
"Dad" panggil Ryan lagi,dengan nada yang naik 1 oktaf,karena Daddynya hanya diam saja dari tadi.
"Kau salah orang,kami tidak memiliki putra.Kami hanya memiliki seorang putri saja" jawab Daddynya Ryan dengan nada kesalnya tanpa menatap ke arah Ryan,saat ia mendengar panggilan Daddy yang di layangkan oleh Ryan untuknya.
Mommy dan adik perempuannya Ryan,hanya mampu duduk dalam diam saja sambil menatap sedih ke arah Ryan.
Sedangkan meja di samping mereka yang terdiri dari kedua orang tuanya Jo,Desi,Ashley dan juga Agatha.Mereka semua juga hanya ikut duduk dalam diam dan mendengar saja.
"Sudah,jangan terlalu keras sama putramu sendiri" timpal Daddynya Hery dengan nada santainya,sambil meminum jus miliknya dan mengabaikan tatapan kesal dari Daddynya Ryan.
"Apa semua ini termasuk rencanamu juga?" tanya Daddynya Ryan pada Daddynya Hery,sambil menatap kesal ke arah wajah tidak bersalahnya Daddy Hery tersebut.
Padahal ia rela cuti dari perkerjaannya demi untuk datang ke sini karena untuk menghargai bujukan dari Daddynya Hery hari itu,tapi ternyata hanya sebagai jebakan secara tidak langsung dari Daddynya Hery untuk dirinya.
Sedangkan Hery dan Ashley dan juga yang lainnya,segera mendekat setelah acara salam-salaman mereka sudah selesai.Lalu merekapun berdiri tidak jauh dari punggungnya Ryan dan mendengar saja pembicaraan para orang tua tersebut.
"Sudah nak,apa kau tidak malu sama para anak muda?" tanya Grandma dengan nada malasnya,saat ia melihat Daddynya Ryan yang sama-sama keras kepala dengan Ryan.
"Putramu itu yang memulainya,Mom" jawab Daddynya Ryan dengan wajah yang sedang menahan kesal,sambil menatap wajah sedih istri dan putri bungsunya.
Grandmapun langsung menghela napas dengan pelan,sambil menatap putranya dan Daddynya Ryan secara bergantian.Kemudian tatapannya Grandma berhenti pada wajah datar suaminya.
"Ryan,duduklah" perintah Grandpa yang dari tadi hanya mengamati mereka saja,karena tidak suka mengurusi masalah yang bukan masalahnya.Iapun langsung bersuara,saat ia melihat tatapan istrinya yang menandakan kalau sekarang dirinya yang harus bicara.
"Baik,Grandpa" jawab Ryan dengan wajah pasrahnya,sambil duduk di kursi kosong yang ada di samping Daddynya.
"Dan kamu juga duduklah di sampingnya Ryan" lanjut Grandpa lagi,dengan nada tegasnya sambil menatap wanita yang datang bersama Ryan tadi hanya berdiri tidak jauh dari tempat Ryan berdiri tadi dengan wajah bingungnya.
"Aliska " panggil Ryan dengan nada kesalnya,saat ia melihat Aliska yang tidak bergerak dari tempatnya berdiri sedikitpun.
"I Iya" jawab Aliska dengan nada gugupnya,sambil berjalan ke arah Ryan dan langsung duduk di sampingnya Ryan.
Jika tadi ia hanya berhadapan dengan yang umur tidak jauh beda sama dirinya,mungkin ia tidak akan segugup ini.Tapi kali ini berbeda,ia sudah seperti berada di tengah-tengah kebakaran,karena saat ini ia sedang berhadapan sama para orang tua yang memiliki aura menakutkan.
Hening untuk beberapa menit,mereka semua masih setia untuk menunggu lanjutan dari Grandpa.
"Tuk tuk tuk tuk tuk" terdengar ketukan pelan jari telunjuknya Grandpa di atas meja tersebut,Grandpa mengetuk sambil menghela napas dengan pelan dan menatap Daddynya Ryan,Ryan dan Aliska secara bergantian.
"Ryan" panggil Grandpa dengan nada tenangnya,sambil menghentikan ketukan jari telunjuknya.
"Iya Grandpa" jawab Ryan dengan wajah yang penasaran karena sedang sibuk memikirkan apa yang sedang di pikirkan dan akan di katakan oleh Grandpa.
"Ikut Daddymu pulang,lalu Menikahlah dan jadilah penerus Daddymu di sana" ucap Grandpa dengan nada tegasnya,sambil menatap wajah kagetnya Ryan.
"Tapi Grandpa......" bantahan dari Ryan yang belum sempat selesai itu,langsung di sela oleh Grandpa dengan cepat.
"Grandpa tidak ingin mendengar alasan apapun lagi darimu.Rumah sakit di sini,kami sudah ada penggantimu.Jadi,kami sudah tidak memerlukanmu lagi di rumah sakit besar kami itu" sela Grandpa dengan kata-kata tajamnya tapi niatnya baik terhadap Ryan,dan semua orang tahu tentang hal itu.
Walaupun Grandpa berbohong tentang penggantinya Ryan tadi,tapi itu masih bisa di atasi oleh putra dudanya itu.
__ADS_1
"A apa? Se secepat itu?" tanya Ryan dengan ekspresi tidak percaya di wajahnya,sambil terus menatap ke arah wajah datarnya Grandpa.
"Apa kau masih tidak bisa melihat,kalau Daddymu itu sudah berumur.Siapa lagi yang akan meneruskan perjuangan masa mudanya itu,kalau bukan dirimu.Jangan terus mengandalkan adik perempuanmu,apa kau yakin kalau adik perempuanmu sanggup mengendalikan semua itu.Atau kau ini bukan laki-laki,karena hanya bisa melemparkan tanggung jawab sendiri ke saudara sendiri?" lanjut Grandpa lagi dengan nada malasnya dan sekalian bertanya pada Ryan yang hanya mampu menundukkan kepalanya dengan wajah pasrahnya saja.
Sudah cukup,ia membiarkan Ryan bertingkah dan berkerja di rumah sakit miliknya,karena ia ingin menguji dan sekalian untuk mengasah kemampuannya Ryan saja,dan ternyata Ryan memang sangat mampu dalam mengurus sebuah rumah sakit besar dan juga selalu bertanggung jawab dalam melakukan tugas-tugasnya.Tapi sekarang sudah saatnya ia melepaskan Ryan untuk membantu orang tuanya.
Sedangkan Daddynya Ryan,ia hanya tetap menampilkan wajah datarnya saja,tapi ia terseyum puas di dalam hati saat ia mendengar rentetan-rentetan ceramah yang di berikan oleh Tuan besar Kusuma tersebut pada putranya yang keras kepala itu.
Dan hanya Tuan Besar Kusuma tersebut saja yang mampu mengendalikan keras kepala putranya itu,terbukti dari kepalanya Ryan yang sedang tertunduk pasrah saat ini tanpa banyak bantahan.Tidak seperti ketika berbicara dengan dirinya,Ryan pasti selalu membantah perkataannya di setiap dirinya memberi nasihat ataupun perintah.
Untung saja meja mereka berada agak jauh dari meja-meja para tamu,apa lagi ada para pengawal yang membentuk lingkaran di sekeliling mereka semua,jadi pembicaraan mereka tidak bisa di dengar oleh para tamu sama sekali.
"Apa perlu,Grandpa mengantarmu sampai kerumahmu sana?" tanya Grandpa dengan nada tegasnya,tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah pasrahnya Ryan.
"Aku akan mengikuti Daddy pulang saja, Grandpa" jawab Ryan dengan nada sopannya,sambil mengangkat kepalannya dengan tidak bersemangat.
'Bagaimana ini,Dokter ingin pulang.Lalu aku harus bagaimana?' tanya Aliska di dalam hati dengan wajah bingungnya.
"Lalu bagaimana dengan wanita yang ada di sampingmu ini?" tanya Grandma dengan wajah seriusnya,saat ia melihat Aliska yang langsung menjadi kaget,bingung,sedih dan khawatir yang bercampur menjadi satu.
Ryan yang baru teringat sama Aliska,ia langsung menatap ke arah Aliska yang juga sedang menatap ke arahnya juga dengan wajah sedih.
"Apa maksud Grandma?" tanya Ryan dengan wajah bingungnya,sambil menatap wajah tersenyum Mommynya dan adik perempuannya.
"Kalau kamu tidak menyukai wanita ini.Grandma, Grandpa dan keluargamu akan mencarikan seorang wanita yang lain untuk segera kami nikahkan denganmu" jawab Grandma,dengan nada yang berpura-pura mengancam.
"Jangan" Aliska.
Aliska dan Rayn langsung menjawab secara serentak dengan jawaban yang berbeda tapi 1 arti dan wajah mereka berdua juga terlihat kaget dan juga bingung.
Ryan tidak ingin menikah sama wanita lain lagi,karena ia sudah merasa nyaman sama Aliska.Lagi pula,Aliska juga sedang sibuk mengejar dirinyaJadi kalaupun ingin menikah,ia akan menikah sama Aliska.Hanya saja,hatinya masih mengganjal tentang sahabat-sahabatnya yang lebih dulu mengenal Aliska tadi.
Sedangkan yang lainnya langsung tersenyum,saat mereka semua melihat tingkah lucunya Ryan dan Aliska barusan.
"Jadi?" tanya Grandma dengan nada tegasnya,sambil terus menatap Ryan untuk menuntut jawaban dari Ryan.
Aliska yang menjadi bingung dan malu itu hanya diam saja dengan wajah malunya,karena terlalu banyak orang yang menatap mereka.
Sedangkan Ryan,ia langsung menatap ke arah adik perempuannya,Mommynya dan terakhir ke arah Daddynya yang hanya menatap lurus ke depan saja.
"Aku akan menikahi wanita yang ada di sampingku ini" jawab Ryan dengan nada yakinnya,sambil mengenggam dan mengangkat sebelah tangannya Aliska ke atas meja dengan gerakan pelan.Ia harus bisa membuat keputusan,walaupun masih sedikit bingung.
"Prok prok prok prok prok" terdengar tepukan tangan dari semua orang yang ikut berbahagia atas pelamaran secara tidak langsung dari Ryan untuk Aliska barusan.Begitu juga dengan Daddy,mommy dan Adik perempuannya Ryan yang tersenyum bahagia,karena kebahagiaan mereka hari ini menjadi double,sebentar lagi putra mereka akan menikah dan juga akan pulang bersama mereka.
"Bagus" ucap Grandpa dan Grandma secara bersamaan,dengan wajah yang tersenyum bahagia.
Sedangkan Aliska langsung menatap tidak percaya ke arah Ryan,saat ia mendengar jawabannya Ryan tadi.
"Apa kamu serius dengan jawabanmu tadi?" tanya Aliska dengan nada pelannya ,sambil mendekatkan wajahnya ke telinganya Ryan,supaya Ryan bisa mendengar pertanyaannya.Ia sampai lupa,kalau ada banyak pasang mata yang memperhatikan tingkah mereka berdua.
__ADS_1
"Tentu saja aku serius,apa kamu tidak berharap seperti itu?" jawab Ryan dan sekalian bertanya dengan nada santainya,sambil menolehkan kepalanya ke arah Aliska.
"Tentu saja aku berharap seperti itu.Aku sangat bahagia malam ini.Terima kasih,Dok.Cup..." jawab Aliska dengan wajah yang tersenyum bahagia,setelah itu ia refleks mengecup sekilas bibir tebalnya Ryan tanpa sadar.
"Prok prok prok prok prok" kembali terdengar tepukan tangan dari yang lainnya dengan tepukan yang lebih keras dari sebelumnya.
Sedangkan Ryan dan Aliska,mereka berdua langsung menunduk malu saja.
'Dasar wanita ini,apa memang tidak punya malu sama sekali' batin Ryan dengan wajah yang tersenyum malu dan bercampur kesal.
'Ah,malunya aku.Aku terlalu bahagia sampai melupakan yang lainnya.Tapi aku memang merasa sangat bahagia malam ini dan rasanya aku seperti bermimpi saja malam ini' batin Aliska dengan wajah yang tersenyum malu dan bercampur bahagia.
"Dad" panggil Ryan,setelah tepukan tangan semua orang sudah reda.
"Hm" jawab Daddynya Ryan dengan pelan dan singkat,tanpa menoleh ke arah Ryan.
"Maafkan keegoisanku sebelum-sebelumnya,Dad" ucap Ryan dengan ekspresi bersalah di wajahnya dan nada tulusnya,sambil menatap wajah tua Daddynya.
Ia baru menyadari kalau ternyata perkataannya Grandpa tadi memang benar,kalau Daddynya memang sudah berumur,terbukti dengan sedikit samar-samar kerutan di tepi kedua mata Daddynya.
Itupun karena Daddynya yang sudah berumur 52 dan hanya berjarak 6 tahun lebih tua dari Daddynya Hery tersebut dan termasuk Mommynya,sering mengonsumsi makanan dan minuman sehat,Daddynya juga jarang tidur larut dan juga sedikit berolahraga,maka dari itu keriputnya masih samar-samar tapi akan terlihat kalau memang betul-betul di perhatikan.
"Apa Daddy tidak mau memaafkan aku?" tanya Ryan dengan nada sedihnya,karena Daddynya hanya diam saja.
"Tidak juga,kalau kau benar-benar akan pulang ke rumah dan membantuku tentang rumah sakit.Maka aku akan memaafkanmu" jawab Daddy dengan nada santainya setelah ia selesai menghela napas dengan pelan.Walaupun tadi Grandpa sudah membantunya,tapi ia hanya ingin memastikannya saja
"Aku janji,aku akan ikut Daddy pulang dan akan membantu Daddy.Tapi Daddy dan Mommy harus merestui istri pilihanku sendiri terlebih dahulu..." ucap Ryan dengan nada semangat dan wajah yakinnya,sambil menatap Daddy dan Mommynya secara bergantian.Takut-takut kalau Daddy dan Mommynya tidak akan merestui pernikahan yang ia inginkan dan ia janjikan pada Grandpa tadi,jadi ia menggunakan kesempatan ini sekalian.
Sedangkan Aliska,ia juga ikut deg-deg an sambil *******-***** ujung bajunya karena takut di tolak terang-terangan oleh kedua orang tuanya Ryan.
"Baik,tentu saja kami akan merestui kalian berdua.Bagi Mommy,yang terpenting kamu mau pulang ke rumah,itu sudah cukup buat Mommy.Mommy pasti akan memenuhi permintaanmu,selagi itu tidak melewati batas" jawab Mommy yang dari tadi hanya diam saja,ia segera menjawab pertanyaannya Ryan dengan wajah yang tersenyum bahagia,ternyata tidak sia-sia hari itu ia ikut bantu membujuk suaminya supaya mau datang ke sini.
Sekarang ia bukan hanya bisa bertemu sama putranya saja,tapi ia juga mendapatkan calon menantu yang cantik.
Aliska dan Ryan langsung tersenyum lega,saat mereka berdua mendengar jawaban dari Mommynya barusan.
"Lagi pula,calon istri pilihan putra kita lumayan cantik dan terlihat sopan.Jadi,kami pasti akan menyukainya di masa depan.Bukankah begitu,Dad?" tanya Mommynya Ryan sambil menelisik pakaian yang di pakai oleh calon istrinya Ryan itu,saat ia mendengar dengkusan kesal dari suaminya.
'Untung saja,tadi aku langsung menyuruhnya menukar Dress miliknya yang seperti kekurangan bahan itu' batin Ryan dengan wajah kesalnya,saat ia mengingat kembali dress yang di pakai oleh Aliska ketika ia menjemputnya tadi.Bukan hanya kedua matanya saja yang terbelalak,tapi jiwa mesumnya juga ikut-ikutan memberontak karena dressnya Aliska yang sangat terbuka.
"Iya" jawab Daddy dengan nada kesalnya saat ia mendengar perkataan panjang lebar istrinya itu.Ia merasa kesal pada Ryan,ternyata putranya mau menurut karena ada maunya.
Senyum bahagia di wajahnya Ryan dan Aliskapun menjadi semakin lebar dan senyum bahagia mereka berduapun langsung di ikuti oleh yang lainnya.
"Baiklah,sekarang masalah kalian sudah selesai.Hari dan tanggal pernikahan kalian berdua nanti saja baru kita bicarakan.Saat ini,kita rayakan dulu hari bahagia anak-anak yang sedang menikah saja" ucap Grandpa dengan nada santainya dan wajah yang tersenyum tipis,sambil menatap wajah wajah bahagianya 3 pasangan pengantin tersebut.
"Iya,apa yang di katakan oleh suamiku memang benar,dan jangan lupa nanti kalian berdua juga harus pergi mencari kedua orang tuanya calon menantu kalian ini.Sekarang,ayo kita lanjutkan makan kita yang tertunda tadi.Bagaimana?" ucap Grandma dengan nada semangatnya,sambil menatap ke arah kedua orang tuanya Ryan.
"Baik Mom" jawab Daddy dan Mommynya Ryan secara serentak,dengan wajah yang tersenyum bahagia.
__ADS_1
Mereka semuapun langsung menuruti perkataannya Grandma barusan,sedangkan Hery,Ashley,Ars,Agatha,Jo dan Desi segera berjalan ke arah meja yang memang di sediakan khusus untuk mereka.
Termasuk para pengawal yang sedang mengelilingi mereka semua itu,langsung kembali ke tempat mereka masing-masing karena mereka merasa kalau situasi saat ini sudah aman.