
“Raka, kenapa lo bawa gue keluar. Apa om-om mesum itu sudah pergi.” Tanyanya dengan ekspresi wajah yang masih takut.
Raka menggelengkan kepala sambil menahan tawa. Bagaimana bisa dia tidak mengenali Gilang dan terus menyebutnya om..om mesum.
“Sayang, sebenarnya ada apa?” Fara
mengintil di belakang sambil memegangi ujung belakang kemeja Raka.
“Ikut saja.”
Raka terus mendorong Gita sampai berjarak
satu meter dengan Gilang, dia memegang tangan Gilang erat.
“Coba lihat dengan teliti, siapa orang
yang berdiri di depan lo itu.” Bisik Raka.
Gilang dan Gita saling berpandangan,
kedua mata nanar mulai berkaca-kaca dan mulai mengembun. Bibir Gita membuka,
mengeja kata Gilang namun tak bersuara.
Darahnya berdesir kuat, jantungnya
berdebar luar biasa. Rasa rindu yang sangat menyiksa menyekat batinya seakan
memudar. Dia tak bisa menahan air mata yang sudah mengumpul di ujung matanya.
“Raka, apa itu Kak Gilang?” tanya Gita
masih dalam keraguan. Dia benar-benar belum bisa mengenali Gilang yang
sekarang.
“Em.”
Gita kembali melihat Gilang dari ujung
kaki sampai ujung kepala, orang yang dia sukai dari dulu sampai sekarang sudah
berubah menjadi pria dewasa. Dengan wajah yang tampan, dan berkharisma.
Gilang sudah tidak bisa hanya melihat
Gita yang diam saja tanpa pergeraka. Dia berjalan lalu menarik Gita dalam pelukannya. Gita teriam membeku, dia tidak bisa menjelaskan bagaimana
perasaanya dan juga apa yang di rasa tubuhnya.Dia hanya ingin menumpahkan semua air mata yang dia punya. Dan pecahlah sudah tangisan Gita dalam pelukan Gilang.
Pelukan hangat yang sudah lama pergi
kini dia merasakan kembali, dekapan yang sangat nyaman itu dia bisa merasakan
dengan sangat nyata. Bukan hanya minpi atau kehaluan yang selama ini dia ciptakan.
Rindu yang sangat menyiksanya kini sudah
terobati, bak tanaman bunga yang mulai bermekaran, dan daun-daun yang mulai
menghijau dengan datangnya musim semi. Gilang datang seperti hujan yang menyirami kekeringan di hatinya Gita.
__ADS_1
Gilang menarik sedikit tubuh Gita lalu
mengecup keningnya dan kembali memeluknya erat. Rasanya dia tidak akan
melepaskan kekasinya itu.
Fara dan Raka yang menyaksikan pun ikut
meneteskan air matanya, hati mereka ikut teriris melihat Gita dan Gilang bertemu.
“Nggak tahu ini sedih atau senang, tapi
aku ingin menangis terus.” Fara sedikit terisak. Dia mengusap air matanya yang
mengalir deras tak kalah dengan Gita. Raka menoleh kearah Fara, lalu merangkulnya.
“Ini air mata kebahagiaan sayang,
meskipun ada rasa sakit yang menyertainya.”
"Orang berdamege seperti itu, bisa-bisanya di bilang om-om mesum." kata Fara dengan suara yang masih terisak.
...♤♡♡♡♤...
Gita melepaskan pelukan Gilang, dia sedikit menjauhka tubuhnya.
"Maaf." ucapnya.
"Kenapa minta maaf?" Tanya Gilang.
"Kita kan sudah tidak pacaran, dan gue sudah punya pacar harusnya gue bisa menahan diri." Kata Gita.
"Sayang, sudahilah permainan ini gue benar-benar kangen sama lo." Gilang kembali menarik Gita dalam pelukannya.
"Pacar yang mana? David kakak sepupu lo itu?" Kata Gilang sambil tersenyum.
"Darimana lo tahu David itu kakak sepupu gue?" Gita heran. Dia juga semakin heran kenapa Gilang tidak marah sama dia lagi.
"Gue tahu segalanya." bisiknya.
Gita menoleh ke arah Raka, hanya dia yang bisa melakuka apapun untuknya.
...♤♡♡♡♤...
"Git, lo bisa-bisanya bilang kalau Kak Gilang om-om mesum dari mananya?" Fara meminta klarifikasi dari Gita. "Mata lo katarak, rabun jauh atau udah buta."
"Sembarangan, salah siapa pakai jas. kebanyakan orang pakai jas kan Om-om."
"Ya Tuhan, lo dapat pemikiran darimana kalau cuman om-om doang yang pakai jas."
"Orang ganteng kayak opa-opa gitu." Fara mengintip Gilang yang sedang ngobrol sama Raka.
"Benar, Kak Gilang sekarang kayak opa-opa, berdemage gitu." Gita tersenyum lebar menatap Gilang.
"Iya, dia berubah menjadi serpihan berlian dan lo tetap aja kayak gembel." ejek Fara.
Plaaaaakk.....! Tangan Gita me darat sempurna dengan kekuatan tinggi di lengan Fara.
"Astaga Gita, ini sakit banget. Lo sering banget melakukan kdpt."
"Apaan tuh kdpt?"
__ADS_1
"Kekerasan dalam pertemanan." Katanya sambil mengelus lengannya.
"Bisa saja lo. Far, gimana ini?" tanya Gita.
"Apanya yang gimana?" Fara mengangkat nampan berisikan jus dan makanan ringan untuk Gilang.
"Ya kan gue sudah putus, apa orang seganteng Kak Gilang belum punya cewek lagi." Gita galau.
"Makanya lo tanya."
"Gue takut, lo kan bilang kak Gilang seperti serpihan berlian dan gue gembel. Ya kali kan berlian mau bersanding dengan gembel." Gita manyun lalu duduk di kursi meja makan.
"Ya anggap saja Gilang berbaik hati, mengangkat gembel menjadi pacarnya." Kata Fara sambil keluar.
"Dasar."
Gita mondar-mandir di dapur, dia merasa canggung kalau mau bertemu Gilang. Mungkin kalau dia tidak putus sama Gilang dia akan nempel terus. Berhubung dia sudah mengatakan putus jadi tidak bisa.
"Gita mana?" tanya Gilang.
"Noh, di dapur. Nggak mau kesini katanya." Fara menoleh ke belakang.
"Kenapa?"
"Dia bingung, karena sudah putus sama lo." Jelas Fara. Gilang beranjak nyamperin Gita ke dapur.
"Kak Gilang.. butuh apa?" tanya Gita gugup.
"Butuh lo." Kata Gilang.
"Jangan bercanda." kata Gita sambil pergi ke ruang tamu. Dia masih saja berusaha menghindari Gilang.
"Kenapa menghindar terus sih." Gilang menghela napas panjang.
Gita duduk diantara Fara dan Raka agar tidak berdekatan sama Gilang. Fara dan Raka saling berpandangan, mereka berdua heran melihat Gita yang jadi salah tingkah.
"Lo kenapa sih Git, kayak cacing kepanasan gitu." bisik Fara.
"Ya habis kalian ajak kesini Kak Gilang, kan gue jadi serba salah."
"Gita kemarin-kemarin lo menghalu Kak Gilang datang, giliran orangnya datang beneran lo malah kayak orang stres." kata Fara.
"Gimana kabar kalian?" tanya Gilang membuka pembicaraan.
"Baik, lo sendiri gimana apa kuliahnya sudah selesai?" tanya Raka.
"Yah, sudah selesai hanya bulan depan gue masih harus kembali kesana lagi." kata Gilang.
"Berapa lama?" kata Gita cepat. Gita langsung menutup mulutnya, dia tidak bisa mengontrol mulutnya mendengar Gilang akan pergi lagi.
"Cuma beberapa hari saja."
"Gue kira Kak Gilang bakalan lama lagi perginya." kata Fara.
"Nggak, gue sudah harus bekerja mulai besok. Jadi nggak bisa pergi lama-lama. Selain itu ada yang harus gue jaga agar tidak pergi main-main hatinya." Kata Gilang sambil menatap mata Gita lekat. Gita langsung kelabakan dan memalingkan wajahnya.
"Lo jadi kerja di kantor nyokap lo?" tanya Raka.
"Ya. Kalian bisa datang kapan saja ke kantor. Dan setelah lulus kalian bisa kerja di tempat gue." kata Gilang.
"Gini nih enaknya punya orang dalam, kerja nggak butuh nunggu lowongan. Nggak butuh memasukan surat lamaran." kata Raka.
__ADS_1
"Ini mah kalau Vian dengar bakalan senang banget." Kata Fara.