Cewek Gendutku

Cewek Gendutku
Membujuk Raka II


__ADS_3

Mobil sudah berhenti di rumah Gilang, Vian dan Raka langsung turun. Sedangakan Gita dan Anita langsung maju duduk di samping Fara. Fara melirik kearah Gita dan Anita yang menantapnya dengan tatapan mengintrogasi.


"Kalian berdua kenapa lihatin gue seperti itu?" Fara memalingkan wajah kedua sahabatnya.


"Sejak kapan kalian pacaran?" tanya Gita.


"Siapa yang pacaran?"


"Terus kalau nggak pacaran kok kalian berdua ciuman mesra. Mana di depan sekolah lagi." Gita masih mencurigai Fara.


"Iya. Gita aja yang udah pacaran beberapa bulan belum pernah tuh ciuman." kata Anita.


"Siapa bilang Gita belum pernah ciuman, orang udah buka segel." Kata Fara sambil tertawa kencang. Dan Gita pun reflek langsung memukul lengan Fara keras-keras.


"Beneran Git, buka segel di hotel mana?" Tanya Anita dengan polosnya.


"Gue lempar juga lo ke laut Nit. Mana berani gue buka segel. Bisa-bisa di penggal ini kepala. Yang ada tuh Fara open Bo." Gita membalas ejekan Fara.


"Mulut lo Git, kalau ada orang denger bisa dikira gue benaran."


"Gapapa, lumayan kalau ada yang mau." Jawab Gita di susul dengan tawa Gita dan Anita.


"Sudah..sudah, jangan ngelantur. Sekarang kembali ke inti." Kata Anita masih dengan tertawa.


“Inti apaan coba?”


“Ya lo sejak kapan pacaran sama Raka.” Tegas Anita.


“Udah gue bilang nggak pacaran. Asal kalian tahu Raka itu hanya mendekatkan wajahnya dengan wajah gue. Dia menempelkan jarinya di bibir gue. Dan dia cium itu tangannya sendiri bukan bibir gue. Dan kalian pasti tahu kan penyebabnya itu


apa.” Jelas Fara sedetail mungkin agar kedua sahabatnya itu tidak terus


mencurigainya.


“Pasti buat si Prisil cemburu, kesal dan berhenti mengejarnya.” Jawab Gita.


“Nah, jadi kalian berdua jangan pikir yang macam-macam tentang gue sama Raka.” Fara merasa lega.


“Tapi kenapa wajah lo merona?” Gita menyentuh pipi Gita dengan jari telunjuknya.

__ADS_1


“Iya, sangat merona. Bahkan gue dengar nih detak jantung lo sampai di sini.” Tambah


Anita. Dia ikut menggoda Fara.


“Kalian coba pikir aja sendiri, gimana tiba-tiba seorang cowok melakukan itu sama lo.”


“Guevgampar lah.” Jawab Gita cepat dan tegas.


“Yups, mana boleh main nyosor kayak gitu. Nggak sopan, kalau gue udah lapor polisi.”


“Perasaan kok jadi gue lagi yang salah, tapi benar juga kenapa gue nggak gampar Raka ya. Biasanya ada yang sentuh gue aja udah gue lempar sampai segitiga bermuda.


“Kecuali lo suka sama dia. Atau kalian berdua saling menyimpan perasaan.” Gita menatap Fara sambil tersenyum jahil.


“Nggak ada sejarahnya seorang  Abimayu Raka Mahendra dan Anindiya Fara Aulia saling suka. Nggak ada yang ada perang dunia ketiga.” Katanya sambil melipat kedua tangannya di dada.


“Yah semoga saja nggak kemakan omongan lo sendiri seperti gue. Jatuh cinta karena


karma gue sendiri yang terlalu mengabaikannya.” Kata Gita sambil keluar dari mobil.


Gilang menatap Raka dengan heran melihat wajah Raka yang tampak tidak tenang.


“Nggak apa, memangnya gue kenapa?” Raka balik tanya.


“Nggak biasanya lo gelisah begini.”


“Habis ada tragedi yang sangat wow sekali, jadi dia gelisah.” Jawab Vian sambil menusuk


satu potongan apel ke mulutnya.


“Tragedi apaan nih?” Bayu ikut kepo.


“Raka mencium Fara di depan sekolahan, mana ciumannya uuuhhh....” Vian mendramatisir.


“Mulut lo, lemes amat.” Raka melempar bantal ke tubuhVian.


“Beneran lo cium Fara, wah kemajuan pesat nih.” Kata Bayu.


“Ck! Gue nggak cium dia beneran. Cuma bohongan biar mantan gue pergi. Lang, lo

__ADS_1


jangan sekali-kali cium Gita. Awas gue penggal kepala lo.” Raka mengancam


Gilang.


“Curang amat lo Ka, lo aja belum pacaran udah ciuman mesra di depan umum masa Gilang yang sudah pacaran beberapa bulan nggak boleh.” Kata Bayu.


“Siapa juga yang pacaran, mau pacaran berapa tahun kalau dia nggak sungguh-sunggu dan menjadikan dia istrinya gue bakal penggal itu kepala buat pajangan di rumah Vian.” Raka memasukan beberapa potong apel ke mulut hingga mulutnya penuh.


“Kalau adik lo mau, masa ya di larang. Lagian Gita sama Gilang sudah sama-sama dewasa.” Kata Bayu lagi. “Ngomong kenapa Lang, dari tadi cuman sentyum-senyum.”


“Gue harus ngomong apa, orang yang di omongin calon kakak ipar gue ini benar.


Daripada gue melawan tidak mendapat restu lebih baik menuruti kan.” Kata Gilang


sambil beranjak untuk mengecek cewek-cewek karena belum masuk ke rumahnya.


“Si playboy berlagak banget manis.” Kata Bayu sambil menggelengkan kepala.


“Playboy insaf kali judulnya.” Sahut Vian. Gilang menoleh sambil tersenyum lalu melanjutkan jalannya untuk menemui Gita, Fara dan Anita.


"Kalian nggak mau masuk?" tanya Gilang.


"Ah.. iya kita masuk." Kata Gita dengan berjalan lebih dulu.


Fara seketika salah tingkah saat bertatapan dengan Raka. Dia langsung duduk di samping Gita dan sederet dengan Raka agar tidak saling berhadapan.


"Gimana nih, jadi nggak ke pantainya?" tanya Gilang langsung ke inti pembicaraan dari berkumpulnya di rumah.


"Jadi donk." Jawab mereka serentak kecuali Raka.


"Ka, lo kenapa diam?" tanya Gilang.


"Gue nggak ikut?" kata Raka sambil menyenderkan tubuhnya di sofa.


"Kenapa nggak ikut sih Ka. Seru tahu main ke pantai, kita juga sudah lama kan nggak main." cerocos Vian.


"Iya Ka, mumpung belum sibuk juga gue sama Bayu." Bujuk Gilang.


"Kalian kalau mau pergi-pergi saja, gue benar-benar nggak mood untuk pergi." Raka kekeh nggak mau pergi.

__ADS_1


Mereka langsung menghela napas panjang, usahanya membujuk Raka tetap saja tidak berhasil.


__ADS_2