Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Gue Diet Hari Ini


__ADS_3

Gita meregangkan kedua tangannya, dia menguap lali bangun dari tidurnya. Dia membuka jendela kamarnya lebar-lebar agar udara bisa masuk ke kamarnya.


Gita kemudian mencuci muka dan turun untuk jogging.


"Eh.. Mbak Gita tumben udah bangun mau kemana?" tanya Bik Nana pembantu Gita.


"Iya Bik, Gita mau jogging." jawab Gita sambil memakai sepatu.


"Keren Mbak Gita, semangat." Kata Bik Nana sambil masuk ke daput. Bik Nana antara salut dan terkejut seorang Gita yang mageran mau jogging.


Gita melakukan pemanasan dulu sebelum lari, setelah lima menit lebih sedikit melakukan pemanasan dia langsung lari memutari komplek yang masih sejuk.


Gita duduk menselonjorkan kedua kakinya setelah melakukan lima putaran. Dia membuka bekal minumny namun saat sia meminumnya ternyata airnya habis.


"Tenggorokan kering begini malah habis airnya, mana mager lagi mau jalan ke dalam." Kata Gita sambil merebahkan tubuhnya.


"Tuhan... berat banget diet." Seru Gita. Gita membiarkan tubuhnya beristirahat sampai matahari mulai menampakan tubuhnya.


"Ta, lo beneran jogging?" tanya Qila yang sudah rapi memakai seragam dan siap sarapan meskipun masih pukul setengah enam pagi.


"Masih di tanya pula, nggak lihat ini sebadan-badan keringat semua." Gita sesikit memajukan tubuhnya agar kakaknya lihat kalay bajunya basah karena keringat habis lari.


"Ok.. ok.. jangan dekat-dekat bau. Sana mandi." Kata Qila sambil menutup hidungnya. Gita berdesis lalu pergi ke kamarnya untuk mandi.


Setelah selesai mandi Gita langsung gabung dengan Genta, Qila dan Raka. Gita tanpa basa-basi duduk lalu mengambil nasi di piring.


"Tumben Ta lo sarapan sedikit?" tanya Genta.


"Gita lagi diet, jadi mengurangi makan." Gita memasukan satu sendok full nasi ke dalam mulutnya.


"Yakin Ta lo diet?" Goda Raka.


"Yakin lah, kalau nggak yakin gue nggak bakalan tuh jogging pagi-pagi padahal masih ngantuk." Celoteh Gita dengan mulutnya yang penuh.


"Ada angin apa lo tiba-tiba mau diet, dulu aja kalau di kasih tahu pasti ngomel." Ucap Qila.


"Ya gimana nggak mau diet, dia kan sedang ingin menyenangkan hati kekasihnya." Kata Raka sambil menaikkan kedua alisnya ke arah Gita.


"Apaan sih lo nggak jelas kalau ngomong, gue kan dengerin saran kalian semua kalau gue harus diet biar sehat." Gita mengelak kalau dia diet demi Gilang. Padahal benar, dia ingin menjadi orang yang layak jadi pacarnya Gilang.


"Beneran lo berubah karena Gilang?" tanya Qila.


Gita menggigit bibir bawahnya, dia bingung menjawab saat Gita begitu serius menanyakan tujuan dari dietnya Gita.

__ADS_1


"Memangnya penting gitu alasan Gita diet?"


"Iya penting, alasan diet itu kalau hanya karena untuk menarik perhatian seseorang tidak baik. Karena saat orang itu tak memperhatikan lagi, lo akan berhenti melakukan itu. Harusnya niat lo itu untuk diri lo sendiri bukan orang lain." Qila berbicara dengan nada lumayan tinggu. Wajahnya terlihat sangat kesal.


"Qila jangan terlalu keras seperti itu sama Gita. Dia kan sedang berusaha untuk lebih sehat kenapa lo jadi marah-marah seperti itu." Genta tidak suka dengan omongan Qila yang terdengar menyakitkan adik bungsunya itu.


"Kak, memangnya salah ya kalau Gita berubah? Kak Qila marah bukan karena Gita diet kan. Tapi karena Gita dekat dengan Kak Gilang." jawab Gita dengan nada halus.


"Kak, lo suka sama Gilang?" tanya Raka.


Qila hanya terdiam, dia tak mau menjawab pertanyaan Raka.


"Kalau kakak memang suka sama Kak Gilang bilang saja, gue bakalan bantuin Kakak dekat sama dia." Jawab Gita dengan senyuman kusam.


"Lo ngomong apaan sih." Raka menyenggol lengan Gita.


"Gita melakukan ini semua karena kemauan Gita sendiri bukan karena siapa-siapa." kata Gita. Dia dengan cepat menghabiskan sarapanya dan bergegas berangkat.


Raka tidak menghabisakan sarapannya, dia bergegas mengejar Gita.


"Ta, tunggu!" panggil Raka.


"Iya ada apa?" Gita memperlambat langkah kakinya.


"Raka, lo nggak lihat apa Kak Qila itu suka sama Kak Gilang."


"Lalu bagaimana dengan lo?" Raka melipat kedua tangannya di dada.


"Gue baik-baik saja, memangnya kenapa? Gue sama Kak Gilang kan nggak ada hubungan apa-apa. Hanya sebatas pelatihan pacaran." Gita tersenyum masam.


"Mau sampai kapan lo mengalah sama orang lain, pikirkan kebahagian juga."


"Em, lo emang paling ngertiin gue." Gita memeluk Raka.


...◇◇◇◇◇...


Gita mengaduk-aduk es teh sambil melihat Fara, Anita makan.


"Beneran lo nggak mau makan?" tanya Anita.


"Nggak gue lagi diet."


"Tapi ini enak loh Ta, lo tahu kan tekstur siomaynya bu kantin sangat lembut." Fara menghasut Gita.

__ADS_1


"Kuat Gita...kuat." Gita berusaha tak tergoda.


"Beneran nggak mau?" tanya Fara lagi sebelum memasukan siomay ke mulutnya.


"Tunggu Far, biarkan gue cium baunya." Gita menarik tangan Fara agar mendekat ke arahnya kemudian dia mencium baunya.


"Ah... kenapa enak banget sih baunya." keluh Gita.


"Ya udah makan aja, satu siomay nggak akan membuat lemak lo membangkak. Apa lo mau nasi ayam gue." kata Anita.


"Ah.. gue cabut." Gita pergi untuk menghindari cobaan lebih lanjut dari Fara dan Anita.


Melihat niat Gita yang kuat untuk diet membuat Gilang tersenyum. Dia berjalan di belakang Gita.


"Bisa yok bisa Git, cuma nggak makan-makanan itu nggak bikin lo mati." ujarnya.


"Ha.. tapi gue ingin makan itu." Keluhnya setelah beberapa saat diam. Dia mengusap perutnya yang masih lapar karena makan sedikit.


Gita duduk di kursi panjang di taman sekolah, dia mengelus perutnya lagi.


"Laparnya."


"Nih makan." Gilang duduk sambil memberikan bekal.


"Nggak, gue lagi diet." Gita menolak bekal dari Gilang.


"Gue tahu, tapi ini menu yang gue siapain buat lo. Jadi setiap hari lo nggak akan jajan sembarangan." Gilang membukakan tempat bekal lalu menyodorkan ke arah Gita.


"Sayur doang?" gumamnya pelan namun terdengar sama Gilang.


"Katanya mau diet, ini juga ada lauknya." Gilang menunjuk ayam. Meskipun diet Gilang tetap menjamin makanan Gita dia tetap memberikan lauk. Gita nyengir lalu melahapnya.


"Lo emang suami idaman tahu, udah keren, ganteng, pinter bisa masak pula. Kayak cowok-cowok di drama." Celetuk Gita tanpa sadar.


"Benarkah?"


"Iya, pasti beruntung orang yang bisa menikah dengan lo nantinya."


"Dan cewek yang menjadi jodohnya itu biasanya ceroboh, konyol, gengsian. Ya nggak?"


"Iya, sepertinya lo suka nonton drama ya. Gue juga heran kenapa di drama itu bisa cewek yang jelek bisa sama cowok yang keren. Padahal kalau di dunia nyata itu tidak ada. Kan gue jadi ingin seperti itu."


"Bukankah, sekarang ini kita seperti di drama?" kata Gilang sambil menatap Gita lekat di tambah senyuman manis. Membuat Gita menelan makannanya meskipun baru dua kali kunyahan.

__ADS_1


__ADS_2