
Seperti yang sudah di rencanakan dari awal, Gilang akan mengajari Gita, Fara, Vian dan Raka setelah pulang sekolah.
"Mana nih Kak Gilang, dia nggak lupa kan?" Fara sudah nggak sabar.
"Ke kantin dulu aja yuk. Udah lapar lagi gue." Ajak Gita.
"Ayok, gue juga udah lapar lagi." Anita menggandeng Gita. Raka dan Vian mengangguk mengikuti cewek-cewek.
"Gilang lagi ngapain sih? kalau masih sibuk belajarnya besok saja. Gue ada kerjaan nih, pesawat bokap gue lupa belum gue parkirin." kata Raka sambil makan cilok.
"Lagak lo parkirin pesawat. Lihat noh Fara yang pelihara puluhan buaya jantan nggak sombong." Kata Anita.
"Harga pesawat sama buaya mahalan pesawat, pantesan dia nggak lebih songong daripada gue."
"Nggak usah berlagak pesawat lo pesawat kertas juga, ntar gue bawa kesini buaya-buaya gue nangis." Fara angkat bicara yang sejak tadi hanya senyam-senyum doang.
"Udah-udah malah jadi adu mulut, gimana nih jadi belajarnya nggak?" tanya Anita.
"Entah, Ta gimana nih?" tanya Raka.
"Ntar gue cek dulu ke ruang osis udah selesai belum rapatnya."
Gita berjinjit untuk melihat dari jendela, "Masih rapat juga." Gita manyun.
...Gita...
...Masih lama Kak raparnya?...
...Gilang...
...Lumayan, gimana?...
...Gita...
...Berarti nggak jadi ngajarin kita belajar?...
...Gilang...
...Ah.. sorry gue lupa....
...Kalian langsung kumpul ke perpustakaan dulu, lima menit lagi gue kesana**...
"Bikin janji sendiri, lupa sendiri." Gita menepuk jidatnya lalu kembali ke kantin memanggil teman-temannya.
...♡◇◇◇♡...
"Teman-teman sorry, hari ini gue nggak bisa ngajarin. Dadakan rapat osis sampai sore." Gilang meminta maaf sambil menjelaskan.
"Ok nggak apa-apa Lang, santai aja." jawab Raka dengan wajah santai.
"Iya, kepala gue juga belum siap menerima pelajaran dari lo yang pasti akan bertubi-tubi." Jawab Vian sambil tertawa kecil.
Fara dan Anita juga nggak keberatan, justru Gita yang merasa kesal karena Gilang yang tidak menepati janji.
__ADS_1
"Guys.. nonton bioskop yuk." Ajak Fara.
"Ayok." jawab Gita sambil berdiri. Diikuti Anita, Vian dan Raka.
"Ta.. bisa ngobrol sebentar."
"Kalian ngobrol dulu gih, kita tunggu lo di parkiran sekalian cari filmnya." ujar Anita.
"Iya."
Gilang mendekati Gita setelah yang lain keluar.
"Ngambek ya?" Gilang pura-pura tanya padahal sudah tahu. Gita hanya melirik sebentar lalu menatap ke depan lagi. Dia mengabaikan Gilang.
"Iya deh maaf, gue salah. Ya tapi gimana lagi ini udah tugas gue menjadi ketua osis jadi ya gue nggak bisa tolak." Gilang menjelaskan kesibukannya agar Gita bisa mengerti dan tidak salah paham. Gita masih diam tak menjawab.
"Please jangan ngambek ya.. gue sedih nih.. nanti nggak bisa konsen raparnya." Gilang membujuk agar Gita tidak ngambek.
Baru membujuk Gita, ponsel Gilang berdering. Dia melihat layar dan muncul nama Monika.
"Tuh udah di panggil, buruan kesana." Kata Gita dengan nada biasa namun terdengar mengerikan di telinga Gilang.
"Gita..." Katanya sambil memegang tangan Gita. "Maaf." Gilang memohon.
"Iya, gue nggak ngambek." jawabnya datar.
"Senyum dulu dong." pinta Gilang.
"Nggak mau." jawabnya.
Dengan terpaksa Gita tersenyum manis, meskipun terlihat kaku.
"Nah gitu dong." Gilang mencubit pipi Gita.
"Nanti setelah selesai gue telpon lo." Kata Gilang yang hanya mendapat anggukan dari Gita.
Gilang mengecup pipi kanan Gita dengan cepat, "I love you." Bisiknya lalu pergi meninggalkan Gita.
Bibir Gita tertarik lebar, dia memegangi pipi yang baru saja di cium Gilang.
"Kalau gini nggak jadi kesal gue." katanya sambil keluar kelas.
...♡♤♤♤♡...
Gita melempar tasnya, dia merebahkan tubuhnya setelah capek nonton bioskop.
"Ta.. ada tamu di depan." panggila Genta dari luar kamarnya.
"Siapa Kak?"Gita belum mau beranjak.
"Nggak tahu, temuin aja sendiei. Kakak buru-buru mau ke kamar mandi." Kata Genta.
"Ish... Kak Genta mah kalau ngasih tahu setengah-setengah." Gita merengut. Dengan malas dua berjalan turun untuk mengetahui temannya yang berkunjung.
__ADS_1
"Hai.." Gilang sudah berdiri di depan pintu dengan membawa buket bunga besar berisikan bunga mawar merah.
"Kak Gilang ngapain malam-malam kesini."
"Gue mau minta maaf karena buat lo dan teman- teman lo kecewa." jawab Gilang lalu memberikan buket bunganya.
"Kan bisa lewat telpon, pasti capek kan." Gita menerima bunganya. Gita menyuruh Gilang duduk.
"Gue buatin minum dulu ya." Gita hendak membuatkan minum namun di tahan sama Gilang.
"Nggak usah, gue sebentar aja kok." Katanya sambil tersenyum.
Gita tidak tega melihat wajah Gilang yang terlihat capek banget.
"Gue pulang sekarang ya, udah nggak ngambek lagi kan?" Gilang berdiri. Gita menggelengkan kepala.
"Bagus deh, gue pulang ya." Gilang mengusap rambut Gita.
"Iya, hati-hati."
Gilang mengangguk, dia sebenarnya sudah sangat lelah mau fisim ataupun pikiran. Namun dia menyempatkan untuk membeli bunga dan datang ke rumah Gita untuk meminta maaf.
Gita menaruh bunganya, lalu berlari memeluk Gilang.
"Maafin Gita." bisik Gita pelan.
Gilang memutarkan tubuh Gita hingga mereka berhadapan.
"Kenapa lo yang minta maaf, kan gue yang salah." Gilang mengacak rambut Gita.
"Tapi karena gue, kakak yang sudah capek harus datang kesini." Gita kembali memper erat pelukannya.
"Jangan sedih gitu ah, semua capek gue itu hilang kalau sudah ketemu lo."
"Gombal banget."
"Siapa yang gombal, ini beneran."
"Ya sudah sana pulang dan langsung istirahat." Gita melepaskan pelukannya.
"Iya." Gilang berjalan ke mobilnya dia mengurungkan membuka pintu mobil. Dia berlari memeluk Gita lagi.
"Kak, kenapa?" Gita bingung.
Gilang mengeratkan pelukannya,"Kangen saja." jawabnya pelan. Gilang melepaskan pelukannya lalu menciun pipi Gita, kemudian dia langsung kabur naik mobilnya.
"Dapat dua kali sehari, kayak minum obat gue." Gita memegang pipinya. Dia kegirangan berlari mengambil bunganya lalu masuk ke dalam.
"Eh.. Ta. Mau di bawa kemana bunganya?" tanya Genta.
"Ke kamar."
"Tumben."
__ADS_1
"Iya, bunganya ini spesial jadi Gita bawa masuk. Udah ah.. Gita mau mandi." Gita meneruskan naik tangga.