
“Eh.. itu pengumuman raja dan ratu sekolahkan?” Kata Gita saat mendengar pemberitahuan mc.
“Ya, lo mau kesana?” tanya Gilang. Gita menggelengkan kepala cepat.
“Lebih menyanangkan disini, kalau gue tebak sih pasti yang jadi raja dan ratu tahun ini adalah lo sama Kak Monika.” Tebak Gita.
“Kenapa bisa mikir itu gue sama dia?”
“Ya kan emang cewek dan cowok populer di sekolahan ini lo sama dia.” Kata Gita.
“Gue nggak peduli soal itu, yang gue peduliin itu lo.” Gilang merangkul Gita.
“Ratu sekolah tahun ini jatuh lagi kepada Monika kelas XII IPA 2, mohon untuk naik ke
atas.”
“Terima kasih.” Kata Monika dengan tersenyum manis ciri kasnya yang membuat cowok yang baru mengenalnya langsung terpesona.
“Dan untuk Rajanya, ayo tebak siapa dia...” Mc memberikan kesempatan para siswa
menebak raja sekolah tahun ini.
“Gilang...Gilang... Gilang.” Semua serentak menyebut nama Gilang. Sejak pendaftaran awal dia masuk
sekolah sudah menjadi pusat perhatian. Hingga sekarang kepopukerannya belum
tergantikan meskipun banyak yang datang.
“Dengar semua orang memanggil lo, itu tandanya lo emang raja sekolah tahun ini juga.”
Kata Gita terlihat sangat bangga. Tebakkannya tidak meleset, karena tak bisa di
pungkiri kalau Monika itu cantik, pintar dan anggun. Sedangkan Gilang, cool,
tampan pintar dan sangat jenius jadi pasti mereka berdua yang akan di nobatkan
sebagai raja dan ratu di sekolahannya.
“Yaa... benar Gilaangg!! Silahkan naik ke panggung.”
“Yee!” Gita berjingkrak kegirangan, tapi Gilang biasa saja bahkan dia tidak bergerak
untuk ke panggung.
“Eh.. kenapa masih disini?”
“Memangnya harus kemana?”
“Ya naik ke panggung lah, lo dengar kan mc ngomong apa?” Gita berjalan mendekekati Gilang.
“Buat apa ke panggung kalau ratu gue aja disini, gue hanya mau jadi raja di hati lo
bukan mereka.” Katanya sambil menatap Gita lekat. Gita menahan senyum sambil
memalingkan sedikit wajahnya yang sudah berubah kemerahan. Dia salting di
gombali sama Gilang.
“Dasar tungkang gombal.” Gumam Gita dengan masih menahan senyuman.
“Kepada Gilang dimohon untuk naik panggung.” Kata Mc lagi. Semua siswa mencari Gilang
yang tak kujung datang. Dan Gilang tetap saja tidak peduli, dia memilih bersama
Gita daripada naik ke panggung bersebelahan dengan Monika yang ujungnya harus
berdansa dengan dia.
‘Ok, mungkin Gilang sedang sibuk jadi tidak bisa naik panggung. Pengumuman Raja dan
Ratu sudah, sekarang saatnya pesta dansa!” seru Mc dan panitia pun memutar
lagu.
Semua siswa langsung mencari pasangannya sendiri-sendiri. Monika dari panggung
mencari sosok Gilang yang bak di telan bumi.
Gilang mengulurkan tangannya ke arah Gita, Gita terdiam sesaat.
__ADS_1
“Apa?”
“Berikan tangan lo, kita dansa.” Kata Gilang.
Gita menyambut tangan Gilang, “Tapi gue tidak bisa?”
“Ikuti saja gerakan gue.” Gilang menarik Gita lebih dekat dengannya.
Di bawah langit yang cerah, Gilang dan Gita berdansa. Musik terdengar nyaring,
namun suasana di taman malam itu sangat nyaman. Gita mengikuti arahan Gilang.
Mereka berdua saling bertatapan, mata bertemu dengan mata senyum di bibir melebar.
“Kak..” Gita menggigit bibir bawanya setelah menginjak kaki Gilang.
“Ssttt.” Gilang meminta Gita untuk diam.
“Tapi...”
“Jangan bicara lagi, tutup mata lo dan dengarkan dan ikuti musiknya.” Kata Gilang.
Gita memejamkan matanya, dia merasa lebih relax meskipun jantungnya berdetak tidak
karuan. Dia menikmati lagunya dan mengikuti setiap ketukan sampai dia tidak
menginjak kaki Gilang.
Gilang menatap lekat wajah Gita yang bersih tanpa jerawat, dia benar-benar terlihat
sangat manis meskipun tanpa make up.
“Tuhan, andai bisa ingin waktu berhenti saat ini. Aku tidak ingin jauh dan kehilangan
wanitaku ini. Dia sangat berharga Tuhan.” Batin Gilang sambil terus memandangi
wajah Gita. Tangannya semakin erat menggenggam tangan Gita.
Mereka berdua terlalu menikmati sampai-sampai sahabat-sahabatnya datang di situ tidak
tahu. Sahabatnya duduk bak menikmati pertunjukan romantis.
“Ini dia king and queen yang sebenarnya.” Kata Anita lirih.
Dari ke jauhan Monika ikut melihat pertunjukan romantis Gilang dan Gita. Dia kesal,
tanggannya menggenggam erat. Dalam hatinya dia ingin memberikan pelajaran
kepada Gita.
Fara, Raka, Vian, Anita dan Bayu bertepuk tangan ketika Gilang dan Gita berhenti
berdansa. Gita kaget langusng melepaskan pegangan tangan Gilang.
“Sangat romanatis.” Kata Fara dengan nada iri.
“Seperti di negri dongeng.” Tambah Anita.
“Mimpi jadi nyata, cinderella hati-hati lo berubah jadi buruk rupa lagi.” Kata Fara
sambil terkekeh.
“Kalian sejak kapan disini?” wajah Gita memerah karena malu.
“Semenjak ada dirimu, dunia terasa indahnya..” Mereka bernyayi lalu tertawa. Gita
berdesisi, dia malu terus di ledekin sahabat-sahabatnya.
“Makan yuk, gue lapar.” Kata Fara sambil mengusap perutnya.
“Iya nih, di dalam Cuma dapat snack doang. Lapar bbanget gue.”
“Ok, cabut cari makan.” Ajak Bayu.
Gita duduk menatap keluar jendela melihat ke luar, dia memandangi langit yang sama
indahnya seperti di taman sekolah. Bibirnya tak lepas dari senyuman mengingat
perlakuan Gilang malam ini. Hati Gita sangat penuh dengan perhatian dan cinta
__ADS_1
yang di berikan oleh Gilang.
“Tuhan, aku bersyukur atas apa yang aku pilih.
Engkau mepertemukan ku dengan orang yang sangat sayang padaku. Tuhan, semoga
Kak Gilang memang jodohku nanti, bukan hanya cinta sesaat yang meninggalkan kenangan
manis namun tak bisa ku miliki.” Doa Gita di dalam hati.
“Eh.. senyam-senyum mulu lo.” Fara menyenggol Gita.
“Apaan sih, gue senyum salah. Gue manyun salah mau lo apa?” ujar Gita pelan.
“Kak Gilang udah ngapain lo aja, kok lo sampai senyum-senyum kayak gini?” Bisik Gita
agar tak terdengar yang lain.
Tuk! Gita mengetok kepala Fara dengan tangannya.
“Emang gue cewek apa kabar? Sembarangan, lagian Kak Gilang nggak bakalan ngelakuin
yang aneh-aneh sama gue.” Gita membalas dengan berbisik juga.
“Ya namanya cowok, lo udah..” Fara mengehntikan omongannya lalu mengkode dengan
mengangkat kedua alisnya dan pandangan matanya ke arah bibir Gita.
“Nggak semua cowok ya kayak gitu, lagian bibir gue masih suci. Masih SMA jangan mikir
yang aneh-aneh.” Ujar Gita. Gita tiba-tiba menatap Fara tajam.
“Apa?”
“Jangan-jangan lo udah pernah ya...” Gita menatap Fara dengan curiga.
“Enak aja, Anita tuh.” Fara menoleh ke arah Anita diikuti Gita yang ikut menatap
Anita.
“Apa?” Anita bingung karena nggak tahu pembahasan Gita dan Fara.
Fara mengkode Anita dengan tangannya agar dua mendekat.
“Lo udah pernah kiss kan?”
“Sembarangan, lo tahu kan gue jomblo. Gue rasa lo yang sudah pengalaman.”
“Gue setuju.” Gita menyetujuhi ucapan Anita.
“Kok, jadi gue.”
“Orang kalau suka menuduh biasanya yang berpengalaman.” Kata Anita.
“Benar.”
“Heh..heh... kenapa kalian ribut banget sih. Tiga orang aja kayak satu rt.” Kata Raka di
belakang mereka.
“Bawel, kenapa nggak lo aja yang turun.” Omel Fara.
“Kenapa gue ini kan mobil..”
“Mobil siapa?” Gita membantu Fara.
“Mobil Gilang, tapi sesama cowok itu akan solit.” Kata Vian.
“Oiya..” Gita menatap Gilang yang sedang mengemudi. Gilang hanya senyum menanggapi
ocehan Gita dengan sahabat-sahabatnya.
“Yah.. Gilang nggak bisa jawab. Dia pacar-pacar yang takut ceweknya.” Kata Bayu.
“Eits.. gue bukannya takut. Tapi gue menghargai pasangan gue. Kalau di suruh pilih
siapa yang gue turunin ya kalian lah. Mana mungkin gue turunin pacar gue.”
Jawab Gilang dengan santai.
__ADS_1
“Dasar teman laknat.” Kata Bayu, Raka dan Vian barengan. Gita, Anita dan Fara tertawa
puas mendapat pembelaan dari Gilang.