
Gita menunggu Gilang menjemputnya, hari ini mereka akan mencari undangan. Sudah hampir setengah jam Gita menunggu, tidak biasanya Gilang telat.
"Halo.. sayang, kamu dimana?" Gita menelpon Gilang.
"Sayang maaf, aku sepertinya nggak bisa ikut. Kamu bisa kan pilih sendiri, aku masih di kantor mengurusi masalah kemarin." Kata Gilang.
"Ya." Jawab Gita sambil mematikan sambungan teleponnya. Ada sedikit rasa kecewa, tapi dia juga tahu kalau semua demi kantornya. Gita juga tidak mau Gilang dituntut jadi dia harus menahami kondisinya.
Gita akhirnya pergi mengajak Fara, mereka berdua bertemu di tempat percetakan. Selagi menunggu Fara datang Gita melihat-lihat contoh undangan lebih dulu.
“Hai.. Gita kan?” seseorang memegang pundak Gita.
Gita menoleh, dia memperhatikan wajah orang tersebut dengan teliti karena dia merasa tidak kenal.
“Gue Devan, lupa lo sama gue? Pastinya tambah ganteng kan gue sampai lo nggak kenaln gue.” Katanya sambil tersenyum lebar.
“Ah.. lo Devan. Sorry nggak kenalin lo soalnya beda banget. Sekarang lo agak berisi.” Kata Gita.
“Yah begitulah, lo juga semakin cantik aja. Bikin gue terpesona lagi sama lo.” Katanya dengan wajah Genit.
“Bisa aja. Gimana kabar lo?"
“Baik, lo sendiri baik juga kan. Lo kesini ngapain? Cari undangan atau nganterin siapa?” tanya Devan penasaran.
“Cari undangan.” Kata Gita dengan sedikit pamer kepada Devan.
“Buat lo?” kata Devan dengan nada sedikit kaget.
“Tentu saja buat gue, masa iya buat orang lain.” Katanya dengan tersenyum.
“Benar juga, calon lo mana?" Devan celingukan mencari sosok pasangan Gita.
"Nggak bisa ikut, lagi sibuk soalnya. Lo sendiri kesini cari undangan buat sendiri atau nganterin siapa?"
"Buat gue sendiri. Kenapa?"
"Ya nggak apa-apa, calon lo mana?"
"Calon gue masih di perjalanan, tapi kalau lo mau balik sama gue. Gue bakalan ganti di undangan ini sama nama lo." kata Devan dengan santai.
"Gila ya lo, kita saja nggak pernah pacaran masa mau balikan." Gita menggelengkan kepalanya.
"Ya memang belum pernah pacaran, tapi lo pernah suka sama gue kan. Gue rasa lo juga nggak akan begitu cepat melupakan cinta pertama lo." Katanya dengan kepedean tingkat super.
"Cinta pertama gue itu hanya sekilas dan cinta monyet, nggak ada artinya sama sekali buat gue. Yang terpenting itu cinta terakhir gue dan pastinya suami gue." Kata Gita dengan sangat tegas. Dia tidak mau kalau Devan mengira dirinya tidak bisa move on dari dia.
"Oiya.. tapi kalau memang kalian saliang mencintai kenapa lo datang sendiri ke sini." Devan mencoba mencari kejelekan pasangan Gita.
"Gue sudah bilang kalau dia sedang sibuk." Gita menekankan kepada Devan.
__ADS_1
"Sesibuk-sibuknya seseorang, dia pasti menyempatkan waktu untuk menemani pasanganya apalagi untuk urusan pernikahanya. Gue rasa calon suami lo itu tidak benar-benar mencintai lo." Ujar Devan dengan pendapatnya sendiri.
"Ini hanya masalah sepele, dan Kak Gilang bukan orang yang seperti lo omongin." Gita tidak suka ada yang menjelek-jelekkan Gilang.
"Gilang? Lo masih sama Gilang?" Devan tidak percaya kalau Gita masih menjalin hubungan dengan Gilang bahkan mau menikah. Itu terlalu lama sekali.
"Ya." Jawab Gita dengan bangga.
"Hhm, langgeng juga ya hubungan kalian."
"Tentu saja, gue doakan lo juga langgeng sama calon lo."
"Ta!" panggil Fara sembari melambaikan tangannya.
"Gue kesana dulu ya, semoga lancar sampai hari peenikahan." kata Gita sambil berjalan mendekati Fara.
"Siapa Ta?" tanya Fara sembari menengok sebentar untuk melihat cowok yang mengobrol akrab dengan Gita.
"Devan."
"Devan si brengsek itu? muncul darimana dia. Kenapa tiba-tiba muncul." Fara menanyakan beberapa pertanyaan sekaligus.
"Entah." Gita mengangkat kedua tangannya.
"Awas aja datang lagi membuat huru-hara, gue bakal bejek-bejek tuh wajahnya ngeselinnya." Fara gemes banget.
"Udah ah jangan bahas lagi, lagian dia juga udah mau nikah." ujar Gita.
"Entah, semoga saja tidak begitu."
Selesai memilih-milih undangan Gita dan Fara langsung pergi makan malam.
"Git, gue masih penasaran deh sama yang di katakan Vian. Masa iya di team kita ada yang penghianat."
"Iya, gue juga penasaran. Tapi juga bingung, gimana bisa kita mencurigai satu team sendiri."
"Iya, apa mungkin salah satu dari Bella dan Fajar?" celetuk Fara.
"Jangan asal, nanti jatuhnya malah fitnah. kita tidak akan enak nanti sama mereka kalau mereka tidak melakukanya."
"Lalu siapa? Nggak mungkin kan kalau Mas Win, Mas Nino atau mbak Ina. Ya gue bilang seperti itu karena kemungkinan karena mereka berdua bukan berasal dari tema kita."
"Entahlah gue juga bingung."
"Hai Gita, Fara.. kita ketemu lagi." Tanpa persetujuan Devan yang ketemu Gita dan Fara langsung duduk gabung.
"Ngobrolin apaan sih, kayaknya serius banget." Kata Devan lagi, dia sok akrab banget membuat Fara risih.
"Lo muncul darimana sih, tiba-tiba sampai sini. Atau lo ikutin Kita ya?" cerocos Fara. Dia merasa kalau Devan mengikuti mereka berdua.
__ADS_1
"Tidak, gue sama calon gue baru selesai membuat undangan lalu kesini mau cari makan. Eh ketemu kalian, emang jodoh kali kita Git." katanya seenak jidat sama sekali tidak memikirkan perasaan pasangannya.
"Idih ngarep." Kata Fara.
Gita dan Fara saling berpandangan, mereka tidak nyaman dengan tamu yang tidak di undang ini. Mereka berdua berencana pergi meskipun makananya belum habis.
"Sayang.." panggi seorang cewek mungil cantik menghampiri Devan.
"Hai sayang, kenalin nih ini mereka teman SMA aku." Devan memperkenalkan Gita dan Fara.
"Amalia." Dia mengulurkan tangan kanannya.
"Fara, dan dia Gita." Fara menyambut tangan Amalia.
"Kita cabut dulu ya, buru-buru soalnya ada janji lain." Kata Gita sebelum mereka berdua semakin terjebak.
"Gita, rumah lo masih sama? atau bagi nomor wa lo biar gue gampang kasih undangan gue." kata Devan. Dia modus mengatakan itu supaya bisa menghubungi Gita lagi.
"Masih sama, nomor gue juga masih sama." kata Gita.
"Ok, nanti gue chat lo."
"Kenapa lo kasih tahu." bisik Fara.
"Biar cepat kita Pergi." Jawab Gita.
Gita dan Fara bergegas meninggalkan tempat makan.
"Devan agak berbeda nggak sih?" tanya Fara.
"Lumayan, dia seperti orang-orang biasa tidak angkuh seperti dulu. Kelihatan lebih frendly nggak sih?"
"Iya sih, tapi kenapa terlihat seperti aneh. Dengan meminta no wa lo buat gue pikir kalau dia tidak sungguh-sungguh dengan cewek tadi. Sungguh gadis yang malang." Fara merasa kasiha dengan calon Devan.
"Memangnya dia mau melakukan apa?'
"Dari semua film yang gue tonton, novel yang gue baca dan kenyataan hidup yang sering gue lihat. Mantan yang meminta nomor mantanya itu tidak akan sekedar menanyakan kabar. Tapi juga menanyakan status, dan pastinya bakalan bernostalgia setelah itu akan membuat baper agar mau kembali seperti dulu." celoteh Fara.
"Tapi gue bukan mantannya Far, jadi ya mungkin ada alasan lain." Gita masih berpikiran positif.
"Memang bukan mantan hanya saja lo pernah cinta mati sama dia."
"Hah.. ribet banget hidupnya. Lagian dia mau bertingkah apa saja gue nggak pedulu. Semua itu nggak penting." kata Gita.
"Yah, tapi lo harus hati-hati. Orang kayak Devan itu berbahaya." Fara mengingatkan.
"Iya, gue juga tahu. Akal bulus dia pasti banyak."
"Dah yuk balik, gibahin dia mulu jadinya." ajak Fara.
__ADS_1
"Ok. Mau cari makan lagi nggak? perut gue masih keroncongan nih."
"Kita cari sambil jalan." Fara membuka pintu mobilnya.