udah ah gue mau tidur
dulu.” Kata Gita, dia memperbaiki posisi tidurnya tak lupa dia memeluk bantal
guling.
“Gue mandi aja ah, gatel-gatel badan
gue.” Fara bangun, dia lebih memilih mandi dulu daripada tidur sama Gita. Dia
__ADS_1
tidak tahan karena gerah di badannya.