
"Raka!" Teriak Gita dari bawah lalu lari ke kamarnya Raka. Gita membuka lebar-lebar pintu kamar Raka.
"Ya Tuhan, ini anak kenapa suaranya kayak toak sih." Raka menutup telinganya sebentar kemudian sibuk di pada game di ponselnya
Kedua mata Gita berkaca-kaca, dia berlari laku memeluk Raka yang sedang main game.
"Ta.. lo kenapa sih? kesambet atau kesurupan?" Raka bingung.
"Kesambet sama kesurupan kan sama." protes Gita.
"Ya itulah, lo kenapa?" Raka mencoba melepaskan pelukan Gita karena mengganggu dirinya yang sedang bermain game. Namun Gita memeluk dengan erat agar Raka nggak bisa bergerak.
"Ta.. lepasin, gue susah main gamenya." Kata Raka sambil menghela napas panjang.
"Bodo." Gita nggak mau melepaskannya, kemudian Raka menyerah membiarkan Gita memeluknya dan membiarkan gamenya.
"Ada apa?"
"Maafin gue, lo di skors gara-gara gue kan."
"Ya elah, santai aja kenapa. Gue juga bahagia tahu dapat libur tambahan." Menggerakkan satu alisnya dengan senyum jahil.
"Dasar cowok nggak punya masa depan." Gita sudah sedih banget justru Raka kegirangan.
...♡♤♤♤♡...
Hari minggu pagi Gita, Fara dan Anita janjian hangout. Mereka bertiga pergi ke sebuah bukit terdekat. Mereka ingin menikmati keindahan pemandangan dan juga menikmati udara segar.
"Bawa makanan nggak?" tanya Fara.
"Cuma makanan ringan sih sama minum." Kata Gita.
"Ok. Ayoo kita menanjak!" Seru Fara.
"Ayoo...kita senang-senang." Kata Gita sambil meluruskan tangannya ke atas.
Mereka bertiga berjalan sambil bercanda. Meskipun capek karena jalannya agak menanjak.
Gita menghirup udara dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan, "Segaarrr." Katanya sambil membentangkan kedua tangannya.
"Kita foto-foto dulu yuk." ajak Anita.
"Ayo." Mereka bertiga langsung ambil posisi lalu berpose.
"Git.. fotoin gue ya." Fara minta di fotoin Gita.
__ADS_1
"Ok, gue ambil enggel yang bagus dulu." Gita memutarkan ponselnya untuk mencari tempat yang bagus.
Gita menurunkan ponselnya ketika melihat seseorang yang sepertinya dia kenal. Gita meninggalkan kedua temannya tiba-tiba. Dia berlari mengikuti untuk memastikan dia benar atau tidak.
"Gita, lo mau kemana?!" teriak Fara.
"Sebentar saja, kalian tunggu gue di situ." jawab Gita dengan terus berlari.
Gita berjalan mengendap, dia bersembunyi di balik pohon.
"Itu benar Prisil kan?" katanya sambil merekam perbuatan Prisil. Gita merekam dengam kedua mata tertutup.
"Kenapa Prisil tega melakukan itu, padahal Raka sayang banget sama dia." Katanya Gita sambil meneteskan air mata.
Gita menurunkan ponselnya,"Prisil." panggil Gita ketika dia sudah tidak tahan melihat Sisil bermesraan dengan lelaki. Prisil melepaskan pelukannya, kaget melihat Gita tiba-tiba berada disitu.
"Lo tega ya khianatin Raka, kurang apa ha Raka sama lo!" Gita menampar Prisil.
"A! Lo gila ya main tampar gue." Prisil memegangi pipi kanan yang di tampar Gita.
"Kegilaan gue belum seberapa Sil, gue bisa lebih gila lagi dengan melempar lo ke jurang." Kata Gita dengan nada tinggi.
"Sayang, kamu nggak apa-apa? lo jadi cewek kasar banget." Cowok itu mendorong Gita.
"Ya gue pacarnya, calon suami dia. Kenapa ada masalah?" Cowok itu maju memasang badan untuk Prisil.
"Ah.. calon suami. Prisil jelasin sama gue kalau dia calon suami lo atau apalah itu, lalu lo anggap Raka itu apa?" Gita mencoba meraih tangan Prisil dan ingin sekali menjambaknya.
Cowok itu mendorong Gita sampai terjatuh, "Gue bilang jangan sentuh dia. Ngeyel banget sih."
"Gita!" teriak Fara sama Anita. Mereka berdua berlari lalu membantu mereka berdiri.
"Siapa lo berani dorong-dorong sahabat gue." Fara mendorong pacar Prisil.
"Dia yang mulai, menampar dan menggangguk pacar gue." katanya dengan membentak.
"Lo kan cowok masa main tangan sama cewek, harusnya lo tanya baik-baik keduanya." kata Anita.
"Benar, sahabat kita ini nggak mungkin melakukan itu tanpa sebab." kata Fara lagi.
"Memang teman lo itu yang berandalan, mengganggu kenyamanan orang lain." Kata Prisil sambil tunjuk-tunjuk Gita.
"Nggak usah tunjuk-tunjuk." Fara menurunkan tangan Prisil.
"Gue nggak akan mengganggu lo kalau lo itu nggak brengsek Sil!" Amarah Gita semakin memuncak. Dia ingin mencambak Sisil namun di tahan sama Fara dan Anita.
__ADS_1
"Sayang, ayo kita pergi. Bisa-bisa kita gila ngeladeni dia." Prisil menggandeng cowoknya lalu mengajak pergi. Dia mengangguk, menyetujuhi Prisil untuk pergi sebelum banyak orang yang tahu.
"Sebenarnya mereka siapa?" tanya cowoknya.
"Sayang jangan bahas lagi, aku juga nggak kenal dia." Prisil enggan membahasnya.
Gita menghentakkan kaki kiriya, wajahnya memerah. Dia ingin sekali mencakar wajah Prisil dan menjambak rambutnya sampai botak.
"Gita, siapa dia?" tanya Fara.
"Dia itu pacarnya Raka, dia selingkuhin Raka." Kata Gita dengan napas yang masih memburu.
"Oh.. jadi dia ceweknya Raka yang selalu di banggain." Fara merasa kesal mendadak. Entah mengapa namun kalau menyinggung soal Raka sekarang dia lebih sensitif.
"Nih minum dulu, lo tenangin pikiran lo." Anita memberikan air mineral. Gita meneguk air mineralnya sampai setengah, dan kemudian meneguk lagi.
"Kita pulang aja yuk," Ajak Anita dia rasa jalan-jalannya tidak mungkin di lanjutkan lagi." ujar Anita.
"Iya." Fara menyetujuhinya.
Mereka belum lama menikmati keindahan bukit langsung kembali turun. Gita sudah tidak sabar lagi memberikan kabar kepada Raka.
"Git, apa rencana lo?" tanya Anita saat sampai mobil.
"Gue bakal kasih tahu Raka."
"Harus itu, lebih cepat lebih baik supaya Raka tidak semakin sakit." ujara Fara.
"Tapi apa kalian nggak kasihan sama Raka, dia sedang di skors. Pasti dia sedang sedih kalau di tambah masalah ini gue takut emosinya akan meledak dan melakukan hal yang tidak-tidak." Kata Anita.
Gita menoleh ke arah Anita, yang di omongkan Anita benar. Kalau saja Gita memberitahu Raka saat ini pasti Raka akan marah besar. Bisa saja nggak terkontrol emosinya.
"Benar juga, terus gue harus bagaimana?" Gita menyenderkan tubuhnya.
"Tunggu sampai dia udah masuk sekolah, dan usahakan moodnya sedang bagus. Jadi tingkat kemarahannya bisa menurun." Jelas Anita lagi.
"Kok bisa ya dia selingkuhin Raka, padahal kalau gue lihat dia sayang banget sama ceweknya." Fara tidak habis pikir kenapa pacarnya Raka mengkhianati Raka.
"Gue juga nggak habis pikir, kenapa dia bisa sejahat itu." Kata Gita.
"Ya begitulah kalau orang nggak pernah bersyukur. Sudah punya satu yang setia, baik, masih saja kurang. Nanti pas di khianatin nangis minta balik dan bilang gue khilaf. Ah.. basi banget tahu nggak alasan seperti itu." Kata Anita.
"Iya, memang suka nggak tahu diri mantan itu." Celoteh Fara.
"
__ADS_1