
Di Restoran ternama.
Sepasang kekasih yang sedang duduk berhadapan di dalam sebuah Restoran ternama,baru saja memesan makanan.
Ya,mereka adalah Jonathan dan Desi yang sudah sepakat,kalau malam ini,mereka akan keluar untuk makan malam di Restoran tersebut.
Awalnya Jo ingin terus mempertahankan Desi agar menginap di Apartemen miliknya untuk beberapa hari lagi,tapi Desi kekeh tetap ingin pulang.
Apa lagi,kedua orang tuanya Desi terus menelepon Desi karena rasa khawatir mereka akan Desi yang tidak pulang-pulang.
Akhirnya,mau tidak mau Jo terpaksa harus mengalah.Jadi,karena ia ingin melepaskan rasa rindunya karena beberapa jam tidak bertemu,iapun mengajak Desi untuk makan malam.
Ia bahkan di sambut dengan baik oleh kedua orang tuanya Desi,saat dirinya menjemput Desi tadi.
Dan,di sinilah mereka berdua sekarang.Di Restoran ternama yang sudah di pilih oleh Jo,untuk makan malam mereka.
"Auchk,sakit" pekik Desi dengan nada kesalnya,sambil mengelus keningnya yang terasa sakit karena di sentil oleh Jo.
"Kenapa kamu malah menyentilku,sakit tahu" ucap Desi dengan wajah yang memberengut kesal,sambil mengelus-elus keningnya yang masi terasa sakit dan juga ngilu.
Desi segera menunduk-nundukkan kepalanya dengan pelan untuk beberapa kali ke arah beberapa pengunjung yang lain,saat ia baru menyadari kalau suara pekikannya tadi telah menganggu kenyamanan para pengunjung yang lainnya.
"Mau sampai kapan,kamu terus menatapku?" tanya Jo dengan nada yang santai dan wajah yang tersenyum saat melihat wajah kekasihnya yang sedang memberengut kesal.
"Sampai aku bosan" jawab Desi,masih dengan wajah yang kesal.Bertepatan dengan pesanan yang sudah datang.
Jo pun hanya diam dengan wajah yang terus tersenyum dan menunggu pelayan Restoran tersebut pergi dari hadapan mereka.
"Memangnya kapan kamu akan merasa bosan?" tanya Jo dengan wajah penasarannya sambil menatap Desi yang sedang mengambil makanan pesanannya,setelah pelayan tersebut sudah pergi dari hadapan mereka.
"Aku tidak akan pernah bisa merasa bosan,untuk menatap wajahmu.Kecuali,jika aku sedang lapar" jawab Desi tanpa menatap Jo,karena ia sibuk melahap makanannya.Padahal saat tadi ia laparpun,ia juga tidak akan merasa bosan untuk menatap wajah tampan kekasihnya itu.Lain ceritanya lagi,kalau makanan sudah ada di depan matanya,ia akan langsung melupakan kekasih tampannya itu untuk sejenak.
Jo hanya mampu menggeleng-gelengkan kepalanya dengan pelan dan wajah yang tersenyum lucu saat melihat tingkah lucunya Desi,sambil mengambil maķanan dan melahapnya.
Baru saja suapan ke 3,deringan salah satu dari 2 HP miliknya Jo yang tergeletak di di atas meja,tiba-tiba saja berbunyi dan menganggu makan malam mereka.
'Apa lagi yang wanita ini inginkan?" batin Jo di dalam hati,sambil menonaktifkan HP miliknya dengan wajah yang heran dan melirik Desi sekilas.
"Kenapa kamu tidak mengangkatnya?" tanya Desi dengan nada santai sambil melahap makanannya dan menatap ke arah wajah herannya Jo sebentar.
"Baterai HPku yang satu ini sudah habis karena aku tidak sempat mengecasnya tadi.Jadi,aku tidak bisa mengangkatnya" jawab Jo dengan nada santai,ia berusaha agar wajahnya tetap bisa setenang mungkin.
"Memangnya,siapa yang meneleponmu?" tanya Desi,dengan wajah yang penasaran sambil menatap wajah tenangnya Jo dan menghentikan gerakan kedua tangannya yang sedang melahap makanan malamnya.
"Aku belum sempat melihatnya.Tidak apa-apa,nanti kalau sudah sampai di apartemen saja,baru aku akan memeriksanya" jawab Jo,sambil menatap wajahnya Desi dan melahap makanannya.
"Begitu juga bagus" ucap Desi dengan wajah yang tersenyum tanpa curiga sama sekali,terhadap Jo.Lalu ia kembali melanjutkan melahap sisa makanannya karena makanannya belum habis dan juga perutnya masih merasa lapar.
__ADS_1
Sedangkan Jo,langsung tersenyum lega,saat Desi tidak terlalu memikirkan si penelepon tadi.Lalu merekapun melahap makanan malam mereka dengan di temani obrolan ringan dan sedikit candaan.
Setelah menyelesaikan makan malam mereka,mereka segera keluar dari dalam Restoran tersebut dan memasuki mobil miliknya Jo, lalu melajukan mobil ke arah pulang.
"Apa kamu,tidak pernah berpacaran?" tanya Jo sambil menyetir,tiba-tiba saja ia penasaran dengan tentang hidupnya Desi.Soalnya ia hanya tahu,kalau Desi sahabat istrinya Hery dan ia juga baru mengenali kedua orang tuanya Desi ketika ia menjemput Desi untuk pertama kalinya kemaren.
"Kenapa kamu,tiba-tiba bertanya tentang hal itu?" tanya Desi dengan wajah yang kaget bercampur malu,sambil menatap wajah Jo yang sedang fokus menyetir.
"Tidak ada apa-apa,aku hanya bertanya saja.Memangnya,ada yang salah dengan pertanyaanku?" tanya Jo dengan kening yang mengernyit heran sambil menatap wajah kaget dan malunya Desi sebentar.
"Apa ada yang tidak boleh aku ketahui?" tanya Jo dengan hati yang berdebar-debar karena takut hal yang di sembunyikan oleh Desi adalah hal yang tidak terduga olehnya.
"Tidak juga sih,hanya saja...." ucap Desi,masih dengan wajah malunya.Ia menjeda kalimatnya sambil menatap wajah penasaraannya Jo dan menggaruk-garukkan belakang tengkuknya yang tidak gatal.
"Hanya apa?" tanya Jo dengan nada tidak sabaran,karena merasa semakin penasaran dengan apa yang akan di katakan oleh Desi.Ia bertanya sambil menghentikan mobilnya,lalu ia segera menatap wajah malunya Desi.
Desi mau tidak mau,terpaksa ia harus berkata jujur,saat melihat nada menuntut dari Jo.Apa lagi,Jo sampai menghentikan mobilnya karena ingin mendengar apa yang akan di katakan olehnya,padahal apa yang akan di katakan ini sangat memalukan bagi dirinya.
"Tapi ini sangat memalukan..." ucap Desi dengan suara yang pelan sambil menatap wajah tampannya Jo.
"Tidak apa-apa.Katakan saja,aku ingin mendengarnya..." ucap jo dengan wajah seriusnya,sambil membalas tatapannya Desi dengan tatapan penasaran bercampur bingung.
Padahal Desi hanya tinggal jawab saja,belum pernah atau sudah pernah.Tapi mau jawab gitu saja,Desi malunya seperti pernah berbuat mesum pada pria lain saja.Hingga mampu membuat perasaan Jo tidak karuan dan merasa cemburu saat ini,karena memikirkan hal itu.
"Tapi kamu harus janji,kamu tidak akan menertawakan aku ya ?" tanya Desi,karena ia masih merasa malu,ingin membicarakan masa lalunya.
"Aku itu dulu sangat gemuk,tidak seperti sekarang ini" ucap Desi,ia memulai ceritanya dengan nada lambat tapi Jo masih tetap setia untuk menunggu hingga ke intinya.
"Lalu?" tanya Jo sambil menatap wajah malunya Desi yang masih belum berkurang,karena Desi menjeda kalimatnya dengan sangat lama.Ia mencoba menenangkan perasaannya yang masih belum normal,karena memikirkan dugaan-dugaan yang negatif.
"Aku dulu pernah menyukai seorang pria yang tampan,ketika aku masih sekolah menangah atas dulu" lanjut Desi lagi,sedangkan Jo masih setia menunggu lanjutan dari desi lagi.
"Kemudian aku meminta pria itu untuk menjadi pacarku secara terang-terangan,tapi pria itu malah menolak permintaanku dan mengejekku secara terang-terangan juga,di depan teman-temanku dan siswa-siswi yang lainnya.Hingga membuat aku terus di bully sama teman-teman sekolahku sejak hari itu.Hanya saja,untungnya mereka hanya membullyku dengan kata-kata saja,bukan secara fisik" lanjut Desi lagi dengan kepala yang sedikit menunduk karena merasa malu dengan Jo,karena Jo sudah mengetahui tingkah bodohnya dulu.
Sedangkan Jo,ia langsung tersenyum lega saat mendengar cerita inti dari Desi.Ia kirain,apaan tadi.Ternyata, hanya masalah yang tidak perlu ia khawatirkan sama sekali.
'Dasar wanita ini,buat aku gelisah tidak jelas saja' batin Jo.
"Lalu,di mana pria itu sekarang?" tanya Jo dengan asal sambil kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang,karena merasa kesal dan juga merasa lucu dengan ceritanya Desi.Rasanya ia ingin tertawa saat membayangkan bagaimana bentuk tubuh gemuknya Desi waktu itu bukan karena mendapatkan penolakan dari pria itu,tapi ia sudah berjanji pada Desi kalau dirinya tidak boleh tertawa.
"Kalau yang aku dengar dari teman sekolahku.Pria itu sudah menjadi duda sekarang,karena di tinggal sama istrinya,bahkan pria itu hampir gila karena istrinya itu" jawab Desi sambil mengangkat kepalanya dengan perlahan-lahan,karena ingin menatap wajah tampannya Jo.Apa Jo sedang menertawakan dirinya atau tidak,ternyata Jo memang benar-benar menepati janjinya hingga mampu membuat wajahnya menjadi tersenyum senang.
"Ternyata, pria itu sudah terkena karmanya.Apa kamu tidak memperlihatkan penampilan cantikmu yang sekarang,pada pria tidak tahu bersyukur itu?" tanya Jo dengan nada senang,sambil berusaha menghilangkan rasa ingin tertawanya karena Desi sibuk menatap wajahnya.
"Untuk melihat wajahnya saja,aku tidak sudi" jawab Desi dengan nada kesalnya.
"Yang kamu bilang cantik barusan itu,tubuh langsingku ini atau wajahku yang cantik?"tanya Desi dengan nada menyindir dan wajah yang kesal saat mengingat kembali, apa yang di tunjukkan oleh Jo padanya malam semalam,karena ia merasa Jo hanya menginginkan tubuhnya saja.
__ADS_1
Terbukti,ketika malam semalam mereka berdua melakukan hubungan badan kembali,seperti yang lalu-lalu.Jo bahkan menunjukkan cairan kental pembawa bencana alam yang lain itu padanya,saat dirinya bertanya untuk memastikan apa benar kalau Jo sudah membuangnya di luar.
Apa lagi,Jo juga sama sekali belum pernah mengatakan kalau dia mencintai dirinya dan ketika ia melihat cairan kental itu,sudah menandakan kalau Jo memang benar-benar tidak mau memiliki anak dari rahimnya.Jadi,itu semua sudah cukup untuk membuat dirinya merasa sangat yakin kalau Jo memang hanya menginginkan tubuhnya saja.
Tapi Desi tidak tahu,kalau ternyata cairan kental yang di tunjukkan oleh Jo padanya malam semalam,cairan kental yang mampu membuat dirinya buncit selama 9 bulan itu,bukan yang asli karena cairan kental itu dari minyak rambut miliknya Jo yang memang kebetulan berwarna putih dan Jo mencampuri minyak rambut miliknya itu dengan sedikit air agar terlihat seperti asli.Maka dari itu,pada saat Desi ingin melihat cairan kental itu lebih lama dan lebih dekat,Jo segera memberi alasan dan segera menyingkirkan cairan kental itu sebelum ketahuan oleh Desi.
"Memangnya,aku sebrengsek itu?" tanya Jo,dengan nada tinggi dan wajah marahnya karena ia tahu kalau Desi sedang menyindir dirinya,sambil menatap Desi yang langsung merasa kaget karena mendengar nada tinggi dan melihat wajah marahnya Jo.
"Bu bukankah,ka kamu seorang playboy.Kalau bukan hanya menginginkan tubuh wanita saja,lalu untuk apa kamu gonta ganti kekasih ?" tanya Desi dengan suara gugup dan wajah takutnya.
Jo menghela nafas dengan berat saat melihat wajah takut dan suara gugupnya Desi,iapun segera mengontrol emosinya.Ia bukan marah karena Desi menyindirnya tapi perkataannya Desi seolah dirinya menganggap Desi sebagai wanita murahan yang hanya melayani nafsunya saja,padahal ia sudah mencintai Desi dan berniat untuk menikahi Desi sebentar lagi.
"Aku dengan mereka hanya sebatas berciuman saja,aku tidak pernah sekalipun berhubungan badan dengan mereka" jawab Jo,dengan suara pelannya.Ia berbicara sambil menahan emosinya yang sudah berhasil ia kendalikan.
Sedangkan Desi hanya terdiam dengan wajah kagetnya bercampur tidak percaya,karena jawaban dari jo mengatakan kalau dugaannya tidak benar.
"Aku melakukannya,baru untuk pertama kalinya.Dan,itu bersama kamu.Aku baru untuk pertama kalinya,melakukannya bersamamu waktu itu" lanjut Jo lagi,dengan wajah yang kesal saat melihat wajah tidak percayanya Desi.
"Jika tidak percaya,tanya saja pada Dokter Ryan atau sama Hery" lanjut Jo lagi.
"Memangnya,aku ini pria apaan.Senjata berhargaku itu,juga tidak akan mau masuk ke sembarangan tempat." ucap jo lagi,dengan nada kesalnya,karena Desi hanya diam saja dari tadi.
"Mana aku tahu.Waktu itu saja,kamu ingin mencari wanita lain untuk menghilangkan efek obat per*ngs*ng itu.Coba saja,kalau aku tidak ada di sana,mungkin saja waktu itu kamu sudah tidur bersama wanita lain" ucap Desi dengan nada santainya,sambil menahan tawanya karena mendengar kalimat akhirnya Jo.
Wajah tidak percayanya juga menghilang begitu saja saat ia melihat,kalau memang ada kejujuran di kedua matanya Jo.
Tapi sebenarnya,di dalam hatinya,ia merasa sangat bahagia saat mendengar kalimat demi kalimat yang keluar dari mulutnya Jo.
Walaupun ciumannya Jo bukan yang pertama untuk dirinya,tapi tidak masalah karena senjata berharga miliknya Jo,dirinyalah yang pertama merasakannya.
Dan semoga saja,sebentar lagi,senjata berharganya Jo akan menjadi miliknya seutuhnya.
"Itu,,,aku juga tidak tahu" ucap Jo dengan wajah pasrahnya,karena ia juga tidak tahu akan tidur bersama siapa kalau tidak ada Desi.Tapi,sejujurnya waktu itu dirinya hanya menginginkan Desi saja.
"Padahal tadi aku sedang bertanya tentang dirimu.Kenapa malah jadi berpindah alur cerita?" tanya Jo dengan wajah yang pura-pura kesal,hingga membuat Desi tidak bisa menahan tawanya lagi.
Sedangkan Jo hanya tersenyum bercampur sedikit kesal saja,saat melihat wajah tertawanya Desi.
"Lalu apa yang terjadi,setelah kamu mendapatkan penolakan dari pria itu?" tanya Jo,ia segera mengalihkan pembicaraan yang tadi agar dirinya tidak menjadi semakin malu lagi karena perkataan Desi tadi.
"Tentu saja,aku langsung trauma ingin mengajak pria menjadi pacarku lagi.Kemudian aku berusaha untuk membuat tubuh gemukku agar bisa menjadi langsing hingga seperti sekarang ini,tapi rasa traumaku masih saja tetap ada.Lalu,aku bertemu denganmu,ntah mengapa saat aku bertemu denganmu,rasa traumaku menghilang dengan perlahan-lahan" jawab Desi dengan panjang lebar dan tersenyum malu,setelah selesai meredakan tawanya tadi.
Sedangkan jo langsung tersenyum senang,saat mendengar kalimat akhir dari Desi.
"Lalu,kenapa dulu kamu tidak mengejar pria itu seperti mengejarku kemaren?" tanya Jo dengan wajah penasarannya,sambil fokus menyetir.
"Karena pria itu tidak punya perasaan sama sekali,pria itu mengejek dan mempermalukan aku di depan semua orang.Kalau kamu kan beda dari pria itu.Lagi pula,ntah kenapa,saat pertama melihatmu waktu itu dan aku juga sudah berpikir berkali-kali tapi tetap saja hatiku menyuruhku untuk harus mengejarmu" jawab Desi dengan jujur dan panjang lebar,wajahnya juga menjadi semakin malu.
__ADS_1
Setelah ia menjadi cantik dan langsing seperti sekarang ini,ia memang selalu bertemu pria tampan,bahkan ada pria yang mengajaknya untuk berpacaran,tapi hatinya seperti tidak ingin terbuka.Ia hanya suka genit-genit tidak jelas saja kalau melihat pria tampan,itupun di depan 2 sahabatnya saja.Dan pada saat bertemu dengan Jo,hatinya malah terbuka begitu saja.