Cinta Pertama Sang Presdir

Cinta Pertama Sang Presdir
118. Kedatangan Ryan


__ADS_3

"Siapa?"tanya Jo dengan suara yang tegas dan wajah penasaran nya karena memikir kan siapa yang ingin menemui nya di jam segini,sambil menatap OB wanita tersebut yang menatap Desi dengan wajah yang kesal bercampur sinis.


"Tu Tuan ......" OB wanita yang mendengar suara tegas dari Jo pun langsung tersentak kaget dan menjawab dengan gugup,tapi belum sempat ia menjawab pertanyaan nya Jo,terdengar suara seorang pria yang menyela perkataan OB wanita itu terlebih dahulu,suara yang sangat familiar di telinga nya Jo.


"Aku yang ingin menemui mu,Tuan" sela seorang pria sambil berjalan masuk dari belakang tubuh OB wanita tersebut dengan gaya santai nya.


"Kenapa kau tidak mengangkat telepon dari ku? Aku pikir,mungkin saja ada yang terjadi sesuatu dengan kau hingga tidak sempat mengangkat telepon dari ku" lanjut Ryan dengan nada bercanda nya dan terus berjalan ke arah Jo tanpa menyadari kalau masih ada seorang wanita di dalam ruangan sahabat nya itu selain OB wanita itu.


Sedang kan Jo hanya menatap Ryan dengan wajah yang tersenyum tipis saja,sambil melirik wajah Desi yang terus nenatap dirinya dengan tersenyum malu hingga membuat dirinya sedikit mengerut kan kening nya karena heran.


Tapi di dalam hati nya ia bersyukur dengan kedatangan sahabat nya ini,jika tidak,ntah apa yang akan terjadi dengan dirinya dan Desi tadi.


'Bagaimana kalau Ryan tidak datang tadi,mungkin saja akan terjadi bencana alam' pikir Jo,


"Tunggu dulu,jangan bergerak" ucap Ryan saat melihat Jo yang berniat berbalik badan karena ingin menuju ke kursi kebesaran milik nya,Ryan segera mempercepat kan langkah nya agar cepat sampai di tempat Jo berdiri.


"Apaan sih?" tanya Jo dengan nada kesal sambil menepis kedua tangan Ryan yang mencoba memegang kedua bahu nya.


"Apa yang ada di ...." ucapan Ryan terhenti di akhir kalimat sambil menatap sudut bibir nya Jo yang ada sedikit warna merah yang mirip seperti lipstik.


Ryan menatap wajah nya Jo sambil berdiri dan menopang dagu nya dengan sebelah tangan nya,biasa nya jika sahabat nya seperti itu pasti ada pacar baru nya yang sedang bersama nya saat ini.


Tapi kemana pacar baru sahabat nya itu,kenapa tidak kelihatan.Ryan segera mengitari setiap sudut di ruangan tersebut dengan memutar kepala nya dengan pelan.


"Apaan sih?" tanya Jo dengan wajah yang semakin kesal,saat melihat tingkah konyol nya Ryan,baru saja datang tapi sudah mampu membuat dirinya kesal.


"Oh,ternyata memang telah terjadi sesuatu dengan dirimu...Kenapa aku bisa sampai ketinggalan kabar?" ucap Ryan dengan nada tinggi nya saat baru menyadari kalau ada Desi di dalam ruangan tersebut.


" Jangan menyakiti wanita itu.Kau kan sudah tahu akibat nya,kalau sampai menyakiti wanita itu.Hery pasti tidak akan tinggal diam" bisik Ryan di samping telinga nya Jo dengan suara yang pelan,ia segera berjalan melewati Jo setelah memperingati Jo dengan beberapa kalimat.


Sedang kan Jo berdiri dengan wajah bingung nya karena ia mendengar bisikan nya Ryan sambil menatap gerakan tangan nya Desi yang seperti ingin memberitahu nya sesuatu.


"****" umpat Jo setelah ia mengerti gerakan tangan nya Desi yang terus menunjuk sudut bibir nya.


Ia segera berbalik badan dan berjalan ke arah meja kerja nya lalu mengambil kaca dari dalam laci meja kerja nya.


"Apa kah begitu nikmat,hingga tidak menyadari ada bekas yang tertinggal" sindir Ryan dengan nada santai nya sambil menatap Jo dengan wajah yang tersenyum jahil.


"Cih,kau itu sok tahu saja" ucap Jo dengan mendebik kesal sambil duduk di sofa dan berhadapan sama Ryan yang sudah duduk di sofa dari tadi.


"Cih,apa yang tidak aku tahu tentang kau..." ucap Ryan sambil menuang air putih yang ada di atas meja itu.


"Apa kau masih tetap ingin berdiri di sana?" tanya Jo dengan menatap ke arah OB wanita tersebut tanpa menanggapi pernyataan Ryan terlebih dahulu, sambil mengelap bekas lipstik nya Desi yang berada di sudut bibir nya,dengan mengguna kan ibu jari nya.


"Apa kau tidak dengar,cepat keluar" ucap OB wanita tersebut dengan percaya diri sambil berbalik badan dan menatap ke arah Desi.


"Aku?" tanya Desi dengan wajah kaget nya,apa Jo benar-benar sedang mengusir dirinya.


"Iya,siapa lagi kalau bukan kau" jawab OB wanita tersebut dengan tersenyum sinis.

__ADS_1


"Bukan dia tapi kau yang harus keluar" ucap Jo dengan nada tinggi nya dan wajah yang kesal karena melihat OB wanita yang begitu percaya diri itu.


"Aku Tuan?" tanya OB wanita tersebut dengan wajah kaget nya sambil kembali berbalik badan dan menatap Jo.


"Iya,cepat keluar sebelum aku memecat kau" perintah Jo lagi dengan nada emosi,wajah nya semakin kesal saja saat menatap wanita genit itu.


Dari awal ia sudah menyadari kalau wanita OB itu selalu mencari kesempatan untuk menggoda nya dengan berpakaian yang kurang bahan dan kadang-kadang juga sengaja memperlihat kan belahan bukit kembar milik nya dengan cara sengaja membungkuk atau dengan cara yang lain nya.


Tapi sayang nya,ia tidak tergiur sama sekali.Tapi saat menyentuh Desi tadi,ntah kenapa malah membuat nya semakin tergoda untuk berbuat lebih hingga ia tidak mampu untuk mengontrol dirinya lagi.


"Ba baik Tuan" jawab OB wanita itu dengan wajah takut nya,lalu ia segera keluar dari ruangan itu dengan wajah marah bercampur kesal saat melihat Desi yang tersenyum mengejek ke arah nya.


'Seperti nya aku harus bergerak cepat.Jika tidak,wanita murahan itu pasti akan mendahului ku' batin OB wanita tersebut dengan wajah emosi nya sambil mengepal kan kedua tangan nya ,setelah ia sudah berada di luar ruangan nya Jo.


"Dan kau,segera kerja kan tugas yang aku beri ini" ucap Jo setelah ia berdiri dan berjalan ke arah meja kerja nya barusan,untuk mengambil tugas yang sudah ia siap kan untuk di kerja kan oleh Desi dan ia segera meletak kan nya di meja yang khusus untuk Desi.


"Baik sayang" jawab Desi dengan tersenyum manis dan langsung berjalan ke arah meja nya.


"Uhuk uhuk uhuk uhuk" Ryan langsung terbatuk-batuk karena tersedak oleh air putih yang ia minum , setelah mendengar panggilan sayang dari Desi untuk Ryan saat ia sedang meminum air barusan.


"Kenapa aku bisa ketinggalan sangat jauh sekali,padahal baru semingggu aku tidak datang menemui kau" ucap Ryan dengan wajah heran nya sambil mengambil tisu untuk mengelap setiap sudut bibir nya yang terkena air dan air mata yang keluar karena tersedak tadi.


"Bagaimana kau bisa bersama ....?" tanya Ryan lagi dengan nada pelan,ia sengaja menghenti kan perkataan nya di akhir kalimat sambil menunjuk melalui mata nya,ke arah Desi yang sedang sibuk mengerja kan tugas yang telah di beri kan oleh Jo tadi.


"Kau tidak tahu apa yang sebenar nya terjadi,jadi jangan berpikir sembarangan" jawab Jo dengan wajah kesal nya sambil melempar bantal yang ada di samping nya ke arah Ryan.


"Itu bukti nya" ucap Ryan dengan tersenyum jahil dan menaik turun kan alis nya,sambil menunjuk sudut bibir nya sendiri dengan jari telunjuk nya dan sebelah tangan nya lagi menangkap lemparan bantal dari Jo.


"Kau tidak tahu saja,kalau wanita aneh itu...." jawab Jo dengan memberengut kesal sambil menatap wajah serius nya Desi,ia menghenti kan perkataan nya di akhir kalimat.


Tidak mungkin juga ,ia curhat kepada Ryan di depan wanita aneh itu kan,bisa-bisa wanita aneh itu akan mendengar nya semua,pasti wanita aneh itu akan ikut berdebat dalam pembicaraan antara dirinya dan Ryan nanti.


Jo kembali menatap wajah Ryan yang masih saja sibuk menaik turun kan alis milik nya,ia segera melempar kan lagi bantal yang masih tersisa di samping nya itu dengan keras ke arah Ryan.


"Kenapa kau sensi sekali?" tanya Ryan dengan wajah yang tersenyum jahil lagi setelah sudah menangkap bantal yang lagi-lagi di lempar oleh Jo.


Jo hanya mendengus kesal,lalu ia segera menuang air putih dan meminum nya dengan sekali tegukan.


"Memang nya kenapa dengan dia?" tanya Ryan dengan wajah serius nya sambil menunjuk ke arah Desi yang terlihat sangat serius melalui ekor mata nya.


"Semua ini gara-gara pria wajah dingin itu" ucap Jo dengan suara yang mengeram kesal tapi pelan,ia malah menjawab yang tidak di pertanya kan oleh Ryan.


"Tapi kalau aku yang menilai,dia terlihat sangat mencintai kau Jo" ucap Ryan tanpa menanggapi perkataan kesal nya Jo,ia tahu siapa pria yang di sebut kan oleh Jo tapi ia tidak tahu jelas apa permasalahan nya.


Lagi pula ia lebih suka membahas tentang Desi yang Jo sebut dengan wanita aneh itu.


"Ingat ya,jangan menyakiti nya nanti kau akan menyesal" lanjut Ryan lagi dengan wajah serius nya saat melihat Ryan yang sedang menyandar kan kepala nya ke belakang dengan wajah kesal nya tanpa suara.


"Jo" panggil Ryan saat Jo hanya diam saja tanpa mau menanggapi perkataan nya.

__ADS_1


"Hm" jawab Jo dengan singkat sambil menegak kan kembali kepala nya dan menatap Ryan yang ada di depan nya.


"Kau dengar kan,apa yang aku kata kan barusan ?" tanya Ryan,masih dengan wajah serius nya.


"Ntah lah" jawab Jo dengan wajah bingung nya,ia juga tidak mengerti dengan perasaan nya saat ini,hingga membuat Ryan hanya mampu menggeleng-geleng kan kepala nya dengan pelan saat melihat wajah bodoh nya Jo.


Ada rasa nyaman di hati nya saat berdekatan dengan wanita aneh itu,tapi ia dari awal sudah bertekad untuk tidak menikah terlebih dahulu,pasti nya hanya 1 alasan nya,karena ia masih ingin bebas.


Tapi wanita aneh itu terus membuat nya tidak berdaya dan menjadi seperti orang bodoh setiap bersama dengan dia,dan juga wanita aneh yang suka memaksa dirinya.


"Ada perlu apa,kau datang ke sini?" tanya Jo yang sengaja mengalih kan pembicaraan mereka barusan.


"Tidak ada apa-apa ,aku tadi hanya menelepon kau karena ingin mengajak makan siang saja tapi kau malah tidak mengangkat telepon dari ku,ternyata kau sibuk dengan dia" jawab Ryan dengan wajah santai nya sambil menyandar kan tubuh nya ke belakang.


Hingga membuat Jo mendengus kesal saat mendengar jawaban dan ejekan nya Ryan,ia kira ada masalah penting,ternyata hanya ingin mengajak nya makan siang.


"Aku bosan makan sendirian,Hery sibuk dengan istri nya yang sedang hamil,Ars sedang sibuk perkerjaan nya karena Hery yang tidak bisa masuk sedang kan Mark sedang melaku kan misi nya di sana" lanjut Ryan lagi dengan wajah yang tersenyum lucu saat memikir dirinya yang seperti sedang kesepian saat ini.


"Maka dari itu,aku mencari kau sekalian untuk mengobrol" lanjut Ryan lagi dengan menghela nafas dengan pelan.


"Cih,kau itu harus mencari kekasih bukan mencari ku.Kau ini ada-ada saja" ucap Jo setelah Ryan selesai mengeluh.


"Kekasih? Aku tidak punya waktu untuk itu" jawab Ryan sambil menatap wajah kusut nya Jo.


"Maka nya sekali-kali kau harus liburan,jangan terus berkerja" ucap Jo,wajah kesal nya sudah mulai mengurang sekarang tapi wajah nya tetap saja terlihat kusut seperti memikir kan banyak beban padahal hanya memikir kan seorang wanita saja dan wanita itu adalah Desi.


"Tidak apa-apa,mungkin saja jodoh ku memang masih di depan sana" ucap Ryan sambil terus menatap wajah Jo yang tidak sedang menatap ke arah dirinya tapi malah terus menatap ke arah Desi dari tadi.


Itu lah beda nya 2 sahabat nya ini.Walau pun Jo sedang kesal atau sedang memiliki masalah,ia masih bisa mengontrol emosi nya,bahkan ia bisa memberi masukan di dalam situasi apa pun kecuali di situasi darurat.


Tapi beda dengan Hery yang tidak bisa mengontrol emosi nya jika sudah bersangkutan dengan orang yang ia sayangi atau ia cintai,Hery juga suka membuat mereka kesal dan jarang memberi masukan secara langsung,ia hanya akan memberi masukan melalui kata-kata tajam nya.


"Tapi beda dengan kau,jodoh kau mungkin sedang ada di depan mata" lanjut Ryan lagi sambil tersenyum jahil yang tidak di sadari oleh Jo sama sekali karena hanya sibuk menatap Desi saja dari tadi.


"Mungkin saja" jawab Jo tanpa sadar.


"Bu bukan begitu,maksud nya tidak mungkin" Jo segera meralat perkataan nya barusan dan menoleh kepala nya ke arah Ryan yang sedang tertawa kecil.


"Dasar " umpat Jo dengan wajah kesal nya kembali sambil kembali melempar bantal ke arah Ryan,untung saja masih ada sisa 1 bantal di samping nya jadi ia masih bisa melempar Ryan.


Ryan pun lagi-lagi berhasil menangkap lemparan bantal dari Jo,lalu ia berdiri dari duduk nya dan berjalan ke arah Jo.


"Pikir kan baik-baik kata ku tadi.Tapi seperti nya, harus aku peringat kan kembali dengan kata-kata yang benar agar kau tidak salah dalam mencerna nya" ucap Ryan setelah sudah berdiri di samping nya Jo,sedang kan Jo hanya mendengus kesal saat mendengar perkataan nya Ryan.


"Jangan menyakiti nya karena itu akan membekas nanti nya dan kau akan sulit untuk menyembuh kan nya.Jika kau tidak mencintai nya maka kau harus segera menegas kan pada nya,tapi jika kau mencintai nya,segera balas lah cinta nya sebelum kau menyesali nya" lanjut Ryan lagi sambil menepuk-nepuk pelan pundak nya Jo.


Kemudian ia kembali berjalan melewati Jo dari belakang sofa,dengan wajah yang tersenyum senang saat memperhati kan wajah nya Jo yang seperti sedang berpikir keras.


Padahal ia hanya asal bicara saja,tapi seperti nya apa yang ia kata kan tadi sangat sesuai dengan apa yang di hadapi oleh Jo.

__ADS_1


"Aku pulang dulu ya nona cantik,bye-bye" teriak Ryan saat sudah hampir sampai di pintu keluar,sambil melambai-lambai kan tangan nya ke arah Desi yang langsung menatap nya,ia juga sambil mengedip kan sebelah mata nya ke arah Desi yang tersenyum dan mengangguk kan kepala dengan pelan ke arah nya.


__ADS_2